로그인“Kamu jahil!” Mayang mencubit gemas dada lelaki di hadapannya yang masih berbalut kemeja kerja dan dasi yang sudah miring tak karuan.Mayang merapikan dasi dan hendak beranjak turun dari pangkuan Kenshi, namun lelaki itu kembali menarik pinggang rampingnya seraya mendekatkan mulutnya ke telinga Mayang. “Mayang-san, apakah kamu tahu? Yang barusan kamu sentuh itu bagian sensitifku?"Mayang lantas menjauhkan diri dan melirik Kenshi tak mengerti."Kalau kamu menginginkanku, kamu bisa menyentuh area itu, sesuka hati kamu. Itu salah satu rahasiaku!” Jelas Kenshi membuat wajah Mayang langsung matang merona. Tak ayal ia pun segera melompat turun diiringi tatapan sayu Kenshi yang tersenyum menyeringai. “Ayo, aku...aku sudah lapar!” Ucapannya terbata sambil berusaha mengaitkan kancing bra-nya. Namun, nyatanya tak berhenti di situ. Kenshi dengan sigap menarik pinggang istrinya lalu sengaja membenamkan wajahnya di perut wanita yang gelagapan. “Kamu masih lapar setelah ini?” Ungkapnya manja.
Beberapa hari setelahnya, Mayang mencoba mencari kenyamanan dengan berjalan-jalan menelusuri rumah kediaman barunya itu saat semua orang tak ada di rumah.Kenshi sudah berangkat pagi sekali hari itu. Dari yang ia dengar semalam, ada beberapa hal yang harus ia urus dan dokumen yang ditandatangi di hotel.Setelah sarapan pagi, Bibi Mariko akan pergi berbelanja untuk kebutuhan makan malam. Hiro, putra Bibi Mariko sepertinya belum datang memeriksa tanaman di rumah kaca. Selain mereka, tak ada orang lain yang memasuki bagian dalam rumah Kenshi. Bahkan satpam rumah pun hanya akan berkeliaran di pekarangan depan rumah dan garasi mobil tanpa berani memasuki area dalam.“Dia sangat menjaga privasi,” gumamnya sembari tersenyum sambil melihat-lihat tanaman bonsai dan area luar green house yang asri dan terawat. Sesekali ia mengambil makanan ikan yang ia sebar di beberapa tempat.“Ikan-ikan pintar!” Mayang tertawa geli melihat ikan-ikan koi itu mengikuti ke mana saja ia berjalan di atas lantai k
Malam itu, Kenshi sudah menungguku di atas ranjang dengan tatapannya yang ramah. Ia menepuk kasur di sisinya seolah mempersilahkan aku untuk kembali ke ranjang.Ragu-ragu aku duduk lalu berbaring. Kenshi tak segan merapikan selimut yang menutupi sebagian tubuhku.“Menurutmu lebih nyaman di sini atau di kamar bawah?” Kenshi membuka obrolan. Aku yang sempat tegang akhirnya beranjak duduk, mencoba lebih tenang melirik ke arah Kenshi yang seperti biasa mengambil salah satu buku bacaannya.“Eem, kalau boleh jujur, aku suka kamar di lantai bawah. Rasanya seperti kamar rumahku di Indonesia.”“Ooh, sungguh. Aku belum pernah mengunjungi rumahmu, jadi tidak tahu bagaimana suasananya. Maafkan aku, mungkin nanti kita harus mengatur jadwal untuk mengunjungi negaramu. Bagaimana menurutmu?”Mataku hanya mengerjap. Aku tak percaya jika Kenshi memiliki pemikiran seperti itu. Meski akhirnya ia tersenyum lalu tertawa tanpa suara.“Apa, kenapa Kenshi? Apa ada yang lucu?”“Kemarilah!” Kenshi mengulurkan t
MAYANG POVTubuhku serasa membeku saat Kenshi sudah merangkul tubuhku dari belakang. Bahkan aku seakan tak mampu menatap wajahnya di pantulan cermin saat ia meletakkan dagunya di bahuku. “Aku tahu kamu kesal!” Ujarnya langsung membuatku bingung.“Hah, bukankah kamu yang kesal padaku?” Tukasku merasa aneh.Bisa kurasakan hembusan napasnya begitu berat dan tubuhnya sesekali bergetar di punggungku dan rangkulannya makin erat. Apa sebenarnya yang terjadi? Apa dia marah karena tadi bertemu dengan Rian? Atau marah karena aku tidur di kamar bawah? “Kamu tidak kembali ke kamar sejak kemarin? Apakah karena perbuatanku kemarin?” Suara Kenshi terdengar sendu.Aku pun terdiam dan menarik napas berat dan panjang seolah menjadi jawaban atas pertanyaannya. “Apa kamu mau kembali ke kamar bawah?” tanyanya lagi.“Kenshi, aku pikir kita masih butuh waktu. Aku belum yakin dengan perasaan di antara kita. Aku butuh ruang dan ...”“Apa maksudmu? Apa sikapku selama ini belum jelas?” tanya Kenshi seperti s
Seorang lelaki yang merupakan supir pribadi Kenshi memasuki kantor lalu merunduk hormat.“Apa Mayang sudah memulai kelasnya?”, sambut Kenshi pagi itu lalu berdiri dan memilih bersandar di sisi depan meja.Lelaki itu menyerahkan sebuah map pada Kenshi. Kenshi membuka map tersebut.“Nyonya sudah memulai kelasnya, Tuan! Ini berkas registrasi dan administrasinya. Semua sudah lengkap dan sudah dibayar lunas.”“Haik, jadi tidak ada masalah kan?” Kenshi meletakkan map di meja.“Tidak ada masalah. Sepertinya nyonya sudah mengenal seseorang di sana. Hanya saja beliau tidak nyaman dengan hal itu.”“Teman? Mereka sudah kenal?.” Kening Kenshi berkerut. Dia sepertinya tidak punya informasi mengenai hal itu sebelumnya.“Apa perlu saya cari informasi mengenai hal ini, Tuan?”Kenshi hanya mengangguk sambil memandang lurus ke depan seperti ada sesuatu yang ia pikirkan.“Sore ini biar aku yang menjemput?”“Baik, Tuan!”Lelaki itu pun merundukkan badannya lalu berlalu meninggalkan Kenshi yang langsung b
Mayang kaget dengan pelajaran mendasar bahasa jepang. Ia harus mempelajari huruf-huruf dasar yang nanti membentuk huruf Kanji yang berasal dari symbol-simbol yan berasal dari alam. Mayang masih tampak kebingungan dan pusing dengan pelajaran kanjinya.Kenshi membantunya membuat semacam table huruf dan kamus kecil yang bisa ia bawa. Ia juga membuatkan table Kanji huruf-huruf yang biasanya akan ditemui disepanjang jalan atau pertokoan, shingga ia mudah menghapal dan mengenalinya. Belajar bersama itu membuat Mayang semakin dekat dengan Kenshi. Ia menganggap Kenshi adalah guru terbaiknya. Tentu saja Kenshi meminta imbalan dari semua itu.Tak disangka aRomantika PerpustakaanMayang terlihat asyik mondar-mandir di dalam perpustakaan. Sejak Kenshi menyarankan dirinya untuk masuk kelas bahasa jepang, Mayang seperti memperoleh semangatnya lagi.mulai belajar mengumpulkan kata-kata Kanji dari buku-buku yang ada di perpustakaan Kenshi. Ya, Kenshi juga memiliki banyak koleksi buku sejak ia sekol







