تسجيل الدخولAku semakin tercekat saat melihat laki-laki itu berhenti di tengah tangga lalu membalikkan badan sebentar menatapku. Tanpa senyum, dia kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai atas.
"Dia memang begitu, terlalu kaku, Ri. Kamu nggak mundur saat ini juga kan?" Juragan Ginanjar menatapku beberapa saat setelah menoleh ke arah anak sulungnya yang telah menghilang di ujung tangga.
"N-nggak, Juragan. Saya akan tetap bekerja seperti janji saya tadi."
Juragan Ginanjar dan istrinya pun saling tatap lalu tersenyum tipis.
"Syukurlah kalau begitu. Biar Ibu yang antar kamu ke kamar.” Juragan berkata. “Kamar kamu bersebelahan dengan kamar Rama di lantai atas. Di sana juga ada kamar Latifa dan Razqa. Semoga betah ya, Ri. Selamat bekerja."
Aku kembali mengangguk.
"Oh ya satu lagi, tiap minggu kamu boleh cuti. Terserah mau pulang atau sekadar jalan di luar."
Kuhela napas lega saat mendengar kata cuti, setidaknya aku bisa pulang ke rumah seminggu sekali untuk melepas kangen. Meski Emak atau Bapak bisa ke sini jika ingin bertemu denganku, tapi aku tak ingin terus merepotkan mereka.
"Ayo, Ri. Ibu antar ke kamarmu," ajak Bu Farida begitu lembut dan aku pun mengiyakan.
"Jangan kaget kalau nanti dibentak monster ya, Ri." Candaan Mas Hanif membuatku menghentikan langkah.
"Hanif ... jangan buat Riana mengurungkan niatnya untuk bekerja," omel Ibu Farida lalu memintaku segera ke lantai atas.
Mas Hanif hanya terkekeh saat mendapatkan omelan mamanya.
Tiap tangga yang terlewati, hatiku semakin berdebar tak karuan. Entah makhluk apa yang akan kuhadapi nanti, yang pasti aku harus bisa menaklukkannya. Selain sudah menerima bonus, aku juga tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Gaji semakin meningkat jika aku bisa membuat Mas Rama berubah lebih baik.
"Rama begitu hanya karena belum bisa ikhlas dan menerima takdir-Nya, Ri. Semoga nanti kamu bisa mengajak dia untuk mengenal agama. Dia memang tak terlalu percaya dengan agama dan Tuhan."
Aku kembali terhenti.
Semengerikan itulah makhluk yang akan menjadi atasanku nanti? Tak mengenal agama bahkan Tuhan? Ya Allah, mengerikan sekali.
Ibu Farida membalikkan badan saat menyadari aku tak bergerak menyusulnya. Ada jeda beberapa tangga antara aku dan dia.
"Saya tahu kamu lebih paham soal agama, makanya begitu berharap kamu bisa membimbingnya lebih baik," ujar Ibu Farida lagi setelah menatapku lekat.
Aku yakin ibu Farida bilang begitu karena melihat penampilanku yang berpakaian serba panjang dan lebar.
Padahal, belum tentu yang berpakaian seperti ini paham agama. Boleh jadi masih dalam tahap belajar sepertiku.
"Saya juga masih awam, Bu. Hanya belajar menutup aurat dengan benar saja," balasku sembari menganggukkan kepala. Ibu Farida kembali tersenyum.
"Begitulah. Seperti ilmu padi, makin berisi makin merunduk."
Aku pun kembali melangkah menaiki tangga hingga lantai atas.
Ada beberapa kamar berjejer di sana. Samping kiri tangga kamar Mas Rama, setelahnya kamar Razqa, dan ketiga kamar Latifa.
Aku menempati kamar di sebelah kanan tangga dengan ukuran lebih kecil dibandingkan ketiganya. Kasur di samping jendela, lemari, dan televisi yang menempel di dinding. Seperti kamar kos yang simple tapi menenangkan.
Aku menyukainya.
"Kamu nggak perlu bantu-bantu asisten lain. Fokus pada Mas Rama saja ya, Ri. Semua asisten sudah punya job desk masing-masing, jadi kamu tak perlu merasa sungkan. Ibu akan lebih senang jika kamu bisa membuat Rama tak sebrutal sekarang." Wanita cantik dan modis di usianya yang tak lagi muda itu pun menepuk pundakku pelan dengan senyum yang menawan.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin dan akan menjalankan pekerjaan ini dengan baik. Semoga tak mengecewakan Ibu dan Juragan Ginanjar."
Ibu Farida kembali mengangguk lalu memintaku menyimpan tas berisi beberapa potong pakaian itu ke dalam lemari.
"Ayo saya kenalkan sama Rama. Meski tadi dia sempat mendengarkan obrolan kita di bawah, tapi bagusnya saya kenalkan sekalian. Jadi, kalau dia butuh sesuatu biar tak sungkan."
Aku pun mengiyakan.
