Share

PERKENALAN

Author: NawankWulan
last update Last Updated: 2025-12-11 22:39:15

Aku semakin tercekat saat melihat laki-laki itu berhenti di tengah tangga lalu membalikkan badan sebentar menatapku. Tanpa senyum, dia kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai atas.

"Dia memang begitu, terlalu kaku, Ri. Kamu nggak mundur saat ini juga kan?" Juragan Ginanjar menatapku beberapa saat setelah menoleh ke arah anak sulungnya yang telah menghilang di ujung tangga.

"N-nggak, Juragan. Saya akan tetap bekerja seperti janji saya tadi." 

Juragan Ginanjar dan istrinya pun saling tatap lalu tersenyum tipis.

"Syukurlah kalau begitu. Biar Ibu yang antar kamu ke kamar.” Juragan berkata. “Kamar kamu bersebelahan dengan kamar Rama di lantai atas. Di sana juga ada kamar Latifa dan Razqa. Semoga betah ya, Ri. Selamat bekerja." 

Aku kembali mengangguk.

"Oh ya satu lagi, tiap minggu kamu boleh cuti. Terserah mau pulang atau sekadar jalan di luar."

Kuhela napas lega saat mendengar kata cuti, setidaknya aku bisa pulang ke rumah seminggu sekali untuk melepas kangen. Meski Emak atau Bapak bisa ke sini jika ingin bertemu denganku, tapi aku tak ingin terus merepotkan mereka. 

"Ayo, Ri. Ibu antar ke kamarmu," ajak Bu Farida begitu lembut dan aku pun mengiyakan.

"Jangan kaget kalau nanti dibentak monster ya, Ri." Candaan Mas Hanif membuatku menghentikan langkah.

"Hanif ... jangan buat Riana mengurungkan niatnya untuk bekerja," omel Ibu Farida lalu memintaku segera ke lantai atas. 

Mas Hanif hanya terkekeh saat mendapatkan omelan mamanya.

Tiap tangga yang terlewati, hatiku semakin berdebar tak karuan. Entah makhluk apa yang akan kuhadapi nanti, yang pasti aku harus bisa menaklukkannya. Selain sudah menerima bonus, aku juga tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Gaji semakin meningkat jika aku bisa membuat Mas Rama berubah lebih baik.

"Rama begitu hanya karena belum bisa ikhlas dan menerima takdir-Nya, Ri. Semoga nanti kamu bisa mengajak dia untuk mengenal agama. Dia memang tak terlalu percaya dengan agama dan Tuhan."

Aku kembali terhenti. 

Semengerikan itulah makhluk yang akan menjadi atasanku nanti? Tak mengenal agama bahkan Tuhan? Ya Allah, mengerikan sekali.

Ibu Farida membalikkan badan saat menyadari aku tak bergerak menyusulnya. Ada jeda beberapa tangga antara aku dan dia.

"Saya tahu kamu lebih paham soal agama, makanya begitu berharap kamu bisa membimbingnya lebih baik," ujar Ibu Farida lagi setelah menatapku lekat.

Aku yakin ibu Farida bilang begitu karena melihat penampilanku yang berpakaian serba panjang dan lebar. 

Padahal, belum tentu yang berpakaian seperti ini paham agama. Boleh jadi masih dalam tahap belajar sepertiku.

"Saya juga masih awam, Bu. Hanya belajar menutup aurat dengan benar saja," balasku sembari menganggukkan kepala. Ibu Farida kembali tersenyum.

"Begitulah. Seperti ilmu padi, makin berisi makin merunduk." 

Aku pun kembali melangkah menaiki tangga hingga lantai atas.

Ada beberapa kamar berjejer di sana. Samping kiri tangga kamar Mas Rama, setelahnya kamar Razqa, dan ketiga kamar Latifa. 

Aku menempati kamar di sebelah kanan tangga dengan ukuran lebih kecil dibandingkan ketiganya. Kasur di samping jendela, lemari, dan televisi yang menempel di dinding. Seperti kamar kos yang simple tapi menenangkan. 

Aku menyukainya.

"Kamu nggak perlu bantu-bantu asisten lain. Fokus pada Mas Rama saja ya, Ri. Semua asisten sudah punya job desk masing-masing, jadi kamu tak perlu merasa sungkan. Ibu akan lebih senang jika kamu bisa membuat Rama tak sebrutal sekarang." Wanita cantik dan modis di usianya yang tak lagi muda itu pun menepuk pundakku pelan dengan senyum yang menawan.

"Saya akan berusaha semaksimal mungkin dan akan menjalankan pekerjaan ini dengan baik. Semoga tak mengecewakan Ibu dan Juragan Ginanjar." 

Ibu Farida kembali mengangguk lalu memintaku menyimpan tas berisi beberapa potong pakaian itu ke dalam lemari.

"Ayo saya kenalkan sama Rama. Meski tadi dia sempat mendengarkan obrolan kita di bawah, tapi bagusnya saya kenalkan sekalian. Jadi, kalau dia butuh sesuatu biar tak sungkan." 

