Share

Chapter 8

Author: KingBee
last update publish date: 2026-10-01 21:26:32

"I... Ibu, silakan masuk," ucap Rania. Suaranya terdengar gugup dan tertahan di pangkal kerongkongan.

Bu Ratna melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi. Sepatu haknya beradu dengan lantai, menimbulkan bunyi ketukan angkuh. Matanya yang tajam langsung menyapu sekeliling ruang tamu, menilai setiap debu dan letak bantal sofa.

"Rumah ini pengap sekali, Rania." Bu Ratna berhenti di tengah ruangan.

"Biar Rania nyalakan pendingin ruangannya, Bu," tawar Rania pelan.

"Tidak usah. Hati saya sudah cukup dingin melihat keadaan rumah tangga anak saya."

Rania menundukkan pandangan. Ia meremas sisi gaunnya menahan sesak. "Ibu mau minum teh kamomil atau air putih?"

"Apa saja. Asal gelasnya benar-benar bersih."

Rania mengangguk dan bergegas ke dapur. Saat ia kembali membawa secangkir teh hangat, Bu Ratna sudah duduk tegak di sofa utama.

"Dua tahun kalian menikah," ucap Nyonya Ratna tajam tanpa menyentuh tehnya. "Sampai kapan Arsen harus menunggu tangisan bayi di rumah ini?"

"Kami masih berusaha, Bu."

"Berusaha bagaimana? Kamu yang bermasalah. Perempuan tidak sempurna tidak akan pernah bisa memberi keturunan bagi keluarga kami."

Rania hanya menunduk. Hasil medis jelas menyatakan sel sperma Arsen yang bermasalah. Namun ia memilih menelan kenyataan itu sendirian demi menjaga harga diri suaminya.

"Tolong sabar sedikit lagi, Bu."

"Sabar ada batasnya, Rania"

Rania menahan napas. Ia tidak membalas lagi. Ia hanya mengulas senyum sopan yang dipaksakan. Satu jam kemudian, Rania memilih pergi, meninggalkan ibu mertuanya yang bersikeras duduk menunggu Arsen pulang.

Di dalam taksi, Rania memeluk erat map cokelat tebal di pangkuannya.

"Pak, ke Pengadilan Agama ya," ucap Rania dengan suara bergetar.

"Baik, Mbak. Kita lewat jalan tol saja supaya cepat?" tanya sopir taksi melirik dari kaca spion.

"Iya, Pak. Tolong agak cepat."

Ponsel di dalam tas Rania tiba-tiba bergetar. Nama Zayyan berkedip di layar. Ia segera mengangkat panggilan itu.

"Halo, Rania? Kamu di mana sekarang?" Suara Zayyan terdengar teduh dan penuh kecemasan.

"Aku di taksi, Zay. Aku mau mengurus perceraianku hari ini."

"Tunggu sebentar. Kamu sedang menangis, Rania?"

Pertahanan Rania seketika retak. Air matanya menetes jatuh. "Ibu mertuaku datang. Dia mengusirku lagi, Zay."

"Rania, dengarkan aku baik-baik. Jangan ke sana sendirian saat kamu sedang hancur begini."

"Lalu aku harus ke mana? Aku sudah tidak tahan hidup diinjak-injak seperti ini."

"Datang padaku. Aku ada di hotel pusat kota. Kamar tiga ratus sepuluh. Datang ke sini sekarang, ya? Aku butuh melihatmu, Rania. Aku butuh kamu."

Rania mengusap air matanya kasar. Panggilan itu ditutup.

"Pak," panggil Rania mencondongkan tubuhnya ke depan. "Tolong putar arah ke hotel pusat kota sekarang juga."

Pintu kamar itu terbuka. Zayyan langsung menarik Rania ke dalam dekapannya begitu pintu tertutup rapat kembali. Pria itu tidak memberikan jarak sedikit pun.

"Rania," bisik Zayyan.

"Zay, aku lelah sekali." Rania menangis tersedu di pelukan hangat pria itu.

"Menangis saja di sini. Keluarkan semuanya, Sayang.

"Dia terus menyebutku perempuan mandul. Padahal anaknya sendiri yang tidak sempurna. Aku merasa sangat tidak berharga di rumah itu."

Zayyan menangkup kedua pipi Rania. Ia menatap mata wanita itu dalam-dalam. "Ssst, berhenti memikirkan mereka. Kamu sempurna, Rania."

"Arsen bahkan menganggapku seperti sampah."

"Di mataku, kamu adalah hal paling berharga. Aku memuja setiap bagian dari dirimu. Aku merindukanmu. Aku hampir gila memikirkanmu setiap hari."

Perasaan dibuang di rumahnya sendiri perlahan terkikis habis. Rania terbuai oleh tatapan dan kata-kata manis Zayyan.

"Zayyan..."