Gegas menyimpan tas itu ke lemari lalu mengikuti Ibu Farida keluar kamar.
Perlahan menutup pintu kamar lalu melangkah perlahan ke kamar Mas Rama yang hanya berjarak tiga meter saja dari kamarku.
Ibu Farida mengetuk pintu perlahan sembari memanggil nama anak tirinya dengan lembut. Namun, tak ada jawaban apapun dari dalam. Sampai panggilan ketiga, pintu kamar baru terbuka.
"Berisik!" sentak laki-laki berambut setengah gondrong itu dengan ketusnya. Dia tak peduli meski di hadapannya kini adalah ibu sambungnya sendiri.
"Rama ...." Ibu Farida mencoba menepuk pundak lelaki itu, tapi ditepisnya kasar.
"Jangan pegang.” Pria itu berkata denagn nada rendah. “Kenapa? Jangan sok baik, aku tidak suka."
Aku kembali menelan saliva melihat tatapan benci dari kedua mata lelaki itu. Namun, Ibu Farida tak mengubah sikapnya. Beliau masih tetap seperti semula tanpa ada kemarahan sedikit pun di wajahnya.
"Rama, ini Riana, asisten baru kamu. Semoga kamu cocok dan dia betah kerja di rumah ini untuk kamu ya. Mama tahu kamu membutuhkan seseorang untuk bantu kamu, jadi–”
"Aku nggak butuh. Semua bisa kukerjakan sendiri,” ucap pria itu tajam. “Ingat, Anda telah menghancurkan impian ibu saya. Jadi jangan sok jadi pahlawan kesiangan. Sampai kapan pun, Anda tetap benalu dan manusia berhati iblis!"
"Astaghfirullah," pekikku lirih, tapi masih cukup jelas terdengar oleh kedua orang di depanku.
Mereka menoleh ke arahku, membuatku semakin tak berkutik. Bingung mau berbuat apa, yang ada hanya kembali menundukkan kepala.
Salah satu ujung bibir pria itu tertarik ke atas. “Anda ambil asisten dari mana? Udik.” Nada suaranya meremehkan.
Ya Allah, yang aku hadapi benar-benar setengah monster sepertinya. Bukan manusia sepenuhnya.
Bagaimana ini? Haruskah menyerah sebelum berperang? Rasanya terlalu pengecut jika itu kulakukan bukan?
"Permisi, Pak," sapa Naura. "Bapak Candra?""Oh, beliau sedang keluar." Pria paruh baya di dalam ruangan tersebut menyahut. "Kamu mahasiswa bimbingan beliau?""Beliau pembimbing akademik saya, Pak." Naura menjelaskan, khawatir dikira mahasiswi semester tua.Pria paruh baya itu mengangguk. "Nanti ke sini lagi saja. Beliau mendadak harus menghadiri rapat senat.""Oh, begitu. Baik, Pak. Terima kasih banyak atas informasinya," jawab Naura seraya mengangguk sopan.Ia kembali menarik pintu kayu itu hingga tertutup rapat dengan bunyi klik yang pelan. Sembari membalikkan badan, Naura mengembuskan napas panjang. Ada secuil rasa lega sekaligus canggung yang bercampur di dalam dadanya; lega karena ia memiliki waktu lebih untuk menyiapkan mental, namun juga canggung karena rencana di hari pertamanya ini tidak berjalan mulus sesuai jadwal. Dengan langkah kaki yang santai, Naura berjalan menyusuri koridor lantai dua yang sejuk oleh hembusan pendingin ruangan, meninggalkan area gedung dosen menuju tangga
## Bab: Titik Mula BaruPengumuman hasil seleksi masuk universitas hari itu menjadi salah satu momen paling krusial di kediaman Ginanjar. Di tengah ketegangan yang menyelimuti ruang tengah, dua buah layar laptop terbuka bersisian. Ketika tombol *refresh* ditekan secara bersamaan, warna hijau yang melambangkan kelulusan seketika memenuhi layar.Naura dan Dimas dinyatakan lolos di universitas negeri yang sama. Sebuah pencapaian besar yang membuat Bu Farida menangis haru dan Mas Hanif tersenyum penuh kebanggaan.Meskipun mereka berdua sama-sama berhasil menembus Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), jalur yang mereka ambil sepenuhnya berbeda. Dimas, dengan segala kalkulasi logis dan ambisi korporatnya, mutlak memilih jurusan Manajemen Bisnis. Sementara Naura, setelah melewati pergolakan batin yang panjang di sudut kafe Kak Riana, akhirnya menjatuhkan pilihan pada jurusan Akuntansi. Baginya, barisan angka dan laporan keuangan adalah representasi dari kepastian—sebuah ilmu pasti yang bisa ia kend
Naura menyesap es cokelatnya perlahan, merasakan sensasi manis dan dingin yang