MasukPresiden Direktur Alden berjalan cepat menghampiri Liora. Dengan alis berkerut, dia berkata dengan suara berat, "Liora, aku percaya kamu bukan orang seperti yang diberitakan di media. Sebenarnya apa yang terjadi?"Liora menatap laporan-laporan yang memutarbalikkan fakta itu. Tatapannya dipenuhi hawa dingin yang menusuk.Waktu kemunculan berita itu jelas bukan kebetulan. Berita tersebut sengaja dirilis tepat pada malam pesta penyambutannya untuk menyerangnya. Siapa pelakunya dan apa motifnya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.Liora menarik napas dalam-dalam, menekan amarah yang bergolak di dadanya, lalu menjawab dengan tenang."Terima kasih atas kepercayaan Anda. Kenyataannya sama sekali nggak seperti itu. Kakak iparku yang malang itu ... anak yang dikandungnya sama sekali bukan anak mendiang suaminya, melainkan anak mantan suamiku, Ehren."Mata Alden seketika memancarkan sorot paham bercampur ketegasan."Jadi begitu rupanya. Aku bakal segera mengirim orang buat menyelidiki dan mengu
Setelah mengatakan itu, Liora mengambil tasnya, menutup pintu, dan pergi.Bahkan setelah pintu itu tertutup rapat, Devon masih menatap ke arahnya selama sepuluh menit penuh sebelum akhirnya perlahan mengalihkan pandangannya.Aura di sekelilingnya kembali dingin dan tanpa emosi.Devon mengeluarkan ponselnya dan membuka layar. Di sana terpampang pesan dari sekretarisnya yang dipenuhi nada putus asa.[BOS! Raja Neraka! Leluhurku yang terhormat! Proyek KJ benar-benar sudah dalam keadaan genting! Situasinya sangat mendesak! Kumohon, adakan rapat video malam ini! Aku mohon! Aku bersujud kepada Anda! Duk! Duk! Duk!]Sejak Devon datang ke Wingris, setiap malam antara pukul delapan hingga pukul dua dini hari, dia seolah menghilang dari dunia. Pada jam-jam itu, dia sama sekali tidak lagi menangani urusan pekerjaan.Sekretarisnya pernah diam-diam bertanya kepada asisten Devon, pekerjaan lintas negara sepenting apa yang sedang ditangani bos mereka setiap malam hingga rela menghilang seperti itu.A
Yuna berdiri di samping ranjang. Lingkaran hitam di bawah matanya tampak jelas, wajahnya pucat dan lelah, tetapi dia tetap memaksakan diri berdiri sambil memegang segelas air. Tatapannya penuh kekhawatiran saat memandang Ehren."Ehren, kamu sudah sadar? Kamu kedinginan parah sampai hampir mengalami syok. Aku benar-benar ketakutan. Sekarang bagaimana keadaan tubuhmu? Masih ada yang terasa nggak nyaman?"Perasaan Ehren langsung jatuh dari puncak harapan ke jurang kekecewaan.Rasa kecewa yang begitu besar memenuhi dadanya. Dia berkata dengan nada kesal, "Kenapa malah kamu? Bukannya sudah kubilang jauhi aku! Kalau Liora melihatmu di sini, dia pasti nggak bakal senang.""Kamu hampir mati kedinginan, tapi dia bahkan nggak peduli. Kenapa kamu masih takut dia nggak senang?"Yuna terisak sedih. Air matanya mengalir tanpa henti. "Ehren, sadarlah! Liora sudah nggak mencintaimu lagi.""Diam!"Seolah luka di hatinya kembali dikoyak, rasa sakit yang luar biasa membuat akal sehat Ehren benar-benar ru
Tom bergumam pelan, "Aku belum pernah dengar. Lagi pula, di jadwal presiden direktur hari ini juga nggak ada agenda bertemu Pak Devon."Namun, tepat saat itu, pintu lift khusus presiden direktur terbuka. Sekretaris utama presiden direktur segera keluar dan menyambut Devon dengan penuh hormat."Pak Devon, presiden direktur sudah menunggu Anda di ruangannya. Silakan ikut saya."Tom langsung tersadar. "Ternyata hubungan yang nggak perlu membuat janji."Liora ikut bergumam, "Benar-benar pantas disebut Raja Neraka."Sejak dulu, dia memang sudah mendengar bahwa Devon memiliki pengaruh yang besar di luar negeri. Hanya saja, tidak ada yang benar-benar tahu seberapa besar kekuasaannya. Kini, tampaknya, wilayah pengaruh Devon di luar negeri jauh lebih luas daripada yang pernah Liora bayangkan.Jika Ehren berniat menyaingi Devon, itu benar-benar seperti mimpi di siang bolong.Setengah jam kemudian, di ruang istirahat perusahaan.Liora mengajak Tom menyambungkan kembali panggilan video dengan kedu
Setelah mengucapkan itu, Devon melangkah maju dan naik ke mobil yang sama dengan Liora.Pintu mobil tertutup, lalu mobil melaju kencang meninggalkan tempat tersebut.Di dalam mobil.Melalui kaca spion, Tom melihat Ehren yang terjatuh di hamparan salju. Dengan nada khawatir, dia berkata, "Kepala Riset, cuaca sedingin ini benar-benar bisa membuat orang mati kedinginan. Apa kamu benar-benar nggak bakal mengurusnya?"Suara Liora tetap tenang tanpa sedikit pun emosi. "Sekarang masih jam kerja. Banyak orang yang lewat. Pasti ada yang melihatnya dan menghubungi polisi."Liora tidak akan tega membiarkan Ehren mati membeku. Bagaimanapun juga, itu adalah nyawa seseorang. Namun, dia juga tidak akan lagi membuang waktunya demi mengurus pria itu.Tom menghela napas penuh kekaguman. "Kepala Riset, sejak kamu memutuskan semua perasaan cinta itu, cara berpikirmu benar-benar jadi luar biasa jernih! Selamat!"Memutuskan semua perasaan cinta?Tatapan Devon perlahan jatuh ke wajah Liora.Pada saat itu, pa
"Mulai kasihan padanya?"Devon berjalan menghampiri Liora, lalu menyerahkan segelas susu hangat ke tangannya. Nada suaranya terdengar datar tanpa menunjukkan emosi apa pun, tetapi entah mengapa terasa begitu menyindir. "Perlu kubantu mengundangnya naik buat minum segelas air hangat?"Kehangatan susu itu mengalir dari telapak tangan Liora hingga menghangatkan hatinya. Rasanya sangat nyaman.Dingin yang membekukan di luar sana seolah sudah berada sangat jauh darinya."Nggak usah. Aku takut air panasmu malah membuatnya melepuh sampai mati. Nanti aku masih harus repot-repot memberi keterangan di kantor polisi."Setelah mengatakan itu, Liora tanpa ragu menarik gorden hingga tertutup rapat, lalu berbalik kembali ke kamarnya.Keesokan paginya.Saat pintu apartemen terbuka, Ehren yang hampir membeku langsung tersentak bangun. Tumpukan salju di tubuhnya berjatuhan.Dengan tubuh menggigil dan gigi bergemeletuk, dia menatap penuh harap ke arah pintu."Liora ... akhirnya kamu mau menemuiku!"Namun