"Biarkan aku menyembuhkan lukamu hari ini."

Napas mereka memburu dan saling beradu di udara dingin penyejuk ruangan. Tangan Zayyan menyusup pelan ke balik pakaian Rania. Jari-jari pria itu menyusuri punggungnya, meninggalkan jejak kehangatan yang membakar. Rania memejamkan mata rapat, membiarkan cum buan Zayyan menyapu le her dan bahunya.

"Jangan pergi lagi, Zay," bisik Rania terbuai.

"Aku tidak akan pernah melepaskanmu."

Mereka berdua jatuh di atas seprai putih bersih, menenggelamkan diri dalam penyatuan yang menulikan semua akal sehat.

Hari mulai berganti gelap saat Rania akhirnya kembali menginjakkan kaki di ruang keluarga rumahnya. Sisa-sisa perasaan melayang masih memenuhi dadanya. Namun, langkahnya terhenti mendadak.

"Baru pulang kamu?"

Suara Arsen menggema membelah ruangan. Pria itu berdiri kaku di tengah rumah. Di belakangnya, Bu Ratna duduk di sofa menatap Rania dengan tatapan sinis yang mematikan.

"Mas Arsen? Kamu sudah pulang?" tanya Rania dengan jantung berdebar keras.

"Dari mana saja kamu berdandan secantik ini sampai malam begini?" Nada bicara Arsen terdengar sangat rendah dan mengancam. Pria itu tidak membentak, tapi rahangnya mengeras.

"Aku... aku habis jalan-jalan sebentar mencari udara segar, Mas."

"Jalan-jalan?" Bu Ratna menyela tajam. "Istri macam apa keluyuran sampai malam meninggalkan ibu mertuanya sendirian di rumah?"

"Maaf, Bu. Kepalaku pening tadi."

Arsen menatap Rania dengan mata menyala. "Lalu benda apa ini, Rania?"

Tangan kanan Arsen terangkat pelan. Jari-jarinya menggenggam sebuah jam tangan pria berbahan kulit hitam. Jam tangan yang sangat Rania kenali biasa melingkar di pergelangan tangan Zayyan.

"Mas..." Suara Rania hilang seketika ditelan ketakutan.

Arsen melempar jam tangan itu ke atas meja kaca. Bunyi benturan keras terdengar amat nyaring, mengejutkan seisi ruangan.

"Milik siapa jam tangan ini, Rania?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 25

    "Nggak mungkin!" bisik Nyonya Ratna dengan suara parau.Siang itu amat terik. Debu-debu halus berterbangan menyapu pinggiran jalan kota setiap kali kendaraan berat melintas. Namun, dunia Nyonya Ratna seolah berhenti berputar detik itu juga tepat di seberang dinding kaca kafe bergaya minimalis tersebut. Udara di sekelilingnya mendadak terasa pekat dan mencekik rongga dada.Mulut wanita tua itu sedikit terbuka, namun tak ada satu pun suara yang mampu lolos dari kerongkongannya yang mengering.Nyonya Ratna melangkah mundur dengan gontai. Kakinya terasa lemas tak bertulang, seakan ia baru saja menerima sebuah pukulan telak tak kasatmata yang menghancurkan ulu hatinya dari dalam.Rasa lega yang sempat mekar karena berhasil menemukan sang menantu, kini seketika menguap tak bersisa di bawah terik matahari.Pemandangan menyesakkan di seberang jalan itu benar-benar meruntuhkan pertahanan kokoh yang selama ini ia bangun. Rania, wanita yang ia paksa untuk mempertahankan kandungan demi merampas k

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 24

    "Bangun kamu, laki-laki gak berguna! "Suara lengkingan Nyonya Ratna membelah kesunyian pagi buta. Ruang tamu sempit itu justru dipenuhi oleh bau alkohol yang menguar amat pekat, menciptakan aroma memuakkan yang menyengat rongga hidung.Nyonya Ratna berdiri bertolak pinggang. Wajah tuanya berkerut menahan amarah yang mendidih. Ujung sandal jepit yang ia kenakan menendang kasar betis putranya. Arsen hanya menggeliat kecil. Pria itu meracau memanggil nama-nama minuman dengan kelopak mata yang masih tertutup rapat. Kemeja kerjanya kusut masai, berbau asam, dan tiga kancingnya terlepas paksa memperlihatkan dadanya.Melihat pemandangan menjijikkan di bawah kakinya, kesabaran Nyonya Ratna terputus. Rasa malu dan kecewa memuncak hingga ubun-ubun. Putra kebanggaannya yang dulu selalu tampil memukau dengan setelan jas mahal tak bernoda, kini hancur lebur tak bersisa. Arsen kehilangan arah perusahaannya dan memilih menjadikan minuman keras sebagai jalan pelarian termudah.Tanpa ampun sedikit pu

