Share

Bab 2

Penulis: Sari Tang
Liora kembali hanya untuk mengambil barang-barangnya.

Baru saja melangkah masuk ke dalam rumah, gelak tawa yang menusuk telinga langsung menyambutnya.

Pria yang biasanya dingin dan jarang tersenyum itu kini duduk di samping Yuna, melontarkan lelucon-lelucon garing demi menghiburnya.

"Hacih!"

Yuna bersin dengan manja.

"Kedinginan?" Ehren langsung tegang. Dia segera melepaskan jas mahal yang dikenakannya, lalu dengan gerakan lembut menyampirkannya ke bahu Yuna.

Saat Yuna mendongak, pandangan mereka seketika bertemu. Jarak keduanya begitu dekat hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.

Udara seolah membeku sesaat.

Semacam perasaan ambigu yang pekat dan sama-sama dipahami tanpa perlu diungkapkan perlahan menyebar dalam diam.

Liora berdiri di dekat pintu masuk sambil menyunggingkan senyum tipis.

Dulu, dia benar-benar buta. Liora mengira perhatian dan perlakuan Ehren yang berlebihan terhadap Yuna semata-mata lahir dari rasa tanggung jawab setelah kakak laki-lakinya meninggal.

Padahal, hubungan mereka berdua sudah lama tidak lagi bersih.

"Liora?"

Yuna yang melihatnya langsung tampak seperti kelinci yang ketakutan. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah dan kepanikan. "Ja ... jangan salah paham. Ehren cuma mengkhawatirkanku. Dia takut aku masuk angin ...."

Huh, mengkhawatirkan?

Liora mencibir dalam hati.

Cuma karena Yuna bersin di rumah yang pemanasnya menyala penuh, Ehren langsung secemas itu. Lalu tadi malam, saat dirinya cuma mengenakan pakaian tipis dan hampir mati kedinginan di tengah salju, mengapa bayangan Ehren pun nggak terlihat?

Sudahlah. Semuanya sudah nggak penting lagi.

Liora bahkan malas melihat sepasang manusia yang begitu menjijikkan itu. Dia pun melewati ruang tamu tanpa sepatah kata dan langsung naik ke lantai atas.

Selama tiga tahun tinggal di rumah itu, barang-barangnya memang banyak. Namun, yang benar-benar Liora bawa pergi hanya satu koper.

Semua hadiah yang pernah diberikan Ehren kepadanya selama ini — kalung berlian hadiah hari pernikahan, tas edisi terbatas hadiah ulang tahun, mawar abadi saat Hari Kasih Sayang, bahkan surat cinta dan benda kenangan yang diberikan saat mengejar Liora dulu — semuanya dia buang ke tempat sampah.

Kalau orangnya saja sudah kotor, untuk apa menyimpan semua benda itu dan membuat dirinya muak?

Liora memasukkan akta nikah ke dalam kompartemen koper, lalu menutup ritsletingnya. Baru saja hendak berdiri, rasa pusing yang hebat tiba-tiba menyerangnya.

Tubuhnya sempoyongan. Dia buru-buru mencengkeram gagang koper agar tidak terjatuh.

Benar saja, dia jatuh sakit.

Tubuhnya ternyata tidak sanggup menahan dinginnya salju semalam.

Sepertinya, sebelum pindah ke rumah Devon, dia harus pergi ke rumah sakit terlebih dahulu.

Liora menahan rasa pusing dan tidak nyaman yang dirasakannya, lalu menarik kopernya dan bersiap pergi.

Baru sampai di depan pintu, tubuh tinggi Ehren telah menghalangi jalannya.

Tatapannya jatuh pada koper di tangan Liora. Wajahnya langsung menggelap, sementara nada suaranya dipenuhi ketidakpuasan dan teguran.

"Semalaman berada di luar seharusnya sudah cukup membuatmu tenang. Kukira kamu sudah sadar."

Lihatlah. Betapa menggelikannya.

Seolah-olah semua luka dan ketidakadilan yang dialaminya cukup diselesaikan dengan satu malam menenangkan diri. Setelah itu, dia harus kembali ke sisinya seperti anjing yang telah dijinakkan, mengibaskan ekornya, dan terus berperan sebagai Nyonya Muda Liora yang patuh dan penuh perhatian.

"Aku memang sudah sadar."

Liora tersenyum dingin. "Pria yang sudah kotor itu nggak ada bedanya dengan sosis panggang yang jatuh ke selokan. Sudah kotor, ya tinggal dibuang. Semoga kau dan kakak iparmu bahagia selamanya, dan dikaruniai anak sampai bisa membentuk satu tim sepak bola!"

"Liora!"