membasahi tenggorokannya yang kering. Ia menggeleng pelan. "Bukan soal itu juga sih spesifiknya. Cuma kayaknya perlu ubah suasana dulu aja.""Karena?""Bingung...." Riana diam, menunggu Naura melanjutkan.Sementara gadis itu memikirkan ucapan Dimas soal bantuan keluarga Ginanjar dan omongan Devan soal cita-cita tadi."Kak ... Kak Riana kuliah? Maaf kalau aku tanya begini."Riana tertawa kecil. "Nggak apa, Ra. Tapi jawabannya enggak. Aku langsung coba cari kerja sehabis lulus SMA kemarin.""Oh? Terus kenapa buka kafe? Awalnya kerja di kafe?""Enggak juga." Riana menyodorkan camilan pada Naura. "Awalnya aku jadi babysitter Mas Rama."Naura berkedip. Ia diam cukup lama sebelum kemudian bertanya, "Gimana, Kak?""Pokoknya, pekerjaan pertamaku waktu itu adalah bekerja buat keluarga Ginanjar. Eh ternyata jodoh, sama Mas Rama.""Terus kenapa jadinya punya kafe?""Coba makanannya, Ra. Masakanku enak nggak?"Naura
Jemari Naura bergerak cepat di atas papan ketik, buru-buru mengetik balasan."Maaf, Mas. Tadi aku memang sempat ke perpus daerah. Tapi sekarang sudah selesai semua dan aku sudah di dalam angkot."[Oh, oke, aman. Bukti kalau kamu bisa balas pesanku berarti transaksi ponselnya lancar ya?]"Aman kok."[Lain kali titip pesan atau kabari. Waspada sedikit kalau jalan sendiri.]Naura diam. Benar juga, kali ini dia juga bergerak sendiri.Otaknya sepintas teringat saat ia pergi ke kontrakan lamanya dan bertemu dengan Bowo. Niatnya cuma ambil barang, tapi endingnya justru demikian.Sontak, Naura bergidik.Ia kenal Bowo, sampai tahu kalau pria itu sifatnya buruk. Kalau sekarang bedanya, ia tidak kenal Devan sekalipun sikap pria itu ramah dan terbuka. Meski begitu, keduanya tetap punya potensi untuk berbuat jahat dan Naura baru menyadari hal itu.Yah, dia sekarang tidak apa-apa dan masib berpikir Devan baik saja. Tapi ia paham maksud Dimas."Siap, Mas. Maaf kalau sempat bikin khawatir."Selama beberapa saat
Berikut adalah pengembangan cerita menjadi sekitar 600 kata, dengan memperdalam dinamika psikologis antarkarakter dan ketegangan suasana tanpa mengubah inti cerita maupun menjadikannya terlalu mendayu-dayu.“Maaf, Kak,” ucapnya kemudian. “Selain teman kuliah, apa Kak Devan punya hubungan lain dengan Mbak Dea?”Devan terdiam sejenak. Sorot matanya mendadak berubah intens, mengunci pandangan Naura. “Memangnya kenapa, Ra? Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?”“Nggak, Kak…”Naura sedikit kebingungan, merutuki bibirnya yang bergerak lebih cepat daripada otaknya. Pertanyaan tadi terlontar secara spontan begitu saja. Sembari meremas jemarinya di bawah meja, ia memutar otak untuk mencari alasan yang logis. Ia jelas tidak bisa mengatakan kalau dia tidak sengaja melihat foto tersembunyi di galeri ponsel Devan saat pria itu sempat meminjamkan ponselnya tadi.“Soalnya Kakak kedengaran dekat sekali dengan Mbak Dea,” lanjut Naura, mencoba melempar senyum senormal mungkin. “Sahabat kah?”“Iya, tema
Naura tidak langsung menjawab. Dalam hati menimbang ajakan tersebut dengan memikirkan motivasi Devan. Apakah itu murni untuk makan dan kompensasi, atau ada niat lain.Tapi, seperti biasa. Rasa tidak enakan yang menjadi kelemahan terbesar Naura akhirnya kembali mengambil alih."Boleh, Kak," jawab Naura singkat.Mereka berdua berjalan kaki menyeberang jalan raya menuju sebuah kedai soto ayam yang cukup ramai. Devan mencarikan meja yang agak teduh di dekat pilar, menarikkan kursi untuk Naura, dan memesankan dua porsi makanan tanpa membuat Naura merasa canggung. Sikap dewasanya yang tenang sempat membuat Naura sedikit melonggarkan pertahanannya. Naura membatin dalam hati, mungkin prasangkanya semalam terlalu berlebihan."Kamu masih kuliah?" Devan membuka obrolan setelah dua mangkuk soto hangat dihidangkan di atas meja mereka. “Oh ya. Namamu siapa? Aku Devan.”"Naura, Kak. Aku lagi bersiap buat ujian penyetaraan, Kak. Kemarin sempat putus sekolah karena harus mengurus Ibu yang sakit," ja