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 23

    "Ibu sengaja mau membunuhku secara perlahan dengan makanan seracun ini?!" Nyonya Ratna berdiri mematung di sisi meja. Wajah wanita tua itu pucat bercampur merah, menahan malu dan rasa terkejut yang luar biasa. Jemarinya yang biasanya dihiasi cincin berlian kini tampak gemetar kaku."Arsen, jaga bicaramu! Ibu ini ibumu! Ibu sudah mau turun ke dapur kumuh ini saja harusnya kamu bersyukur! Jangan melampiaskan kekalahanmu di kantor kepada Ibu!""Bersyukur untuk makanan asin yang merusak tenggorokan ini?!" potong Arsen seraya membanting serbet kain ke atas meja.Melihat pertengkaran yang kian memanas, Rania melangkah pelan menghampiri meja makan. Langkah kakinya sengaja dibuat agak diseret, seolah tubuhnya masih terlalu lemah untuk menopang bobot sendiri. "Sudah, Mas... kasihan Ibu. Mungkin Ibu memang sedang lelah dan kurang fokus saat menabur bumbu," bisik Rania dengan suara teramat lembut, seolah ingin menjadi penengah yang penuh pengertian.Namun saat kata-kata manis itu terucap, Rani

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 22

    "Hancurkan Zayyan."Kalimat itu meluncur dari bibir Megan dengan nada berbisik yang sarat akan racun kebencian.Bara terdiam sesaat mendengar permintaan itu. Pria bertubuh gempal tersebut mengerjapkan mata, menimbang untung rugi di dalam kepalanya. Otaknya berputar cepat. Menghadapi pengusaha sebesar Zayyan tentu berisiko tinggi, namun imbalan yang dijanjikan wanita di hadapannya terlalu manis untuk ia tolak begitu saja. Perlahan, senyuman miring terbit di wajah Bara, disusul anggukan kepalanya yang mantap."Bagus," Megan mencondongkan tubuhnya ke depan bibirnya merapat ke daun telinga pria itu, membisikkan sebuah rencana gelap yang telah tersusun rapi."Kamu mantan orang dalam Arsen yang tahu beberapa arsip lama. Manfaatkan itu untuk mendekati Zayyan. Cari celah di perusahaannya, buat dia tersandung kasus hukum yang tidak bisa dibantah," bisik Megan tajam.Bara mendengarkan setiap patah kata dengan saksama. Dada pria itu membusung. Ia merasa sedang memegang kendali penuh atas seoran

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 21

    "Ada apa kamu menemuiku? Saya bukan bos kamu lagi. Sana cari Zayyan, dia bos kamu sekarang!" bentak Arsen.Arsen membuang pandangan ke arah deretan mobil di seberang jalan. Rahang pria itu mengeras kuat hingga urat di lehernya tercetak sangat jelas. Tangan kanannya terkepal erat di sisi tubuh, menahan luapan amarah yang siap tumpah kapan saja. Matanya kemudian menatap tajam sosok Bara, pria bertubuh gempal yang dulu selalu menunduk hormat padanya saat ia masih duduk gagah di kursi direktur utama.Saat tatapan mereka saling bertabrakan, Arsen merasa seluruh dunia sedang menertawakan dan menghakimi kejatuhannya hari ini. Harga dirinya benar-benar terkoyak habis tak tersisa. Bara sama sekali tidak memundurkan langkahnya walau baru saja mendapat bentakan kasar. Bukannya tersinggung atau marah, laki-laki itu justru memasang wajah prihatin yang dibuat sedemikian rupa. Sebuah kepalsuan yang sangat kentara bagi siapa saja yang melihatnya.Bara melangkah mendekat perlahan. Namun, tujuannya bu

  • SKANDAL CINTA TERLARANG    Chapter 20

    "Siapa kamu?! "Jantung Megan berpacu memukul tulang rusuk. Kepalanya yang masih pening mendadak dipaksa mencerna kenyataan yang sangat mengerikan.Pria bertubuh gempal yang tertidur memunggunginya itu seketika terlonjak bangun. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menoleh menatap Megan dengan dahi berkerut bingung."Kenapa kamu teriak pagi-pagi gini?""Aku bilang keluar! Jangan sentuh aku, laki-laki brengs*k!" Megan menyusut mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang. Matanya membelalak penuh ketakutan bercampur amarah."Kamu gila? Ini kamar yang aku bayar semalam." Pria itu menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur. Ia menguap lebar tanpa rasa bersalah sedikit pun.Mata Megan menyapu wajah pria itu. Ingatannya dipaksa bekerja keras memutar ulang memori yang sempat terputus. Pria ini bukan Arsen. Dia Bara. Laki-laki yang merupakan salah satu rekan bisnis yang juga bekerja di kantor Arsen."Apa yang kamu lakukuin padaku, Bara? Kamu sengaja menjebakku saat aku mabuk!

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status