تسجيل الدخول"Santai saja, ada banyak makanan di sini," Erlang berkata dengan suara yang lembut untuk menenangkan pria di depannya.
Pria itu tidak menjawab, hanya terus melahap rotinya dengan mata yang terfokus pada makanan. Setelah beberapa saat, dia berhenti sejenak, masih menggulung roti di mulutnya, lalu memandang Erlang dan Zoya dengan mata yang masih kosong."Mau ... lebih... aku mau lebih," dia berkata dengan suara yang serak, suaranya dipenuhi dengan keinginan.Zoya mengambil roti lain dan memberanikan diri untuk memberikannya kepada pria itu. "Ini, kamu bisa makan ini." Ketika berhasil, perasaan Zoya sedikit lebih tenang, ternyata pria itu tidak semengerikan yang dibayangkan.Pria itu langsung mengambil roti itu dari tangan Zoya dan melanjutkan makannya, masih dengan cara yang rakus."Apa kamu sama sekali tidak ingat namamu?" Erlang bertanya lagi, mencoba mengalihkan perhatian pria itu.Namun tetap saja tidak ada jawaban yang memuDipenuhi pikiran jahat, Roni berjalan dengan cepat. Ketika itu tujuan utamanya adalah meja makan di mana biasanya keluarga Bagaskara sedang menghabiskan waktu sarapan.Karena Arsyila dalam pengaruh alkohol pada malam sebelumnya, sedangkan Arsya mengalami sakit di bagian selangkangannya, jadi hanya ada Rasputin dan Suzy saja di meja makan.Roni langsung menghadap Nyonya Suzy, tanpa menunggu bukti yang lebih valid, dia berkata pelan, "Nyonya, saya memiliki informasi yang mungkin penting tentang nona Zoya," suaranya terdengar serius.Nyonya Suzy memandang Roni dengan penasaran. "Apa itu, Roni? Beritahu aku."Roni mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan. "Ternyata dia bersama tuan Erlang, Nyonya. Mereka berada di ruang bawah tanah, untuk detailnya saya kurang paham apa yang mereka lakukan di sana, tapi saya pikir Anda harus tahu tentang ini."Darah Suzy seketika mendidih. Wajahnya mengerut, jelas sekali dia murka dengan informasi itu. "Sudah kuduga, mereka pasti bersama."Penasara
Di ruang bawah tanah yang sunyi, Zoya terbaring lembut dalam pelukan Erlang, sepasang kekasih itu tertidur dengan nyenyak. Tadinya Erlang dan Zoya ingin menjaga pria lusuh di depan mereka agar lebih tenang dan nyaman, namun kini posisi mereka justru terbalik.Zoya berbaring dalam dekapan Erlang, dan Erlang memeluknya erat-erat. Sementara pria lusuh yang duduk di depan mereka masih terjaga. Dia membuka matanya dan memperhatikan Erlang dan Zoya dengan rasa penasaran.Pertama, pria itu memperhatikan wajah Zoya yang tenang dalam tidur, lalu berpindah ke arah Erlang yang juga tertidur dengan ekspresi yang lembut. Ada sesuatu yang aneh tentang situasi ini, dalam benak pria itu mulai berpikir. Dia tidak sanggup menjelaskan apa, tapi ada perasaan yang membuatnya merasa bahwa keduanya memiliki ikatan yang kuat dan dia juga pernah mengalami hal yang sama dengan seseorang di masa lampau.Pria tanpa identitas itu duduk termenung, kekuatan cinta dal
"Santai saja, ada banyak makanan di sini," Erlang berkata dengan suara yang lembut untuk menenangkan pria di depannya.Pria itu tidak menjawab, hanya terus melahap rotinya dengan mata yang terfokus pada makanan. Setelah beberapa saat, dia berhenti sejenak, masih menggulung roti di mulutnya, lalu memandang Erlang dan Zoya dengan mata yang masih kosong."Mau ... lebih... aku mau lebih," dia berkata dengan suara yang serak, suaranya dipenuhi dengan keinginan.Zoya mengambil roti lain dan memberanikan diri untuk memberikannya kepada pria itu. "Ini, kamu bisa makan ini." Ketika berhasil, perasaan Zoya sedikit lebih tenang, ternyata pria itu tidak semengerikan yang dibayangkan.Pria itu langsung mengambil roti itu dari tangan Zoya dan melanjutkan makannya, masih dengan cara yang rakus. "Apa kamu sama sekali tidak ingat namamu?" Erlang bertanya lagi, mencoba mengalihkan perhatian pria itu.Namun tetap saja tidak ada jawaban yang memu
