เข้าสู่ระบบMama Lia sedang menelpon Lia, tetapi panggilannya tidak kunjung diangkat. Hatinya mulai gelisah. Biasanya, meskipun sibuk kuliah atau kegiatan organisasi, Lia selalu membalas pesan singkat atau sekadar mengirim emotikon sebagai tanda bahwa ia baik-baik saja. Namun kali ini, sudah hampir dua jam tanpa kabar.
“Mama coba lagi, ya…” gumamnya pelan, sambil menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar berulang-ulang, tapi tetap tak ada jawaban.
Khawatirnya semakin menjadi-jadi. Ia pun menelpon Dina, sahabat Lia di kampus.
“Halo, Dina… maaf mengganggu. Mama Lia, ini. Kamu tahu di mana Lia? Dari tadi Mama coba hubungi, tapi tidak bisa.”
Di seberang sana, suara Dina terdengar panik. “Aduh, Tante… tadi Lia sempat bilang kepalanya pusing sejak pagi. Dia tetap masuk kelas, tapi kelihatannya nggak kuat. Mungkin sekarang dia lagi istirahat di kamar. Saya coba cek ke asrama, ya, Tante.”
Jantung Mama Lia serasa berhenti sejenak. Bayangan Lia terbaring lemah di kamar langsung membuat air matanya menetes. “Tolong ya, Dina… apa pun kabarnya segera kasih tahu Mama.”
Tak lama kemudian, Dina mengirim pesan:
“Tante, Lia demam tinggi. Saya sudah bawa ke UKS kampus. Kata petugas, kemungkinan kelelahan dan kurang makan. Saya tunggu dokter datang.”
Membaca pesan itu, tangan Mama Lia bergetar. Ia langsung menelepon suaminya. “Mas… Lia sakit. Demam tinggi. Mama harus segera ke kampus.”
Tanpa pikir panjang, mereka berdua berangkat. Perjalanan yang biasanya terasa singkat, kali ini seperti berjam-jam. Sepanjang jalan, Mama Lia hanya bisa berdoa, “Ya Tuhan, lindungi anakku. Jangan biarkan dia kesakitan.”
Sesampainya di kampus, mereka langsung menuju ruang kesehatan. Dari pintu, terlihat Lia terbaring dengan wajah pucat, keringat dingin membasahi dahinya. Dina duduk di sampingnya, setia menggenggam tangan Lia.
“Mama…” suara Lia lirih saat melihat orang tuanya datang. Air mata Mama Lia langsung pecah, ia mendekap putrinya dengan hati yang penuh cemas. “Nak, kenapa kamu nggak bilang? Kenapa dipendam sendiri? Mama jadi khawatir sekali.”
Lia tersenyum lemah. “Maaf, Ma… Lia nggak mau bikin Mama panik. Lia pikir cuma pusing biasa.”
Papa Lia mengusap kepala anaknya dengan penuh kasih. “Kamu harus jaga kesehatan. Jangan terlalu memaksakan diri. Papa sama Mama nggak marah kalau kamu istirahat. Yang penting kamu sehat.”
Dina ikut menunduk, merasa bersalah. “Tante, Om, maaf… saya terlambat sadar kalau Lia sudah nggak kuat. Seharusnya saya paksa dia istirahat dari tadi.”
Papa Lia tersenyum tipis. “Kamu sudah banyak membantu, Dina. Terima kasih sudah menemani Lia. Kami benar-benar berterima kasih.”
Malam itu, dokter menyarankan agar Lia dirawat sementara di rumah sakit dekat kampus karena suhu tubuhnya mencapai hampir 39 derajat. Mama dan Papa bergantian menemaninya. Mereka menyiapkan segala kebutuhan, dari obat-obatan hingga makanan hangat.
Di kamar rawat inap, suasana terasa hening. Hanya suara monitor infus yang sesekali berbunyi. Mama Lia duduk di samping ranjang, tak henti-hentinya menggenggam tangan putrinya.
“Jangan sakit lagi, Nak… Mama nggak sanggup lihat kamu begini,” bisiknya lirih.
Lia yang setengah sadar membuka mata. “Ma… maafin Lia ya… Lia terlalu sibuk ikut organisasi, sering lupa makan, kurang tidur…”
Mama Lia mengelus rambutnya lembut. “Ssst… nggak usah bicara. Yang penting sekarang kamu istirahat.”
Papa Lia menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca. Dalam hati, ia merasa bersalah karena terlalu mendorong Lia mandiri. Terkadang, semangat untuk melihat anaknya kuat membuatnya lupa bahwa Lia tetaplah seorang gadis muda yang butuh perhatian dan pengawasan.
