Compartir

BAB 40 Amarah Kevin

Autor: Adw_Canss781
last update Fecha de publicación: 2026-05-10 08:43:10

Kevin tidak langsung pergi. Ia masih berdiri di depan rumah Hazel, tepat di samping mobilnya. Pagar rumah itu sudah tertutup. Hazel tadi sempat menoleh sekali sebelum masuk, lalu perlahan menghilang di balik pintu.

Kevin tetap diam di tempat menunggu. Beberapa detik kemudian lampu ruang tamu menyala, lalu lampu dapur. Rumah yang tadi gelap dan sunyi itu akhirnya terlihat sedikit hidup. Kevin baru bisa mengembuskan napas pelan, meski begitu ia tetap belum pergi. Sekitar sepuluh menit ia masih
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 163 Belum Tahu

    Tatapan Hazel masih terlihat gelisah setelah mendengar dirinya kemungkinan sudah boleh pulang besok. Meski kondisi tubuhnya memang jauh membaik rasa takut itu masih ada. Takut kalau Rehan datang lagi, takut kalau anak-anak kembali melihat keributan dan yang paling membuat dirinya lelah. Hazel merasa hidupnya seperti terus berjalan dalam lingkaran yang sama selama bertahun-tahun. Sedangkan di depannya, Lintang masih berdiri dekat ranjang sambil memperhatikan perempuan itu tenang. Tatapannya jauh lebih lembut sekarang. Lalu Hazel akhirnya bicara pelan. “ Tapi…" Suara perempuan itu kecil dan ragu-ragu. “Kamu mana bisa gitu…” Tatapannya turun lagi ke selimut. “Aku gak mau ngerepotin kamu terus.” Kalimat itu langsung membuat dada Lintang terasa berat aneh. Karena bahkan setelah semua yang terjadi, Hazel masih takut merepotkan orang lain. Masih merasa dirinya terlalu banyak meminta bantuan. Padahal selama ini dia justru dipaksa menanggung semuanya sendiri. Lintang mengembuskan napas pe

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 162 Takut Pulang

    Tatapan Lintang masih tertuju pada Hazel yang berdiri canggung dekat meja. Sementara di layar video call, Widya masih terus mengobrol ringan dengan Hazel sambil sesekali tertawa kecil mengenang kejadian lama itu. Sedangkan Levian mulai sibuk menimpali sana-sini dengan komentar absurd khas dirinya. Namun di tengah keramaian kecil itu pikiran Lintang justru perlahan melayang jauh ke masa lalu. Ke pagi dingin di Bandung bertahun-tahun lalu. Saat dirinya berjalan cepat mencari mommy nya yang katanya hampir kecopetan. Saat dirinya melihat seorang gadis berjalan menjauh dengan langkah ringan. Rambut dikuncir cepol, tubuh kecil dan dirinya waktu itu hanya melihat sekilas menatap punggung yang menjauh. Tanpa peduli, tanpa berniat mengenal lebih jauh. Karena saat itu pikirannya masih penuh hal lain. Tentang organisasi kampus, tentang hidupnya dan tentang Melisa. Tatapan mata Lintang perlahan turun. Rahangnya sedikit mengeras kecil. Sekarang setelah mengetahui semuanya dia baru sadar sesu

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 161 Gadis Penolong

    Tatapan Widya masih memperhatikan sekeliling ruangan lewat layar video call. Semakin diperhatikan ruangan itu jelas terlalu bagus untuk ukuran rawat inap biasa. Lampu hangat, sofa besar, meja tamu lengkap dan interior yang lebih mirip suite hotel dibanding kamar rumah sakit. Alis perempuan elegan itu langsung naik perlahan. “Ini kamar bagus sekali…” Tatapannya menyipit curiga ke arah dua putranya. “VIP ya?” Detik itu juga Levian refleks menjawab paling cepat sebelum adiknya sempat buka suara lagi. “Oh tadi udah dipindahin mom. Awalnya dia di ruang rawat biasa.” Jawabannya terdengar sangat lancar. Sampai Lintang cuma bisa memandang datar ke arah kakaknya dari atas ranjang. Tatapan itu benar-benar seperti bilang, “Lo keterlaluan.” Namun Levian malah pura-pura sibuk mengatur angle kamera. Mereka mulai terlihat jauh lebih tenang sekarang. Karena setidaknya menurut versi cerita Levian, Lintang hanya sakit perut akibat salah makan. Tatapan perempuan itu perlahan kembali bergese