Tubuh Erlang tiba-tiba membeku, matanya terpaku pada sosok yang terasing di sudut ruangan. Dia seperti tidak percaya apa yang dia lihat. Ada manusia yang hidup di dalam ruangan itu."Apa... apa itu?" Erlang bergumam kecil, suaranya hampir tidak terdengar.Zoya mengikuti arah pandang Erlang dan langsung menemukan sosok yang sama. "Hmm, sepertinya dia sudah lama di sini," dia berkata dengan suara yang rendah dan penasaran. "Dia tidak takut dengan tempat ini," lanjutnya dengan tubuh mulai merinding.Erlang mengambil langkah maju, matanya tidak lepas dari sosok menyedihkan itu. "Aku harus cari tahu siapa dia," dia berkata, suaranya penuh tekad dan rasa ingin tahu yang besar. Meski khawatir, Zoya terpaksa mengikuti Erlang, matanya juga tidak lepas dari sosok tersebut. "Berhati-hatilah, Erlang," dia berkata, suaranya penuh peringatan. "Kita tidak tahu apa saja yang sudah terjadi di sini."Erlang dan Zoya mendekati sosok itu dengan hati-hati. Pria paruh baya itu duduk di sudut ruangan, mat
Erlang baru saja selesai mengantar Devi dan Sammy. Malam itu, untuk berbincang-bincang sejenak tentang pekerjaan, dia dan kedua rekannya sengaja menjauhkan diri dari mansion.Usai pembahasan, Erlang langsung kembali ke mansion dan pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah seorang wanita berpakaian tidur dan sedang berdiri di tengah halaman luas mansion."Zoya ...." Erlang memasuki pekarangan dengan langkah terburu-buru. "Sayang, apa yang terjadi?" Erlang bertanya dengan khawatir.Segera setelah itu Zoya menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Erlang. "Aku mencarimu dari tadi, Lang. Aku sangat takut.""Apa kamu baik-baik saja, dan katakan apa yang terjadi sebenarnya?" Zoya belum menjawab, pandangan matanya kosong, seolah-olah dia masih bersama dengan Arsya. Erlang menyentuh bahu Zoya dengan lembut, mencoba membangunkannya dari lamunan. "Zoya, apa yang salah? Apa Arsya berbuat sesuatu padamu?" Zoya bergetar, kemudian menatap mata Erlang. "Arsya...aku ... aku menyakitinya, dia pas
Zoya terbaring di ranjang, matanya terpejam tapi pikirannya masih terjaga. Lebih tepatnya berjaga-jaga dari Arsya yang bisa menyerang kapan saja. Zoya menatap ke arah kamar mandi, tempat di mana terakhir kali dia melihat Arsya. "Tidak bisa, aku tidak bisa lebih lama lagi di sini." Zoya punya firasat buruk. Tepat saat dia berdiri dan memutuskan untuk keluar kamar, saat itu juga Arsya muncul. Pria itu bertelanjang dada dan bagian bawahnya hanya tertutup selembar handuk putih membuat Zoya tercengang dan terdiam untuk beberapa saat."Ada apa, Zoya? Apa aku terlihat sangat seksi?" Arsya yang memang memiliki niat tersembunyi mulai melancarkan aksinya. Dia sengaja menggoda Zoya. "Aku bahkan bisa lebih seksi daripada ini, kita bisa buktikan di atas ranjang."Seketika Zoya panik. Wajahnya memucat dan matanya melebar karena takut. Dia mencoba untuk mundur, tetapi kakinya terasa seperti terpaku di tempat. Arsya yang semakin mendekat membuatnya merasa







