로그인21 tahun kemudian.“Letnan Dua Jiendra Manggala.” Nama itu menggema di lapangan Bumimoro, Surabaya, disambut tepuk tangan panjang. Barisan perwira muda berdiri tegak, seragam putih berkilau tersapu matahari pagi.Jiendra melangkah satu langkah ke depan, menerima penyematan pangkat dengan wajah tenang, rahang mengeras menahan getar yang tak perlu dipamerkan.Sampai upacara selesai, barisan dibubarkan. Lapangan yang tadi sunyi kini dipenuhi pelukan, kamera, dan tawa yang tertahan haru.Jati berdiri menunggu. Ketika Jiendra mendekat, keduanya berhadapan tanpa banyak kata. Tinggi mereka hampir sama. Bahu sejajar. Postur serupa. Hanya wajah Jiendra menyimpan garis lembut milik Gandes, campuran Eropa yang samar namun jelas. Rambutnya ikal ringan, cokelat tua, tidak semerah milik ibunya dulu, juga tidak hitam pekat seperti kebanyakan prajurit lain. Jati menepuk pundaknya. Sekali. Kuat.“Kamu lulus, di angkatan laut seperti impianmu,” ucapnya singkat.Jiendra tersenyum kecil. “Iya, Romo.”Te
“Dokter! Angkanya naik lagi!”Suara perawat memecah kepanikan. Langkah tergesa memenuhi ruang ICU.Gandes yang baru saja dari musolla bersama Yasmin dan Tawang, menatap lemas. Tangis Gandes pecah lebih keras, membuat tubuhnya oleng. Jati sigap meraih bahu istrinya, namun tenaga Gandes runtuh, membuatnya jatuh limbung.“Gandes,” suara Jati parau. “Pegang aku. Kuatkan dirimu."Gandes tak menjawab. Tangannya mencengkeram lengan Jati, napasnya tersengal, air mata tak berhenti mengalir. Dari balik kaca, layar monitor Jiendra berpendar cepat, garis-garisnya melonjak tak beraturan.Maheswari menutup mulut, dadanya naik turun. “Kenapa bisa begini lagi…?”"Kita berdo'a, Bu. Dia anak yang kuat, dia pasti selamat, " tambah Jatmiko.Ryan yang sudah berbalik melangkah, berhenti. Ia menoleh. Tangis Gandes, suara mesin, teriakan perawat, semua menghantam bersamaan. Dia kembali. Matanya tertuju ke inkubator. Tubuh kecil itu, wajah pucat, dada bergerak terbantu alat.“Kondisinya menurun,” ujar seorang
"Di mana Jati, Yasmin?" tanya Maheswari yang baru datang dari mushola."Di sana, Bu." Gandes menjawab, namun tak digubris oleh Maheswari. " Titip Jiendra, saya ke mushola sebentar."Maheswari masih tak bicara, bahkan saat Jatmiko memegang tangannya.Gander menelan ludah, dia tahu semua itu karena kesalahannya.“Selamat.”Suara Ryan jatuh pelan, tapi menghantam lebih keras daripada teriakan. Jati menoleh perlahan. Cahaya putih ICU memantul di wajah Ryan yang tampak lebih segar dari terakhir kali ia ingat. Rahangnya mengeras, seolah kata barusan harus dipaksa keluar agar tak kembali melukai dirinya sendiri.Maheswari yang hendak mendekat, terdiam, tak langsung memeluk putranya yang berbulan-bulan tak dijumpainya.“Selamat, Mas Jati,” ulang Ryan. “Akhirnya tak ada lagi alasan bagiku bertahan.”Jati menelan napas. Tangannya masih menempel di kaca inkubator. Mesin terus berdengung, tak peduli percakapan retak yang sedang terjadi beberapa langkah darinya.“Ryan, aku.... "“Biarkan aku menye
“Cepat, Mas. Kondisinya kritis.”Kalimat yang didengar dari Yasmin itu seperti peluru. Tidak berisik, tapi menghantam tepat sasaran.Jati berdiri kaku di tengah kabin pesawat. Tangan kirinya mencengkeram sandaran kursi, sementara tangan kanan menutup mata sejenak, menahan sesuatu yang berusaha naik ke tenggorokan.“Berapa lama lagi?” suaranya terdengar lebih tenang daripada dadanya.“Dua puluh menit,” jawab kopilot dari depan. “Kita turun di Adisutjipto.”Jati mengangguk pelan. Tidak ada pilihan lain selain percaya pada waktu yang terus bergerak tanpa peduli. Pikirannya melayang ke ruang putih, bau antiseptik, bunyi mesin yang naik turun seperti napas buatan. Bayangan kecil dengan selang dan kabel menempel di tubuh mungil itu muncul begitu jelas. Ia menelan ludah.Di baris kursi belakang, Letda Tawang berdiri, merapikan jaket lapangannya. Gerakannya cekatan, khas prajurit yang terbiasa berpindah medan. Ia melirik ke arah Jati melalui pantulan kaca jendela. Sekilas, sudut bibirnya teran
"Apa golongan darah yang dicari, Dok?" Suara Mica terdengar tegang, nyaris memotong seisi ruang donor.Belum sempat dokter menjawab, langkah kaki tergesa memecah sunyi. Gandes menerobos masuk, wajahnya pucat, napasnya tersengal. Tangannya mencengkeram pinggiran pintu, seolah lantai bergoyang di bawah kakinya."Tidak usah repot," ucap Gandes serak. "Aku yang mendonorkan sendiri darahku untuk anakku."Suster refleks bergerak cepat. "Mbak, jangan dulu. Dari tadi Mbak kelihatan limbung. Duduk sebentar.""Tidak," potong Gandes. Ia melangkah lagi, meski lututnya tampak gemetar. "Aku ibunya. Aku bisa."Ryan menoleh. Tatapan mereka bertemu, singkat namun penuh sesuatu yang tak sempat diberi nama. Mica menghela napas lega, rahangnya mengendur."Mbakyu, ini bukan soal keras kepala," kata Yasmin. "Kamu hampir jatuh dari tadi.""Aku tidak apa-apa," jawab Gandes cepat, meski suaranya bergetar. "Anakku lebih penting."Suster yang sama mengernyit, memandangi wajah Ryan lalu Gandes bergantian. "Maaf,
“Pelan sedikit, Ryan.” Suara Mica terdengar lembut, tapi jelas menahan lelah. Tangannya masih menggenggam map tipis berisi berkas proyek, ujungnya kusut akibat terlalu sering dipindah dari tas ke tangan. Tumitnya berhenti sejenak sebelum pintu kaca rumah sakit terbuka otomatis.“Kamu kelihatan pucat,” lanjutnya. " tapi kenapa langkah kakimu begitu cepat?“"Aku bilang nggak usah periksa, hanya sakit begini saja kok. Nanti kalau udah istirahat pasti tenagaku balik lagi."Mica menggeleng. “Tidak, Ryan. Kamu tuh sakit, anemia.""Kamu terlalu khawatir, Mica. Sudah aku bilang, jangan terlalu baik padaku, aku bukan orang yang bisa membalas kebaikanmu itu." Nada suaranya datar, tapi matanya bergerak cepat menyapu ruang yang tak jauh dari pintu keluar rumah sakit.Mica melangkah berdampingan. “Habis periksa ini langsung pulang. Kamu butuh tidur.”Ryan tidak menjawab. Langkahnya melambat ketika ruangan UGD terlihat. Suasana berubah drastis. Suara tangis, panggilan perawat, roda tandu yang berdec







