LOGIN"Riana dari kampung sebelah, Ram. InsyaAllah anak baik-baik. Semoga kamu cocok." Ibu Farida dengan sabar mengulang perkenalannya.
Namun, laki-laki itu masih bergeming dengan tatapan sinisnya.
"Penjilat!" tuduhnya padaku.
"Jaga mulut Anda ya, Mas. Saya kerja di sini bukan sengaja melamar, tapi Juragan Ginanjar sendiri yang meminta,” cerocosku, kesal karena dituduh macam-macam. “Memangnya saya jilat apa kok bisa-bisanya disebut penjilat?"
Ibu Farida mengusap lenganku pelan sembari mengedipkan kedua mata teduhnya. Sentuhan lembutnya membuatku tersadar seketika.
Duh! Kenapa aku sampai ikut tersulut emosi!?
"Seperti itu ya asisten yang baik? Belum apa-apa main bentak?” sindir laki-laki itu lagi. “Asisten apa preman?”
Lalu, sebelum aku sempat merespons lagi, pintu sudah ditutup dengan kasar.
Ingin rasanya mengumpat, tapi lagi-lagi aku malu jika sebrutal itu. Lantas apa bedanya aku dengan monster itu kalau sama-sama kasar? Ibu Farida yang sebegitu tak dihormatinya sebagai orang tua saja bisa sabar. Aku harusnya juga harus mencontoh wanita itu apalagi statusku di sini dibayar.
"Saya minta maaf, Bu. Nggak bermaksud lancang, tapi saya nggak suka tuduhan Mas Rama itu." Aku kemudian segera meminta maaf. Jujur, agak gugup setelah melihat pintu kamar itu tertutup.
Kalau aku tidak jadi dipekerjakan bagaimana?
"Iya, Ri. Saya paham kok. Kamu nggak sepenuhnya salah, justru bagus kalau ada yang menuduh macam-macam atau menghina kamu memang harus melawan.” Ibu Farida kembali tersenyum. “Saya tahu kamu punya cara sendiri untuk menghadapi Rama. Kamu berhak membela, tapi jangan meninggikan suara ya. Dia nggak suka."
Sorot matanya yang teduh benar-benar menghipnotisku. Ingin sekali seperti sosoknya yang lembut dan sabar, hanya saja sering kali aku tersulut emosi jika dihadapkan dengan hal-hal yang kubenci.
"Saya salut sama ibu yang begitu sabar menghadapi anak tiri ibu yang brutal itu. Kalau saya jadi ibu rasanya sudah ikut meledak-ledak."
Ibu Farida duduk di tepi ranjangku lalu kembali mengusap lengan.
"Ibu maklum, Ri. Usiamu masih terlalu muda, masih labil. Nanti kalau menjelang dewasa kamu akan bisa lebih sabar dan tenang saat menghadapi sesuatu.”
Aku menghela napas. Iya, Emak dan Bapak juga begitu. Tapi kenapa budheku tidak ya?
Eh–
“Oh ya, Rama suka seafood dan rawon.” Bu Farida kembali berucap, menyita perhatianku. “Kalau kamu bisa masak, itu bagus. Tapi kalau nggak pun nggak apa. Nanti bisa pesan online kalau dia mau makan yang dia mau.”
“Baik, Bu.”
“Oh ya, dia juga suka kopi. Tiap pagi kamu harus menyiapkannya sebelum dia pergi kerja. Untuk sarapan, dia lebih suka roti dan susu cokelat. Kamu bisa masak di dapur atas itu jadi tak perlu naik turun tangga."
Penjelasan Bu Farida begitu detail Tampak jelas beliau peduli pada anak tirinya tersebut.
Aku heran kenapa monster itu masih saja membenci mama tirinya yang lembut, sabar dan perhatian seperti ini.