Ehren membentaknya dengan suara keras. Wajahnya berubah muram. "Sudah kubilang, aku menghamili Kak Yuna demi tanggung jawab, demi keluarga ini. Hubunganku dengannya bersih. Nggak seperti yang kamu pikirkan."

"Anak itu hasil bayi tabung."

Ehren menjelaskan dengan wajah dingin, seolah alasan itu membuat semua yang telah terjadi menjadi masuk akal.

"Heh." Liora tertawa sinis. "Kalau begitu, setelah anak itu lahir, dia bakal memanggilmu paman ... atau ayah?"

"Haruskah kamu bicara sesarkastik ini? Aku sudah menjelaskan semuanya. Lalu, apa lagi yang kamu inginkan dariku?"

"Menjelaskan? Apa penjelasanmu bisa membuat anak itu lenyap? Apa penjelasanmu bisa memutar kembali waktu? Atas dasar apa cuma karena kamu sudah menjelaskan, aku harus memaafkanmu?"

Liora mendorong Ehren, lalu menarik kopernya dan melangkah pergi. "Sejak kamu memutuskan punya anak dengan kakak iparmu, hubungan kita sudah berakhir."

"Berakhir?"

Ehren tiba-tiba menariknya kembali. Lengan besarnya melingkari pinggang Liora, memaksanya terkurung dalam pelukannya. "Kalau kamu mau melampiaskan amarah, bertengkar, atau membuat keributan, silakan. Tapi soal berpisah, jangan pernah mengucapkannya lagi."

"Liora, ingat baik-baik. Seumur hidup ini, kamu tetap istriku!"

Istri?

Liora mencibir seolah mendengar lelucon paling konyol. "Memangnya kita punya akta nikah?"

Ehren tertegun. Baru saat itulah dia teringat bahwa mereka memang belum pernah mendaftarkan pernikahan dan mendapatkan akta nikah.

Namun, sesaat kemudian, dia seakan memahami sesuatu. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Ternyata kamu ingin aku menebus semuanya dengan mengurus akta nikah?"

"Baik, aku bisa memenuhi keinginanmu."

"Sekarang Kak Yuna sudah hamil, ibu juga nggak bakal menghalangi lagi. Aku bakal langsung mengantarmu mengurusnya."

Ehren menggenggam tangan Liora, lalu berkata dengan lembut, "Tapi Liora, setelah kita resmi mendapat akta nikah, berhentilah membuat masalah. Jalani hidup dengan baik, urus keluarga ini, dan jaga Kak Yuna."

Liora merasa muak sampai ke tulang.

Sampai di titik ini, Ehren masih mengira semua bisa selesai hanya dengan selembar akta nikah? Bahkan, dia masih berharap Liora merawat Yuna dan anak haram mereka?

Suara Liora sedingin es. "Ehren, apa kamu belum juga sadar dari mimpi di siang bolong? Kuberitahu ya, aku sudah mendaftarkan pernikahan dengan pria lain!"

"Ehren!"

Pada saat yang sama, Yuna berdiri sambil berpegangan pada kusen pintu. Wajahnya pucat, satu tangannya memegangi perutnya. "Perutku sakit. Bisa antarkan aku ke rumah sakit?"

Perhatian Ehren langsung beralih sepenuhnya kepada Yuna. Dia segera melepaskan Liora, lalu bergegas menghampiri Yuna dan menopang tubuh wanita itu.

Wajahnya dipenuhi kecemasan saat menenangkan dengan lembut. "Jangan takut. Aku bawa kamu ke rumah sakit sekarang."

"Liora, urusan akta nikah kita bicarakan setelah aku kembali."

Yuna menyandarkan tubuhnya dengan lemah pada Ehren. "Sepertinya aku sudah nggak punya tenaga lagi ... Ehren ...."

Tanpa ragu sedikit pun, Ehren langsung mengangkat Yuna dalam gendongan pengantin. Dengan langkah cepat tetapi tetap mantap, dia berjalan menuju lantai bawah.

Yuna bersandar manja di pelukannya. Dari balik bahu bidang Ehren, dia menatap lurus ke arah Liora yang masih berdiri mematung.

Sorot matanya penuh kemenangan, disertai provokasi yang terang-terangan.

Liora justru tersenyum. Sekarang, Yuna bahkan sudah tidak repot-repot berpura-pura lagi di hadapannya.

Melihat mereka menghilang ke dalam lift, Liora menekan rasa perih yang menusuk di dadanya. Dengan mantap, dia menarik koper dan meninggalkan Keluarga Januarta.

....

Rumah sakit.

Setelah menjalani seluruh pemeriksaan, suhu tubuh Liora sudah sangat tinggi. Tubuhnya terasa makin berat, sementara kesadarannya bergulat di ambang ketidaksadaran.

