Share

Bab 4

Author: Sari Tang
Keesokan harinya.

Di Ruang Kerja Presiden Direktur Grup Fs.

Ehren membanting berkas ke atas meja dengan kesal. Jemarinya mengetuk permukaan meja kayu yang mahal. "Liora masih belum masuk kerja?"

Sang asisten menundukkan kepala. "Benar, Presiden Direktur. Ketua Tim Liora ... sudah tiga hari nggak masuk."

Kening Ehren makin berkerut.

Liora tidak membawa sepeser pun uang. Bagaimana dia bertahan hidup selama dua hari terakhir? Menahan lapar? Tidur di jalan? Atau meringkuk di sudut seperti kucing liar? Setiap membayangkan semua itu, hatinya terasa perih.

Dulu, dia benar-benar terlalu memanjakan Liora. Itulah yang membuat wanita itu menjadi sekeras kepala ini, rela menderita dan hidup susah daripada mau mengalah.

Ehren memijat pelipisnya dengan letih. Dia berkata dengan nada yang dipenuhi kepasrahan, "Cari tahu dia ada di mana. Aku bakal menjemputnya."

"Ehren."

Pintu ruang kerja didorong terbuka dengan keras. Yuna, yang tengah hamil tujuh bulan, bergegas masuk dengan wajah penuh kecemasan. Di tangannya tergenggam sebuah cincin berlian yang berkilauan.

"Tadi aku jalan-jalan sama teman-temanku, lalu melihat seorang wanita memakai cincin ini. Sekali lihat aku langsung tahu ini cincin nikah Liora! Bukannya dulu kamu sampai meminta seorang perancang ahli untuk membuatnya secara khusus? Di dunia ini cuma ada satu."

"Aku langsung bertanya dari mana dia mendapatkan cincin itu, tapi dia bilang ...."

Yuna terdiam sejenak, wajahnya tampak canggung. "Katanya ... dia membelinya di toko barang mewah bekas."

Krek!

Pena mahal yang digenggam Ehren patah begitu saja di tangannya.

Wajahnya muram. Urat di pelipisnya berdenyut hebat. Dengan suara yang seolah dipaksa keluar dari sela-sela giginya, dia berkata, "Liora, hebat sekali kamu!"

Dia masih mengkhawatirkan Liora yang mungkin sedang hidup sengsara di luar sana. Namun, wanita itu malah menjual cincin pernikahan mereka demi mendapatkan uang.

"Ehren, ini semua salahku. Kalau bukan karena aku, hubunganmu dengan Liora nggak bakal sampai seperti ini."

Yuna mengusap air matanya. Wajahnya dipenuhi rasa iba. "Cincin nikah melambangkan cinta kalian. Dia sampai menjualnya. Apa ... apa ini berarti dia ingin putus darimu?"

"Putus?"

Seolah mendengar lelucon terbesar di dunia, Ehren tertawa mengejek. Tatapannya dipenuhi badai amarah yang mengerikan.

"Dia mencintaiku sampai ke tulang sumsum. Putus sama saja dengan mengambil nyawanya dan mencabut hatinya. Dia nggak bakal sanggup. Dia cuma lagi merajuk dan sengaja menjual cincin itu untuk membuatku marah."

"Selama ini, kalau dia cuma sesekali merajuk, aku nggak keberatan memanjakannya. Tapi urusan meneruskan keturunan adalah hal yang nggak bisa ditawar. Dia terlalu naif kalau mengira cara seperti ini bisa mengancamku."

"Sepertinya, sudah waktunya memberinya pelajaran supaya dia benar-benar sadar."

....

Semenanjung Yudin.

Yuda bertanya dengan hormat, "Nyonya Muda, apa hari ini Anda ada waktu? Pihak Hotel Tuinsa sudah mengatur semuanya. Kita bisa pergi memilih lokasi pernikahan kapan saja."

"Sore saja." Liora memijat pelipisnya. "Siang ini aku ada janji menandatangani kontrak dengan Pak Janu."

