MasukRuangan VVIP itu kembali sunyi setelah ucapan Miranti tadi selesai. Pagi semakin naik, cahaya matahari perlahan memenuhi sudut ruangan. Namun suasana di dalam sana justru terasa semakin berat. Di atas ranjang, Hazel masih tertidur tenang. Perempuan itu sama sekali tidak tahu bahwa masa lalunya sedang dibicarakan begitu dalam beberapa meter dari tempatnya berbaring. Sedangkan di sofa dekat jendela Lintang masih duduk dengan tubuh sedikit membungkuk. Tatapannya kosong mengarah ke lantai. Setelah semua pengakuan tadi, rasanya dadanya justru semakin sesak. Sekarang tidak ada lagi yang ditutupi dari Miranti. Laki-laki itu akhirnya menarik napas panjang pelan sebelum kembali bicara. “Saya sekarang cuma nunggu kesiapan Hazel.” Tatapannya perlahan bergerak ke arah ranjang. “Kalau dia udah siap semuanya tinggal jalan aja dari sini.” Nada suaranya rendah dan tenang. Namun dari cara laki-laki itu bicara jelas terlihat dirinya sudah mempersiapkan semuanya. Bukti, pengacara, visum dan pengawa
Ruangan VVIP itu terasa begitu sunyi setelah pengakuan Lintang tadi. Cahaya matahari pagi masih masuk samar dari balik tirai putih. Suara monitor detak jantung terdengar pelan di dekat ranjang tempat Hazel tertidur. Sedangkan di sofa dekat jendela Miranti masih duduk membeku. Wajah perempuan paruh baya itu pucat. Tatapannya tidak lepas dari Lintang sedikit pun. Otaknya masih berusaha mencerna semua pengakuan laki-laki di depannya sekarang. Sedangkan Lintang duduk dengan kepala sedikit menunduk. Jemarinya saling menggenggam erat. Air mata yang tadi jatuh masih menyisakan bekas merah di matanya. Namun laki-laki itu tetap melanjutkan semuanya. Dia sadar kalau pagi ini dirinya berhenti, mungkin dirinya tidak akan pernah punya keberanian lagi untuk bicara. “Kehidupan saya juga gak baik setelah kejadian malam itu…” Suaranya rendah dan serak. Miranti perlahan menahan napas. Sedangkan Lintang kembali bicara sambil menatap kosong ke arah lantai. “Saya juga kehilangan banyak hal.” Tatapann
Ruangan VVIP itu kembali dipenuhi suasana tenang setelah cerita panjang Miranti tadi. Di atas ranjang— Hazel masih tertidur lelap karena pengaruh obat. Wajah perempuan itu terlihat jauh lebih damai dibanding beberapa hari terakhir. Sedangkan di sofa dekat jendela, Lintang duduk diam sambil mendengarkan setiap cerita Miranti tanpa memotong sedikit pun. Tatapan laki-laki itu semakin lama semakin berat. Miranti sendiri sempat diam beberapa detik. Tangannya meremas pelan ujung jilbab yang dikenakannya. Lalu perempuan itu kembali bicara pelan. “Untungnya… orang tua Hazel dari awal memang udah nyiapin semuanya buat masa depan dia.” Lintang mengangkat wajah perlahan. Tatapannya masih fokus mendengarkan. Miranti tersenyum kecil pahit. “Hazel sebenarnya dulu gak tau apa-apa soal itu. Dia pikir setelah orang tuanya meninggal… ya hidupnya biasa aja.” Tatapan perempuan itu bergerak ke arah Hazel di ranjang. “Apalagi waktu Leyan sakit…” Nada suaranya mulai melemah lagi mengingat masa itu. “Ha
Lorong VVIP rumah sakit itu terasa semakin sunyi malam ini. Lampu putih di sepanjang koridor memantulkan bayangan panjang tubuh Lintang dan Damar yang berdiri saling berhadapan. Di kejauhan hanya terdengar langkah pelan perawat yang sesekali lewat. Sedangkan wajah Lintang terlihat jauh lebih dingin sekarang setelah mendengar semua laporan tentang Rehan Pratama. Tangannya masih memegang map hitam itu erat. Saatembaca isi laporan semakin terasa jelas betapa menjijikkannya laki-laki itu. Memukul istri, memeras uang, berjudi dan menyewa perempuan. Ironisnya orang seperti itu justru terus menghina Hazel seakan perempuan itu paling hina di hidupnya. Lintang akhirnya mengangkat wajah pelan. Tatapannya tajam lurus ke arah Damar. “Pantau terus.” Nada suaranya rendah dan tenang. Namun justru karena terlalu tenang, ucapan itu terasa jauh lebih menyeramkan. Damar langsung mengangguk kecil. “Baik pak.” Lintang melanjutkan lagi tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun. “Kalau perlu videokan semu