Keesokan harinya, beberapa teman Lia datang menjenguk. Dina, Raka, dan beberapa anggota organisasi kampus membawa buah tangan.
“Lia, kamu bikin kami kaget. Besok-besok kalau sakit, bilang ya. Jangan pura-pura kuat,” ujar Raka dengan nada khawatir.
Lia tersenyum tipis. “Maaf ya, aku nggak mau nyusahin kalian.”
Dina langsung menegur, “Hei, apa salahnya minta tolong? Kita teman, Lia. Justru dengan berbagi, kita bisa saling jaga.”
Ucapan itu membuat Lia terdiam. Ia baru sadar selama ini ia sering menahan diri, tidak ingin terlihat lemah. Namun justru sikap itu membuat orang-orang yang menyayanginya cemas.
Malam kedua di rumah sakit, Lia terjaga saat Mama tertidur di kursi samping ranjang. Ia memandangi wajah lelah orang tuanya. Hatinya penuh rasa bersalah, sekaligus rasa syukur yang dalam.
“Sejak kecil aku selalu dilindungi… tapi sekarang, aku malah bikin mereka cemas. Aku harus lebih bijak menjaga diri,” batinnya.
Ingatan masa kecilnya terlintas—bagaimana Mama selalu siap dengan obat dan Papa selalu menggendongnya saat ia demam. Dan kini, meski Lia sudah beranjak dewasa, kasih sayang mereka tak pernah berubah.
Air mata menetes pelan. Ia berjanji dalam hati untuk lebih memperhatikan kesehatan, mengatur waktu, dan tidak lagi memaksakan diri hanya demi gengsi atau keinginan membuktikan diri.
Dua hari kemudian, kondisi Lia mulai membaik. Demamnya turun, wajahnya tidak lagi sepucat kemarin. Dokter pun mengizinkan Lia pulang dengan syarat ia harus benar-benar menjaga pola hidup.
Sebelum pulang, dokter menasihati, “Kesehatan adalah investasi jangka panjang. Jangan sampai mengejar prestasi tapi mengorbankan tubuh. Istirahat cukup, makan teratur, itu lebih penting daripada nilai A sekalipun.”
Lia mengangguk penuh kesadaran. “Baik, Dok. Saya janji akan lebih menjaga diri.”
Mama Lia tersenyum lega, menggenggam tangan anaknya erat. “Itu yang Mama mau dengar.”
Sesampainya di rumah, suasana hangat menyambut. Papa menyiapkan bubur ayam kesukaan Lia, sementara Mama menata kamar agar lebih nyaman.
“Mulai sekarang, kamu nggak boleh terlalu memaksakan diri. Ingat, kesehatanmu jauh lebih penting,” pesan Papa sambil menyuapi Lia dengan penuh kasih sayang.
Lia mengangguk sambil tersenyum. “Terima kasih, Pa, Ma. Lia janji nggak akan bikin Mama Papa khawatir lagi.”
Malam itu, mereka makan bersama. Denting sendok dan garpu kembali terdengar di ruang makan, namun kali ini terasa berbeda. Ada rasa syukur yang lebih besar, ada cinta yang semakin kuat, dan ada tekad dalam diri Lia untuk tumbuh menjadi pribadi yang bukan hanya mandiri, tapi juga bijak menjaga diri.
