LOGINSatu bulan kemudian
"Suatu kehormatan buat kami bisa diundang makan malam bersama Pak Zayyan," ucap Elvino merendah. Pria itu mengangkat gelas kacanya tinggi. Senyum lebar tergambar jelas di wajahnya, menutupi segala kebusukan yang selama ini ia simpan rapat. Zayyan membalasnya dengan senyum tipis yang sarat akan arti. Bunyi denting gelas yang beradu mengakhiri malam panjang penuh sandiwara itu. Mereka bersulang, merayakan sebuah kehancuran yang tidak disadari oleh Elvino. Beberapa jam berlalu dari perjamuan itu. Jarum jam menunjuk angka dua dini hari. Suara mesin mobil menderu memasuki garasi rumah yang sepi. Rania melangkah pelan membuka pintu depan. Bau alkohol yang sangat menyengat langsung memukul indra penciumannya. Mas Elvino berdiri gontai di ambang pintu. Kemejanya berantakan, kerahnya terbuka lebar, dan matanya merah membaur. "Sini, Mas. Biar aku bantu." Langkah mereka terseok menyusuri ruang keluarga. Tidak ada makian malam ini. Tidak ada kalimat tajam yang menuntut kesempurnaan atau mengeluhkan rumah yang sepi. Elvino hanya bergumam tidak jelas, menyerahkan seluruh berat tubuhnya pada bahu rapuh Rania. Sesampainya di dalam kamar utama, Rania mendudukkan Elvino di tepi ranjang. Ia menunduk berniat melepaskan sepatu kulit suaminya. Namun, sebuah tarikan kuat membuat tubuh Rania kehilangan keseimbangan seketika. Rania terkesiap keras. Tubuhnya jatuh terbaring di atas kasur empuk. Sebelum ia sempat bangkit, Elvino sudah menindihnya. "Mas, kamu mabuk berat.” "sssttt, diam , jangan banyak bicara kamu," Pria itu menulikan telinga. Tatapan Elvino menggelap kehilangan akal sehat. Ia menelusuri lekuk wajah istrinya dengan napas memburu. Laki-laki yang selalu menatapnya dengan sangat dingin itu kini menciumnya penuh rasa lapar yang asing. Malam itu, Rania memejamkan mata rapat. Elvino menuntut paksa haknya sebagai suami tanpa kelembutan. Sebuah kehangatan yang sudah lama mati di antara mereka, kini dipaksakan menyala kembali. Rania hanya diam membiarkan suaminya menikmati tubuhnya di bawah kendali alkohol yang pekat. Matahari pagi perlahan menembus celah tirai kamar yang tidak tertutup rapat. Elvino mengerang tertahan. Ia membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa sangat berat dan berdenyut nyeri. Ia mencoba menggerakkan lengannya yang kebas, namun tangannya menyentuh permukaan kulit di sebelahnya. Matanya melebar seketika. Kesadarannya ditarik paksa kembali ke dunia nyata. "Sial," umpat Elvino pelan. Pria itu bangkit dan duduk dengan napas tertahan. Di sisinya, Rania masih tertidur dengan napas teratur. Bahu istrinya yang terbuka menyisakan tanda kemerahan yang sangat jelas mengukir perbuatannya semalam. Elvino mematung dengan rahang mengeras. Istri yang sudah tidak ia cintai, wanita yang sudah lama tidak ia sentuh karena hatinya berpaling penuh pada Megan, justru sekarang tidur lelap di dalam pelukannya. Rasa bersalah pada wanita simpanannya seketika menguasai dan meracuni pikiran Elvino. Pergerakan kasar di atas kasur membuat Rania terbangun. Ia membuka mata dan menatap wajah suaminya. "Mas? Kamu sudah bangun?" sapa Rania pelan. Ia menarik selimut menutupi dadanya. "Biar aku buatkan air hangat." Sikap Elvino kembali menjadi bongkahan es. Wajahnya mengeras penuh penolakan. Ia bergegas turun dari ranjang, memungut pakaiannya yang berserakan, lalu memakainya dengan gerakan cepat dan kasar. "Lupakan kejadian semalam," ucap Elvino sangat dingin. Ia bahkan tidak sudi menoleh sedikit pun ke arah ranjang. "Mas..." "Aku bilang lupakan, Rania! Aku mabuk berat semalam. Aku sama sekali tidak sadar dengan apa yang aku lakukan." Elvino membentak keras memotong ucapan istrinya. "Kenapa aku harus melupakan kejadian semalam, Mas? Aku ini istrimu yang sah." Rania menjawab dengan suara bergetar . "Istri? Kalau saja aku tidak mabuk, menyentuhmu lagi pun aku tidak akan pernah mau, tak ada gunanya menyentuhmu, kamu gak bisa kasih aku keturunan! " Kalimat itu meluncur tajam menyayat. Elvino berjalan mengambil tas kerjanya