Bab 5
"Viana, semalem lo kemana, sih?" Kanara melirik Viana yang duduk di sampingnya.
"Bukan urusan lo!" jawab Viana ketus.
Waktu menunjukan pukul 07.00 pagi kota Swinden. Karena bel sekolah sudah berbunyi, semua murid duduk di kursinya masing-masing.
Viana duduk bersama Kanara. Sedangkan Rachell duduk bersama Seyra. Saat ini keadaan kelas XII I begitu riuh, karena belum ada guru yang mengajar.
"Woii, ada Bu Dian!" teriak Dodi, teman sekelas Viana.
Seluruh murid terdiam. Suara ketukan langkah semakin terdengar jelas disusul suara Bu Dian memberi sapaan.
"Selamat pagi semuanya," sapa Bu Dian dengan senyuman.
"Pagi, Bu," jawab seluruh murid serentak.
Bu Dian tersenyum tipis. Matanya melirik pintu, lalu mengangguk ke arah siswa yang berdiri di ambang pintu. Siswa tersebut memasuki kelas dan disambut dengan kericuhan para murid.
"Wah, murid baru, ya?" tanya salah satu murid.
"Ganteng banget!" puji siswi lainnya.
"Siapa namanya, Bu?" tanya siswi yang duduk paling depan.
"Bukannya itu Sagara, ya?" sahut siswi lainnya.
"Sagara ketua geng motor Verdon bukan, sih?" sambung siswi lainnya.
Viana yang sibuk memeriksa soal matematika di buku, terpaksa mengangkat wajahnya saat mendengar teman-teman sekelasnya menyebut nama Sagara.
Mata Viana terbelalak kala melihat sosok Sagara berdiri di depan kelas. Terlebih lagi, Sagara memakai seragam SMA Galaksi.
"Hari ini kalian kedatangan teman baru," ucap Bu Dian dengan senyuman. Bu Dian menyuruh semua murid untuk tenang.
Viana mencengkeram pulpen di tangannya. Dia panik. Kehadiran Sagara di sekolahnya tidak pernah ada dalam bayangannya.
"Sagara, silakan perkenalkan diri!" perintah Bu Dian.
"Kenalin, nama gue Sagara pindahan dari SMA Xeron," kata Sagara dalam satu tarikan napas.
Sagara menangkap sosok Viana yang duduk di bangku urutan nomor 2. Dia tersenyum miring melihat ekspresi Viana saat ini. Rupanya Arthur tidak memberi tahu tentang kepindahannya pada Viana.
Viana mengepalkan tangannya kuat. Ini tidak bisa dibiarkan! Dia harus bicara dengan Sagara. Tidak boleh ada yang tahu tentang perjodohan mereka. Apalagi, dia memiliki kekasih yaitu Ravin Aditama.
"Sagara, silakan kamu duduk di bangku kosong!" Sagara segera melangkah menuju bangku urutan paling belakang.
Saat melewati meja Viana, Sagara dengan sengaja menghentikan langkahnya. Tidak mengatakan apapun, tapi cukup membuat Viana khawatir setengah mati.
"Viana, lo gak papa, kan?" tanya Kanara saat melihat perubahan sikap Viana. Dia melirik Sagara yang sudah duduk di bangkunya.
Semenjak Sagara memasuki kelas sikap Viana mendadak berubah.
"Gue baik-baik aja, kok," jawab Viana menghembuskan napas pelan.
***
Bel istirahat berbunyi tepat pukul 09.00 pagi. Semua murid berhamburan ke kantin untuk mengisi perutnya. Begitupun dengan Viana dan ketiga temannya.
Tapi kali ini, Viana menolak ajakan ke kantin dari sahabatnya. Dia mengatakan ingin ke toilet. Dia juga menolak saat Rachel ingin menemaninya. Padahal tujuan Viana bukan ke toilet, melainkan menemui Sagara.
"Sialan, kenapa jadi kaya gini, sih?" gerutu Viana menggigit bibir bawahnya kesal.
"Ngapain juga tuh preman pasar pindah ke sekolah gue?" Viana terus berbicara sepanjang koridor.
Beruntung koridor yang dilewatinya sepi. Saat di belokan koridor, Viana menangkap sosok Sagara. Lantas, dia segera berteriak kencang.
"Sagara!"
Teriakan Viana menghentikan langkah Sagara yang ingin menaiki tangga menuju rooftop. Dia menatap malas sebelum melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
Karena diabaikan, Viana mengikuti Sagara yang sudah naik terlebih dahulu.
