LOGIN
“Mas, mau kamu apa sih sebenarnya? Salahku di mana? Aku hanya ingin kau berhenti terus menerus mengabaikanku, seolah diriku ini bukan istrimu saja! Ingatlah Mas Donfa, kamu itu suamiku, bukan pria milik wanita lain!” tegas Karnias Saputri dengan tatapan matanya yang sudah berair, hendak meneteskan air mata sesaat kemudian.
“Cukup! Aku tidak ingin mendengar ocehan berisi omong kosongmu lagi! Cepat keluar dari ruanganku, sekarang juga!” bentak Donfa Kragar kepada Karnias Saputri yang sontak hanya bisa tertunduk dengan isak tangis menyentuh hati.
Karnias Saputri benar-benar cantik rupawan dari paras wajahnya. Usianya sudah beranjak 29 tahun, tapi kecantikannya seolah tak benar-benar bisa memudar sedikit pun. Akan tetapi, isak tangisannya yang sedih membuat pesonanya seolah lenyap saat itu juga.
Adapun Donfa Kragar merupakan seorang pria berusia 35 tahun yang tampan dari rahang tegas miliknya saja, sudah bisa membuat semua wanita tak berdaya untuk berkedip ketika memandanginya. Namun, raut wajahnya sekarang tampak benar-benar mengerikan karena urat-urat di sekitarnya menegang sebagai tanda amarahnya yang tidak sedikit pula.
Keduanya adalah pasangan suami istri yang sudah menikah sejak 10 tahun yang lalu. Bahkan hari ini merupakan hari peringatan pernikahan keduanya. Sayangnya, bukannya diwarnai dengan kegembiraan yang seharusnya, semuanya malah jatuh ke titik rendah yang amat berantakan dari segala aspek kehidupan.
Karnias Saputri segera mendongakkan kepalanya seolah masih ingin mencoba menatap wajah sang suaminya tersebut untuk sekali lagi memastikan sedikit celah penyesalan darinya. Sayangnya, Donfa Kragar jelas tak bergeming, malah wajahnya tampak semakin mengerikan di setiap detik yang berlalu.
“Tunggu apalagi sih, malah bengong terus?! Cepat pergi dari sini! Apa kamu tidak lihat kalau aku sedang sibuk, hah?! Punya mata, tapi buta dengan sekitarnya, benar-benar sampah yang manja dan tidak berguna kau! Sungguh menyesal aku dahulu menikahi wanita tidak tahu diuntung sepertimu!” Donfa Kragar menaikan nada suaranya sekali lagi.
Mendengar perkataan yang pedas seperti itu, Karnias Saputri merasa seperti ditombak oleh binaragawan, tepat menusuk dan menembus jantungnya. Rasa sakit yang benar-benar terlalu menyakitkan untuk diterima oleh orang biasa, tapi tidak untuk Karnias Saputri yang seolah sudah terbiasa merasakan rasa sakit yang sulit untuk dijelaskan tersebut.
“Tuan, jangan marah-marah! Nanti bisa kena serangan jantung loh! Yang sabar, kalau bisa dibicarakan baik-baik, mengapa harus teriak-teriak, kan?” ujar Bu Linda dengan lembut yang masih berada di samping kanannya Donfa Kragar.
Karnias Saputri yang menatap sedih ke arah Donfa Kragar seketika langsung murka ketika mendengar perkataannya Bu Linda, hingga dirinya tidak ragu-ragu untuk membentak dengan keras. “Kurgh, dasar wanita murahan ini, benar-benar tidak tahu malu sama sekali! Beraninya kau berkata-kata seindah mutiara tepat setelah perbuatan tercelamu yaitu berselingkuh dengan suamiku diketahui olehku, hah?!”
Perkataan amarahnya Karnias Saputri begitu membara sampai ekspresi wajahnya yang sedih sebelumnya langsung berubah suram penuh kemurkaan seorang istri yang tersakiti. Sorotan matanya yang sebelumnya redup dalam kesedihan, tiba-tiba seolah mendapatkan bara api yang membuatnya menatap tajam ke arah Bu Aniran.
Bu Aniran, seorang wanita cantik berusia 31 tahun yang berprofesi sebagai sekretaris pribadinya Donfa Kragar. Meski tak secantik Karnias Saputri dari paras wajahnya, tapi Bu Aniran punya keunggulan postur tubuhnya yang jauh lebih memukau pandangan mata para pria ganas dan hidung belang.
Pasalnya, tingginya saja sudah mencapai 175 cm dengan elegan berdiri berdampingan bersama dua gunung kembar miliknya yang tampak kokoh menggantung di sarangnya. Pria mana yang tidak terpesona melihat bentuk tubuh wanita cantik yang seindah itu. Sayangnya, dari semua pria yang tertarik kepadanya, Bu Aniran memilih membuka dirinya untuk atasannya sendiri yaitu Donfa Kragar, seorang pria yang sudah memiliki istri sendiri.
