FAZER LOGINSore itu, saat sedang makan di kantin rumah sakit, Gisel menerima surel dari bagian HRD perusahaan. Ia membuka lampiran yang ternyata berisi pemberitahuan tentang perubahan tugasnya.Keputusan itu dibuat tanpa pemberitahuan sebelumnya, dan nama yang tertera di bagian tanda tangan adalah Arash Danendra.Gisel menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras."Kurang ajar," gumamnya.Ia sudah menduga Arash akan memanfaatkan keadaan untuk menekannya. Namun, Gisel tidak akan tinggal diam. ---Pagi berikutnya, Gisel tiba di gedung Pramudita Luxury Fragrance & Beauty dengan mengenakan blazer hitam dan celana bahan senada. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menyapa dengan ramah. Ada pula yang sempat meliriknya sebelum kembali melanjutkan pekerjaan. Gisel tidak memedulikan tatapan mereka. Ia tidak datang untuk mencari tahu apa yang sedang dibicarakan orang-orang di kantor.Tujuannya hanya satu yaitu menemui Arash.Gisel langsung menuju ruang direktur utama. Disana ia mendapati Rian y
Langit pagi di Jakarta tampak mendung. Di ruang tunggu dekat ICU, Gisel duduk di samping Dara dengan matanya yang sembab dan kurang tidur. Gisel bahkan lupa kapan terakhir kali ia minum atau makan. Karena hampir dua puluh empat jam ia berada di rumah sakit, menunggu kabar tentang kondisi Bramantyo yang masih belum sadarkan diri.Ponsel di dalam tasnya tiba-tiba berdering. Gisel segera mengambilnya dan mendapati nama Bhaskar muncul di layar."Halo, Kak," sapanya dengan suara pelan."Sel, kamu masih di rumah sakit, kan? Saya sudah sampai di lobi. Saya bawakan makanan buat kamu dan Tante Dara. Kalian pasti belum sempat makan, kan?""Makasih kak sebelumnya, maaf kalau ngerepotin.""Saya nggak keberatan, Sel. Tunggu sebentar, ya. Saya kesana sekarang."Panggilan berakhir. Gisel kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Tidak sampai lima menit kemudian, Bhaskar muncul dengan membawa dua kantong makanan. Ia menghampiri mereka dan menyerahkan salah satunya kepada Dara sebelum duduk di dekat
Langkah Gisel semakin cepat saat tiba di Rumah Sakit. Bhaskar berjalan di sampingnya, sesekali memegang bahunya agar perempuan itu tidak kehilangan keseimbangan karena terburu-buru.Begitu sampai di depan ruang ICU, Gisel langsung melihat Dara duduk di kursi tunggu. Wajah mamanya pucat, kedua matanya sembap, dan air mata masih membasahi pipinya.“Ma!”Dara segera bangkit. Begitu Gisel mendekat, ia langsung memeluk putrinya erat-erat.“Gisel...” Suara Dara bergetar. Gisel membalas pelukan mamanya. “Sekarang Papa bagaimana, Ma? Dokter sudah bilang apa?”“Belum ada kabar lagi. Papa masih di dalam.” Dara kembali terisak. “Mama takut sekali, Sel.”Bhaskar mempersilakan Dara duduk kembali, lalu mendekati Gisel yang terus menatap pintu ICU. “Sel, kita tunggu penjelasan dokter dulu, ya. Om Bram sedang ditangani. Kita berdoa aja semoga beliau bisa melewati masa kritisnya." katanya pelan.Gisel mengangguk, meski kecemasan masih jelas terlihat di wajahnya.Tidak lama kemudian, seorang dokter ke
Hari-hari setelah pertemuan itu, waktu berlalu dengan lebih tenang bagi Gisel. Ia tidak lagi merasa cemas setiap kali keluar rumah atau khawatir Arash tiba-tiba muncul untuk mengganggunya. Setelah pertemuan itu, Arash juga tidak lagi menghubunginya seperti sebelumnya. Setelah sekian lama, Gisel bisa menjalani hari-harinya tanpa terus memikirkan apa yang mungkin dilakukan pria itu selanjutnya.Di kantor pun, pekerjaan kembali berjalan seperti biasa. Arash memang sudah kembali masuk kerja, tetapi ia lebih banyak menghabiskan waktu di ruangannya dan jarang berinteraksi dengan karyawan lain. Gisel sendiri tidak berusaha mencari tahu lebih jauh tentang keadaan pria itu. Ia memilih menjaga jarak dan memfokuskan diri pada pekerjaannya.Dari beberapa informasi yang didengarnya, Arash sedang mengurus persoalan hukum yang menimpa Retno. Ia juga dikabarkan mengajukan cuti untuk sementara waktu agar bisa menyelesaikan urusannya. Sementara itu, Bramantyo mengambil alih beberapa tanggung jawab yang
Suara motor Bhaskar terdengar mendekat. Gisel yang menunggu di dalam mobil langsung merasa lega saat melihat pria itu berhenti di samping mobilnya. Bhaskar segera turun dan mengetuk kaca jendela. Gisel membuka kaca jendela. “Kak Bhaskar, cepat banget datangnya,” ujarnya sambil mengembuskan napas lega. “Kebetulan saya tadi sedang di kawasan Kuningan waktu kamu telepon,” jawab Bhaskar. Ia menatap Gisel dengan saksama sebelum bertanya, “Arash minta ketemuan di mana, Sel?” “Di kafe, Kak. Gak jauh dari sini kok.” jawab Gisel. Bhaskar terdiam sejenak, memikirkan langkah yang sebaiknya mereka ambil. Setelah beberapa saat, ia kembali menatap Gisel. “Kita datangi tempat itu.” Gisel langsung membelalakkan mata. “Hah? Kita ke sana? Tapi kak, dia minta aku datang sendiri.” “Memang dia menyuruh kamu datang sendiri, tapi bukan berarti kita harus menuruti kemauannya,” jawab Bhaskar tegas. “Saya akan ikut menemani kamu. Kita temui dia dan selesaikan masalah ini baik-baik." Gisel terdiam, memp
Ancaman Arash di galeri sore itu masih terngiang di benak Bhaskar. Ia kesal karena Arash terus menyalahkan orang lain atas masalah rumah tangganya sendiri. Namun, lebih dari itu, ia mulai mengkhawatirkan keselamatan Gisel. Sikap Arash yang semakin posesif membuat Bhaskar tidak bisa menganggap ancaman pria itu sebagai luapan emosi sesaat. Bhaskar tahu ia harus memberi tahu Gisel tentang apa yang terjadi. Ia tidak ingin perempuan itu lengah dan baru menyadari bahayanya ketika sesuatu yang buruk sudah terjadi. Malam harinya, Bhaskar menghubungi Gisel dan mengajaknya makan malam di sebuah restoran. Awalnya, Gisel sempat menolak karena masih ada kerjaan yang harus diselesaikan. Namun, setelah mendengar Bhaskar bersikeras ingin membicarakan sesuatu, ia akhirnya menyanggupi ajakan itu. Begitu tiba di restoran, Gisel langsung menghampiri meja di sudut ruangan tempat Bhaskar menunggunya. “Ada apa, Kak? Tiba-tiba banget ngajak aku kesini. Ada masalah?” tanya Gisel sambil duduk di hadapan Bh