di atas meja nakas. Ia melangkah keluar kamar dengan langkah panjang. Suara bantingan pintu terdengar sangat keras memekakkan telinga. Elvino pergi begitu saja, meninggalkan Rania yang membeku dan memperlakukan hubungan mereka semalam layaknya sebuah dosa yang paling menjijikkan. Rania duduk mematung di atas ranjang. Segala sisa harapan yang mungkin sempat mampir semalam kini hancur lebur menjadi debu yang tertiup angin. Laki-laki itu benar-benar tidak lagi menganggapnya sebagai manusia yang memiliki hati. Ia beranjak turun dengan kaki gemetar. Rania membersihkan dirinya di bawah guyuran air hangat yang nyatanya tidak mampu mengusir rasa dingin di hatinya. Setelah rapi dengan gaun selutut berwarna biru gelap, ia berdiri di depan meja rias. Ia menatap pantulan dirinya dalam diam yang panjang. Hari ini, ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk yang terakhir kali. Pernikahannya sudah benar-benar mati dan membusuk. Tidak ada lagi yang bisa diselamatkan dari rumah ini. Rania mengambil sebuah map cokelat tebal dari dalam laci meja. Di dalamnya berisi dokumen identitas dan buku nikah yang sudah ia siapkan sejak lama. Hari ini, ia akan berjalan keluar dengan kepala tegak. Ia akan pergi ke pengadilan agama dan mengajukan berkas gugatan cerai untuk laki-laki bedebah itu. Namun, saat Rania menghela napas panjang dan melangkah bersiap membuka pintu depan rumah, terdengar suara gesekan ban mobil berhenti tepat di pekarangan rumahnya. Tok. Tok. Tok. Rania memutar knop pintu perlahan. Begitu daun pintu terbuka, langkah kakinya seketika terhenti. Rania menahan napas di tenggorokan. Tangannya mencengkeram erat map cokelat di dadanya. Seseorang berdiri angkuh di teras rumahnya. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian sutra mahal yang menjuntai sempurna menutupi tubuhnya. Seseorang yang sangat berpengaruh atas hidup suaminya. Seseorang yang memegang kendali penuh atas keputusan Elvino sejak dulu. Ibu mertuanya. Nyonya Ratna. "Hai, Rania Lama gak bertemu,"Satu bulan kemudian"Suatu kehormatan buat kami bisa diundang makan malam bersama Pak Zayyan," ucap Elvino merendah.Pria itu mengangkat gelas kacanya tinggi. Senyum lebar tergambar jelas di wajahnya, menutupi segala kebusukan yang selama ini ia simpan rapat. Zayyan membalasnya dengan senyum tipis yang sarat akan arti. Bunyi denting gelas yang beradu mengakhiri malam panjang penuh sandiwara itu. Mereka bersulang, merayakan sebuah kehancuran yang tidak disadari oleh Elvino.Beberapa jam berlalu dari perjamuan itu. Jarum jam menunjuk angka dua dini hari.Suara mesin mobil menderu memasuki garasi rumah yang sepi. Rania melangkah pelan membuka pintu depan. Bau alkohol yang sangat menyengat langsung memukul indra penciumannya. Mas Elvino berdiri gontai di ambang pintu. Kemejanya berantakan, kerahnya terbuka lebar, dan matanya merah membaur."Sini, Mas. Biar aku bantu."Langkah mereka terseok menyusuri ruang keluarga. Tidak ada makian malam ini. Tidak ada kalimat tajam yang menuntut kesemp
"Kita perlu bicara, Zay. Berdua saja." Suara Megan dari seberang sambungan telepon terdengar sangat pelan. Nada bicaranya begitu berhati-hati, dijaga sedemikian rupa agar tidak bergetar. Namun efek dari beberapa kata itu mampu menghentikan laju napasku seketika. Aku terdiam cukup lama. Pikiranku berkecamuk hebat, dihantam kenyataan bahwa masa laluku yang belum tuntas kini datang menagih utang di saat yang paling hancur. Aku menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan, lalu mengiyakan permintaannya tanpa ragu sedikit pun. "Besok di tempat biasa," jawabku. Panggilan itu terputus sangat cepat. Bunyi nada putus dari speaker menyisakan layar ponsel yang perlahan meredup di atas meja kerjaku. Ada beban berat yang mendadak menekan dadaku hingga rasanya aku sulit sekali meraup udara bebas. Segala dosa yang pernah kulakukan pada wanita itu berputar kembali di kepalaku layaknya sebuah kaset rusak. Sore harinya, langit kota menumpahkan rintik gerimis di atas atap rumah Rania. Aku berdi