Liora sudah menangani proyek itu selama tiga bulan. Semua persyaratan telah disepakati, tinggal menunggu penandatanganan kontrak.

Ini juga merupakan proyek terakhir yang dia tangani di Grup Fs. Liora ingin mengakhirinya dengan baik. Terlebih lagi, komisi dari proyek ini mencapai 4 miliar.

Itu adalah haknya. Dia tidak mungkin melepaskannya.

Setelah kontrak ini selesai ditandatangani, dia akan menjalani proses arbitrase dengan tenang, mengambil kompensasi gajinya, lalu meninggalkan Grup Fs untuk selamanya.

"Baik, Nyonya Muda. Di mana Anda menandatangani kontraknya? Nanti sore saya bakal mengirim mobil buat menjemput Anda."

"Nggak perlu. Itu di Hotel Tuinsa."

Tepat tengah hari, Liora tiba di ruang privat Hotel Tuinsa sesuai waktu yang telah disepakati.

Saat pintu dibuka, pemandangan yang menyambutnya adalah dua sosok yang sama sekali di luar dugaan — Ehren, serta Yuna yang berdiri di sampingnya dengan raut wajah ceria dan penuh kemenangan.

Yuna sedang memegang pena dan membubuhkan tanda tangannya pada bagian akhir kontrak.

Dia mengangkat pandangannya ke arah Liora. Senyum seorang pemenang terukir di sudut bibirnya, sementara tatapannya dipenuhi provokasi yang sama sekali tidak disembunyikan.

"Astaga, Liora, kamu datang juga? Maaf ya, aku lupa memberi tahu. Ehren merasa divisi ini membutuhkan seseorang yang lebih kompeten buat memimpinnya. Jadi, aku baru saja resmi bergabung sebagai direktur. Mulai sekarang, aku bakal menjadi atasan langsungmu. Jadi kontrak ini ...."

Dia mengangkat berkas di tangannya. "Sekalian kutandatangani buatmu."

Yuna sedang hamil tujuh bulan. Kalaupun dia masih bekerja, sebentar lagi dia juga akan mengambil cuti melahirkan. Namun, di saat seperti ini dia tiba-tiba ditunjuk sebagai direktur. Jelas sekali tujuannya adalah merebut proyek itu.

Ini bukan lagi sekadar menjadikannya sasaran. Ini adalah penghinaan terang-terangan!

Amarah Liora seketika memuncak. Dia menggertakkan gigi dan menatap pelaku di balik semua ini.

"Ehren! Aku sudah mengikuti proyek ini lebih dari tiga bulan. Berapa banyak malam yang kulewati tanpa tidur? Berapa banyak tenaga dan pikiranku yang kuhabiskan? Kenapa kamu bisa begitu saja memberikannya kepada orang lain? Atas dasar apa dia menandatangani kontrakku?"

Tatapan Ehren terkunci pada wajahnya. Kemarahan di matanya bahkan lebih besar daripada kemarahan Liora.

Dia melangkah beberapa langkah hingga berdiri di depan Liora. Suaranya terdengar tenang, tetapi menyimpan badai amarah saat menginterogasinya.

"Kenapa kamu menjual cincin pernikahan kita? Liora, apa sebenarnya masih ada aku di hatimu?"

Liora sampai tertawa karena kesal.

Liora sudah menduga Ehren akan bermain kotor, tetapi dia tidak menyangka pria itu sanggup mencampuradukkan urusan pribadi dan pekerjaan sampai sejauh ini.

"Kali ini cuma peringatan kecil. Mulai sekarang, jangan pernah lepaskan cincin itu dari jarimu. Kalau nggak ...."

Ehren mencengkeram tangan Liora dengan begitu kuat hingga tulang-tulangnya hampir remuk. Dia memaksa memasangkan kembali cincin berlian dingin itu ke jari manis Liora, lalu berkata dengan nada lembut yang justru terdengar mengancam, "Jangan salahkan aku kalau aku memecatmu."

