Share

PUJIAN

Author: NawankWulan
last update Last Updated: 2025-12-11 23:44:48

“Maksudnya?” tanyaku tak mengerti.

"Kudengar orang-orang dari kampung biasa main pelet kan? Penampilan tertutup tak menjamin bagus agamanya. Aku nggak sebodoh yang kamu kira."

"Astaghfirullah, lemesnya itu mulut," pekikku lirih saat mendengar tuduhan lelaki itu.

Sepasang mata itu melebar. "Ngomong apa kamu?!" 

"Mulutnya lemes, eh." Spontan aku menutup mulut saat keceplosan bicara. 

Perlahan mendongak lalu buru-buru menunduk saat tak sengaja beradu pandang dengan kedua matanya yang tajam.

Tak membalas ucapanku, monster tampan itu melangkah kembali ke lantai atas begitu saja. Kuhela napas panjang seraya kembali beristighfar. 

Ya Allah, makhluk seperti apa yang kuhadapi saat ini.

Semoga saja dia bisa takluk denganku nanti. Nggak boleh nyerah. Pokoknya harus tetap semangat dan yakin jika hatinya akan luluh. Yakin, yakin, yakin hatinya bukan terbuat dari batu.

"Neng ... kamu nggak apa-apa kan?" Bi Lilis menggoyang lenganku pelan. Gegas kubuka mata lalu menatapnya yang sudah berdiri persis di depanku.

"Eh, nggak apa-apa, Bi." Aku membalas dengan meringis kecil.

"Syukurlah. Bibi khawatir kamu syok dan jatuh pingsan.” Bi Lilis menghela napas. “Bos Rama memang begitu sejak dua bulan lalu tinggal di sini. Nggak ada satu pun yang berani bicara sama dia, cuma Juragan Ginanjar sama Ibu Farida saja yang masih sabar dan mau bicara sama dia. Nanti kamu juga akan terbiasa misal Mas Rama ribut sama papanya Razqa. Sering juga mereka saling tonjok dan pukul. Pokoknya menghadapi bos satu itu ngeri-ngeri sedap deh. Bibi bakal kasih jempol sepuluh kalau ada yang bisa melembutkan hatinya yang sekeras baja itu." 

Bi Lilis berujar panjang lebar. Lagi-lagi aku mengangguk pelan.

Dalam hati aku bicara jika suatu hari nanti Bi Lilis harus kasih jempol sepuluh buatku karena aku yang akan meluluhkan hati baja itu. Lihat saja nanti.

"Kamu yang sabar ya? Misal nggak kuat, bilang juragan saja daripada makan hati menghadapi dia."

"Tenang saja, Bi. Nanti dia bakal takluk kok sama aku," ujarku sembari cengengesan.

"Kamu ini ...." 

Bi Lilis lantas memberikan bahan-bahan untuk membuat rawon padaku. Lengkap tak ada satu pun yang ketinggalan.

Di lantai atas, aku mulai menyiapkan segala keperluan untuk memasak rawon. Entah mengapa aku begitu bersemangat memasak. Rasanya seperti kedatangan tamu spesial dan aku ingin memberikan jamuan yang spesial pula untuknya.

"Hai, Mbak Riana ya?" sapa seorang perempuan saat aku mulai mencicipi rawon yang kubuat.

Aku pun tersenyum tipis menatap perempuan cantik yang kini duduk di kursi makan itu. Hanya ada meja sedang dan dua kursi makan di samping dapur. Ibu Farida bilang jika ini memang dapur sederhana yang sengaja dibuat jika ada acara tertentu di lantai atas.

"Iya, saya Riana. Emm ... kamu yang bernama Latifa?" tebakku saat melihat wajahnya yang cantik, mirip dengan ibu Farida.

"Iya, Mbak. Aku Latifa, panggil saja Tifa." 

Aku pun bersalaman dengannya. Tak membuang waktu, kuminta dia mencicipi rawon buatanku.

"Enak?" tanyaku tak sabar saat Tifa masih mengecap rasa.

"Masyaallah, enak banget. Pas di lidah. Ternyata kamu pintar masak, Mbak?" balasnya begitu antusias. Kedua mataku membulat. Rasanya senang sekali saat mendengar pujiannya.

