LOGINKarnias Saputri segera menunjukkan jari telunjuknya sambil melangkah maju ke arahnya Bu Linda. Raut wajahnya yang cantik benar-benar memudar dengan amarahnya yang memuncak hingga membuatnya mendidih karena tak tahu harus berbuat apalagi demi melampiaskan amarahnya yang mengganjal di dalam hatinya tersebut.
“Kau…! Masih beraninya kau tersenyum mengejek kepadaku, hah?! Dasar rubah berbisa, kau pantas mati seribu kali!” teriak Karnias Saputri dengan nada tinggi ketika mengutuk Bu Linda dalam amarahnya.
Donfa Kragar menyipitkan matanya ketika mendengar bentakan istrinya tersebut. “Lancang sekali mulutmu, hah?! Cepat minta maaf yang tulus kepada, Bu Linda! Jangan coba-coba berani beranjak pergi dari tempat ini sebelum kau melakukannya tepat di depan hadapanku dan Bu Linda! Minta maaf sekarang juga!”
Karnias Saputri yang sudah kehilangan akal seolah kembali tersadar dari amarahnya. Tatapan matanya seolah tidak percaya ketika mendengar suaminya berkata-kata tidak tahu malu dan mustahil masuk akal. Karnias Saputri yang jelas menjadi korban dari aksi bejat keduanya malah dipaksa untuk meminta maaf seolah dirinya adalah pelaku utamanya dari tindakan tercela yang terjadi di ruangan kerja tersebut beberapa waktu yang lalu.
“Minta maaf kepadanya? Mas, apa kamu sedang bercanda denganku, hah?! Kamu sendiri saja belum bisa memberikan penjelasan dan meminta maaf kepadaku atas perselingkuhanmu ini, sekarang malah ingin aku meminta maaf kepada wanita murahan yang menjual raga dan hatinya hanya demi memuaskan nafsu bejatnya semata. Jangan harap aku akan melakukan itu!”
Karnias Saputri menolak dengan tegas sambil menatap tajam penuh kebencian ke arah suaminya tersebut untuk pertama kalinya sejak pernikahan keduanya. Di masa lalu, Karnias Saputri hanya bisa menatap sedih dan pasrah dengan keadaan yang diabaikan serta diperlakukan serendah budak oleh Donfa Kragar, suaminya sendiri.
Namun, perselingkuhan ini jelas sudah terlalu berlebihan sehingga berhasil membangkitkan rasa benci di hatinya yang sudah tersakiti sekian lamanya kepada suaminya sendiri, Donfa Kragar. Karnias Saputri tidak lagi bersedih karena diabaikan, tapi perlahan-lahan membenci karena dikhianati oleh Donfa Kragar.
Kebenarannya diarahkan baik kepada Donfa Kragar maupun Bu Linda. Tidak peduli kepada siapa, dua orang itu akan senantiasa menjadi titik didih dalam kebencian dalam hatinya Karnias Saputri. Donfa Kragar jelas tak senang mendengar bantahan tegas sang istrinya tersebut. Seolah baru pertama kali rasanya dibantah langsung oleh istrinya tersebut.
“Hehe, jadi kamu benar-benar sudah berani membantah perintahku rupanya! Bagus, Karnias! Kamu berhasil membuatku semakin marah sampai hanya dengan melihat dirimu saja saat ini terasa ingin mual saja. Karena kau berani membantah, maka bersiaplah untuk menerima balasannya!” ujar Donfa Kragar dengan nada suaranya yang berat sebagai tanda kegeramannya sudah memuncak.
“Tenang, Pak! Sabar!” ucap Bu Linda dengan lembut, berusaha menenangkan Donfa Kragar.
“Hmm? Muah…! Tunggu di sini sebentar, sayangku! Aku mau memberi pelajaran kepada budakku yang tidak sadar diri itu!” Donfa Kragar bangkit dari tempat duduknya dan langsung mencium bibir lembut miliknya Bu Linda, lalu bergegas ke arah Karnias Saputri.
Karnias Saputri yang melihat aksi tidak senonoh sang suami semakin marah dalam hatinya yang mulai berisikan kebencian yang mendalam. Begitu marahnya sampai membuatnya berdiri mematung melihat Donfa Kragar yang semakin mendekatinya, tanpa ada tanda-tanda mencoba untuk menjauhkan diri.
“Budak yang membangkang memang harus didisiplinkan agar lebih sadar diri dan tidak membuat masalah di kemudian hari! Ingat ini baik-baik, Karnias! Jangan beraninya kau mencoba untuk membantahku lagi!” tegas Donfa Kragar yang sudah berdiri tegak, tepat di hadapannya Karnias Saputri yang masih mematung dengan sorot mata tajam, mengarah ke matanya Donfa Kragar.
Plak…! Plak…!
“Urgh…!” rintih Karnias Saputri seolah kembali tersadar ketika rasa sakit di pipinya begitu panas rasanya.