"Liora, hadapi kenyataan. Semua yang kamu miliki, kehidupanmu sebagai Nyonya Ehren, kariermu, semuanya aku yang kasih. Tanpa aku, kamu nggak bakal memiliki apa-apa. Aku nggak mau mengatakan hal-hal yang lebih menyakitkan, tapi kamu harus tahu diri. Berhentilah membuat masalah, pulanglah dengan patuh, dan terimalah anak itu. Masalah yang sebelumnya, aku bisa menganggapnya nggak pernah terjadi. Aku juga bakal tetap memperlakukanmu sebaik dulu."

Sorot mata Ehren masih selembut dulu. Namun, setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat perut Liora terasa mual dan bergolak.

Inilah yang disebut Ehren sebagai cinta.

Saat dia patuh, pria itu akan menghujaninya dengan berbagai kebaikan. Namun, begitu dia tidak menurut, semua anugerah itu akan ditarik kembali. Ehren akan menginjak-injak harga dirinya dengan ancaman dan penghinaan.

Dia benar-benar sudah lupa diri.

Tiga tahun lalu, begitu lulus kuliah, Liora menerima beberapa tawaran kerja bergengsi dari perusahaan-perusahaan papan atas dunia. Bahkan Grup Yesan, perusahaan nomor satu di industri global, secara khusus mengundangnya untuk menjabat sebagai Kepala Divisi Riset dan Pengembangan AI.

Namun, hanya karena satu kalimat Ehren, "Aku membutuhkanmu," dia menolak seluruh tawaran itu tanpa ragu dan memilih bergabung dengan Grup Fs untuk membantunya membangun perusahaan dari nol.

Selama tiga tahun, Liora mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya. Hampir seorang diri, dia membangun Divisi Riset dan Pengembangan AI Grup Fs hingga mampu membuka jalan di tengah persaingan sengit industri AI.

Bahkan proyek AI interaksi emosional yang akan segera diluncurkan juga dipimpin oleh Liora secara langsung. Begitu proyek itu berhasil dirilis, Grup Fs akan langsung melesat menjadi pemimpin industri.

Namun, tanpa dirinya, divisi AI yang selama ini dibanggakan Grup Fs hanyalah kerangka kosong.

"Hah, memecatku?"

Liora tertawa dingin karena terlalu marah. Dengan nada penuh sindiran, dia berkata, "Pak Ehren, pastikan kau menepati ucapanmu. Jangan lupa transfer uang pesangon serta biaya arbitrase ketenagakerjaan ke rekening gajiku."

"Oh ya."

Liora menoleh ke arah Pak Janu yang duduk di meja makan, lalu tersenyum tipis. "Pak Janu, Anda juga sudah melihat sendiri. Pak Ehren yang memutuskan memecat saya. Jadi, teknologi inti untuk optimalisasi program yang semula saya janjikan sebagai bonus kepada perusahaan Anda ... maaf, saya nggak dapat lagi memberikannya."

Setelah mengatakan itu, Liora berbalik dan pergi tanpa ragu sedikit pun.

Brak!

Dari dalam ruang privat terdengar suara Pak Janu menggebrak meja dengan marah. "Kontrak ini batal!"

Ehren menatap kontrak yang telah disobek itu dengan wajah penuh keterkejutan. Kemudian, pandangannya beralih ke punggung Liora yang pergi tanpa menoleh lagi. Untuk pertama kalinya, rasa panik yang belum pernah dia rasakan sebelumnya mencengkeram jantungnya.

Selama ini, tidak peduli sehebat apa pun pertengkaran mereka, pada akhirnya Liora selalu mengutamakan kepentingan yang lebih besar. Demi dirinya, demi perusahaan, wanita itu selalu menelan semua penderitaan dan bertahan.

Hari ini seharusnya juga begitu.

