MasukMenjadi orang Indonesia yang akan dijodohkan dengan pria asal Jepang yang belum pernah dikenal bukanlah perkara mudah bagi gadis bernama Mayang. Perjodohan karena kerjasama bisnis dua keluarga dengan dua budaya dan bahasa yang berbeda tentunya menimbulkan banyak hal menarik. Meski awalnya Mayang menolak, kebersamaannya bersama pria Jepang bernama Kenshi nyatanya membuahkan benih cinta di hatinya. Pada kenyataannya kekuasaan, persaingan bisnis, kecemburuan sosial, perbedaan budaya yang kental dan masa lalu yang kembali muncul membayangi kisah mereka. Akankah loyalitas, ketulusan, dan keyakinan yang sama dari keduanya menyelamatkan hubungan dua insan beda negara itu?
Lihat lebih banyak“Apa? Aku udah dijodohin?”
“Iya, sayang! Mama sama papa sudah lama ingin memberitahu hal ini, tapi belum sempat, karena urusan perusahaan yang tidak ada habisnya.” Terang wanita di ujung sofa sambil sesekali mengurut keningnya efek jetlag.
“Ini kan bukan hal simpel, ma! Masa sih, aku dijodohin, tapi baru diberitahu sekarang. Terus mama bilang, pernikahan aku di Jepang. Berarti, calon suami aku itu orang Jepang, dong! Aku kan gak bisa bahasa Jepang, ma!” Protes Mayang dengan wajah meringis.
Gadis itu tak pernah membayangkan, jika kejadian Siti Nurbaya akan menimpa dirinya di jamannya kini. Sebuah perjodohan di jaman dengan segala kecanggihan teknologi dan pesatnya peradaban dunia.
“Ya, ampun, sayang! Tenang saja, dia itu sudah bisa bahasa Indonesia. Nanti setelah kamu tinggal di Jepang, kamu juga bakal lancar bahasa Jepang. Seperti mama sama papa juga begitu, ya kan pa?” Terang Kory santai, tanpa melihat Mayang yang masih terbengong tak percaya. Sedangkan Aryo Haditama, ayah Mayang, hanya menganggukkan kepala sambil terus memperhatikan layar tabletnya.
Mayang memandangi kedua orang tuanya itu tak percaya. Pagi ini mereka baru saja datang dari perjalanan bisnis mereka, dan dengan ringannya mereka membicarakan hal besar seperti itu tanpa memikirkan bagaimana perasaan putrinya saat ini.
“Ma, Pa, ini serius, kan? Aku gak salah dengar, kan? Papa sama mama gak sedang nge-prank aku, kan?” Tanyanya lagi ingin memastikan.
Pasangan suami istri itu akhirnya bersamaan memandangi putri mereka yang berdiri dengan wajah pias.
“Serius!” Ucap mereka berbarengan.
“Papa! Papa kok tega, sih! Aku kan anak papa.” Gadis itu langsung duduk lemas di samping Aryo sembari memeluk lengan lelaki itu dengan wajah memelas.
“Justru papa gak tega, kalau kamu ketemu pasangan yang gak sesuai.”Ungkap Aryo dengan nada datar sambil menempelkan pipi ke kening anak gadisnya itu.
Kory hanya melirik kemanjaan putrinya itu dengan wajah menyelidik.”Jangan-jangan kamu pacaran, ya?”
“Enggak, ma! Beneran, aku gak punya pacar.” Pekik gadis itu langsung menegakkan badannya.
“Nah, itu baru benar. Berarti perjodohan ini memang tepat buat kamu. Kamu kan gak mungkin selamanya hidup sendiri. Kamu butuh pasangan hidup.” Sang papa menekankan.
“Iya, sayang! Selama ini kamu sudah hidup sendiri disini. Kami kesana kemari menjalankan perusahaan. Suatu hari nanti, kamu dan pasangan kamu yang akan melanjutkan. Kalau kamu sudah punya pasangan, hidup kami baru bisa tenang.” Sang mama menambahkan.
‘Tenang?’ Tenang seperti apa yang mereka maksud? Wajah Mayang makin meringis. Ia ingin menangis saat itu, namun tak berani jika berhadapan dengan mamanya yang terkenal vocal dan tegas. Sudah pasti sang mama akan mencecarnya dengan kata-kata yang akan memekakkan telinga.
“Tapi, ini? Ini kan pemaksaan namanya. Aku belum setuju.” Ungkapnya memberengut. Bagaimana pun ia ingin mengambil sikap. Menikah itu hal besar yang harus dipikirkan matang-matang dan bukan main-main.
“Mayang, please deh, belajar dewasa! Jangan kekanak-kanakan seperti ini. Usia kamu sudah 22 tahun.” Sang mama berdiri sambil mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya lalu meraih cangkir kopinya di meja.
“Aku juga belum wisuda, ma! Aku masih ingin bareng teman-temanku. Kita udah rencana jalan-jalan ke pulau Seribu lepas wisuda nanti.” Sanggah gadis itu belum menyerah.
“Mayang, hal-hal seperti itu tidak penting. Kamu bisa liburan kapan pun. Yang kami pikirkan ini adalah perihal masa depan kamu!” Terang Kory dengan intonasi mulai meninggi.
“Iya. Cuma kenapa aku harus dijodohin? Aku juga kan punya rencana sendiri. Aku ingin kuliah lagi.”