“Sakit? Rasakan dan ingat ini baik-baik! Jadikan momen ini sebagai renungan agar tindakanmu di masa depan tidak ceroboh ketika berusaha mencoba membantah perintahku lagi!” tegas Donfa Kragar semakin ganas menampar pipinya Karnias Saputri berulang kali.
Bu Linda yang melihat itu langsung terdiam dengan raut wajah datar. Perasaan tidak peduli dan rasa kasihan seolah menyatu menjadi satu. Pikiran dalam hatinya, “Pasti sakit sekali itu! Haruskah aku membiarkannya terus melakukannya atau tidak? Hish, benar-benar merepotkan!”
“Urgh…! Argh…!” jerit Karnias Saputri yang berusaha sekuat tenaga untuk melindungi wajahnya yang terus saja ditampar berulang kali oleh Donfa Kragar.
Rasanya amat menyakitkan, tapi Karnias Saputri terus menggunakan kedua tangannya sebagai tameng pelindung yang setidaknya masih bisa diandalkan olehnya dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan sama sekali tersebut.
Donfa Kragar seolah tidak peduli dan terus saja meningkatkan aksinya dengan tamparan yang semakin keras saja. Tatapannya begitu ganas dengan senyum jahat seolah dirinya sangat menikmati momen ketidakberdayaannya Karnias Saputri dalam upaya melindungi dirinya sendiri dari tamparan ganasnya.
“Hehe, inilah akibatnya ketika kamu mencoba membantahku! Karnias, aku sudah lama membenci keberadaanmu yang terus saja muncul dan menolak untuk lenyap selayaknya kecoa! Jangan pikir kau bisa merendahkan diriku! Aku ini adalah pewaris Keluarga Kragar, pria sukses yang digandrungi oleh semua orang. Bagaimana mungkin lalat rendahan sepertimu mencoba untuk merendahkan dan memerintahkan diriku semaunya? Jangan harap!” ujar Donfa Kragar tampak melampiaskan amarahnya juga.
Karnias Saputri mendengar perkataan itu, tapi tidak bisa membalasnya sama sekali. Kondisinya sendiri saja sudah sangat terdesak sedemikian rupa ketika hanya berusaha melindungi wajah dan kepalanya yang terus menerus ditampar berulang kali. Rasa cinta di dalam hatinya hancur lebur tak bersisa sedikit pun, tapi kebenciannya seolah mendapatkan pencerahan ketika meningkat secara drastis.
Anak-anak yang berlarian ke sana kemari penuh dengan semangat dan keceriaan. Karnias Saputri terlihat sangat iri melihat orang-orang itu tampak tidak memiliki beban sedikit pun di pundaknya. Berbeda dengan apa yang dirasakan olehnya saat ini.“Waktu kecil, apakah aku bisa seriang itu? Ayah dan ibu telah tiada jauh-jauh hari. Kalau dipikir-pikir, masa kecilku juga tidak ada istimewanya sama sekali. Haruskah rasa iri ini dihilangkan saja ataukah memang wajar muncul ke permukaan? Hmm, entahlah! Aku tidak tahu sama sekali!” gumam Karnias Saputri penuh dengan perasaan yang rumit untuk dijelaskan hanya dengan sebatas kata-kata semata.Karnias Saputri yang duduk seorang diri dengan bengong itu membuat sejumlah mata-mata menjadi heran. Beberapa yang menggunakan alat pendeteksi suara dari jarak jauh juga tidak bisa mendengar dengan jelas. Lagi pula, situasi taman kota yang cukup berisik dengan angin kencang yang mengalir dari sela-sela sekitarnya.“Apa yang sebenarnya terjadi?! Haruskah kita m
Karnias Saputri segera menepikan sepeda motornya ke salah satu sudut taman kota tersebut. Di sana, tentu saja ada tempat parkir yang memang sengaja sudah disiapkan seperti itu. Banyak sepeda motor lainnya juga yang ada di sana meski tampak jelas tidak sebanding dengan apa yang biasanya terlihat di hari-hari liburan.“Huh…, mari kita jalan-jalan keliling taman kota. Hehe!” gumam Karnias Saputri tampak sangat bersemangat turun dari sepeda motornya.Karnias Saputri menghirup udara segar yang memang khas dari taman kota. Tatapan matanya berkeliaran ke sana kemari, mencoba untuk menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Karnias Saputri akhirnya memutuskan untuk berkeliaran terlebih dahulu, tidak terikat kepada satu tempat tujuan saja.Selepas Karnias Saputri menjauh, sejumlah geng motor tiba-tiba datang dan ikut memarkirkan sepeda motor mereka. Di antara mereka, terlihat jelas saling menatap dengan permusuhan dan kecurigaan antara satu dengan yang lainnya. Meski demikian, mereka tidak s