Selama ini, Liora selalu menyisakan ruang untuk berkompromi. Mungkinkah, kali ini dia benar-benar tidak bisa dimaafkan lagi?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Aku Menjadi Istri Kakak Sepupumu   Bab 50

    Presiden Direktur Alden berjalan cepat menghampiri Liora. Dengan alis berkerut, dia berkata dengan suara berat, "Liora, aku percaya kamu bukan orang seperti yang diberitakan di media. Sebenarnya apa yang terjadi?"Liora menatap laporan-laporan yang memutarbalikkan fakta itu. Tatapannya dipenuhi hawa dingin yang menusuk.Waktu kemunculan berita itu jelas bukan kebetulan. Berita tersebut sengaja dirilis tepat pada malam pesta penyambutannya untuk menyerangnya. Siapa pelakunya dan apa motifnya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.Liora menarik napas dalam-dalam, menekan amarah yang bergolak di dadanya, lalu menjawab dengan tenang."Terima kasih atas kepercayaan Anda. Kenyataannya sama sekali nggak seperti itu. Kakak iparku yang malang itu ... anak yang dikandungnya sama sekali bukan anak mendiang suaminya, melainkan anak mantan suamiku, Ehren."Mata Alden seketika memancarkan sorot paham bercampur ketegasan."Jadi begitu rupanya. Aku bakal segera mengirim orang buat menyelidiki dan mengu

  • Saat Aku Menjadi Istri Kakak Sepupumu   Bab 49

    Setelah mengatakan itu, Liora mengambil tasnya, menutup pintu, dan pergi.Bahkan setelah pintu itu tertutup rapat, Devon masih menatap ke arahnya selama sepuluh menit penuh sebelum akhirnya perlahan mengalihkan pandangannya.Aura di sekelilingnya kembali dingin dan tanpa emosi.Devon mengeluarkan ponselnya dan membuka layar. Di sana terpampang pesan dari sekretarisnya yang dipenuhi nada putus asa.[BOS! Raja Neraka! Leluhurku yang terhormat! Proyek KJ benar-benar sudah dalam keadaan genting! Situasinya sangat mendesak! Kumohon, adakan rapat video malam ini! Aku mohon! Aku bersujud kepada Anda! Duk! Duk! Duk!]Sejak Devon datang ke Wingris, setiap malam antara pukul delapan hingga pukul dua dini hari, dia seolah menghilang dari dunia. Pada jam-jam itu, dia sama sekali tidak lagi menangani urusan pekerjaan.Sekretarisnya pernah diam-diam bertanya kepada asisten Devon, pekerjaan lintas negara sepenting apa yang sedang ditangani bos mereka setiap malam hingga rela menghilang seperti itu.A

  • Saat Aku Menjadi Istri Kakak Sepupumu   Bab 48

    Yuna berdiri di samping ranjang. Lingkaran hitam di bawah matanya tampak jelas, wajahnya pucat dan lelah, tetapi dia tetap memaksakan diri berdiri sambil memegang segelas air. Tatapannya penuh kekhawatiran saat memandang Ehren."Ehren, kamu sudah sadar? Kamu kedinginan parah sampai hampir mengalami syok. Aku benar-benar ketakutan. Sekarang bagaimana keadaan tubuhmu? Masih ada yang terasa nggak nyaman?"Perasaan Ehren langsung jatuh dari puncak harapan ke jurang kekecewaan.Rasa kecewa yang begitu besar memenuhi dadanya. Dia berkata dengan nada kesal, "Kenapa malah kamu? Bukannya sudah kubilang jauhi aku! Kalau Liora melihatmu di sini, dia pasti nggak bakal senang.""Kamu hampir mati kedinginan, tapi dia bahkan nggak peduli. Kenapa kamu masih takut dia nggak senang?"Yuna terisak sedih. Air matanya mengalir tanpa henti. "Ehren, sadarlah! Liora sudah nggak mencintaimu lagi.""Diam!"Seolah luka di hatinya kembali dikoyak, rasa sakit yang luar biasa membuat akal sehat Ehren benar-benar ru