"Ri ... ruang setrika ada di samping dapur itu. Kamu bisa menggunakannya untuk menyetrika baju Rama dan bajumu sendiri. Ada yang mau ditanyakan?" Bu Farida menatapku beberapa saat. Setelah berpikir dan kurasa nggak ada yang perlu ditanyakan, aku pun menggeleng. Cukup paham dengan beragam penjelasannya tadi.
"Baiklah kalau begitu. Saya ke bawah ya? Kalau mau tanya sesuatu boleh sama Mbak Yuni. Dia yang urus lantai atas, kecuali kamar Rama."
"Baik, Bu. Nanti saya tanya Mbak Yuni kalau kurang paham."
Bu Farida mengangguk lalu melangkah keluar kamar.
Setelah wanita bermata teduh itu pergi, kamar mendadak hening. Sepi. Aku keluar kamar, melirik kamar Mas Rama yang masih tertutup rapat. Tak ada suara apapun yang terdengar di sana.
Denting jam berbunyi nyaring dari lantai bawah. Tak terasa sudah jam sembilan pagi dan aku harus menyiapkan makan siang untuk monster ganteng itu. Apa tadi? Rawon atau seafood?
Oke, kebetulan aku suka membantu Emak memasak apa pun saat hajatan di rumah Budhe. Setidaknya bisa menjadi bekal andalanku bekerja di sini sebab Emak bilang masakanku enak.
Lihat saja nanti, aku pasti bisa menaklukkan monster itu.
"Mbak Yuni!" panggilku saat perempuan muda dengan kaos pendeknya itu membawa sapu dan pel dari kamar Razqa.
"Iya, Mbak. Oh ya salaman dulu deh," ujarnya ramah. Aku pun menjabat tangannya sembari tersenyum tipis.
"Semoga betah menghadapi manusia misterius itu ya, Mbak." Lirih Mbak Yuni sembari bergidik ngeri.
"Semoga, Mbak. Aku juga lagi uji nyali," balasku dengan kekehan kecil.
"Belasan asisten nggak sanggup hadapi dia, Mbak. Awalnya aku juga disuruh gantiin asisten yang keluar mendadak, tapi aku nggak maulah. Bisa hipertensi aku hadapi manusia begitu." Mbak Yuni kembali berbisik lalu meringis kecil.
"Memang harus extra sabar sepertinya, Mbak. Oh ya aku mau masak rawon sama goreng ikan. Kira-kira bahan-bahannya ada nggak di kulkas bawah? Barusan aku cek di situ nggak ada bahan memasak, cuma minuman dingin sama snack." Mbak Yuni berpikir sejenak.
"Aduh, aku juga kurang paham, Mbak. Tanya Bi Lilis saja. Beliau yang urus perdapuran. Kalau mau masakin Mas Rama, biar besok bibi belanja lebih banyak buat isi kulkas di atas."
Aku pun mengiakan. Kubiarkan Mbak Yuni turun lebih dulu setelah membereskan kamar Razqa.
Setelah menutup pintu kamar, aku pun turun menemui Bi Lilis yang kebetulan masih membersihkan isi kulkas.
"Maaf, Bi. Bahan untuk membuat rawon apa ada? Saya mau masak buat Mas Rama," ujarku pelan membuat Bi Lilis mendongak dengan seulas senyum.
"Eh, Neng Riana. Bahan ada, Neng. Neng Riana bisa masak?" tanyanya sedikit meragukan. Mungkin tak yakin jika anak seusiaku bisa masak.
Bisa masak dalam artian lumayan enak, karena nggak mungkin mau ngasih majikan masakan yang rasanya nggak jelas bukan?
"Kalau nggak bisa biar bibi saja yang masakin rawon buat Mas Rama. Takutnya dia makin marah kalau makan masakan yang kurang pas di lidah." Bi Lilis menawarkan, tapi aku menggeleng pelan sebab kutahu Mas Rama adalah tugasku. Aku nggak mau merepotkan Bi Lilis sebab dia juga memiliki tugasnya sendiri.