"Lo ngapain pindah ke sekolah gue?!" teriak Viana dengan wajah kesal.
Lagi-lagi, Sagara mengabaikan Viana. Dia duduk di kursi kayu panjang.
"Lo denger gue ngomong gak, sih?" sentak Viana dengan emosi di ubun-ubun.
Sagara berdecak pelan. "Apa urusannya sama lo?" Pada akhirnya Sagara bersuara.
"Lo masih aja tanya ke gue?" tanya Viana dengan nada frustasi, "gue gak sudi satu sekolah sama preman pasar kaya lo!"
Sagara tidak tersinggung dengan panggilan Viana. Hanya saja kesal wajah tampan sepertinya dikatai preman pasar.
"Oh, atau lo sengaja pindah ke sekolah gue? Biar lo bisa caper ke gue?" tuding Viana yang kini berdiri berhadapan dengan Sagara.
Sagara tergelak mendengar kepercayaan diri Viana yang begitu tinggi. Dari mana Viana punya pikiran seperti itu?
"Lo terlalu peecaya diri, Viana! Gue pindah ke sini karena gue dikeluarin dari SMA Xeron," jelas Sagara masih dengan sisa tawanya.
Viana mendadak malu seketika. Dia sudah terlalu percaya diri saat mengatakan seperti itu.
"Terus masih banyak sekolah lain. Kenapa harus SMA Galaksi?" Viana masih tidak terima Sagara pindah ke SMA Galaksi.
"Gue juga awalnya gak mau pindah ke sini, tapi bokap gue maksa."
Sagara menatap lurus pada jalanan raya yang terlihat begitu ramai kendaraan.
"Gue gak peduli! Intinya lo gak boleh nyebarin perjodohan kita! Apalagi ngasih tau ke orang-orang kalo kita udah tunangan!" ujar Viana memberi peringatan pada Sagara.
"Kenapa?" tanya Sagara cepat.
"Karena, gue udah ada pacar!" jawab Viana tanpa ragu. "Ngerti nggak, lo?!"
Langit mulai berubah warna ketika mobil Sagara berhenti di tepi pantai yang sepi. Ombak bergulung tenang, menyapu pasir seperti napas panjang yang dilepaskan bumi. Matahari belum benar-benar tenggelam, menyisakan semburat oranye di ufuk barat. Viana turun perlahan dari mobil, mengangkat sedikit kebaya putihnya agar tak terkena pasir. High heels-nya ia lepas, diganti dengan langkah ragu-ragu yang menciptakan jejak di pasir basah. “Aku enggak nyangka kamu beneran bawa aku ke sini,” katanya lirih, menoleh ke belakang saat Sagara ikut menyusul dengan tangan dimasukkan ke saku celananya. Cowok itu hanya mengangkat bahu, senyum kecil di ujung bibirnya. Jas abu-abu yang ia kenakan masih rapi, meski dasinya sudah longgar. “Katanya kamu pengen sesuatu yang nggak rame. Cuma berdua,” jawab Sagara, lalu menoleh ke laut. “Ya ini, pantai paling ujung di Swinden. Sepi, tenang, enggak ada orang.” "Dulu kita pernah ke sini, sepulang sekolah. Ya, cuma buat hibur kamu yang lagi sedih setelah tau per
Viana mengangkat wajahnya pada cahaya matahari siang yang begitu terik. Angin membawa sisa harum bunga dari bangku kosong tadi, mengaduk-aduk dadanya—tapi kini tak lagi perih. Lebih ke hangat. Seperti pelukan seseorang yang lama ditunggu, lalu akhirnya datang, bukan untuk menenangkan, tapi untuk menyertai.“Viana, Sayang!” panggil sebuah suara dari kejauhan.Arthur.Pria itu melambai ke arahnya, berdiri tak jauh dari Alesha yang sedang mengelus perutnya yang membuncit. Senyum Alesha terlihat lembut, wajahnya bersinar karena cahaya matahari.Dengan langkah perlahan, Viana mendekat ke arah ayah dan ibu tirinya. Satu tahun lalu, bahkan satu bulan lalu, rasanya tak mungkin ia akan berdiri di sini, dengan hati yang ringan. Tapi waktu dan luka membentuk ruang baru di dalam dirinya—ruang yang tak diisi oleh dendam, tapi oleh pengertian.“Ayo, kita foto, Sayang!” ajak Arthur pelan.Viana mengangguk. “Ayo, Pa.”Alesha berjalan lebih dekat, tampak canggung. Ia menatap Viana sejenak, lalu berkat