Seolah bisa mendengar itu, Pak Harmir segera membalas dalam renungannya. “Kamu tidak akan mendapatkan apa pun yang diinginkan oleh Tuan Mudamu itu. Hanya Kepala Keluarga saja yang benar-benar layak untuk dilayani di dalam Keluarga Kragar. Tuan Mudamu masih belum sampai ke tahap itu!” pikir Pak Harmir menolak menyerah.Kedua belah pihak yang bersitegang itu segera mengalihkan pandangannya. Mereka mulai fokus melihat ke arah depan. Dari sini, sudah jelas kalau tidak ada satu pun di antara mereka yang mau mengalah begitu saja. Baik itu Pak Buwir ataupun Pak Harmir, keduanya hanya bidak catur yang digunakan oleh dua atasan mereka yang saling bersitegang satu sama lain.Di tempat lain, Donfa Kragar yang baru saja mandi tetap tenang berjalan ke meja makannya. “Silahkan Tuan Muda! Ini menu makan di hotel kita kali ini!” ucap seorang pelayan hotel dengan sopan mempersilahkan Donfa Kragar duduk.Donfa Kragar menganggukkan kepalanya. Dia melihat sejumlah menu makanan tampak menggoda dan masih b
“Hah?” Karnias Saputri terkejut mendengar Neneknya berbicara.“Benar kata Nenekmu itu. Tetap santai saja kalau masalah ini terlalu memberatkanmu. Fokus meraih tujuan yang kamu impikan. Kakek dan Nenek akan selalu mendukungmu dari belakang!” ucap sang Kakek kembali menambahkan kesalahpahaman tersebut.Karnias Saputri tersenyum pahit mendengarnya, tak tahu apakah harus marah atau malah tertawa terbahak-bahak. “Tenang, Kek, Nek! Karnias tahu betul maksud Kakek dan Nenek itu demi kebaikannya Karnias sendiri. Oleh karena itulah, Karnias sedikit gelisah aja kemarin. Namun, sekarang Karnias lebih memikirkan pekerjaan di kantor!” ungkap Karnias Saputri dengan tenang mencoba meredakan kesalahpahaman ini.Nenek dan Kakek saling menatap sebelum akhirnya tertawa ringan. “Jadi begitu rupanya. Ya sudah kalau memang tidak ada masalah sama sekali. Kakek dan Nenek akan selalu mendukungmu. Sudah, itu saja yang perlu Karnias ingat baik-baik, jangan pernah dilupakan ya!” ungkap sang Nenek segera membuat
“Hmm….” Pak Harmir merenung dalam diam karena perasaan bingung yang sulit untuk dijelaskan hanya dengan kata-kata saja sedang memenuhi isi hatinya.“Apa mungkin semuanya hanya kebetulan semata? Tuan Muda itu bukan orang yang sembrono. Selama ini aku mengenalnya sebagai sosok yang peka dan jeli. Meski temperamennya tidak sekeras Kepala Keluarga, tapi ketelitiannya jauh lebih jeli dibandingkan Kepala Keluarga. Sesuatu yang namanya kebetulan sangat mustahil terdengar!” pikir Pak Harmir masih menolak hasil investigasi bawahannya tersebut.Pak Harmir memang tidak bisa disalahkan dalam hal ini sebab memang begitulah kehebatannya Donfa Kragar yang tertanam di dalam otaknya. Bukan hanya dia saja, banyak calon pewaris lainnya juga merenungkan hal yang sama. Oleh karena itulah, setiap gerak-geriknya Donfa Kragar selalu menimbulkan kewaspadaan daripada para pesaingnya tersebut.Kalau mereka lengah sedikit saja, boleh jadi Donfa Kragar akan menggilas mereka dalam sekali jalan. Sebuah kemampuan pe
“Baik, Pak Harmir!” sahut bawahannya dengan sigap.“Bagus, silahkan bergegas ke lokasi tujuan!” tegas Pak Harmir tampak sangat serius sekali.Para bawahannya langsung pamit undur diri. Jelas tujuan mereka selanjutnya adalah rumah tempat Karnias Saputri berada. Pak Harmir menggelengkan kepalanya seolah tak berdaya memikirkan segalanya.“Ada-ada saja! Semuanya bermula dari ketidakharmonisan menjadi permusuhan. Sudah lama aku bekerja di bawah Keluarga Kragar, masalahnya selalu seperti ini. Ya sudahlah, aku juga hanya bawahan saja. Tidak ada yang bisa aku lakukan di tengah-tengah perebutan kekuasaan ini,” gumam Pak Harmir sebelum lanjut berjalan dengan santai.Tidak tahu badai apa yang menantinya, Karnias Saputri masih sibuk di dapur hingga selesai semua persiapan makanannya. Tak butuh waktu lama, keluarga kecil itu saling berkumpul dan makan dengan tenang. Adapun di luar sana, mata-mata dari pihak Donfa Kragar dan Jurgan Kragar sudah mengambil posisinya masing-masing.“Huh, enaknya makan







