LOGINErlang masih mengamati kepergian Arsya yang diam-diam mengikuti Zoya, dan hatinya semakin memanas. Dia tidak bisa tenang membayangkan apa yang akan terjadi antara Arsya dan Zoya. "Bagaimana caranya untuk menghentikan si pria brengsek itu?" Erlang bergumam sendiri.Erlang semakin risau tatkala mengingat kelakuan Arsya yang tiba-tiba mencium Zoya di depan umum dan sejak itu dia dan Zoya belum juga saling bicara.Pada saat Zoya akan masuk ke dalam lift dan diikuti oleh Arsya, Erlang tiba-tiba dipanggil seseorang sehingga dia harus berhenti sejenak dari memantau suami istri itu. "Tuan Erlang, ada seseorang yang ingin bicara denganmu," kata Raul sambil menyodorkan ponsel ke arah Erlang. Erlang mengerutkan kening karena merasa terganggu. "Siapa dia?" tanya Erlang, sambil menerima ponsel tersebut.Raul menggelengkan kepala. "Tidak tahu, Tuan, namanya tidak tertera, tapi katanya ini sangat penting." Erlang mengangguk. "Pergi
89Tak berselang lama, Erlang muncul dan menghampiri meja utama di ruangan itu. Dia membawa piring berisi makanan sehat dan bergabung dengan istri, juga mertuanya. "Kamu dari mana saja, Honey?" Arsyila berpura-pura mesra meski hubungan mereka yang sebenarnya masih memanas. "Aku pikir kamu tidak akan kembali, jadi aku bilang pada mommy bahwa kamu sudah meninggalkan acara ini." "Dia juga manusia, Syila, tentu saja butuh nutrisi untuk bertahan hidup," tiba-tiba Suzy berkata sinis membuat Erlang keheranan. 'Apa maksudnya bicara seperti itu? Apa dia juga marah aku mendapat posisi ini?' Erlang berpikir tentang perubahan ibu mertuanya. "Jangan diambil hati, Honey!" Arsyila segera meredakan ketegangan itu. "Mommy hanya becanda. Dia sedikit sensitif karena kecewa pada teman-teman sosialitanya yang dari luar negeri tak bisa hadir dalam acara ini." Jenuh, Suzy membuang muka dengan pongahnya, tidak terima denga
Alih-alih setuju, Zoya justru merasa jijik. Terlebih saat Arsya menyebutkan kata anak. 'Siapa yang masih ingin punya anak denganmu?' pikirnya. Sebelum bertemu dengan Erlang, Zoya masih memiliki niat tersebut untuk menyenangkan ibu mertuanya, tapi sekarang dia tidak pernah berharap lagi, bahkan akan menghindar dari permintaan Arsya. Tanpa diduga, Arsya mendekatkan wajahnya pada Zoya, lalu berbisik, "Kamu harus segera hamil," setelah itu dia tiba-tiba mengecup pipi Zoya tanpa permisi. Hal itu membuat Zoya merasa muak dan hampir tidak percaya dengan perubahan pria itu. "Apa yang kamu lakukan?" Zoya tidak terima karena berpikir Arsya telah melewati batas. Dia merasa seperti tersentuh oleh sesuatu yang menjijikkan. "Apa yang salah?" Arsya selalu merasa benar. "Aku suamimu, kamu istriku, terserah aku dong mau mencium kamu di mana pun tempatnya." Zoya memandang Arsya dengan mata yang penuh kebencian, merasa bahwa Arsya telah melakukan sesuatu yang tidak pantas. Sebelum bertemu deng
Arsya yang merasa kesal dan kecewa karena dikalahkan oleh Erlang dalam persaingan menjadi CEO, mencari pelampiasan emosinya. Dia tahu bahwa Zoya adalah orang yang paling lemah dan mudah untuk ditindas.Karena Arsya tidak bisa melawan Erlang, dan dia tidak ingin dibanding-bandingkan oleh para petinggi perusahaan, jadi dia hanya memilih untuk mendekati Zoya saja.Dengan gayanya yang selalu merasa paling berkuasa, Arsya menghampiri Zoya yang sendirian, lalu berkata, "Wah, Zoya, aku lihat kamu sudah menjadi teman dekat Erlang sekarang, dia bahkan membantumu hingga kamu banyak berubah sekarang. Kamu memang pandai mencari partner, ya, aku harap kamu tidak lupa dengan status kalian berdua."Zoya yang tidak menyangka akan diserang oleh Arsya, merasa sedikit terkejut dan tersinggung. "Apa maksudmu, Arsya?" Zoya berpura-pura tenang karena mereka sedang berada di depan umum.Arsya tersenyum sinis. "Aku tahu kamu hanya ingin mendapatkan keuntungan dari hubunganmu dengan Erlang. Kamu memang pintar
Satu minggu kemudian, Rasputin memanggil semua petinggi dan juga karyawan penting di RB Corporation ke ruang pertemuan untuk mengumumkan pengangkatan CEO yang baru. Semua orang menunggu dengan penasaran siapa yang akan terpilih sebagai CEO baru. Rasputin masuk ke ruang pertemuan dengan wajah yang serius, diikuti oleh Vano sang asisten, juga keluarga Bagaskara yang terdiri dari Suzy, Zoya, Arsya, Arsyila, dan Erlang. Semua orang menunggu dengan penasaran siapa yang akan terpilih sebagai CEO baru. Hari itu, Arsyila, dan Suzy berdiri di sisi Erlang. Sedangkan Zoya bersebelahan dengan Arsya yang tidak begitu jauh dengan Erlang. Rasputin masuk ke ruang pertemuan dengan wajah yang serius. Tanpa berbasa-basi, dia langsung pada inti pembicaraan. "Baiklah, saya akan mengumumkan CEO baru RB Corporation. Dan orang yang terpilih benar-benar memiliki dedikasi yang tinggi dan kontribusi yang signifikan terhadap perusahaan. Kami melihat potensi dan kemampuannya dalam memimpin perusahaan k
Sembari mengeluarkan dokumen dari dalam tas yang dibawanya, Zoya tersenyum dengan percaya diri. "Sebenarnya, aku memiliki dua toko roti sendiri dan sama-sama baru dibuka. Dan ini adalah bukti kepemilikannya," kata Zoya dengan bangga. "Satu toko mengalami kebangkrutan total karena ada seseorang yang dengan sengaja menjebakku, tapi untungnya toko yang mengalami kebangkrutan itu hanya cadangan saja, toko yang sesungguhnya mengalami kemajuan yang signifikan dalam beberapa bulan ini dan cukup memberikan keuntungan yang banyak."Arsya tercengang kaget, matanya melebar karena tidak menyangka Zoya masih memiliki toko roti yang lain. "Apa ... ini tidak mungkin," gumamnya seperti orang linglung. Dia tidak sabar untuk melihat usaha baru istrinya itu.Untuk membuktikan dirinya mampu, Zoya lebih dulu menyerahkan dokumen tersebut kepada Arsya. "Ini adalah sertifikat kepemilikan toko roti yang sah. Rencananya, aku juga akan mengembangkan beberapa cabang di beberapa tempat lain."Ketika memeriksa k







