เข้าสู่ระบบSetelah keluar dari restoran, akhirnya mereka berdiri sebentar di area parkiran sambil menentukan mau ke mana. Lintang sebenarnya berniat kembali ke rumah sakit untuk menemani Hazel. Sedangkan Levian masih ngotot ingin datang ke kantor cabang Bandung. Tentu saja niat itu langsung membuat Lintang mulai curiga. “Jangan bikin masalah.” Tatapan Lintang tajam saat bicara. Sedangkan Levian langsung mengangkat kedua tangan malas. “Yaelah… Gue cuma mau lihat kantor cabang. Sekalian lihat anak buah lo stres kalau direktur utama datang.” Dan ucapan itu langsung membuat Lintang Aksara Narendra memijat pelipis sebentar. Dia tahu persis kakaknya ini memang suka bikin suasana kantor mendadak mencekam hanya karena muncul tiba-tiba. Namun yang lebih parah ternyata tiga anak kecil itu malah langsung semangat ikut. “Aku ikut om!” Leyan paling cepat bersuara. “Aku juga.” Liana langsung mengangkat tangan tinggi. Sedangkan Lintang kecil hanya berdiri tenang di dekat Lintang sambil memandang dua s
Setelah selesai makan akhirnya mereka beranjak keluar dari restoran. Leyan berjalan paling depan sambil memegang perutnya sendiri. “Aku kenyang banget…” Sedangkan Liana langsung menyahut cepat. “Makanya jangan rakus. Kamu tadi nambah nasi dua kali.” Leyan langsung membela diri tanpa malu. “Kan ikannya enak.” Sementara Lintang kecil berjalan tenang di samping Lintang Aksara Narendra sambil membawa botol minumnya. Sedangkan Levian berjalan di belakang mereka dengan kedua tangan masuk saku celana. Tatapannya sesekali masih memperhatikan adiknya. Lintang semakin terlihat benar-benar cocok berada di tengah tiga anak kecil itu. Namun tepat saat mereka hampir keluar dari area restoran, langkah Lintang mendadak berhenti. Tatapan matanya langsung berubah dingin. Beberapa langkah di depan mereka berdiri seorang perempuan dengan pakaian cukup mencolok dan makeup bold, Melisa. Perempuan itu tampak cukup kaget melihat mereka. Terutama saat melihat Lintang masih bersama tiga anak kecil terse
Setelah semua siap, akhirnya mereka benar-benar keluar dari rumah. Lintang memastikan lampu lantai atas sudah mati lalu mengunci pintu rumah Hazel pelan menggunakan kunci cadangan. Sedangkan di sampingnya, Leyan sudah sibuk loncat-loncat kecil sambil menggandeng tangan Liana. “Cepet ayah… Aku lapar.” Lintang langsung melirik datar ke arah bocah itu. “Kamu habis mandi apa habis lari maraton?” Leyan langsung nyengir lebar tanpa rasa bersalah. Sedangkan Levian yang berjalan di belakang mereka cuma bisa menggeleng kecil sambil memasukkan tangan ke saku celana. Sampai sekarang dia masih belum benar-benar percaya melihat pemandangan ini. Adiknya yang dulu bahkan malas meladeni anak kecil milik saudara mereka saat kumpul keluarga, sekarang justru berjalan paling depan sambil menggandeng dua bocah kecil dan yang lebih aneh wajah dingin Lintang sama sekali tidak muncul di depan anak-anak itu. Begitu sampai di parkiran, Liana langsung berseru semangat. “Ayah… Kita makan ikan ya?” “Iyaa…
Suasana ruang tengah rumah itu masih dipenuhi keheningan berat. Dari lantai dua suara anak-anak mulai terdengar lebih pelan sekarang. Mungkin mereka sudah selesai mandi dan sedang sibuk memakai pakaian. Namun di bawah sini, percakapan dua bersaudara itu justru makin dalam. Levian duduk sambil menatap adiknya lama. Sedangkan Lintang masih bersandar di sofa dengan wajah lelah. Tatapan matanya kosong dan setelah cukup lama diam akhirnya Levian kembali bicara. “Kapan rencana lo mau ngasih tau dia?” Pertanyaan itu langsung membuat rahang Lintang sedikit menegang. Tatapannya turun lagi. “Gue…” Kalimatnya menggantung cukup lama. “Belum tau.” Jawaban itu membuat Levian langsung mengembuskan napas berat, sebenarnya dia sudah menduga. Lintang terlalu takut untuk sampai ke tahap itu. Takut kehilangan semuanya sekaligus. Namun kali ini Levian tidak membiarkan adiknya terus menghindar. “Dia berhak tau.” Nada suaranya tegas sekarang. Lintang diam. Sedangkan Levian melanjutkan sambil mencond
Suasana ruang tengah rumah itu terasa semakin berat. Lampu ruang tamu menyala redup kekuningan. Sedangkan dari lantai dua, masih terdengar samar suara anak-anak berceloteh kecil sambil mandi dan berganti pakaian. Suara-suara kecil itu membuat pengakuan Lintang terasa jauh lebih menyakitkan. Anak-anak yang tertawa di atas sana, lahir dari malam yang menghancurkan hidup seseorang. Levian masih duduk diam memandang adiknya. Sedangkan Lintang sendiri terlihat sangat lelah sekarang. Bukan lelah fisik, melainkan lelah karena terlalu lama memendam semuanya sendirian. Setelah cukup lama diam akhirnya laki-laki itu kembali bicara. “Gue gak tau… Gue bingung harus bereaksi gimana.” Tatapannya kosong lurus ke depan. “Pas tau mereka anak gue… gue seneng.” Kalimat itu keluar lirih. “Sumpah gue seneng.” Itu adalah kejujuran paling polos yang keluar dari dirinya sejak tadi. Selama bertahun-tahun, Lintang hidup dengan keyakinan bahwa dirinya mungkin tidak akan pernah punya keturunan. Divonis s
Suasana ruang tengah rumah itu berubah sangat sunyi. Bahkan suara anak-anak dari lantai dua terasa samar sekarang. Levian masih berdiri di depan sofa sambil menatap adiknya lekat. Sedangkan Lintang duduk diam beberapa detik dengan kedua tangan saling bertaut di depan tubuhnya. Tatapannya lurus ke lantai. Setelah cukup lama hening, akhirnya laki-laki itu bicara. “Memang darah daging gue.” Kalimat itu keluar begitu saja dengan tenang. Namun langsung membuat tubuh Levian membeku. Tatapan matanya langsung berubah tajam. “Apa?” Lintang mengangkat wajah pelan. Matanya terlihat lelah sekarang. “Anak-anak itu, anak gue.” Tidak ada penyangkalan, tidak ada usaha menghindar dan justru itu yang membuat dada Levian terasa makin berat. Karena berarti semua firasatnya sejak tadi benar. Ruangan kembali hening beberapa detik. Lalu akhirnya Lintang kembali bicara pelan. “Dulu... Gue sempat benci Hazel.” Nama itu membuat Levian langsung mengernyit. Sedangkan Lintang terus melanjutkan tanpa memand
Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan
Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d
Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang se
Sepanjang perjalanan pulang dari klinik, mobil terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Hazel duduk di kursi penumpang sambil memeluk tasnya erat. Tatapannya lurus ke luar jendela, tapi pikirannya jauh di mana-mana. Ia masih tidak percaya, tiga janin, tiga detak jantung kecil yang tadi pagi ia deng