Aku pun mengiyakan.

Gegas menyimpan tas itu ke lemari lalu mengikuti Ibu Farida keluar kamar. 

Perlahan menutup pintu kamar lalu melangkah perlahan ke kamar Mas Rama yang hanya berjarak tiga meter saja dari kamarku.

Ibu Farida mengetuk pintu perlahan sembari memanggil nama anak tirinya dengan lembut. Namun, tak ada jawaban apapun dari dalam. Sampai panggilan ketiga, pintu kamar baru terbuka.

"Berisik!" sentak laki-laki berambut setengah gondrong itu dengan ketusnya. Dia tak peduli meski di hadapannya kini adalah ibu sambungnya sendiri.

"Rama ...." Ibu Farida mencoba menepuk pundak lelaki itu, tapi ditepisnya kasar.

"Jangan pegang.” Pria itu berkata denagn nada rendah. “Kenapa? Jangan sok baik, aku tidak suka." 

Aku kembali menelan saliva melihat tatapan benci dari kedua mata lelaki itu. Namun, Ibu Farida tak mengubah sikapnya. Beliau masih tetap seperti semula tanpa ada kemarahan sedikit pun di wajahnya.

"Rama, ini Riana, asisten baru kamu. Semoga kamu cocok dan dia betah kerja di rumah ini untuk kamu ya. Mama tahu kamu membutuhkan seseorang untuk bantu kamu, jadi–”

"Aku nggak butuh. Semua bisa kukerjakan sendiri,” ucap pria itu tajam. “Ingat, Anda telah menghancurkan impian ibu saya. Jadi jangan sok jadi pahlawan kesiangan. Sampai kapan pun, Anda tetap benalu dan manusia berhati iblis!"

"Astaghfirullah," pekikku lirih, tapi masih cukup jelas terdengar oleh kedua orang di depanku. 

Mereka menoleh ke arahku, membuatku semakin tak berkutik. Bingung mau berbuat apa, yang ada hanya kembali menundukkan kepala.

Salah satu ujung bibir pria itu tertarik ke atas. “Anda ambil asisten dari mana? Udik.” Nada suaranya meremehkan.

Ya Allah, yang aku hadapi benar-benar setengah monster sepertinya. Bukan manusia sepenuhnya. 

Bagaimana ini? Haruskah menyerah sebelum berperang? Rasanya terlalu pengecut jika itu kulakukan bukan?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Kiriman Foto

    Laura menurunkan kacamata hitam ber-merk miliknya hingga bertengger di pangkal hidung. Bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala melengkung sinis. "Na, mataku nggak salah lihat kan? Itu perempuan gembel yang bikin sepupumu klepek-klepek kan?" tanya Cindy, sahabatnya yang tengah menenteng tas branded keluaran terbaru, ikut menyipitkan mata menembus terik matahari. "Dipelet kali makanya klepek-klepek. Mas Hanif berubah jadi seseorang yang tak kukenal. Bahkan berani membentakku di depan keluarga besar. Kalau nggak dipelet, mana mungkin Mas Hanif suka sama perempuan model itu. Wajah juga pas-pasan apalagi duit dan pendidikannya," balas Laura sengit. "Si Dea guru TK itu, kan? Ya ampun, Ra ... lihat deh dandanannya. Keringetan di pinggir jalan bawa-bawa kasur busa murahan. Dan ... eh, tunggu! Cowok yang di sebelahnya itu siapa? Mesra banget senyum-senyum berdua," tunjuk Luna, sahabat kedua Laura. Ketiga perempuan itu memang temu kangen dan makan di cafe yang terletak di seberang toko

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Kontrakan Baru

    Matahari siang menyengat garang, memanggang aspal jalanan kota yang hiruk-pikuk. Namun, panasnya cuaca tak sedikit pun menyurutkan semangat Dea dan adiknya, Dimas. Keduanya berdiri di depan sebuah toko mebel sederhana yang merangkap agen kasur busa di pinggir jalan raya. Keringat membasahi pelipis Dea, membuat hijab di bagian wajahnya sedikit basah, namun senyum tulus tak kunjung pudar dari bibirnya.​"Bang, beneran nggak bisa kurang lagi ini harganya? Masa kasur busa single sama kasur lantai tipis begini harganya dipatok pas? Saya kan ambil rak besi bongkar-pasangnya sekalian dua set lho, Bang. Buat penglaris siang bolong nih," bujuk Dea dengan nada ramah namun pantang menyerah. Tangannya mengusap permukaan kasur busa bermotif bunga-bunga pudar itu.​Pemilik toko, seorang pria paruh baya bertopi lusuh, menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aduh, Mbak e. Ini udah harga paling mepet. Rak besinya itu yang tebal lho, bukan yang gampang melengkung. Tambah lima puluh ribu lagi lah dari taw