"Padahal kita sumuran ya, tapi kamu sudah pintar masak. Beda sama aku, cuma bisa ceplok telur sama masak mi." Tawa pun terdengar di antara kami berdua.

"Maklum, Tifa. Kehidupan kita juga berbeda, jadi wajar aku bisa masak. Soalnya nyaris tiap minggu bantuin Emak masak di hajatan saudara dan tetangga. Entah khitanan, syukuran, arisan dan lain-lain," ujarku begitu bersemangat. “Kalau kamu mau request masakan apa boleh juga, nanti aku masakin dengan senang hati.”

"Uluh-uluh jadi merepotkan."

"Nggak lah. Sama sekali nggak merepotkan kok karena aku memang suka masak." Aku kembali tersenyum sembari kembali meracik bumbu untuk membuat makanan pelengkap, tempe goreng sama perkedel saja.

"Itu mau masak apalagi, Ri?" tanya Latifa lagi sembari menunjuk bahan yang kusiapkan kembali.

"Cuma tempe goreng sama perkedel kentang." 

Dia pun manggut-manggut.

"Ohya, aku doakan kamu betah di sini ya, supaya aku punya teman ngobrol. Selama ini aku jarang punya teman, eh ketemu kamu kok rasanya cocok." 

Lagi-lagi aku tersenyum tipis. "Doakan bisa menaklukkan abangmu, Fa. Kalau nggak ya mau nggak mau aku resign kan?" Aku menoleh sesaat, tampak kegelisahan di wajah cantik Latifa.

"Kenapa?" tanyaku kemudian.

"Khawatir kamu nggak betah, Ri. Aku tahulah Mas Rama seperti apa. Selama dua bulan di sini, bahkan cuma hitungan jari aku menyapanya. Takut dibentak." 

Kuusap lengannya pelan. "Tenang saja, nanti aku yang akan ajari dia supaya lebih lembut. Apalagi sama perempuan." 

Latifa tersenyum tipis meski tampak keraguan di wajahnya.

Setelah ngobrol agak lama, Latifa pamit ke lantai bawah. Dia bilang mau kembali ke kampusnya karena hanya mengambil beberapa berkas yang lupa dia bawa. Aku pun sibuk membuat perkedel dan tempe goreng. Tak selang lama, semua siap dan segera kuhidangkan di meja makan.

Derap langkah kaki terdengar melewati tangga. Laki-laki misterius itu cukup kaget saat melihatku sibuk di dapur atas. Apalagi saat melihat meja makan yang sudah siap dengan beberapa hidangan. Tak bertanya apapun, dia masuk ke kamarnya lalu menutup pintu dengan rapat.

"Wah, kamu masak, Ri?" tanya Mas Hanif yang muncul dari tangga bersama anak lelakinya, Razqa.

"Eh, iya, Mas. Masak rawon, tempe goreng sama perkedel. Mau? Coba aja kalau mau," ujarku sembari membersihkan perkakas bekas masak.

"Boleh nih? Kamu 'kan asistennya Rama. Nanti kena semprot pula."

"Mas Rama juga belum tentu mau masak masakanku, Mas. Dia bilang takut kena pelet sama gatal-gatal." Laki-laki itu justru menggeleng pelan lalu terkekeh mendengar balasanku.

Setelah mengantar Razqa ke kamar dan menyiapkan mainannya, laki-laki itu kembali ke dapur. Dia mengambil satu centong nasi dan rawon yang kubuat tanpa dicicipi terlebih dulu lalu duduk di kursi makan.

"Nggak dicicipi dulu, Mas? Takutnya nggak enak."

"Sudah dapat bocoran dari Tifa kalau masakanmu enak." Mas Hanif kembali tersenyum lalu mulai menikmati makanannya.

"Eh, beneran enak, Ri. Kamu cocoknya usaha restoran, rawonmu enak. Perkedelnya juga pas di lidah. Daripada jadi asistennya Rama yang ajaib itu, mending jadi baby sitternya Razqa gimana? Supaya bisa masakin Razqa sama papanya setiap hari." Mas Hanif kembali tertawa saat melihatku membulatkan kedua mata. 

"Bercanda, Ri." Ia menambahkan.

Aku pun tersenyum tipis saat mendengar kalimat terakhirnya.