Keputusan yang amat bejat tersebut masih bisa terlihat jejaknya saat ini. Kalau diperhatikan baik-baik, Bu Aniran saat ini hanya berusaha menutupi tubuhnya dengan kemeja ditangannya yang seharusnya dikenakan olehnya dan melekat pada tubuhnya. Sudah jelas, kalau Bu Aniran baru saja telanjang bulat sebelumnya.
Begitu pula dengan Donfa Kragar yang terduduk di kursi kerjanya tanpa busana di tubuh bagian atasnya. Ruangan kerja yang seharusnya digunakan bekerja malah dijadikan tempat pergaulan bebas yang tercela semacam ini. Perselingkuhan keduanya yang selama ini sulit dibuktikan oleh Karnias Saputri akhirnya benar-benar terkuak juga.
Meski begitu, rasa sakit yang selama ini sudah dianggap oleh Karnias Saputri sebagai hal yang wajar langsung meningkat drastis. Rasa sakit dikhianati oleh orang yang dicintainya jauh berkali-kali lipat dahsyatnya dibandingkan hanya sekadar diabaikan begitu saja. Pernikahan keduanya memang tidak berjalan mulus karena Donfa Kragar senantiasa memperlakukan istrinya seolah babu semata.
Kecantikannya Karnias Saputri hanya hiasan saja di matanya Donfa Kragar. Sebuah kenyataan pahit yang seharusnya sulit untuk dipercaya, tapi memang begitulah adanya. Karnias Saputri masih tidak tahu sejak awal menikah sampai sekarang terkait alasan mengapa suaminya itu tampak terus saja menjauhinya hingga memperlakukannya serendah budak.
“Aduh, maaf Bu Karnias! Saya tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan Bu Karnias. Saya benar-benar tulus ingin membantu menenangkan Pak Donfa agar tidak memarahi Bu Karnias lagi!” ucap Bu Linda tampak sedih dengan wajah tertunduk, tapi Karnias Saputri masih bisa melihat senyuman tipis yang jelas-jelas menunjukkan kalau Bu Linda sedang meremehkannya dan tidak benar sungguh-sungguh menyesal sama sekali agaknya.
Anak-anak yang berlarian ke sana kemari penuh dengan semangat dan keceriaan. Karnias Saputri terlihat sangat iri melihat orang-orang itu tampak tidak memiliki beban sedikit pun di pundaknya. Berbeda dengan apa yang dirasakan olehnya saat ini.“Waktu kecil, apakah aku bisa seriang itu? Ayah dan ibu telah tiada jauh-jauh hari. Kalau dipikir-pikir, masa kecilku juga tidak ada istimewanya sama sekali. Haruskah rasa iri ini dihilangkan saja ataukah memang wajar muncul ke permukaan? Hmm, entahlah! Aku tidak tahu sama sekali!” gumam Karnias Saputri penuh dengan perasaan yang rumit untuk dijelaskan hanya dengan sebatas kata-kata semata.Karnias Saputri yang duduk seorang diri dengan bengong itu membuat sejumlah mata-mata menjadi heran. Beberapa yang menggunakan alat pendeteksi suara dari jarak jauh juga tidak bisa mendengar dengan jelas. Lagi pula, situasi taman kota yang cukup berisik dengan angin kencang yang mengalir dari sela-sela sekitarnya.“Apa yang sebenarnya terjadi?! Haruskah kita m
Karnias Saputri segera menepikan sepeda motornya ke salah satu sudut taman kota tersebut. Di sana, tentu saja ada tempat parkir yang memang sengaja sudah disiapkan seperti itu. Banyak sepeda motor lainnya juga yang ada di sana meski tampak jelas tidak sebanding dengan apa yang biasanya terlihat di hari-hari liburan.“Huh…, mari kita jalan-jalan keliling taman kota. Hehe!” gumam Karnias Saputri tampak sangat bersemangat turun dari sepeda motornya.Karnias Saputri menghirup udara segar yang memang khas dari taman kota. Tatapan matanya berkeliaran ke sana kemari, mencoba untuk menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Karnias Saputri akhirnya memutuskan untuk berkeliaran terlebih dahulu, tidak terikat kepada satu tempat tujuan saja.Selepas Karnias Saputri menjauh, sejumlah geng motor tiba-tiba datang dan ikut memarkirkan sepeda motor mereka. Di antara mereka, terlihat jelas saling menatap dengan permusuhan dan kecurigaan antara satu dengan yang lainnya. Meski demikian, mereka tidak s
