LOGIN— Weiter, Adrian. Ihre heisere Stimme. Ihre Finger, die sich in die Laken krallen. Ihr Rücken, der sich durchbiegt. — Ja, genau so… mach weiter… Er hört auf sie. Er würde alles tun, was sie verlangt. Seine Hände auf ihren Hüften, sein Rhythmus wird schneller. Sie beißt sich auf die Lippe. — Sieh mich an. Sie öffnet trübe, versunkene Augen. Geweitete Pupillen. — Sag mir, was du willst. — Dich. Nur dich. Sie küsst ihn. Wild. Geschmack nach Whiskey, Salz und ihm. Ihre Zunge, ihre Zähne, diese Art, wie sie ihn verschlingt, als wäre es das letzte Mal. Ihre Fingernägel graben Furchen in seinen Rücken. Ihre Beine rutschen höher. — Hör nicht auf. Er hört nicht auf. Er wird langsamer. Lässt sie zappeln. Sieht zu, wie sie sich windet, nach seinem Rhythmus sucht, ihn wortlos um Gnade anfleht. — Adrian… bitte… Dieser Name in ihrem Mund. Diese Art, wie sie ihn ausspricht – wie ein Gebet. Er wird schneller. Taucht tief in sie ein. Tiefer. Noch tiefer. Bis sie nur noch Atemlosigkeit ist, nur noch Stöhnen, nur noch hingegebener Körper. Sie kommt zuerst. Ihre Finger krallen sich in seine Schultern, ihre Nägel bohren sich hinein, ihr Bauch wölbt sich, ihr Schrei hallt durch das Zimmer. Er folgt ihr wenig später, die Stirn an ihrem Hals, ihre Haut einatmend, zitternd an ihr. — In Mayas Leben gibt es nur eine Regel: keine Liebe. Liebe zerstört alles. Also zieht sie One-Night-Stands vor: Nächte ohne Morgen, ohne Namen, ohne Versprechen. Ein Drink. Ein Blick. Jeder verschwindet wieder. Bis zu ihm. Adrian. Magnetisch. Beunruhigend. Er sollte nur eine weitere Nacht sein. Aber er kommt zurück. Er will nicht nur ihren Körper. Er will sie verstehen. Herausfordern. Besitzen. Zu spät begreift Maya, dass manche Begegnungen kein Zufall sind.
View More"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGKapitel 41: Die ersten SchrittePOV ClaudeDie Praxis von Dr. Armand befand sich im dritten Stock eines alten Steingebäudes, weit weg von den Glastürmen meiner früheren Welt. Der Aufzug roch nach Wachs und nach Zeit. Ich war zu früh. Ich stand im stillen Flur, starrte auf das goldene Schild an der Tür, mein Herz raste, als stünde ich vor einem Tribunal. In gewisser Weise war es das. Dem Tribunal meines eigenen Gewissens.Das Wartezimmer war klein, gemütlich, mit alten Büchern und einem tiefen, abgenutzten Ledersessel. Keine protzigen Zeitschriften. Keine Fahrstuhlmusik. Nur das feierliche Ticken einer Uhr und das Gewicht der Stille.„Monsieur Martin?“Dr. Armand war ein Mann um die Sechzig, mit ruhigen Augen hinter einer dünnen Brille. Er streckte mir nicht mit einem geschäftsmäßigen Lächeln die Hand hin. Er neigte nur leicht den Kopf und winkte mich herein.Der Sessel ihm gegenüber war weich, umhüllend. Eine Einladung, zusammenzubrechen. Ich saß aufrecht da, die Hände auf den Knien,
Kapitel 40: Der Weg der AschePOV BellaEINIGE WOCHEN SPÄTERDie Tage nach der Entdeckung waren ein weißer Fleck. Eine Mondlandschaft aus purem Schmerz, in der die Zeit keinen Sinn mehr hatte. Ich funktionierte wie ein Automat: Schlösser austauschen, einen Anwalt konsultieren, Papiere unterschreiben, deren Worte an mir abglitten, ohne einzudringen. Die Wut und die Tränen hatten einer inneren Kälte, einer tiefen Müdigkeit Platz gemacht.Dann begann Claudes Schweigen anders zu wiegen. Nicht sein eigenes Schweigen – er hatte einmal von einer unbekannten Nummer aus versucht anzurufen. Ich hatte es klingeln lassen. Nein, es war das Schweigen der anderen. Thomas, sein Partner, rief mich schließlich an, die Stimme verlegen. Nicht, um Partei zu ergreifen. Um mir mit einem greifbaren Unbehagen mitzuteilen, dass Claude einen katastrophalen beruflichen Fehler gemacht hatte. Dass er beurlaubt worden war. Dass er … nicht gut aussah.„Er kommt nicht mehr ins Büro, Bella. Und wenn er da ist, ist er
Kapitel 39: Der ZusammenbruchPOV ClaudeDie Nacht war ein langer Tunnel aus Kälte und Leere. Ich ging ziellos, das gefrorene Kopfsteinpflaster hämmerte gegen meine dünnen Sohlen, der Wind durchdrang mein Hemd, als wäre ich bereits nur noch ein Geist. Keine Brieftasche. Kein Telefon. Nichts in den Taschen außer den Schlüsseln zu Rosys Duplex, ein metallischer Gegenstand, der mir auf der Haut brannte. Ich warf sie in einen Gully, das Klirren verschluckte die Stille.Das Hotel „L'Étape“, eine verwitterte Fassade nahe dem Güterbahnhof. Das flackernde Neonlicht betonte den fleckigen Teppich und den muffigen Geruch. Ich bezahlte die Nacht mit den letzten zusammengeknüllten Scheinen, die ich in einer Hosentasche vergessen hatte. Das Zimmer war eine Zelle: ein hartes Bett, ein Röhrenfernseher, ein schmutziges Fenster mit Blick auf eine Backsteinmauer.Ich brach auf dem Bett zusammen, ohne meine Schuhe auszuziehen. Der Schlaf kam nicht. Nur ein Strudel aus Bildern: Bellas zerrüttetes Gesicht.
Kapitel 38: Der NachtrufPOV RosyDer Schlaf war ein ruhiges, schwarzes Meer, die Art von tiefem Schlaf zufriedener Eroberer. Die Wohnung war still, nur bevölkert von der Erinnerung an den Abend, den Eintopf, den Wein, seinen Körper an meinem. Ich lächelte im Schlaf, die neuen Laken umhüllten meinen Sieg.Da riss das Telefon die Stille entzwei.Das Geräusch, schrill und beharrlich im Dunkeln, riss mich aus meinen Träumen. Ich stöhnte auf, eine Hand tastete auf dem Nachttisch, suchte den leuchtenden Bildschirm. 3:17 Uhr. Eine Geisterstunde.Es war er.Ein Anflug von Ärger zuerst. Er konnte besitzergreifend sein, aber nie so sehr. Nie zu dieser Stunde. Dann, eine Sekunde später, ein kleines Kribbeln der Aufregung. Vielleicht konnte er nicht schlafen. Vielleicht war er besessen, brauchte mich jetzt, sofort, mitten in der Nacht. Der Gedanke war stark.Ich wischte mit dem Finger über den Bildschirm, die Stimme noch schlaftrunken.„Hallo? Claude? Weißt du, wie spät es ist?“Seine Stimme tra