Share

2

Sepanjang jalan aku sama sekali tak bisa tenang. Saat Om Redi menoleh, aku meringis memegangi perut, pura-pura sakit.

"Perutku sakit banget, nih, Om. Mending ke rumah mama aja." Karena mama tiriku juga bidan. Kalau periksa sama mama, tentu mama akan membantuku. Om Redi menggelengkan kepala sambil tertawa kecil. Satu tangannya terangkat mengusap-usap kepalaku dengan gemas. Aku menepisnya dan dia tertawa kecil. 

"Kau ini aneh sekali. Rumah mama kau itu jauh.  Di sana ada bidan. Dasar anak kecil."

Aku melotot galak padanya. Aku udah jadi istrinya, bisa-bisanya ia masih mengataiku anak kecil. Tidak ingat apa kejadian tadi?

Kupikir, ia tak akan memintaku 'tidur' dengannya karena yang ia cintai hanya bibi. Bibiku adalah cinta pertamanya. Namun, ternyata aku salah. Om Redi yang mengajak duluan, mengatakan bahwa kalau aku sudah jadi istrinya, yaa sebaiknya lakukan saja apa yang seharusnya dilakukan oleh suami istri. Malam sangat dingin, pula. Toh, aku sudah hamil anaknya, pula. Ya, sekalian sajalah. Begitu katanya tadi.

Padahal mulanya, ia terus mengatakan pada ayahku bahwa ia tak mau menikahiku yang bahkan dadanya masih rata. Astagaa. Dia beneran bilang begitu pada ayahku yang hanya cengengesan, menepuk bahu Om Redi dan meminta Om Redi bersikap jantan. Apalagi aku hamil--itu yang kukatan pada ayah. Jadi, ayah yang mulanya tak setuju, akhirnya mau tak mau merestui sahabat baiknya menikahiku. Walau dengan terpaksa sih Om Redi menikahiku. 

"Kenapa kau, kuperhatikan, kau senyum-senyum sendiri dari tadi? Masih waras, kau?" Ia menjulurkan tangan dan telapak tangannya mendarat di pipiku. Dalam keremangan lampu mobil, aku menatapnya sebal. 

"Masih, laah."

"Perut kau masih sakit?" Tatapannya terpacak ke arah perutku. Aku hanya mengenakan daster sebatas lutut dengan jilbab agak lusuh. Itu karena ia tergesa-gesa membawaku ke bidan. Padahal kan sebenarnya tak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Ya ma-siiih."

Ia pun menambah kecepatan. Jalanan yang tak rata membuat tubuhku beberapa kali tersentak ke depan. Dadaku bergemuruh hebat saat akhirnya mobil berhenti di sebuah remah dengan pintu sedikit membuka. Om Redi turun lantas setengah memutari badan mobil ia akhirnya membuka pintu di sampingku. Jantungku berdentam-dentam menyesakkan dada saat Om Redi menuntunku masuk. Seorang wanita sekitar 39 tahunan duduk di kursi menghadap meja. Menanyai apa yang terjadi padaku sehingga membuat Om Redi terlihat sangat cemas.

"Dia pendarahan, Bu. Setelah kami ...." Om Redi membuat gerakan dengan kedua ibu jari yang disatukan sambil tersenyum malu, lalu Om Redi menudingku yang semakin cemas saja.

"Dia pendarahan. Setelah kami melakukannya, dia pendarahan."

Tatapan Bu Bidan berpindah-pindah ke arahku dan Om Redi. Lalu, ia menyuruhku untuk merebah di ranjang. Jantungku seperti mau melompat saja saat Bu bidan mengambil alat seperti telepon genggam kemudian memberi perutku gel. Sumpah, jantungku seperti mau lompat saja. Berdentam-dentam membuat dada sesak. Apalagi saat Bu bidan mengernyit memandang Om Redi, rasanya was-was bukan main. 

"Apa kandungannya baik-baik saja?" Om Redi mendekat di sisi ranjang dengan wajah terlihat cemas. Sepertinya walau ia hanya menganggapku sebagai anak tapi kini aku malah jadi istrinya, tapi Om Redi benar-benar menyayangi anak yang kukandung. Sayang, anak hayalan. Hehe. Kalau ayah tahu yang sebenarnya terjadi, mungkin aku bisa ditembaknya. Ih, ngeri. 

"Kandungannya sudah berapa bulan?" Bu bidan menatapku.

"Tiga. Ya, kan, Put?"

"Iya, Om."

Dan, Bu Bidan kembali memeriksa. Ia memeriksa dengan alat entah apa lalu dengan kedua tangannya sedikit mengangkat bawah perutku.

"Tapi, saya tidak merasakan tanda-tanda keha--"

Bahaya, ini. Ini sungguh bahaya. Aku harus cari cara biar bisa keluar dari sini. Aku pun beranjak berdiri. 

"Bagaimana mungkin aku gak hamil? Om ingat, kan, waktu itu aku tespeck dan garis dua? Mama bilang kandunganku tiga bulan."

Om Redi menatap Bu Bidan penuh keheranan lalu menatapku ragu. A-duuh, aku beneran gugup sekaligus sangat tegang, nih. Tidak menyangka akan seperti ini jadinya padahal aku hanya bohong kecil saja. A-duuh. Gimana, niih. Om Redi sekarang, memandang ke arah perutku berlama-lama, membuat tubuhku banjir keringat dingin.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status