Usai upacara, langit berubah keemasan. Mentari menggantung lebih rendah, menyelimuti halaman SMA Galaksi dalam cahaya hangat yang temaram.Orang-orang mulai menyebar. Ada yang sibuk berfoto, ada yang tertawa—bahkan menangis bahagia. Balon-balon putih dan emas dilepas ke langit, perlahan menjauh dari jangkauan. Tapi di satu sudut, waktu seakan berhenti.Viana berdiri di bawah pohon trembesi, mendongak menatap balon-balon yang menjauh. Di tangannya tergenggam erat selembar surat kelulusan, tapi hatinya terasa berat. Ada sesuatu yang belum selesai.Sagara berjalan menghampiri, diam-diam berdiri di sisinya. Tak ada kata. Hanya tatapan panjang ke langit, ke arah balon yang makin tinggi—satu di antaranya tersangkut di dahan pohon. Menggantung. Tak ikut terbang.“Kayak Satya ya,” gumam Viana, lirih.Sagara mengangguk pelan. “Dia nggak pernah benar-benar pergi.”Viana menunduk. “Aku masih ingat suara teriakannya waktu hari itu pas dia nyuruh aku pergi. Masih terngiang. Kadang muncul waktu aku
Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu, begitupun bulan berganti bulan. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, hari kelulusan telah tiba.Langit pagi membentang biru lembut di atas gedung megah SMA Galaksi, sekolah swasta elite yang hari ini penuh dengan wajah-wajah berseri dan mata-mata yang sembab karena haru. Deretan mobil mewah terparkir rapi di pelataran, menandai kedatangan para orang tua yang bangga dan siap menyaksikan momen penting anak-anak mereka.Di antara kerumunan yang berdiri di bawah naungan pohon trembesi tua, Viana berdiri dengan anggun mengenakan kebaya putih gading yang membalut tubuhnya dengan pas, memperlihatkan siluet sederhana tapi elegan. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi jepit mutiara kecil yang berkilau saat cahaya matahari menyapunya. Wajahnya yang biasanya kuat kini tampak tenang, dengan senyum kecil yang menggantung di sudut bibir.Sagara berdiri tak jauh darinya, mengenakan jas hitam yang dipadukan dengan dasi warna burgundy. Tatapannya sesekali mel
Mobil melaju perlahan meninggalkan rumah itu. Di kaca belakang, cahaya lampu rumah masih terlihat, begitu pula dua bayangan orang dewasa yang berdiri terpaku di depan garasi, diterpa angin malam yang dingin dan bisu."Papa nolak buat ceraikan Tante Alesha." Viana tertawa pelan, penuh luka. "Nggak ada cara lain selain nerima keberadaan Tante Alesha dalam hidup aku."Viana menoleh pada Sagara yang mulai menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan rumah. Saat ini tujuan mereka apartemen. Apartemen yang kata Sagara, menjadi tempat tinggal mereka setelah menikah. "Aku senang kamu dengerin nasihat aku buat maafin mereka. Mereka orang tua kamu sekarang, meskipun kamu masih nggak bisa nganggep Tante Alesha sebagai Mama kamu. Tapi ingat kasih sayang yang selalu Tante Alesha curahkan ke kamu, Viana!" Sagara menggenggam tangan Viana dengan lembut, dan hangat. Tangan yang sudah lama tidak dia genggam, bahkan terasa sangat jauh dari jangkauannya. Viana tersenyum lebar. "Makasih ya, Sagara. Kam
"Viana!"Suara itu memecah keheningan malam yang bergantung di antara lampu-lampu taman rumah besar bergaya Eropa. Viana baru saja membuka pintu mobil ketika suara Arthur menggema, membuat langkahnya terhenti. Tangannya masih menggenggam handle pintu, tapi tubuhnya membeku di tempat. Matanya memejam sesaat, mencoba menahan semua rasa yang mengendap sejak tadi.Arthur mendekat. Kemeja putihnya tampak kusut, dasi tergantung longgar di leher. Wajahnya lelah, tapi matanya penuh ketegangan. Di belakangnya, Alesha berdiri beberapa langkah, memeluk tas kerja ke dadanya, sementara Sagara berdiri di sisi mobil, menyandarkan punggung ke pintu dengan lengan terlipat."Viana, dengar dulu Papa minta maaf."Suara Arthur serak. Bukan karena dingin, tapi karena sesuatu yang sudah lama menyesak. Matanya memohon. Bukan seperti tatapan seorang ayah yang memarahi anaknya. Tapi seperti seseorang yang akhirnya menyadari betapa besar kesalahan yang telah ia lakukan, dan seberapa besar luka yang telah dibiar