"Bu Liora, cairan infus yang bakal kami berikan mengandung obat penenang, jadi Anda kemungkinan bakal tertidur lelap. Harus ada anggota keluarga yang menemani Anda. Di mana keluarga Anda?"

Keluarga?

Liora menarik sudut bibirnya yang pecah-pecah membentuk senyum tipis. Tanpa sadar, jarinya membuka kunci layar ponsel.

Begitu layar menyala, terlihat unggahan Threads milik Yuna yang baru dibuat beberapa menit sebelumnya.

Di dalam foto itu, Yuna bersandar manja di bahu seorang pria di ranjang rumah sakit. Wajahnya dipenuhi rasa tenang dan bahagia.

Keterangan fotonya berbunyi. [Padahal aku sudah bilang cuma sedikit, sedikit, sedikit nggak enak badan. Tapi ada seseorang yang malah membesar-besarkan, memaksaku dirawat di rumah sakit, bahkan membatalkan rapat perusahaan yang dihadiri lebih dari seratus orang cuma buat menemaniku tanpa beranjak sedikit pun.]

[Ah, ternyata terlalu diperhatikan orang juga bisa jadi beban, ya ....]

Meskipun pria di foto itu hanya tampak dari samping dan agak buram, Liora tetap mengenalinya.

Itu Ehren.

Ujung jari Liora terasa sedingin es. Ponsel di tangannya nyaris terlepas, sementara tubuhnya bergetar pelan di luar kendali.

Dia menatap foto itu. Lama. Sangat lama.

Hingga jemarinya berhenti gemetar dan secercah kehangatan terakhir di matanya benar-benar padam.

"Perawat, tolong carikan saya seorang perawat pendamping."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Saat Aku Menjadi Istri Kakak Sepupumu   Bab 50

    Presiden Direktur Alden berjalan cepat menghampiri Liora. Dengan alis berkerut, dia berkata dengan suara berat, "Liora, aku percaya kamu bukan orang seperti yang diberitakan di media. Sebenarnya apa yang terjadi?"Liora menatap laporan-laporan yang memutarbalikkan fakta itu. Tatapannya dipenuhi hawa dingin yang menusuk.Waktu kemunculan berita itu jelas bukan kebetulan. Berita tersebut sengaja dirilis tepat pada malam pesta penyambutannya untuk menyerangnya. Siapa pelakunya dan apa motifnya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.Liora menarik napas dalam-dalam, menekan amarah yang bergolak di dadanya, lalu menjawab dengan tenang."Terima kasih atas kepercayaan Anda. Kenyataannya sama sekali nggak seperti itu. Kakak iparku yang malang itu ... anak yang dikandungnya sama sekali bukan anak mendiang suaminya, melainkan anak mantan suamiku, Ehren."Mata Alden seketika memancarkan sorot paham bercampur ketegasan."Jadi begitu rupanya. Aku bakal segera mengirim orang buat menyelidiki dan mengu

  • Saat Aku Menjadi Istri Kakak Sepupumu   Bab 49

    Setelah mengatakan itu, Liora mengambil tasnya, menutup pintu, dan pergi.Bahkan setelah pintu itu tertutup rapat, Devon masih menatap ke arahnya selama sepuluh menit penuh sebelum akhirnya perlahan mengalihkan pandangannya.Aura di sekelilingnya kembali dingin dan tanpa emosi.Devon mengeluarkan ponselnya dan membuka layar. Di sana terpampang pesan dari sekretarisnya yang dipenuhi nada putus asa.[BOS! Raja Neraka! Leluhurku yang terhormat! Proyek KJ benar-benar sudah dalam keadaan genting! Situasinya sangat mendesak! Kumohon, adakan rapat video malam ini! Aku mohon! Aku bersujud kepada Anda! Duk! Duk! Duk!]Sejak Devon datang ke Wingris, setiap malam antara pukul delapan hingga pukul dua dini hari, dia seolah menghilang dari dunia. Pada jam-jam itu, dia sama sekali tidak lagi menangani urusan pekerjaan.Sekretarisnya pernah diam-diam bertanya kepada asisten Devon, pekerjaan lintas negara sepenting apa yang sedang ditangani bos mereka setiap malam hingga rela menghilang seperti itu.A

