로그인Suasana di taman sore itu perlahan berubah semakin hangat sekaligus menyakitkan bagi Lintang Aksara Narendra. Lampu-lampu taman memantul lembut di wajah tiga bocah kecil di depannya. Di tengah suara ramai orang-orang yang mulai pulang dunia Lintang seperti hanya berisi mereka sekarang. Liana masih menatapnya penuh harap. Matanya bulat besar, polos dan benar-benar serius dengan pertanyaannya tadi. “Jadi boleh gak?” Suara kecil itu membuat dada Lintang terasa penuh lagi. Beberapa detik ia hanya diam. Tatapannya bergantian melihat tiga anak di depannya. Lalu akhirnya sudut bibirnya perlahan bergerak tipis. “Boleh…” Mata Liana langsung berbinar terang. “BENERAN?” Lintang mengangguk kecil pelan. “Tapi…” Ia berhenti sebentar. “…apa Bunda kalian gak marah?” Liana langsung menggeleng cepat tanpa ragu. “Ah gak marah. Nanti Liana yang bilang.” Nada suaranya terdengar yakin sekali sampai membuat Lintang nyaris tertawa kecil. Sedangkan Leyan Arvindra Parameswara yang duduk sambil me
Suasana taman semakin redup menjelang magrib. Lampu-lampu taman mulai terlihat lebih terang sekarang, memantul samar di jalan setapak yang mulai dipenuhi orang-orang pulang. Di bangku bawah pohon itu, Lintang masih duduk di samping Lintang kecil. Sedangkan di depan sana Liana dan Leyan masih tertawa sambil bermain gelembung sabun. “Itu sebabnya kalian disini…” Lintang akhirnya kembali bicara pelan. “Dan Bunda kalian di Jakarta?” Lintang kecil mengangguk kecil. “Iya. Bunda gak mau nanti Ayah marah sama kami.” Kalimat itu langsung membuat dada Lintang kembali terasa berat. Jadi selama Hazel bekerja di Jakarta, anak-anak ini dititipkan di Bandung demi menghindari keributan dengan suaminya sendiri. “Lagian…” Lintang kecil kembali bicara sambil melihat ke arah Leyan. “…Leyan juga harus kontrol.” Tatapan Lintang langsung mengikuti arah pandang anak kecil itu. “Kontrol apa?” Padahal sebenarnya, ia sudah tahu. Kevin pernah menceritakan semuanya dulu. Tentang bayi ketiga Hazel yang lah
Liana dan Leyan akhirnya kembali menjauh dari bangku taman. Dua bocah itu kembali sibuk bermain kejar-kejaran sambil membawa gelembung sabun dan bola kecil mereka. Suara tawa mereka sesekali terdengar cukup keras sampai menarik perhatian beberapa orang di taman. Sedangkan di bangku panjang bawah pohon itu, suasana mendadak jauh lebih sunyi. Lintang kecil masih duduk tenang di samping Lintang. Tangannya kecilnya memegang susu vanilla yang tadi diberikan Lintang. Namun sejak tadi anak itu tidak benar-benar meminumnya lagi. Tatapannya lurus ke depan, ke arah dua adiknya yang bermain. Lalu perlahan ia kembali bicara pelan. “Itu yang didengar mereka…” Lintang sedikit menoleh. “Maksudnya?” Lintang kecil menunduk kecil sekarang. “Yang aku ceritain kemarin sama Om…” Dadanya Lintang langsung terasa tidak enak lagi. “Dia gak suka sama kami…” Suara kecil itu terdengar makin lirih. “…karena kami anak haram.” Lintang membeku. “Anak hasil zina…” lanjut Lintang kecil. Rahang Lintang langsun