"Boleh nambah nggak?" tanyanya kemudian.

"Boleh lah, Mas. Mas Rama sudah aku ambilkan lebih dulu kok. Barangkali mau, kalau nggak mau nanti biar buat Latifa saja."

"Masakan seenak ini masa nggak mau. Kalau ada peletnya, biar aku duluan yang kena pelet." Lagi-lagi laki-laki di depanku itu terkekeh geli. Mungkin antara kesal dan heran melihat sikap saudara tirinya yang aneh itu.

Saat ingin membuka kulkas, ekor mataku menangkap monster itu dari balik gorden jendela kamarnya. Dia masih di sana, menatap ke arahku dan Mas Hanif yang masih ngobrol bersama. 

Saat tatapan kami bertemu, dia buru-buru menutup gorden kembali. Tatapannya terasa dingin dan kaku.

Senyumku mengembang, merasa puas karena sudah bisa membuatnya penasaran dengan aktivitasku. 

Lihat saja, aku akan buat dia tak secuek dan seangkuh dulu. Akan kubuat semakin penasaran dengan apapun yang kulakukan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Winwin Tri Winwin
aq mendukung mu riiii......
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Kiriman Foto

    Laura menurunkan kacamata hitam ber-merk miliknya hingga bertengger di pangkal hidung. Bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala melengkung sinis. "Na, mataku nggak salah lihat kan? Itu perempuan gembel yang bikin sepupumu klepek-klepek kan?" tanya Cindy, sahabatnya yang tengah menenteng tas branded keluaran terbaru, ikut menyipitkan mata menembus terik matahari. "Dipelet kali makanya klepek-klepek. Mas Hanif berubah jadi seseorang yang tak kukenal. Bahkan berani membentakku di depan keluarga besar. Kalau nggak dipelet, mana mungkin Mas Hanif suka sama perempuan model itu. Wajah juga pas-pasan apalagi duit dan pendidikannya," balas Laura sengit. "Si Dea guru TK itu, kan? Ya ampun, Ra ... lihat deh dandanannya. Keringetan di pinggir jalan bawa-bawa kasur busa murahan. Dan ... eh, tunggu! Cowok yang di sebelahnya itu siapa? Mesra banget senyum-senyum berdua," tunjuk Luna, sahabat kedua Laura. Ketiga perempuan itu memang temu kangen dan makan di cafe yang terletak di seberang toko

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Kontrakan Baru

    Matahari siang menyengat garang, memanggang aspal jalanan kota yang hiruk-pikuk. Namun, panasnya cuaca tak sedikit pun menyurutkan semangat Dea dan adiknya, Dimas. Keduanya berdiri di depan sebuah toko mebel sederhana yang merangkap agen kasur busa di pinggir jalan raya. Keringat membasahi pelipis Dea, membuat hijab di bagian wajahnya sedikit basah, namun senyum tulus tak kunjung pudar dari bibirnya.​"Bang, beneran nggak bisa kurang lagi ini harganya? Masa kasur busa single sama kasur lantai tipis begini harganya dipatok pas? Saya kan ambil rak besi bongkar-pasangnya sekalian dua set lho, Bang. Buat penglaris siang bolong nih," bujuk Dea dengan nada ramah namun pantang menyerah. Tangannya mengusap permukaan kasur busa bermotif bunga-bunga pudar itu.​Pemilik toko, seorang pria paruh baya bertopi lusuh, menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aduh, Mbak e. Ini udah harga paling mepet. Rak besinya itu yang tebal lho, bukan yang gampang melengkung. Tambah lima puluh ribu lagi lah dari taw

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Balasan Menohok

    Suasana di ruangan itu terasa semakin menegangkan.. Beberapa kerabat yang masih duduk di kursi makan pun mulai saling bisik. Ada yang membenarkan sikap Rina, tapi ada pula yang setuju dengan keputusan Ginanjar dan istrinya yang membiarkan anak-anaknya memilih siapa calon terbaik untuk hidup mereka. Tahu kalau ada yang mendukung sikapnya, Tante Rina muali melanjutkan dengan nada sok bijak. "Hanif kan bisa milih calon istri dari keluarganya sendiri, Mbak, Mas." Rina menoleh ke arah Hanif yang sedari tadi menatap layar ponselnya. Sebenarnya dia benar-benar jengah mendengar obrolan tentang perjodohan lagi dan lagi. Dia sudah paham ke arah mana pembicaraan kali ini. Rama dan Rania yang duduk di seberangnya pun hanya terdiam. Mereka tak ingin ikut campur kalau memang Hanif belum minta bantuan. "Lagian mereka baru kenal. Masa si guru itu udah mau diajak makan siang segala. Genit banget nggak sih, Om, Tante. Kalau memang perempuan baik-baik dan nggak ada rencana busuk, pastilah ditolak den

