Mag-log in'Apa dia sudah mendengar berita? Apakah dia akan pergi?' Batin Kenshi menduga-duga."Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanyanya, langsung mendekat. "Aku sedang membantumu menata pakaian untuk dinas ke Kyoto." Jawab Mayang dengan ringan.Kenshi yang awalnya khawatir pun heran. Ternyata kemeja yang tadi dilipat dan dimasukkan ke dalam koper adalah kemeja dan jas miliknya. Ia lalu menahan gerakan tangan Mayang, dan membalikkan tubuh perempuan itu dan memeluknya, lega. "Ada apa, Kenshi?" Mayang kini yang merasa heran. Apalagi, Kenshi tampak mengelus punggungnya. Kenshi menarik napasnya lalu melepas pelukannya, sehingga Mayang bisa melihat wajah Kenshi. "Kenapa? Apa ada sesuatu yang salah?" tanya Mayang, penasaran lagi. "Kamu tidak perlu mempersiapkan apa-apa untuk perjalanan bisnisku. Asistenku di hotel sudah mempersiapkan semuanya." Terang Kenshi, lalu mengajak Mayang keluar ruang ganti. Kenshi mengajak Mayang menuju ranjang. Mayang langsung melepas genggaman tangan Kenshi. Langka
Kenshi tertawa setelah mendengar keinginan Mayang. "Kenapa tertawa? Aku serius. Semalam, kamu mabuk. Apa kamu ingat?" tutur Mayang seolah ingin mengingatkan peristiwa semalam. Ekspresi Kenshi langsung berubah dan menatap Mayang. Apa dia pikir semalam dia melakukan itu karena mabuk? Pikir Kenshi menerka. Keduanya saling berpandangan di sisi sofa dengan pikiran masing-masing. Kenshi meraih salah satu tangan Mayang yang menatapnya lekat. "Semalam, tentu saja aku ingat semuanya, sayang!" Kenshi mencium punggung tangan Mayang, seolah ingin memberinya ketenangan batin yang mungkin membuatnya khawatir."Kamu... semalam habis minum, kan! Aku tahu bagaimana bau alkohol itu dan… huft," kata-kata Mayang kembali terhenti saat Kenshi mengecup bibirnya pelan."Aku tahu. Aku minta maaf. Kemarin sore, aku minum kaleng minuman yang ada di kantor karena rasanya cuaca panas sekali," sanggah Kenshi, mencoba mencari alasan yang masuk akal. "Tapi itu haram, Kenshi! Otak kamu bisa rusak karena minuman s
Kenshi menempelkan es yang telah dilapisi tissu ke kening Mayang yang sedikit memar. "Maaf, aku mengagetkanmu! Aku pikir, kamu mungkin butuh sesuatu," tutur Kenshi, menahan geli saat melihat Mayang meringis sambil sesekali melirik ke arahnya.Wajah Mayang kembali menekuk dan sengaja menghindari tatapan Kenshi. Ia masih tak berani atau lebih tepatnya, ia masih merasa malu menatap wajah yang semalam berada di atas tubuhnya itu. Wajahnya pun terasa memanas. "Aku… aku hanya cari minuman segar," ungkapnya sambil memalingkan wajahnya ke arah taman sambil memainkan jemarinya di atas meja. Kenshi menyodorkan sesuatu ke hadapan Mayang. Ternyata Kenshi membawa sebuah tote bag berisi beberapa gelas minuman dingin."Coffee, cappuccino or milk tea?" tanya Kenshi sambil memiringkan wajah dengan tetap menempelkan kompresan ke kening Mayang. Mata Mayang langsung berbinar saat melihat minuman-minuman dingin di depannya. Ia melihat-lihat label yang tertera dan mengambil gelas cappuccino lalu menunju
Kenshi berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh polosnya, meninggalkan Mayang yang masih tertelungkup lemah dengan sebagian tubuh polosnya tertutupi selimut.Setelah membasahi seluruh tubuhnya dengan air hangat dan membalut tubuhnya dengan bathrobe, Kenshi langsung mengambil ponselnya dan menyingkap salah satu gorden, hingga ia bisa melihat suasana malam yang kelam dari balik kaca jendela.“Hirata, bagaimana kabar mereka di Indonesia? Apakah sudah ada kabar?” tanya Kenshi dalam bahasa Jepang sambil tetap berjaga agar Mayang tak mengetahui obrolannya."Tuan masih di kantor polisi. Tapi tim kita sudah ke sana untuk membantu memberikan keterangan. Sedangkan Nyonya sudah pindah ke apartemen." Terang Hirata di ujung telepon. “Tolong dampingi mereka sebisa mungkin! Aku masih harus melihat situasi di sini.”"Baik, tuan! Saya mengerti. Tim pengacara dari perusahaan kita di Indonesia juga sudah kita kerahkan untuk membantu Tuan Hadiwijaya."“Baiklah, aku percaya padamu.”Kenshi segera mematik