Suasana taman sore itu jauh lebih hidup dibanding kemarin. Beberapa anak kecil bermain di area ayunan. Ada yang bersepeda kecil mengelilingi jalan setapak taman dan suara burung bercampur angin sore membuat suasana terasa tenang. Lintang akhirnya berjalan mendekat ke bangku taman bersama dua bocah kecil yang sejak tadi ribut sendiri di sampingnya. “Pelan-pelan…” Lintang sampai harus menahan langkah Liana yang hampir tersandung sendiri karena terlalu semangat. “Om dateng lagi beneran…” kembali lagi Liana berbicara. “Iya.” Lintang tertawa kecil. “Kan kemarin udah bilang kalau gak sibuk.” Sedangkan Leyan Arvindra Parameswara sudah sibuk melirik kantong belanja di tangan Lintang sejak tadi. Tatapannya benar-benar fokus. Lintang kecil yang berdiri dekat bangku hanya memperhatikan dua adiknya dengan ekspresi pasrah. “Leyan pasti penasaran makanan…” gumamnya pelan. “Enggak.” Jawaban Leyan terlalu cepat. Liana langsung melotot kecil. “Boong.” Lintang akhirnya duduk di bangku taman
Pagi di Bandung masih terasa dingin saat mobil hitam milik Lintang memasuki area parkir kantor cabang Narendra Group Bandung. Jam di dashboard mobil bahkan baru menunjukkan pukul tujuh lewat beberapa menit. Masih terlalu pagi untuk jam kerja kantor. Langit terlihat mendung tipis. Udara dingin khas Bandung bercampur aroma kopi dari beberapa kios kecil dekat gedung perkantoran. Sedangkan gedung tinggi Narendra Group cabang Bandung sudah mulai hidup perlahan. Beberapa karyawan terlihat baru datang. Security berjaga di depan pintu utama dan beberapa lampu kantor di lantai atas sudah menyala. Mobil Lintang berhenti pelan di area parkir khusus direksi. Begitu pintu mobil terbuka, security yang sedang berjaga langsung refleks berdiri lebih tegak. “Selamat pagi Pak.” Lintang hanya mengangguk kecil sambil berjalan masuk. Tatapannya tenang, langkahnya pelan dan aura dingin khas dirinya langsung terasa bahkan sejak pertama masuk gedung. Beberapa pegawai yang kebetulan baru datang langsung mel
Suasana depan toko bunga terasa jauh lebih hangat dibanding satu jam lalu. Suara tiga bocah kecil itu terus bercampur dengan percakapan singkat di video call. Sedangkan Lintang masih berdiri diam sambil sesekali memandang layar ponsel di tangan Leyan. Di layar itu Hazel masih terlihat tenang. Sesekali tersenyum kecil melihat tingkah anak-anaknya yang berebut bicara. “Bunda nanti kapan pulang lagi?” Tanya Liana sambil memeluk paperbag makanan. Hazel tampak berpikir sebentar. “Belum tau sayang.” “Besok?” tanya Liana lagi. Hazel tersenyum kecil. “Kalau kerjaan Bunda selesai cepat.” Liana langsung manyun tipis. Sedangkan Leyan sudah mulai sibuk menceritakan makanan yang tadi mereka makan. “Aku makan ayam sama bebek.” Hazel langsung mengernyit kecil. “Dua-duanya?” “Iya.” jawab Leyan cepat. “Leyan…” Nada suara Hazel terdengar pasrah bercampur geli. “Nanti sakit perut.” Leyan membusungkan dadanya. “Aku kuat.” Lintang sampai menahan senyum kecil mendengar jawaban itu lagi. Sedan
Kevin tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di depan rumah Hazel, tepat di samping mobilnya. Pagar rumah itu sudah tertutup. Hazel tadi sempat menoleh sekali sebelum masuk, lalu perlahan menghilang di balik pintu. Kevin tetap diam di tempat menunggu. Beberapa detik kemudian lampu ruang tamu meny
Kevin nyaris membanting pintu mobil saat sampai di klinik, dengan panik ia membuka pintu belakang lalu menggendong Hazel keluar. Tubuh Hazel masih lemas di pelukannya, kepalanya terkulai di bahu Kevin. “Dok! Tolong!” suara Kevin terdengar keras begitu ia masuk ke dalam klinik. Beberapa perawat
Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang se
Miranti sempat mencari Hazel ke parkiran fakultas kedokteran. Biasanya Hazel menunggu di sana, hanya saja hari itu Hazel tidak ada. Miranti pun turun lagi dan berjalan ke arah gerbang kampus. Baru beberapa langkah, matanya langsung menemukan Hazel yang sedang berdiri dekat pos satpam. Hazel berdi