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Pertemuan Keluarga

    Suasana di ruang keluarga besar keluarga Darmawangsa yang sebelumnya hangat seketika menguap, digantikan oleh ketegangan dengan beragam sindiran dan ejekan. Suara denting sendok dan piring yang beradu tiba-tiba berhenti. Semua mata kini tertuju pada satu sudut ruangan.​Hanif baru saja meletakkan cangkir kopinya saat Laura, sepupunya, melontarkan kalimat dengan nada suara yang sengaja ditinggikan agar seluruh ruangan mendengarnya.​"Aku tuh cuma heran sama selera kamu sekarang dalam mencari pasangan hidup, Mas," ucap Laura sambil tersenyum sinis, melipat kedua tangan di dada. "Direktur muda yang tampan, berpendidikan dan sukses yang kemana-mana bawa mobil mewah, tapi kok sering nongkrongnya di gang sempit. Ngejar-ngejar guru TK anaknya yang cuma tinggal di kosan sepetak. Nggak turun derajat kamu, Mas?" sambung Laura tanpa basa-basi. ​Beberapa kerabat yang tadinya asyik mengobrol langsung terdiam. Hanif menarik napas panjang, berusaha menahan emosi demi menghargai tetua keluarga yang

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Penyelidikan

    Ruangan cafe yang dipesan secara privat itu terasa senyap, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan yang terasa menusuk kulit. Laura menghela napas panjang, jemarinya mengetuk meja kaca dengan ritme yang tidak beraturan, tanda bahwa badai besar sedang berkecamuk di balik wajah cantiknya.Sejak kejadian di restoran dua hari lalu, Laura memang tak tenang. Rasa kesal dan sakit hati memenuhi dadanya. Dia kesal dengan sikap Hanif yang lebih membela perempuan itu dibandingkan dirinya, sepupunya sendiri. "Mas Hanif benar-benar menyebalkan. Berani-beraninya dia ngebentak aku demi perempuan sampah itu!" gumamnya lagi. Tangannya kembali mengepal geram. Suasana hati Laura benar-benar berkecamuk. Berisik dan penuh dendam. Sementara di depannya, seorang pria tegap berpakaian serba hitam berdiri kaku, menanti instruksi dengan kepala sedikit tertunduk.​"Aku tak suka ada duri dalam daging, apalagi duri yang mencoba terlihat seperti bunga yang manis." Suara Laura rendah, namun setiap katanya t

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Membalas Ancaman

    Hanif baru saja hendak menutup pintu kemudi setelah memastikan Rafqa yang terlelap tidak terbangun, namun sebuah tangan dengan kuku merah menyala menahan pintu mobil itu dengan kasar.​BRAK!​"Mas Hanif! Kamu bener-bener keterlaluan!" teriak Laura. Napasnya memburu, wajahnya yang penuh riasan mahal itu kini tampak berantakan karena emosi. ​Hanif menghela napas panjang, dia keluar dari mobil dan berdiri menjulang di depan Laura. Sorot matanya sedingin es. "Apa lagi, Laura? Belum cukup kamu mempermalukan diri sendiri di dalam tadi?"​Laura tertawa sumbang, matanya melirik tajam ke arah Dea yang duduk tegang di kursi penumpang depan.​"Aku yang malu? Harusnya kamu yang malu, Mas! Lihat perempuan itu!" Laura menunjuk wajah Dea dengan telunjuknya yang gemetar. "Dia itu cuma perempuan kelas teri! Guru TK yang gajinya nggak seberapa. Dia pasti sengaja deketin kamu buat numpang hidup dan sengaja biar naik kasta!" cicit Laura begitu sengit. ​"Mbak Laura, tolong jaga bicara Mbak ...." Dea m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status