"Insyaallah bisa kok, Bi. Saya sering bantu Emak masak saat hajatan. Minta bahan-bahannya saja, Bi. Mau saya masak di dapur atas," pintaku kemudian.
Bi Lilis pun mengangguk.
"Nggak perlu cari muka dengan masak segala. Aku nggak doyan masakan orang udik sepertimu. Yang ada lidahku bisa gatal-gatal makan masakanmu.” Suara bariton itu tiba-tiba terdengar dari belakang.
“Atau, jangan-jangan mau dikasih pelet biar aku mau menerimamu sebagai asistenku?"
Aku dan Bi Lilis membalikkan badan seketika dan mendapati pria monster itu sedang berdiri di samping dispenser.
Laura menurunkan kacamata hitam ber-merk miliknya hingga bertengger di pangkal hidung. Bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala melengkung sinis. "Na, mataku nggak salah lihat kan? Itu perempuan gembel yang bikin sepupumu klepek-klepek kan?" tanya Cindy, sahabatnya yang tengah menenteng tas branded keluaran terbaru, ikut menyipitkan mata menembus terik matahari. "Dipelet kali makanya klepek-klepek. Mas Hanif berubah jadi seseorang yang tak kukenal. Bahkan berani membentakku di depan keluarga besar. Kalau nggak dipelet, mana mungkin Mas Hanif suka sama perempuan model itu. Wajah juga pas-pasan apalagi duit dan pendidikannya," balas Laura sengit. "Si Dea guru TK itu, kan? Ya ampun, Ra ... lihat deh dandanannya. Keringetan di pinggir jalan bawa-bawa kasur busa murahan. Dan ... eh, tunggu! Cowok yang di sebelahnya itu siapa? Mesra banget senyum-senyum berdua," tunjuk Luna, sahabat kedua Laura. Ketiga perempuan itu memang temu kangen dan makan di cafe yang terletak di seberang toko
Matahari siang menyengat garang, memanggang aspal jalanan kota yang hiruk-pikuk. Namun, panasnya cuaca tak sedikit pun menyurutkan semangat Dea dan adiknya, Dimas. Keduanya berdiri di depan sebuah toko mebel sederhana yang merangkap agen kasur busa di pinggir jalan raya. Keringat membasahi pelipis Dea, membuat hijab di bagian wajahnya sedikit basah, namun senyum tulus tak kunjung pudar dari bibirnya."Bang, beneran nggak bisa kurang lagi ini harganya? Masa kasur busa single sama kasur lantai tipis begini harganya dipatok pas? Saya kan ambil rak besi bongkar-pasangnya sekalian dua set lho, Bang. Buat penglaris siang bolong nih," bujuk Dea dengan nada ramah namun pantang menyerah. Tangannya mengusap permukaan kasur busa bermotif bunga-bunga pudar itu.Pemilik toko, seorang pria paruh baya bertopi lusuh, menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aduh, Mbak e. Ini udah harga paling mepet. Rak besinya itu yang tebal lho, bukan yang gampang melengkung. Tambah lima puluh ribu lagi lah dari taw
Suasana di ruangan itu terasa semakin menegangkan.. Beberapa kerabat yang masih duduk di kursi makan pun mulai saling bisik. Ada yang membenarkan sikap Rina, tapi ada pula yang setuju dengan keputusan Ginanjar dan istrinya yang membiarkan anak-anaknya memilih siapa calon terbaik untuk hidup mereka. Tahu kalau ada yang mendukung sikapnya, Tante Rina muali melanjutkan dengan nada sok bijak. "Hanif kan bisa milih calon istri dari keluarganya sendiri, Mbak, Mas." Rina menoleh ke arah Hanif yang sedari tadi menatap layar ponselnya. Sebenarnya dia benar-benar jengah mendengar obrolan tentang perjodohan lagi dan lagi. Dia sudah paham ke arah mana pembicaraan kali ini. Rama dan Rania yang duduk di seberangnya pun hanya terdiam. Mereka tak ingin ikut campur kalau memang Hanif belum minta bantuan. "Lagian mereka baru kenal. Masa si guru itu udah mau diajak makan siang segala. Genit banget nggak sih, Om, Tante. Kalau memang perempuan baik-baik dan nggak ada rencana busuk, pastilah ditolak den
