بيت / Romansa / Saat Aku Salah Membencimu / BAB 38 Rutinitas dan Jatuh Pingsan

مشاركة

BAB 38 Rutinitas dan Jatuh Pingsan

مؤلف: Adw_Canss781
last update تاريخ النشر: 2026-05-08 11:15:53

Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari.

Hazel pun ikut tenggelam dalam kesibukannya. Namun kali ini semuanya jauh lebih berat. Usia kandungannya sudah memasuki lebih dari tiga bulan, sekitar empat belas minggu. Dan karena ia mengandung kembar tiga, tubuhnya berubah
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 40 Amarah Kevin

    Kevin tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di depan rumah Hazel, tepat di samping mobilnya. Pagar rumah itu sudah tertutup. Hazel tadi sempat menoleh sekali sebelum masuk, lalu perlahan menghilang di balik pintu. Kevin tetap diam di tempat menunggu. Beberapa detik kemudian lampu ruang tamu menyala, lalu lampu dapur. Rumah yang tadi gelap dan sunyi itu akhirnya terlihat sedikit hidup. Kevin baru bisa mengembuskan napas pelan, meski begitu ia tetap belum pergi. Sekitar sepuluh menit ia masih berdiri di sana memastikan Hazel benar-benar baik-baik saja dan memastikan tidak ada apa-apa. Baru setelah itu Kevin masuk ke dalam mobilnya. Namun bukannya langsung menyalakan mesin, ia justru duduk diam sambil menatap lurus ke depan. Rahangnya mengeras, tangannya menggenggam setir terlalu kuat. Bayangan Hazel di klinik tadi terus terlintas di kepalanya. Wajahnya yang pucat, tubuhnya yang gemetar. Tangannya yang refleks memegang perutnya sambil bertanya, “anak-anak aku nggak apa-apa?” Dan e

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 39 Kebenaran yang Kevin Tahu

    Kevin nyaris membanting pintu mobil saat sampai di klinik, dengan panik ia membuka pintu belakang lalu menggendong Hazel keluar. Tubuh Hazel masih lemas di pelukannya, kepalanya terkulai di bahu Kevin. “Dok! Tolong!” suara Kevin terdengar keras begitu ia masuk ke dalam klinik. Beberapa perawat langsung menghampiri. Hazel segera dipindahkan ke atas ranjang dorong dan dibawa ke ruang pemeriksaan. Kevin ikut di belakang mereka dengan napas memburu. Di dalam ruangan, dokter dan perawat mulai memeriksa Hazel tekanan darah, nadi dan pupil mata. Dokter juga beberapa kali memanggil nama Hazel, tapi Hazel belum juga sadar. Lalu tangan dokter berhenti di atas perut Hazel, tatapan dokter berubah sebentar seolah ia langsung memahami sesuatu. Beberapa menit kemudian dokter keluar dan memanggil Kevin masuk. “Mas tadi sempat lihat pasien jatuh?” tanya dokter. Kevin mengangguk cepat. “Iya, tapi saya sempat nangkep. Jadi dia nggak kebentur lantai.” Dokter terlihat sedikit lega. “Syukurlah.

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 38 Rutinitas dan Jatuh Pingsan

    Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam dalam kesibukannya. Namun kali ini semuanya jauh lebih berat. Usia kandungannya sudah memasuki lebih dari tiga bulan, sekitar empat belas minggu. Dan karena ia mengandung kembar tiga, tubuhnya berubah lebih cepat dibanding kehamilan biasa. Perut Hazel sudah mulai terlihat meski belum terlalu jelas jika diperhatikan sekilas. Ukurannya bahkan lebih mirip orang yang hamil empat atau lima bulan. Karena itu sekarang Hazel hampir selalu mengenakan sweater longgar, cardigan besar, atau kemeja oversize. Untungnya teman-temannya tidak terlalu curiga, mereka hanya menganggap Hazel memang belum benar-benar pulih sejak beberapa waktu lalu. Apalagi sejak November, Hazel memang terlihat lebih mudah lel

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 37 Deja Vu dan Sensitif Bau

    Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang sedang memegang gelas es teh manis berhenti sesaat. Perasaan aneh kembali muncul seperti deja vu. Karena semalam untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia membuka freezer di rumah orang tuanya tengah malam dan mengambil satu cup besar es krim, bahkan ia menghabiskannya sendiri. Padahal sejak kecil ia tidak pernah suka es krim. Ia tidak suka rasa terlalu manis, terlalu dingin, terlalu enek. Dulu ibunya sering memaksa membelikannya berbagai macam rasa, tapi selalu berakhir tidak dimakan. Namun semalam berbeda, ia tiba-tiba sangat ingin. Dan sekarang, Hazel juga menginginkan hal yang sama. Lintang mengerutkan kening tipis. Beberapa hari terakhir memang banyak hal aneh terjadi padanya. Ia tiba-

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 36 Pesanan yang Sama

    Miranti sempat mencari Hazel ke parkiran fakultas kedokteran. Biasanya Hazel menunggu di sana, hanya saja hari itu Hazel tidak ada. Miranti pun turun lagi dan berjalan ke arah gerbang kampus. Baru beberapa langkah, matanya langsung menemukan Hazel yang sedang berdiri dekat pos satpam. Hazel berdiri sambil memegang plastik rujak buah di tangannya dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, wajah Hazel terlihat sedikit lebih hidup. Masih pucat, masih lelah, tapi ada binar kecil di matanya. Miranti langsung menghampirinya. “Kamu dari mana? Mama cari di parkiran tadi.” Hazel menoleh. “Oh... tadi beli ini” katanya pelan sambil sedikit mengangkat plastik rujaknya. Miranti melihat isi rujak itu, lalu tanpa sadar tersenyum lega. “Tumben.” “Aku tiba-tiba pengen.” jelas Hazel yang wajahnya benar-benar sumringah hanya karena makan rujak. Miranti tersenyum lembut. “Bagus kalau sudah mau makan.” Hazel mengangguk kecil. “Tadi ada bapak-bapak lewat jualan di depan.” Miranti ter

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 35 Hunian Baru dan Perubahan

    Setelah mengantar Hazel ke kampus keesokan paginya, Miranti tidak langsung pulang. Ia langsung memutar arah menuju perumahan yang kemarin sore ia datangi. Saat sampai di perumahan, yang dilihat pertama oleh Miranti, perumahan itu ternyata cukup tenang. Jalannya masih bersih dan sepi, beberapa rumah masih terlihat baru dan belum ditempati. Di dekat gerbang ada kantor pemasaran kecil, Miranti masuk ke sana. Di dalam, ia disambut oleh seorang marketing perumahan. “Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?” Miranti tersenyum ramah. “Saya mau tanya, masih ada rumah kosong?” “Masih, Mbak. Tapi tinggal dua unit lagi”, jawab marketing. Miranti sedikit terkejut. “Padahal kemarin sepertinya masih beberapa ya?” Marketing itu tersenyum. “Iya, kemarin dua unit baru saja terjual.” Marketing itu lalu mengambil brosur dan memperlihatkannya pada Miranti. Ia menjelaskan ukuran rumah, luas tanah, bahan bangunan, dan fasilitas di dalam perumahan itu. Rumah yang ditawarkan memang tidak

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status