Mayang terkejut saat bahunya tersingkap dan langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Wajahnya merona saat mata Kenshi mulai berkabut ketika memandangi tubuhnya yang hanya terbalut kain tipis.“Hey, kenapa kamu menutupinya?” Kenshi menepis kedua tangan Mayang yang gugup dan menarik lembaran kimono Mayang hingga terlepas. “Aku, aku tidak terbiasa memakai pakaian seperti ini. Tapi hari ini terlalu gerah, aku mencoba memakai salah satu pakaian tidur yang berjajar di dalam lemari," terang Mayang gelagapan sambil bergerak mundur. Tatapan lekat Kenshi yang tanpa ekspresi malah membuat sebagian bulu kuduknya berdiri."Aku pikir kamu tidak akan suka, jadi aku melapisinya dengan kimono,” sambung Mayang, makin salah tingkah, terlebih Kenshi menelusuri tubuhnya dari atas hingga ke bawah.Lelaki itu mulai tersenyum dan tertawa pelan, memperlihatkan gigi-giginya yang rapi. Ia tak menyangka jika Mayang mau mengenakan deretan lingerie yang memang ia siapkan sejak awal pernikahan mereka
Kenshi tampak gusar di dalam mobilnya. Baru saja ia mendengar kabar buruk dari rekanannya di Indonesia."Daiguchi telah memulai aksinya. Jebakan mereka terhadap Tuan Hadiwijaya saat pernikahan bukan sekadar ancaman belaka. Mereka menggunakan pihak ketiga untuk melaporkan Hadiwijaya atas penggelapan bea cukai penjualan alat berat. Saat ini perusahaan keluarga Hadiwijaya terancam Tax Amnesty dan tindak pidana kontrak ilegal.""Bagaimana dengan pihak bank? Apa mereka juga bergerak?""Beberapa bank per hari ini langsung memblokir akun Tuan Hadiwijaya dan Nyonya Kori. Beberapa pemegang saham dan investor juga sudah mundur. Mereka adalah pihak-pihak yang berkaitan dengan perusahaan. Kinerja perusahaan sudah goyah, sehingga ancaman mogok kerja para pegawai juga sudah mulai bergulir. Perusahaan terancam gulung tikar beberapa waktu ke depan jika aliran dana tidak segera tertangani."Hal yang membuatnya gusar, beberapa aset keluarga Hadiwijaya telah disita oleh pihak bank, dan salah satunya adal
Pemandangan sore di atas kota Tokyo terlihat begitu mempesona: terbentang lewat kaca jendela lantai 21 salah satu gedung. Sesosok pria muda dengan setelan jas elegan, tengah termangu menatap jauh ke penjuru kota. Pandangannya jelas-jelas menyiratkan ada sesuatu yang ia pikirkan. Beberapa lembar fot
"Silahkan, nona!" Kenshi membukakan pintu mobil. "Tidak, saya di belakang saja." Mayang sengaja menuju sisi pintu belakang, seperti sore tadi. Ia merasa tak nyaman jika harus duduk di depan, tepatnya di sisi pria asing itu. Walaupun awalnya sempat merasa aneh dengan keramahan pria itu, kata-katan
Baru sekitar satu jam setelah keluarga Hadiwijaya tiba di Tokyo, mereka beristirahat di salah satu hotel bintang 4 yang sepertinya telah dipersiapkan sebelumnya. "Pa, jangan lupa disiapkan berkasnya! Besok kita harus ke Osaka." Cory tampak sibuk membuka koper dan merapikan beberapa pakaian ke dala
Wajah Mayang menatap sendu awan putih berarak di luar jendela pesawat. Sisa-sisa sembab di wajahnya masih kentara. Bukan hanya karena bangun tidur namun karena bekas tangisnya sejak semalam dan shubuh tadi."Mbok!" Gumamnya lirih karena harus berpisah dengan pengasuh tercintanya, Mbok Ijah yang tak