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 160 Mommy

    Suasana ruangan rawat malam itu perlahan mulai terasa lebih santai. Hazel bahkan sudah terlihat jauh lebih tenang dibanding siang tadi. Meski matanya masih sembab karena menangis, setidaknya sekarang perempuan itu sudah bisa ikut tertawa kecil mendengar ocehan Levian Ankara Narendra yang memang absurd dari lahir. Sedangkan Lintang kembali fokus pada tablet di tangannya sambil sesekali menjawab singkat ucapan kakaknya. Namun ketenangan itu mendadak buyar saat terdengar suara. 'BRRRTTT.' Ponsel milik Levian bergetar cukup panjang di atas meja. Laki-laki itu awalnya masih santai mengambil ponselnya sambil rebahan miring di sofa. Namun begitu melihat nama yang muncul di layar wajahnya langsung berubah. “Waduh…” Lintang bahkan belum menoleh. “Kenapa?” Levian langsung duduk tegak. “Daddy.” Detik itu juga Lintang akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya langsung menyipit tipis, dia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini akan ke mana. Levian buru-buru menerima panggilan. “Halo dad—”

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 159 Kantor

    Mobil milik Levian akhirnya masuk ke area parkir kantor cabang Narendra Group Bandung. Suasana kantor yang awalnya biasa saja perlahan mulai berubah saat beberapa karyawan menyadari mobil yang datang itu bukan mobil milik Lintang Aksara Narendra. Awalnya mereka hanya melirik sekilas. Namun begitu pintu mobil terbuka, satu persatu wajah mulai berubah tegang. Karena yang turun dari kursi pengemudi justru direktur utama mereka sendiri. Levian Ankara Narendra. Laki-laki itu turun santai dengan kacamata hitam masih terpasang, sementara tiga anak kecil ikut turun dari mobil dengan ekspresi yang jauh lebih santai dibanding para karyawan yang melihat mereka. “ASTAGA…” Salah satu staf perempuan langsung menepuk lengan temannya pelan. “Itu pak Levian kan?!” “YA IYALAH!” “Ngapain direktur utama kesini mendadak?!” Beberapa satpam sampai refleks berdiri lebih tegak. Sedangkan dua staf marketing yang tadi masih bercanda dekat pintu masuk langsung buru-buru merapikan pakaian mereka. Karena

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 158 Kehilangan Kendali

    Setelah sambungan telepon itu terputus, ruangan rawat kembali dipenuhi keheningan. Namun kali ini keheningan itu terasa jauh lebih berat. Hazel masih memegang ponselnya dengan tangan gemetar. Tatapannya kosong lurus ke depan dan perlahan air matanya kembali jatuh. Awalnya sedikit tapi Satu. Lalu semakin banyak. Bahu perempuan itu mulai bergetar kecil. Bukan tangisan keras. Melainkan tangisan orang yang terlalu lama menahan semuanya sendiri sampai akhirnya tidak kuat lagi. “Aku… Suaranya pecah pelan. “Aku capek…” Hazel memang selalu terlihat menahan semuanya sendirian. Tetap bekerja, tetap mengurus anak-anak dan tetap bertahan. Padahal dirinya sendiri perlahan hancur. Tanpa banyak bicara Lintang akhirnya bergerak lebih dekat. Tangannya perlahan mengusap punggung tangan Hazel pelan. Lalu berpindah mengusap punggung perempuan itu perlahan. Gerakannya tenang dan hati-hati seperti takut membuat Hazel semakin rapuh. “Udah…” Suara Lintang rendah. “Jangan nangis terus.” Tatapannya turun

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 42 Surat Cuti dan Tentang Bayu

    Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 38 Rutinitas dan Jatuh Pingsan

    Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 37 Deja Vu dan Sensitif Bau

    Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang se

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 30 Kembali Ke Jakarta

    Sepanjang perjalanan pulang dari klinik, mobil terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Hazel duduk di kursi penumpang sambil memeluk tasnya erat. Tatapannya lurus ke luar jendela, tapi pikirannya jauh di mana-mana. Ia masih tidak percaya, tiga janin, tiga detak jantung kecil yang tadi pagi ia deng

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status