LOGINGisel melangkah masuk ke dalam lift. Wajahnya tampak lebih segar dibandingkan beberapa hari terakhir. Nasihat Bhaskar waktu itu masih teringat jelas. Ia tak harus terus memikirkan kesalahan Arash, apalagi menghabiskan waktunya untuk membalas semua luka yang pernah diterimanya. Ada banyak hal lain yang perlu ia urus, termasuk tentang dirinya sendiri. "Pagi, Bu Gisel," sapa Rian ketika mereka berpapasan di dalam lift. Gisel menoleh dan membalas sapaan itu dengan ramah. "Pagi, Rian. Banyak berkas yang harus disiapkan, ya? Jadwal Mas Arash hari ini padat?" "Iya, Bu. Minggu ini jadwalnya cukup penuh. Pagi sampai siang nanti ada rapat koordinasi," jawab Rian. "Semoga semuanya lancar, ya. Kalau begitu saya duluan." "Baik, Bu. Silakan." Gisel mengangguk lalu melangkah keluar dari lift. Selama perjalanan menuju divisinya, ia memeriksa beberapa pesan pekerjaan di ponsel. Sesampainya di sana, ia langsung berjalan menuju meja kerjanya tanpa membuang waktu. --- Di sisi lain, Arash berdiri
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Gisel, memecah keheningan di antara mereka.Bhaskar yang duduk santai di atas motornya langsung terdiam. Ia mengerjap beberapa kali, seolah ingin memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar. Senyum yang tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang, berganti dengan ekspresi terkejut.Pria itu menatap Gisel lekat-lekat sebelum akhirnya membuka mulut.“Selingkuh?” ulangnya. “Kamu barusan ngajak saya selingkuh, Sel?”Gisel langsung tersadar. Matanya membelalak, lalu ia buru-buru menggeleng sambil melambaikan tangannya beberapa kali.“Eh, bukan begitu, Kak! Aduh, lupain aja. Aku tadi cuma ngomong sembarangan.” Ia menutupi wajahnya karena malu. “Jangan dianggap serius, ya. Aku sendiri juga nggak tahu kenapa bisa ngomong begitu.”Bhaskar tidak langsung menjawab. Ia menegakkan tubuhnya, lalu melipat kedua tangan di depan dada sambil memperhatikan Gisel yang tampak tidak enak hati.“Memangnya semudah itu menyuruh saya melupakan perkataan kamu?” tanyan
Jam menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit. Gisel berdiri di dekat area drop-off lobi sambil menatap layar ponselnya. Ia sedang memesan ojek online untuk pulang. Setelah melewati hari yang cukup melelahkan, ia hanya ingin segera sampai di rumah, berganti pakaian, lalu beristirahat tanpa memikirkan masalah apa pun. Saat masih menunggu pengemudi menerima pesanannya, sebuah sedan hitam mendadak berhenti di hadapannya. Gisel mengangkat kepalanya ketika kaca jendela di sisi pengemudi turun perlahan, memperlihatkan sosok Arash. Pria itu mematikan mesin mobil, lalu turun dan menghampirinya. “Gisel,” panggil Arash. Gisel menatapnya dengan sedikit heran. “Ada apa lagi, Mas?” “Pulang bareng aku, ya.” Gisel terdiam sebentar sebelum menggeleng. “Aku nggak mau.” “Kenapa? Kita pulang ke mansion, rumah kita. Sudah lama kan kamu nggak pulang ke sana.” “Untuk sekarang, aku masih mau tinggal di rumah Mama dan Papa.” Arash terdiam. Ia sebenarnya ingin membujuk Gisel agar kembali ke mansion,
“Gisel…” panggil Arash dengan suara serak.Gisel tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap pria itu, menunggu apa lagi yang ingin disampaikannya. Ia tidak mau gegabah. Setelah semua yang terjadi, Gisel tahu bahwa dirinya tidak boleh begitu saja terbawa perasaan hanya karena Arash mulai menunjukkan penyesalannya.Melihat Gisel tetap diam, Arash akhirnya kehilangan keberaniannya untuk sekadar berdiri dan berbicara seperti biasa. Ia sudah mencoba mendekati perempuan itu, tetapi setiap kali ia melakukannya, Gisel selalu menjaga jarak. Kini, ia sadar bahwa kata-kata saja tidak akan cukup untuk membuat istrinya mengubah keputusan.Arash melangkah mendekat. Kakinya terasa berat, tetapi ia tetap memaksakan diri untuk maju hingga berdiri tepat di hadapan Gisel.Sesaat kemudian, ia menjatuhkan kedua lututnya ke lantai.Bruk.Gisel tersentak. Matanya membelalak saat melihat Arash benar-benar berlutut di hadapannya. Pria yang selama ini begitu keras kepala dan selalu menjaga harga dirinya itu kin
“Pagi, Bu Gisel.” “Pagi.” Gisel membalas sapaan petugas keamanan dengan senyum singkat. Ia masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka. Beberapa orang menyusul masuk, sibuk memeriksa ponsel atau membicarakan agenda masing-masing. Ketika pintu lift terbuka, ia segera melangkah keluar. Ia melewati deretan meja kerja dan berhenti di depan mejanya. Tangannya baru saja meraih sandaran kursi ketika pandangannya jatuh pada sesuatu di atas meja. Sebuah buket mawar putih. Dan di sebelahnya terdapat kotak kecil berwarna hitam dengan permukaan mengilap. Di antara kelopak mawar putih, terselip secarik kartu krem dengan tulisan singkat. Untuk istriku. Gisel mengatupkan bibir. Ia bahkan tidak perlu bertanya siapa pengirimnya. “Sel, dari Pak Arash, ya?” Gisel menoleh. Mbak Dina, rekan kerja yang duduk di meja sebelahnya, sedang mengamati buket bunga itu dengan senyum penuh arti. “Sepertinya begitu, Mbak.” “Wah, ternyata pak Arash diam-diam romantis juga ya.” Gisel meletakkan
Gisel membeku di tempatnya. Suara serak itu menembus deru angin pagi yang berembus pelan di taman. Di hadapannya, Arash berdiri dengan tudung hoodie hitam yang sedikit tersingkap, memperlihatkan wajah yang tampak lebih kurus dan tirus dibandingkan terakhir kali mereka bertemu. Kelelahan jelas terlihat di wajahnya, seolah-olah pria itu sudah lama tidak mendapatkan istirahat yang cukup. Gisel tidak ingin merusak ketenangan yang sudah susah payah ia bangun selama beberapa hari terakhir. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia langsung memutar tubuhnya dan berniat pergi secepat mungkin dari taman tersebut. Namun, belum sempat mengambil langkah, sebuah tangan yang dingin tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya. "Tolong, jangan pergi, Sel," pinta Arash dengan suara serak. Sentuhan itu membuat tubuh Gisel merinding seketika. Ia langsung menyentak tangannya hingga genggaman Arash terlepas. Setelah itu, Gisel berbalik dan mundur dua langkah untuk menjaga jarak di antara mereka. Matanya