  • Saat Aku Menjadi Istri Kakak Sepupumu   Bab 47

    Tom bergumam pelan, "Aku belum pernah dengar. Lagi pula, di jadwal presiden direktur hari ini juga nggak ada agenda bertemu Pak Devon."Namun, tepat saat itu, pintu lift khusus presiden direktur terbuka. Sekretaris utama presiden direktur segera keluar dan menyambut Devon dengan penuh hormat."Pak Devon, presiden direktur sudah menunggu Anda di ruangannya. Silakan ikut saya."Tom langsung tersadar. "Ternyata hubungan yang nggak perlu membuat janji."Liora ikut bergumam, "Benar-benar pantas disebut Raja Neraka."Sejak dulu, dia memang sudah mendengar bahwa Devon memiliki pengaruh yang besar di luar negeri. Hanya saja, tidak ada yang benar-benar tahu seberapa besar kekuasaannya. Kini, tampaknya, wilayah pengaruh Devon di luar negeri jauh lebih luas daripada yang pernah Liora bayangkan.Jika Ehren berniat menyaingi Devon, itu benar-benar seperti mimpi di siang bolong.Setengah jam kemudian, di ruang istirahat perusahaan.Liora mengajak Tom menyambungkan kembali panggilan video dengan kedu

  • Saat Aku Menjadi Istri Kakak Sepupumu   Bab 46

    Setelah mengucapkan itu, Devon melangkah maju dan naik ke mobil yang sama dengan Liora.Pintu mobil tertutup, lalu mobil melaju kencang meninggalkan tempat tersebut.Di dalam mobil.Melalui kaca spion, Tom melihat Ehren yang terjatuh di hamparan salju. Dengan nada khawatir, dia berkata, "Kepala Riset, cuaca sedingin ini benar-benar bisa membuat orang mati kedinginan. Apa kamu benar-benar nggak bakal mengurusnya?"Suara Liora tetap tenang tanpa sedikit pun emosi. "Sekarang masih jam kerja. Banyak orang yang lewat. Pasti ada yang melihatnya dan menghubungi polisi."Liora tidak akan tega membiarkan Ehren mati membeku. Bagaimanapun juga, itu adalah nyawa seseorang. Namun, dia juga tidak akan lagi membuang waktunya demi mengurus pria itu.Tom menghela napas penuh kekaguman. "Kepala Riset, sejak kamu memutuskan semua perasaan cinta itu, cara berpikirmu benar-benar jadi luar biasa jernih! Selamat!"Memutuskan semua perasaan cinta?Tatapan Devon perlahan jatuh ke wajah Liora.Pada saat itu, pa

  • Saat Aku Menjadi Istri Kakak Sepupumu   Bab 45

    "Mulai kasihan padanya?"Devon berjalan menghampiri Liora, lalu menyerahkan segelas susu hangat ke tangannya. Nada suaranya terdengar datar tanpa menunjukkan emosi apa pun, tetapi entah mengapa terasa begitu menyindir. "Perlu kubantu mengundangnya naik buat minum segelas air hangat?"Kehangatan susu itu mengalir dari telapak tangan Liora hingga menghangatkan hatinya. Rasanya sangat nyaman.Dingin yang membekukan di luar sana seolah sudah berada sangat jauh darinya."Nggak usah. Aku takut air panasmu malah membuatnya melepuh sampai mati. Nanti aku masih harus repot-repot memberi keterangan di kantor polisi."Setelah mengatakan itu, Liora tanpa ragu menarik gorden hingga tertutup rapat, lalu berbalik kembali ke kamarnya.Keesokan paginya.Saat pintu apartemen terbuka, Ehren yang hampir membeku langsung tersentak bangun. Tumpukan salju di tubuhnya berjatuhan.Dengan tubuh menggigil dan gigi bergemeletuk, dia menatap penuh harap ke arah pintu."Liora ... akhirnya kamu mau menemuiku!"Namun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status