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Balasan Menohok

    Suasana di ruangan itu terasa semakin menegangkan.. Beberapa kerabat yang masih duduk di kursi makan pun mulai saling bisik. Ada yang membenarkan sikap Rina, tapi ada pula yang setuju dengan keputusan Ginanjar dan istrinya yang membiarkan anak-anaknya memilih siapa calon terbaik untuk hidup mereka. Tahu kalau ada yang mendukung sikapnya, Tante Rina muali melanjutkan dengan nada sok bijak. "Hanif kan bisa milih calon istri dari keluarganya sendiri, Mbak, Mas." Rina menoleh ke arah Hanif yang sedari tadi menatap layar ponselnya. Sebenarnya dia benar-benar jengah mendengar obrolan tentang perjodohan lagi dan lagi. Dia sudah paham ke arah mana pembicaraan kali ini. Rama dan Rania yang duduk di seberangnya pun hanya terdiam. Mereka tak ingin ikut campur kalau memang Hanif belum minta bantuan. "Lagian mereka baru kenal. Masa si guru itu udah mau diajak makan siang segala. Genit banget nggak sih, Om, Tante. Kalau memang perempuan baik-baik dan nggak ada rencana busuk, pastilah ditolak den

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Pertemuan Keluarga

    Suasana di ruang keluarga besar keluarga Darmawangsa yang sebelumnya hangat seketika menguap, digantikan oleh ketegangan dengan beragam sindiran dan ejekan. Suara denting sendok dan piring yang beradu tiba-tiba berhenti. Semua mata kini tertuju pada satu sudut ruangan.​Hanif baru saja meletakkan cangkir kopinya saat Laura, sepupunya, melontarkan kalimat dengan nada suara yang sengaja ditinggikan agar seluruh ruangan mendengarnya.​"Aku tuh cuma heran sama selera kamu sekarang dalam mencari pasangan hidup, Mas," ucap Laura sambil tersenyum sinis, melipat kedua tangan di dada. "Direktur muda yang tampan, berpendidikan dan sukses yang kemana-mana bawa mobil mewah, tapi kok sering nongkrongnya di gang sempit. Ngejar-ngejar guru TK anaknya yang cuma tinggal di kosan sepetak. Nggak turun derajat kamu, Mas?" sambung Laura tanpa basa-basi. ​Beberapa kerabat yang tadinya asyik mengobrol langsung terdiam. Hanif menarik napas panjang, berusaha menahan emosi demi menghargai tetua keluarga yang

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Penyelidikan

    Ruangan cafe yang dipesan secara privat itu terasa senyap, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan yang terasa menusuk kulit. Laura menghela napas panjang, jemarinya mengetuk meja kaca dengan ritme yang tidak beraturan, tanda bahwa badai besar sedang berkecamuk di balik wajah cantiknya.Sejak kejadian di restoran dua hari lalu, Laura memang tak tenang. Rasa kesal dan sakit hati memenuhi dadanya. Dia kesal dengan sikap Hanif yang lebih membela perempuan itu dibandingkan dirinya, sepupunya sendiri. "Mas Hanif benar-benar menyebalkan. Berani-beraninya dia ngebentak aku demi perempuan sampah itu!" gumamnya lagi. Tangannya kembali mengepal geram. Suasana hati Laura benar-benar berkecamuk. Berisik dan penuh dendam. Sementara di depannya, seorang pria tegap berpakaian serba hitam berdiri kaku, menanti instruksi dengan kepala sedikit tertunduk.​"Aku tak suka ada duri dalam daging, apalagi duri yang mencoba terlihat seperti bunga yang manis." Suara Laura rendah, namun setiap katanya t

  • Pengasuh Kesayangan Bujang Arogan   Membalas Ancaman

    Hanif baru saja hendak menutup pintu kemudi setelah memastikan Rafqa yang terlelap tidak terbangun, namun sebuah tangan dengan kuku merah menyala menahan pintu mobil itu dengan kasar.​BRAK!​"Mas Hanif! Kamu bener-bener keterlaluan!" teriak Laura. Napasnya memburu, wajahnya yang penuh riasan mahal itu kini tampak berantakan karena emosi. ​Hanif menghela napas panjang, dia keluar dari mobil dan berdiri menjulang di depan Laura. Sorot matanya sedingin es. "Apa lagi, Laura? Belum cukup kamu mempermalukan diri sendiri di dalam tadi?"​Laura tertawa sumbang, matanya melirik tajam ke arah Dea yang duduk tegang di kursi penumpang depan.​"Aku yang malu? Harusnya kamu yang malu, Mas! Lihat perempuan itu!" Laura menunjuk wajah Dea dengan telunjuknya yang gemetar. "Dia itu cuma perempuan kelas teri! Guru TK yang gajinya nggak seberapa. Dia pasti sengaja deketin kamu buat numpang hidup dan sengaja biar naik kasta!" cicit Laura begitu sengit. ​"Mbak Laura, tolong jaga bicara Mbak ...." Dea m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status