Suasana di ruang keluarga besar keluarga Darmawangsa yang sebelumnya hangat seketika menguap, digantikan oleh ketegangan dengan beragam sindiran dan ejekan. Suara denting sendok dan piring yang beradu tiba-tiba berhenti. Semua mata kini tertuju pada satu sudut ruangan.Hanif baru saja meletakkan cangkir kopinya saat Laura, sepupunya, melontarkan kalimat dengan nada suara yang sengaja ditinggikan agar seluruh ruangan mendengarnya."Aku tuh cuma heran sama selera kamu sekarang dalam mencari pasangan hidup, Mas," ucap Laura sambil tersenyum sinis, melipat kedua tangan di dada. "Direktur muda yang tampan, berpendidikan dan sukses yang kemana-mana bawa mobil mewah, tapi kok sering nongkrongnya di gang sempit. Ngejar-ngejar guru TK anaknya yang cuma tinggal di kosan sepetak. Nggak turun derajat kamu, Mas?" sambung Laura tanpa basa-basi. Beberapa kerabat yang tadinya asyik mengobrol langsung terdiam. Hanif menarik napas panjang, berusaha menahan emosi demi menghargai tetua keluarga yang
Ruangan cafe yang dipesan secara privat itu terasa senyap, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan yang terasa menusuk kulit. Laura menghela napas panjang, jemarinya mengetuk meja kaca dengan ritme yang tidak beraturan, tanda bahwa badai besar sedang berkecamuk di balik wajah cantiknya.Sejak kejadian di restoran dua hari lalu, Laura memang tak tenang. Rasa kesal dan sakit hati memenuhi dadanya. Dia kesal dengan sikap Hanif yang lebih membela perempuan itu dibandingkan dirinya, sepupunya sendiri. "Mas Hanif benar-benar menyebalkan. Berani-beraninya dia ngebentak aku demi perempuan sampah itu!" gumamnya lagi. Tangannya kembali mengepal geram. Suasana hati Laura benar-benar berkecamuk. Berisik dan penuh dendam. Sementara di depannya, seorang pria tegap berpakaian serba hitam berdiri kaku, menanti instruksi dengan kepala sedikit tertunduk."Aku tak suka ada duri dalam daging, apalagi duri yang mencoba terlihat seperti bunga yang manis." Suara Laura rendah, namun setiap katanya t
Hanif baru saja hendak menutup pintu kemudi setelah memastikan Rafqa yang terlelap tidak terbangun, namun sebuah tangan dengan kuku merah menyala menahan pintu mobil itu dengan kasar.BRAK!"Mas Hanif! Kamu bener-bener keterlaluan!" teriak Laura. Napasnya memburu, wajahnya yang penuh riasan mahal itu kini tampak berantakan karena emosi. Hanif menghela napas panjang, dia keluar dari mobil dan berdiri menjulang di depan Laura. Sorot matanya sedingin es. "Apa lagi, Laura? Belum cukup kamu mempermalukan diri sendiri di dalam tadi?"Laura tertawa sumbang, matanya melirik tajam ke arah Dea yang duduk tegang di kursi penumpang depan."Aku yang malu? Harusnya kamu yang malu, Mas! Lihat perempuan itu!" Laura menunjuk wajah Dea dengan telunjuknya yang gemetar. "Dia itu cuma perempuan kelas teri! Guru TK yang gajinya nggak seberapa. Dia pasti sengaja deketin kamu buat numpang hidup dan sengaja biar naik kasta!" cicit Laura begitu sengit. "Mbak Laura, tolong jaga bicara Mbak ...." Dea m