Seolah bisa mendengar itu, Pak Harmir segera membalas dalam renungannya. “Kamu tidak akan mendapatkan apa pun yang diinginkan oleh Tuan Mudamu itu. Hanya Kepala Keluarga saja yang benar-benar layak untuk dilayani di dalam Keluarga Kragar. Tuan Mudamu masih belum sampai ke tahap itu!” pikir Pak Harmir menolak menyerah.Kedua belah pihak yang bersitegang itu segera mengalihkan pandangannya. Mereka mulai fokus melihat ke arah depan. Dari sini, sudah jelas kalau tidak ada satu pun di antara mereka yang mau mengalah begitu saja. Baik itu Pak Buwir ataupun Pak Harmir, keduanya hanya bidak catur yang digunakan oleh dua atasan mereka yang saling bersitegang satu sama lain.Di tempat lain, Donfa Kragar yang baru saja mandi tetap tenang berjalan ke meja makannya. “Silahkan Tuan Muda! Ini menu makan di hotel kita kali ini!” ucap seorang pelayan hotel dengan sopan mempersilahkan Donfa Kragar duduk.Donfa Kragar menganggukkan kepalanya. Dia melihat sejumlah menu makanan tampak menggoda dan masih b
“Hah?” Karnias Saputri terkejut mendengar Neneknya berbicara.“Benar kata Nenekmu itu. Tetap santai saja kalau masalah ini terlalu memberatkanmu. Fokus meraih tujuan yang kamu impikan. Kakek dan Nenek akan selalu mendukungmu dari belakang!” ucap sang Kakek kembali menambahkan kesalahpahaman tersebut.Karnias Saputri tersenyum pahit mendengarnya, tak tahu apakah harus marah atau malah tertawa terbahak-bahak. “Tenang, Kek, Nek! Karnias tahu betul maksud Kakek dan Nenek itu demi kebaikannya Karnias sendiri. Oleh karena itulah, Karnias sedikit gelisah aja kemarin. Namun, sekarang Karnias lebih memikirkan pekerjaan di kantor!” ungkap Karnias Saputri dengan tenang mencoba meredakan kesalahpahaman ini.Nenek dan Kakek saling menatap sebelum akhirnya tertawa ringan. “Jadi begitu rupanya. Ya sudah kalau memang tidak ada masalah sama sekali. Kakek dan Nenek akan selalu mendukungmu. Sudah, itu saja yang perlu Karnias ingat baik-baik, jangan pernah dilupakan ya!” ungkap sang Nenek segera membuat
“Hmm….” Pak Harmir merenung dalam diam karena perasaan bingung yang sulit untuk dijelaskan hanya dengan kata-kata saja sedang memenuhi isi hatinya.“Apa mungkin semuanya hanya kebetulan semata? Tuan Muda itu bukan orang yang sembrono. Selama ini aku mengenalnya sebagai sosok yang peka dan jeli. Meski temperamennya tidak sekeras Kepala Keluarga, tapi ketelitiannya jauh lebih jeli dibandingkan Kepala Keluarga. Sesuatu yang namanya kebetulan sangat mustahil terdengar!” pikir Pak Harmir masih menolak hasil investigasi bawahannya tersebut.Pak Harmir memang tidak bisa disalahkan dalam hal ini sebab memang begitulah kehebatannya Donfa Kragar yang tertanam di dalam otaknya. Bukan hanya dia saja, banyak calon pewaris lainnya juga merenungkan hal yang sama. Oleh karena itulah, setiap gerak-geriknya Donfa Kragar selalu menimbulkan kewaspadaan daripada para pesaingnya tersebut.Kalau mereka lengah sedikit saja, boleh jadi Donfa Kragar akan menggilas mereka dalam sekali jalan. Sebuah kemampuan pe
“Baik, Pak Harmir!” sahut bawahannya dengan sigap.“Bagus, silahkan bergegas ke lokasi tujuan!” tegas Pak Harmir tampak sangat serius sekali.Para bawahannya langsung pamit undur diri. Jelas tujuan mereka selanjutnya adalah rumah tempat Karnias Saputri berada. Pak Harmir menggelengkan kepalanya seolah tak berdaya memikirkan segalanya.“Ada-ada saja! Semuanya bermula dari ketidakharmonisan menjadi permusuhan. Sudah lama aku bekerja di bawah Keluarga Kragar, masalahnya selalu seperti ini. Ya sudahlah, aku juga hanya bawahan saja. Tidak ada yang bisa aku lakukan di tengah-tengah perebutan kekuasaan ini,” gumam Pak Harmir sebelum lanjut berjalan dengan santai.Tidak tahu badai apa yang menantinya, Karnias Saputri masih sibuk di dapur hingga selesai semua persiapan makanannya. Tak butuh waktu lama, keluarga kecil itu saling berkumpul dan makan dengan tenang. Adapun di luar sana, mata-mata dari pihak Donfa Kragar dan Jurgan Kragar sudah mengambil posisinya masing-masing.“Huh, enaknya makan