“Kamu tenang aja! Kamu bisa lanjutin kuliah kamu di Jepang setelah menikah nanti. Kami dan calon besan sudah membicarakan hal ini. Pasangan kamu adalah pasangan ideal. Kami yakin, hidup kamu di sana akan terjamin. Perusahaan kita juga pasti akan makin berkembang.” Lanjut sang mama dengan nada optimis.
“Tapi ma…”
“Mayang!” Pekikan Kory dengan wajah mengeras dan mata setengah melotot itu langsung memotong ucapan Mayang.
Gadis itu akhirnya kembali memeluk lengan sang papa dengan wajah ciut, antara sedih dan kesal. Kalau sudah begitu, sang papa hanya akan menepuk-nepuk tangannya, sebagai pertanda harus menghentikan segala keluh kesahnya, untuk menghindari perang dunia di rumah itu.
Rupanya keramaian itu adalah sebuah lokasi plaza terbuka mirip Gangnam Street di Korea. Di kanan-kiri terdapat barisan toko-toko dari merek-merek terkenal. Terdapat kafe dengan meja di sisi jalan dan resto kecil yang penuh. Rasa lelah sekejap hilang dengan pemandangan itu. Berbagai pernak-pernik seolah membius Mayang untuk sekadar menghampiri dan Kenshi hanya mengikutinya.Tiba di sebuah butik, Kenshi menariknya masuk hingga ke dalam. Mereka disambut pelayan toko yang ramah. Mayang termangu dengan maksud Kenshi.“Pilih baju yang kamu suka!” Ujar Kenshi sambil terus memegang tangan gadis itu. Mayang tampak enggan, karena merasa tak memerlukan pakaian baru saat ini.“Pakaianku masih banyak yang belum kupakai di koper, aku…” Kenshi mengambil salah satu gaun kasual di antara deretan pakaian di dekatnya, lalu menempelkannya ke dada Mayang yang kaget.“Aku akan menunggumu di luar sampai kamu mengganti pakaian.” Kenshi mendorong Mayang hingga masuk ke ruang ganti. Lelaki itu menutup pintu da
Mayang PovTingtong.Suara bel pintu seolah menjadi penyelamatku. Saat kubuka mata kulihat Kenshi telah berlalu meninggalkan aku yang masih duduk terpaku. Tanpa berpikir dua kali aku segera melompat turun dari nakas pantri lalu berlalu cepat menuju toilet. Aku terduduk di atas tutup toilet dengan degup jantungku yang masih tak beraturan karena ulah Kenshi barusan. Rasa-rasanya aku belum sanggup keluar untuk berhadapan dengan pria itu.Aku terperanjat ketika tiba-tiba pintu toilet terbuka dengan Kenshi yang sekonyong-konyong muncul lalu menghampiri."Apa yang kau lakukan di sini. Ayo, kita sarapan!" Sahut Kenshi yang langsung menarik tanganku untuk keluar toilet.Aku masih melongo di depan meja makan. Aku masih membayangkan kekonyolan yang mungkin terjadi jika saja aku tadi sedang buang air lalu Kenshi masuk seperti tadi.Ya, Allah. Aku masih tak bisa habis pikir dengan kelakuan pria di depanku yang matanya tak pernah lepas menatapku seolah aku adalah buruan yang siap ia santap. "K
MAYANG POVDegdeg. Degdeg. Dadaku masih terasa berdegup kencang sejak semalam. Aku sulit memejamkan mata sejak Kenshi berada di satu kamar denganku. Bagaimana tidak, sepertinya ia selalu mencari celah untuk mendekatiku. Bahkan ia sudah berani memelukku dari belakang saat di balkon. Aku masih merasa canggung jika bersitatap dengannya, hingga semalam aku sengaja pura-pura tidur.Hampir terperanjat kaget ketika kudapati Kenshi tengah terlelap di sofa pagi ini. Sepertinya ia kelelahan dan tidur di ruang tamu semalam. Aku yakin dia juga kelelahan. Setelah resepsi, kemarin dia masih sibuk rapat dengan koleganya. Padahal seharusnya, seperti yang dia katakan, hari-hari ini hari bulan madu kami.Tanpa sadar aku memperhatikan wajah pria di hadapanku ini. Wajah tampan yang selalu tampak cool itu begitu terlelap dengan dengkuran yang halus. Tiba-tiba ia bergerak. Aku pun mundur tanpa bermaksud membangunkannya atau malah takut ia menyadari kehadiranku. Aku pun segera menuju kamar mandi.Kenshi se
KENSHI POVSiang keesokan harinya, aku baru saja menemui kolegaku dari Amerika yang akan segera check out dari hotel. Rasanya aku ingin segera kembali ke kamar. Bagaimana pun aku tak akan melepaskan kesempatan untuk bersama gadis bernama Mayang yang kemarin telah menjadi istriku.Aku mendapati Mayang tengah tidur di sofa, tak jauh berbeda saat dia tertidur di atas sajadahnya malam tadi. Rasa lelah setelah rentetan acara pernikahan dan resepsi kemarin tak dapat dipungkiri lagi membuat Mayang kelelahan. Tak berniat mengganggu tidur manisnya, kuselimuti tubuh semampainya dengan jas yang kukenakan.Tak berapa lama aku keluar dari kamar mandi, namun gadis itu sudah menghilang dari sofa. Penasaran kucari ia di ruangan lain di kamar luas itu namun tak ada tanda-tanda keberadaannya. Aku mencoba menghubungi ponselnya dan suara ponsel malah terdengar dari arah sofa. Pikiranku mulai menduga macam-macam. Apa mungkin gadis itu melarikan diri lagi setelah pernikahan?Aku memicingkan mata saat des












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.