Tangis Hazel belum benar-benar berhenti. Perempuan itu masih menunduk di atas ranjang rumah sakit sambil memegang erat selimut di pangkuannya. Bahu kecilnya sesekali bergetar pelan. Sedangkan suasana ruangan terasa begitu tenang malam itu. Lampu redup di sudut ruangan membuat semuanya terasa lebih hening. Suara pendingin ruangan terdengar samar, dari luar jendela lampu kota Bandung masih menyala terang. Namun di dalam sana isi hati Hazel justru terasa jauh lebih berisik dibanding apa pun. Semua ucapan Lintang Aksara Narendra sejak tadi terus memukul kesadarannya perlahan. Tentang anak-anak, tentang dirinya sendiri dan tentang hidup yang selama ini ia pertahankan mati-matian. Padahal yang ia pertahankan justru perlahan menghancurkan dirinya. Sedangkan Lintang masih duduk di sofa dekat ranjang sambil memperhatikan Hazel diam-diam. Tatapannya tidak lagi setajam tadi, justru sekarang jauh lebih lembut. Laki-laki itu tahu Hazel sebenarnya sudah terlalu lelah untuk terus melawan semuanya
Ruangan VVIP itu kembali sunyi setelah ucapan Lintang Aksara Narendra tadi selesai. Lampu ruangan dibuat sedikit redup agar Hazel bisa lebih nyaman beristirahat. Di luar jendela, langit malam Bandung terlihat tenang dengan cahaya lampu kota yang berpendar samar. Sedangkan di dalam ruangan, suasana hati Hazel justru terasa semakin penuh. Perempuan itu masih duduk bersandar di ranjang. Tangannya saling menggenggam di atas selimut, tatapannya turun, pikirannya terus berkelana. Dia sudah terlalu lama memendam semuanya sendiri. Menahan sakit, menahan takut, dan menahan tangis. Sampai akhirnya dia sendiri lupa bagaimana rasanya mengeluh tanpa merasa bersalah. Sedangkan Lintang duduk tidak jauh darinya. Tatapan laki-laki itu masih tertuju penuh pada Hazel. Dia sadar betapa rusaknya hidup yang sudah Hazel jalani bertahun-tahun ini. Lintang akhirnya kembali bicara pelan. “Kamu gak perlu merasa harus nahan diri terus menerus.” Hazel perlahan mengangkat wajah. Tatapan matanya mulai berkabut
Ruangan itu masih di sinari cahaya remang-remang dari lampu tidur. Bayu melirik ke yang lain, lalu menyeringai tipis. “Jangan pada diem aja. Dari tadi juga udah jelas mau ngapain.” Raka mengangkat alis. “Ya terus? Lu mau jadi yang paling depan?” “Kenapa? Takut?” Bayu menantang. Raka tertaw
Suasana meja itu tidak lagi santai. Kalimat terakhir Lintang masih menggantung di udara, membuat semua orang diam beberapa detik lebih lama dari biasanya. Bayu menyandarkan tubuhnya, matanya berpindah dari satu orang ke orang lain, lalu berhenti pada Lintang. “Berarti… kita sepemikiran ya”, katany
Siang itu, matahari bersinar cerah di halaman kampus, namun kelas tetap terasa hangat. Lintang menyesuaikan masker di wajahnya, langkahnya mantap saat memasuki gedung fakultas. Ia menatap pintu kelas tempat Melisa biasanya mengikuti perkuliahan, lalu menarik napas dalam.“Kalau chat dan telepon tid
Pagi itu, udara kampus terasa segar. Mahasiswa lalu-lalang dengan tas di bahu, suara sepatu di lantai keramik membaur dengan deru kendaraan dari jalan dekat gerbang kampus. Lintang melangkah ringan menuju fakultas tempat Melisa biasa menghabiskan beberapa jam pertama kuliahnya. Kali ini ada yang ber