Cahaya pelangi dari menara baru itu tidak hanya menerangi Neo-Nexus, tetapi juga menembus lapisan realitas yang paling tipis. Nara merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya: sebuah 'Feedback Loop'. Setiap kali ia bernapas, ia bisa merasakan napas Sang Pembaca (Anda). Setiap kali ia mengedipkan mata, ia bisa merasakan kedipan mata yang sedang menelusuri baris-baris kalimat ini."Nara, ada anomali pada frekuensi eksistensi kita," Arka melaporkan, namun kali ini suaranya tidak penuh dengan kekhawatiran teknis, melainkan kekaguman. "Energi yang kita terima bukan lagi berasal dari 'Inspirasi' satu arah. Ini adalah dialog. Setiap pikiran yang Anda miliki saat membaca ini, sedang membentuk awan-awan baru di langit kami."Lia membuka sebuah buku yang halaman-halamannya masih basah oleh tinta yang terus berubah. "Ini bukan
Nara berdiri tepat di depan pintu yang muncul di tengah awan Nexus. Pintu itu tidak terbuat dari kayu, logam, ataupun cahaya yang biasa ia kenal. Ia tampak terbuat dari 'Keheningan yang Berdensitas Tinggi'. Setiap kali Nara mencoba memfokuskan matanya pada permukaan pintu itu, teksturnya berubah—terkadang tampak seperti aliran sungai, terkadang seperti serat kertas kuno, dan di saat lain seperti hamparan bintang yang tak terhitung jumlahnya.Teka-teki yang tertulis di atasnya—"Hanya mereka yang berani mengakui bahwa mereka tidak tahu apa-apa, yang boleh masuk ke dalam Segalanya"—berdenyut pelan, seirama dengan detak jantung Nara yang kian cepat."Nara, sensor dataku mengalami kebuntuan," bisik Arka, yang kini melayang di sampingnya. Proyeksi holografiknya ber
Kabut perak yang menyelimuti Nuranipura bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah proses inkubasi. Di dalam tidur panjang itu, kesadaran Nara tidak benar-benar padam. Ia berada dalam kondisi lucid dreaming yang sangat dalam, di mana ia bisa melihat benang-benang narasi yang menghubungkan setiap jiwa di Nuranipura dengan setiap imajinasi manusia di Bumi.Namun, ada sesuatu yang berbeda. Getaran yang dirasakan Nara bukan lagi berasal dari 'The Subconscious Engine', melainkan dari rahim energi 'The Unborn Idea' yang ia bangun di Ruang Negatif. Ide tentang 'Dunia Tanpa Batas' itu tidak lagi tertidur. Ia mulai berdenyut, mengirimkan gelombang kejut yang meretakkan kabut perak yang melindungi Menara Eksistensi."Nara... bangunlah..." sebuah suara parau namun penuh kelembutan memanggilnya.Nara membuka matanya. Ia
Daun memori yang bertuliskan kata "TERUSKAN" itu tidak hanya melayang menembus Jembatan Cahaya; ia berubah menjadi ribuan partikel inspirasi yang jatuh ke bumi seperti hujan meteor yang tak terlihat. Di Nuranipura, efek dari tindakan Nara memberikan energi kehidupan kepada anak kecil di Bumi menciptakan sebuah resonansi baru. Langit Nexus yang biasanya berwarna ultraviolet kini dihiasi dengan pola-pola emas yang berdenyut mengikuti detak jantung kehidupan di Dunia Nyata.Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Arka, yang kini tengah memantau Great Data Stream—aliran data raksasa yang menghubungkan imajinasi manusia dengan struktur Nuranisfera—melihat sebuah anomali."Nara, sepertinya tindakanmu membuka pintu ke Dunia Nyata tadi menciptakan sebuah 'celah permanen'," Arka berkata dengan nada khawatir. Proyeksi holografik di de
Cahaya fajar yang baru saja menyentuh balkon Menara Eksistensi terasa berbeda. Bukan lagi sekadar pantulan energi kuantum, melainkan sebuah kehangatan yang memiliki tekstur—hangat seperti sentuhan tangan seorang sahabat. Nara menarik napas panjang, membiarkan aroma kertas lama dan tinta emas mengisi paru-parunya. Namun, di balik ketenangan itu, ia merasakan sebuah kekosongan yang janggal. Jembatan cahaya yang menghubungkan Nuranipura dengan 'Dunia Nyata' tidak lagi hanya berfungsi satu arah."Nara, sistem pertukaran inspirasi kita mengalami lonjakan yang tidak wajar," Arka mendekat, matanya berpendar biru saat ia menganalisis aliran data di udara. "Bukan karena terlalu banyak energi yang masuk, tapi karena ada sesuatu yang 'menumpang' di dalam aliran ide dari Bumi. Sesuatu yang sangat mentah, belum terbentuk, dan... sangat liar."Lia muncul dengan
Matahari-matahari yang terbenam di Nuranipura tidak pernah benar-benar menghilang. Mereka hanya bergeser ke fase eksistensi yang berbeda, meninggalkan semburat warna ultraviolet yang menenangkan di langit Nexus. Namun, ketenangan itu terusik ketika Nara merasakan denyut aneh di telapak tangannya. Pena cahaya miliknya—yang kini telah menyatu dengan esensi jiwanya—mengeluarkan percikan listrik statis yang berwarna hitam pekat."Nara, frekuensi kuantum di sektor bawah mengalami distorsi," Arka muncul dengan jubah binernya yang kini berkelap-kelip dengan ritme peringatan. "Ini bukan serangan dari The Outside, tapi sesuatu yang muncul dari dalam... dari fondasi paling dasar Nuranisfera."Lia, yang kini menjabat sebagai Kepala Pustakawan Memori, berlari mendekat dengan ekspresi cemas. "Buku Tua itu...