  • Saat Aku Menjadi Istri Kakak Sepupumu   Bab 48

    Yuna berdiri di samping ranjang. Lingkaran hitam di bawah matanya tampak jelas, wajahnya pucat dan lelah, tetapi dia tetap memaksakan diri berdiri sambil memegang segelas air. Tatapannya penuh kekhawatiran saat memandang Ehren."Ehren, kamu sudah sadar? Kamu kedinginan parah sampai hampir mengalami syok. Aku benar-benar ketakutan. Sekarang bagaimana keadaan tubuhmu? Masih ada yang terasa nggak nyaman?"Perasaan Ehren langsung jatuh dari puncak harapan ke jurang kekecewaan.Rasa kecewa yang begitu besar memenuhi dadanya. Dia berkata dengan nada kesal, "Kenapa malah kamu? Bukannya sudah kubilang jauhi aku! Kalau Liora melihatmu di sini, dia pasti nggak bakal senang.""Kamu hampir mati kedinginan, tapi dia bahkan nggak peduli. Kenapa kamu masih takut dia nggak senang?"Yuna terisak sedih. Air matanya mengalir tanpa henti. "Ehren, sadarlah! Liora sudah nggak mencintaimu lagi.""Diam!"Seolah luka di hatinya kembali dikoyak, rasa sakit yang luar biasa membuat akal sehat Ehren benar-benar ru

  • Saat Aku Menjadi Istri Kakak Sepupumu   Bab 47

    Tom bergumam pelan, "Aku belum pernah dengar. Lagi pula, di jadwal presiden direktur hari ini juga nggak ada agenda bertemu Pak Devon."Namun, tepat saat itu, pintu lift khusus presiden direktur terbuka. Sekretaris utama presiden direktur segera keluar dan menyambut Devon dengan penuh hormat."Pak Devon, presiden direktur sudah menunggu Anda di ruangannya. Silakan ikut saya."Tom langsung tersadar. "Ternyata hubungan yang nggak perlu membuat janji."Liora ikut bergumam, "Benar-benar pantas disebut Raja Neraka."Sejak dulu, dia memang sudah mendengar bahwa Devon memiliki pengaruh yang besar di luar negeri. Hanya saja, tidak ada yang benar-benar tahu seberapa besar kekuasaannya. Kini, tampaknya, wilayah pengaruh Devon di luar negeri jauh lebih luas daripada yang pernah Liora bayangkan.Jika Ehren berniat menyaingi Devon, itu benar-benar seperti mimpi di siang bolong.Setengah jam kemudian, di ruang istirahat perusahaan.Liora mengajak Tom menyambungkan kembali panggilan video dengan kedu

  • Saat Aku Menjadi Istri Kakak Sepupumu   Bab 46

    Setelah mengucapkan itu, Devon melangkah maju dan naik ke mobil yang sama dengan Liora.Pintu mobil tertutup, lalu mobil melaju kencang meninggalkan tempat tersebut.Di dalam mobil.Melalui kaca spion, Tom melihat Ehren yang terjatuh di hamparan salju. Dengan nada khawatir, dia berkata, "Kepala Riset, cuaca sedingin ini benar-benar bisa membuat orang mati kedinginan. Apa kamu benar-benar nggak bakal mengurusnya?"Suara Liora tetap tenang tanpa sedikit pun emosi. "Sekarang masih jam kerja. Banyak orang yang lewat. Pasti ada yang melihatnya dan menghubungi polisi."Liora tidak akan tega membiarkan Ehren mati membeku. Bagaimanapun juga, itu adalah nyawa seseorang. Namun, dia juga tidak akan lagi membuang waktunya demi mengurus pria itu.Tom menghela napas penuh kekaguman. "Kepala Riset, sejak kamu memutuskan semua perasaan cinta itu, cara berpikirmu benar-benar jadi luar biasa jernih! Selamat!"Memutuskan semua perasaan cinta?Tatapan Devon perlahan jatuh ke wajah Liora.Pada saat itu, pa

  • Saat Aku Menjadi Istri Kakak Sepupumu   Bab 45

    "Mulai kasihan padanya?"Devon berjalan menghampiri Liora, lalu menyerahkan segelas susu hangat ke tangannya. Nada suaranya terdengar datar tanpa menunjukkan emosi apa pun, tetapi entah mengapa terasa begitu menyindir. "Perlu kubantu mengundangnya naik buat minum segelas air hangat?"Kehangatan susu itu mengalir dari telapak tangan Liora hingga menghangatkan hatinya. Rasanya sangat nyaman.Dingin yang membekukan di luar sana seolah sudah berada sangat jauh darinya."Nggak usah. Aku takut air panasmu malah membuatnya melepuh sampai mati. Nanti aku masih harus repot-repot memberi keterangan di kantor polisi."Setelah mengatakan itu, Liora tanpa ragu menarik gorden hingga tertutup rapat, lalu berbalik kembali ke kamarnya.Keesokan paginya.Saat pintu apartemen terbuka, Ehren yang hampir membeku langsung tersentak bangun. Tumpukan salju di tubuhnya berjatuhan.Dengan tubuh menggigil dan gigi bergemeletuk, dia menatap penuh harap ke arah pintu."Liora ... akhirnya kamu mau menemuiku!"Namun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status