POV Zayyan“Ternyata kamu..” lirihku.Mataku terpaku pada sosok wanita yang berdiri di belakang pria brengsek itu. Jantungku seakan berhenti berdetak detik itu juga. Darah mendesir dingin merayapi tengkuk. Wanita itu adalah Megan.Tatapan kami berserobok membuat udara mendadak terasa pekat. Ada keterkejutan yang sama besarnya tergambar jelas di sepasang mata bulat wanita itu. Namun Megan buru-buru menunduk. Ia menyembunyikan wajah pucatnya di balik map dokumen yang ia peluk erat di depan dada.Aku nyaris kehilangan kendali atas suaraku sendiri. Kenyataan ini menghantamku telak tanpa ampun. Pertemuan bisnis berbalut kebohongan itu baru saja kuakhiri setelah semua urusan selesai. Pintu kayu berukir itu kini tertutup rapat dari luar seiring langkah Elvino dan Megan yang menjauh.Begitu bunyi ketukan sepatu mereka hilang, Rania melangkah keluar dari balik tirai persembunyiannya di sudut ruangan. Wajah wanita yang kucintai itu terlihat pias. Matanya menyala oleh kemarahan dan rasa jijik
"Bagus kalau suami kamu selingkuh!"Suara Zayyan memecah keheningan di antara kami.Aku terkesiap. Mataku menatap pria di hadapanku ini dengan sorot tidak percaya. Dadaku masih berdenyut nyeri mengingat rasa sakit semalam."Bagus bagaimana maksudmu, Zay?" "Ini peluang buat kita, Rania." Zayyan menatapku dengan binar mata penuh harap.Bagi Zayyan, pengkhianatan Mas Elvino adalah jalan pintas. Sebuah celah besar agar ia bisa memilikiku seutuhnya tanpa perlu sembunyi lagi. Namun di balik rasa sakit yang mencekik leher ini, tumbuh rasa penasaran yang amat gelap di dalam kepalaku."Siapa yang lebih dulu bermain api, Zay?" "Kamu tidak perlu memikirkan itu. Kita urus perpisahan kamu secepatnya.""Tidak akan semudah itu.""Kenapa, Rania?""Aku butuh validasi. Aku butuh bukti nyata. Aku ingin menjadikannya senjata di pengadilan nanti. Selama dua tahun dia selalu menuntutku menjadi istri sempurna. Dia menuduhku sebagai penyebab rumah kami terasa mati karena aku belum hamil. Aku tidak akan mem
"Mas Elvino," lirihku.Pria yang semalaman mendiamkanku. Pria yang memarahiku habis-habisan karena aku belum bisa memberinya anak. Pria yang terus menuntutku menjadi istri sempurna tanpa celah. Laki-laki itu sedang berjalan pelan keluar dari pintu kamar lain di lorong yang sama.Dan ia tidak sendirian.Rasa kaget menghantam dadaku begitu keras. Pikiranku kosong tak bersisa. Kakiku seketika kehilangan kemampuan untuk menopang berat badanku sendiri.Lututku melemas. Punggungku merosot perlahan menyusuri dinginnya dinding bercorak emas di lorong itu. Dadaku naik turun menahan isak tangis yang tertahan paksa di ujung tenggorokan."Mas nanti malam janji mau temani aku lagi, kan?" Suara wanita itu terdengar begitu manja dan ringan. Ia merangkul lengan suamiku dengan sangat erat, menyandarkan kepalanya di bahu suamiku.Mas Elvino membisikkan sesuatu yang membuat wanita itu tertawa kecil."Kamu ini menggemaskan sekali. Tentu aku janji. Apa sih yang nggak buat kamu?" sahut suamiku dengan nada
"Aku akan menunggumu sampai kamu ke pelukanku, Rania."Kalimat itu terus berputar di dalam kepalaku. Suara Zayyan menyusup pelan melewati gelapnya kamar, mengikis dan menghancurkan sisa pertahananku malam ini. Suaranya terasa begitu dekat, seolah ia sedang berbisik tepat di telingaku, membujukku untuk menyerah pada keadaan. Aku membuka mata. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa terus hidup dalam ruangan yang terasa mati ini.Aku menyingkap selimut tebal itu perlahan, sangat pelan, memastikan Mas Elvino yang tertidur memunggungiku tidak terusik sama sekali. Dengusan napasnya terdengar teratur. Dengan kaki telanjang yang langsung disambut dinginnya lantai keramik, aku berjalan mengendap-endap keluar dari kamar. Aku memeluk ponsel di dada, melangkah pelan menuju dapur.Tanganku bergetar hebat saat mencari nama Zayyan di daftar kontak. Jantungku memukul tulang rusuk dengan keras. Nada sambung berbunyi cukup lama, sebelum akhirnya terdengar suara serak khas orang bangun tidur menyapaku.







