LOGINBaik, kalau kau benar-benar bisa membayarku dua puluh miliar, aku akan tinggalkan dan jauhi Dina,” ucap Dimas Bramasta dengan nada penuh tantangan, matanya menatap tajam ke arah Indra seolah sedang menikmati permainan ini. Ia kemudian melangkah sedikit lebih dekat, menunduk agar wajahnya sejajar dengan Indra, lalu melanjutkan dengan senyum sinis, “Tapi kalau kau tidak bisa, saat ini juga kau harus menjilati sepatuku di sini.” Ia mengangkat kakinya sedikit, seolah benar-benar siap mempermalukan Indra di depan semua orang. “Aku tunggu dua jam sebelum acara ini selesai,” tambahnya dengan nada santai, seolah ia sudah sangat yakin akan hasilnya. Suasana langsung berubah menjadi riuh. Para tamu saling berbisik, beberapa bahkan tidak menutupi tawa mereka. Di mata mereka, ini bukan lagi konflik biasa, melainkan tontonan yang sangat menghibur. Seorang pria tua di sudut ruangan bahkan menggelengkan kepala sambil tersenyum, seolah sudah tahu akhir dari cerita ini. Tidak ada satu pun yang benar
Pagi itu terasa lebih tenang dari biasanya bagi Indra. Tidak ada tekanan, tidak ada rasa dikejar-kejar seperti hari-hari sebelumnya. Tapi justru di tengah semua perubahan besar yang terjadi dalam hidupnya, ada satu hal sederhana yang tiba-tiba ia rindukan.Rutinitas lamanya.Ia berdiri cukup lama di depan cermin, menatap jaket ojek online yang tergantung di kursi. Jaket itu terlihat biasa saja, bahkan sedikit kusam. Jauh berbeda dengan dunia yang sekarang mulai ia masuki. Tapi entah kenapa, ada rasa hangat saat ia menyentuhnya.Perlahan, Indra mengenakan jaket itu.Tangannya merapikan bagian depan, lalu berhenti sejenak. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, dan untuk beberapa detik, pikirannya kosong. Tidak ada sosok dewa perang, tidak ada miliaran rupiah, tidak ada kekuasaan.Hanya dirinya.“Aku cuma mau ingat… rasanya jadi orang biasa,” gumamnya pelan, suaranya rendah, lebih seperti berbicara ke dalam dirinya sendiri.Di dalam hatinya, ia sadar. Kalau ia tidak hati-hati, semua yan
Hansen berdiri diam di depan layar yang terus berubah, tetapi kali ini ia tidak lagi mencoba memahami data secara detail. Matanya hanya menatap, namun pikirannya bergerak jauh lebih cepat dari angka-angka yang muncul. Ada satu hal yang kini terasa jelas di dalam dirinya, sesuatu yang sebelumnya hanya berupa dugaan samar.Ini bukan sekadar serangan bisnis.Ini bukan sekadar permainan uang.Ini… sesuatu yang jauh lebih besar.Ia menarik napas pelan, lalu menurunkan ponselnya dari telinga setelah panggilan terakhir berakhir tanpa jawaban yang ia harapkan. Orang-orang yang biasanya selalu siap membantunya kini mulai memberi jeda, bahkan beberapa di antaranya memilih diam. Bagi Hansen, itu adalah tanda yang lebih mengkhawatirkan dari kerugian apa pun.Di dalam ruangan, suasana tetap tegang. Beberapa staf masih sibuk mencoba menahan kerusakan yang terjadi, tetapi jelas semuanya hanya bersifat sementara. Sistem yang mereka andalkan selama ini tidak benar-benar runtuh, tetapi kendalinya mulai
Lift itu bergerak turun dengan pelan, tetapi suasana di dalamnya terasa jauh lebih berat dari sekadar perpindahan lantai. Indra berdiri tegak di depan dinding kaca, menatap pantulan dirinya sendiri dengan sorot mata yang tidak lagi sama seperti beberapa hari lalu. Ada ketenangan di sana, tetapi bukan ketenangan orang biasa, melainkan ketenangan seseorang yang mulai memahami kekuatannya sendiri.Tangannya masih berada di saku jas, menyentuh kartu hitam itu secara refleks. Benda kecil itu bukan sekadar alat transaksi, tetapi seperti simbol dari sesuatu yang jauh lebih besar. Setiap kali ia menyentuhnya, ada sensasi aneh yang muncul, seperti pengingat bahwa hidupnya telah berbelok terlalu jauh untuk kembali.Di dalam pikirannya, suara dari panggilan sebelumnya kembali terngiang. Nada suara yang dingin, cara bicara yang tegas, dan terutama kalimat terakhir yang mereka ucapkan. Bukan sekadar informasi, tetapi seperti panggilan lama yang akhirnya menemukan jalannya kembali.Pintu lift terbu
Indra meninggalkan rumah itu tanpa menoleh lagi. Pintu di belakangnya sudah tertutup, tetapi suasana di dalam masih terasa menempel di pikirannya. Bukan karena sakit hati seperti dulu, melainkan karena satu hal yang berbeda. Kali ini, ia tidak lagi merasa kecil saat berjalan pergi.Udara malam menyambutnya dengan dingin yang pelan, namun langkahnya tetap stabil. Ia berjalan menuju mobilnya dengan tenang, membuka pintu, lalu duduk di balik kemudi tanpa tergesa. Tangannya menggenggam setir, dan untuk beberapa detik, ia hanya diam sambil menatap lurus ke depan.Di dalam kepalanya, potongan-potongan perasaan aneh mulai muncul lagi. Bukan kenangan yang jelas, tetapi cukup untuk membuatnya merasa familiar dengan situasi yang sebenarnya baru. Ia menghela napas pelan, mencoba menenangkan pikirannya, lalu menyalakan mesin mobil.Mobil melaju keluar dari halaman rumah itu.Lampu-lampu jalan membentang di depan, memantul di kaca mobil dengan ritme yang tenang. Indra mengemudi tanpa tergesa, teta
Ruangan itu membeku setelah kalimat terakhir Indra jatuh dengan tenang namun berat. Tidak ada suara yang langsung menyusul, tetapi ketegangan di udara terasa semakin padat, seolah setiap orang sedang mencoba memahami perubahan yang terjadi di depan mata mereka. Indra berdiri tegak dengan ekspresi datar, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang tidak bisa lagi dianggap remeh. Ia bukan lagi pria yang dulu mereka hina tanpa pikir panjang.Dina menatap Indra lebih lama dari biasanya, matanya bergerak perlahan dari wajah hingga ke tangan yang masih menggenggam kartu hitam itu. Ada keraguan yang mulai muncul di dalam dirinya, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya saat melihat pria itu. Namun di saat yang sama, gengsi dan kebiasaannya merendahkan Indra masih berusaha bertahan. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, lalu mengalihkan pandangan ke Hansen seolah mencari pegangan.Hansen menyadari perubahan itu, dan justru merasa terganggu. Ia tidak suka melihat situasi di mana ia bukan