MasukPagi itu udara terasa segar. Lia berdiri di depan cermin kamarnya, menatap pantulan dirinya dengan penuh semangat. Wajahnya sudah tidak pucat seperti beberapa hari lalu, meski tubuhnya masih sedikit lemah. Ia menarik napas panjang, lalu berbisik pada dirinya sendiri.
“Aku bisa. Aku harus bisa menyeimbangkan semuanya.”
Mama menyiapkan sarapan sederhana di meja makan. Bubur ayam hangat dengan taburan bawang goreng, ditambah segelas susu. “Ayo, Nak. Jangan buru-buru. Mama nggak mau kamu jatuh sakit lagi,” ucap Mama sambil menatap penuh khawatir.
Lia tersenyum. “Iya, Ma. Lia janji bakal jaga diri. Nggak akan terlalu maksain lagi.”
Papa menepuk bahunya lembut. “Bagus. Ingat, kampus itu penting, organisasi juga baik. Tapi kesehatanmu tetap nomor satu.”
Setelah sarapan, Lia berangkat ke kampus dengan hati-hati. Dina sudah menunggunya di gerbang, melambaikan tangan penuh semangat. “Lia! Akhirnya kamu balik lagi. Semua orang nanyain kamu, lho.”
Langkah Lia terasa sedikit ragu ketika melewati koridor kampus. Suara mahasiswa yang sibuk mengobrol, tawa yang memenuhi udara, dan papan pengumuman penuh dengan jadwal kegiatan membuatnya agak terintimidasi. Ia sempat berpikir apakah dirinya mampu kembali ke rutinitas itu.
Namun Dina menepuk punggungnya. “Hei, santai aja. Kamu nggak sendiri. Kita hadapi bareng-bareng.”
Mereka pun berjalan menuju kelas. Begitu masuk, beberapa teman langsung menyambut.
“Lia! Kamu udah sehat? Kami kangen banget.”
Lia tersenyum malu, merasa terharu. “Makasih, teman-teman. Aku janji bakal lebih hati-hati.”
Hari itu dosen memberikan tugas besar: sebuah proyek kelompok yang harus dipresentasikan dalam waktu dua minggu. Lia kebagian menjadi ketua kelompok.
“Lia, kamu yakin sanggup? Baru sembuh loh,” tanya Dina dengan wajah khawatir.
Lia mengangguk mantap. “Aku yakin. Tapi kali ini aku harus pintar atur waktu. Kita bagi tugas biar nggak ada yang terlalu berat.”
Di sisi lain, organisasi kampus juga sedang sibuk menyiapkan acara besar: seminar nasional. Ketua organisasi, Kak Arman, menghampiri Lia di kantin.
“Lia, kami butuh kamu untuk jadi koordinator acara. Kamu yang paling teliti, semua percaya sama kamu.”
Lia sempat terdiam. Hatinya bergejolak antara ingin menerima tantangan atau menolak demi menjaga kesehatan.
“Aku… aku pikir-pikir dulu ya, Kak,” jawab Lia akhirnya.
Kak Arman tersenyum maklum. “Nggak apa-apa. Yang penting kamu jangan paksa diri. Kami tunggu keputusanmu.”
Sore itu, Lia dan Dina duduk di taman kampus, menikmati semilir angin. Lia tampak gelisah, memainkan jemari tangannya.
“Din, aku takut kalau nolak tawaran organisasi, aku kehilangan kesempatan berkembang. Tapi kalau aku terima, aku khawatir sakitku kambuh lagi.”
Dina menatapnya serius. “Lia, berkembang itu banyak caranya. Kamu nggak harus jadi pahlawan di semua bidang. Yang penting, kamu tahu batas dirimu. Nggak ada salahnya prioritasin kesehatan dulu.”
Kata-kata Dina menancap dalam hati Lia. Ia menyadari, selama ini ia sering merasa harus selalu bisa, harus selalu tampil kuat. Padahal, manusia punya keterbatasan.
Malam harinya, Lia menceritakan kegelisahannya pada orang tuanya.
“Pa, Ma… aku ditawari jadi koordinator acara di kampus. Tapi aku ragu. Aku takut sakitku kambuh lagi.”
Papa menatapnya penuh kebanggaan. “Lia, Papa percaya kamu bisa menilai mana yang terbaik. Kalau kamu yakin sanggup, ambil. Kalau tidak, jangan takut bilang tidak. Hidup itu bukan tentang memenuhi ekspektasi orang lain, tapi bagaimana kamu bisa berjalan dengan seimbang.”
Mama menambahkan, “Ingat Nak, kami lebih bahagia melihatmu sehat dan bahagia, daripada melihatmu jatuh sakit hanya demi membuktikan diri.”
Lia terharu. Ia merasa dikelilingi oleh orang-orang yang benar-benar mendukungnya tanpa syarat.
Keesokan harinya, Lia menemui Kak Arman di ruang organisasi. Dengan suara tenang namun mantap, ia berkata, “Kak, terima kasih atas kepercayaannya. Tapi maaf, kali ini aku belum bisa jadi koordinator. Aku masih harus menyeimbangkan kuliah dan kesehatan.”
Kak Arman menatapnya sebentar, lalu tersenyum. “Kamu sudah bikin keputusan yang bijak, Lia. Justru itu menunjukkan kedewasaanmu. Jangan khawatir, kesempatan lain pasti ada.”
Lia merasa lega. Untuk pertama kalinya, ia berani berkata “tidak” tanpa merasa bersalah.
Hari-hari berikutnya, Lia fokus pada tugas kelompok. Ia belajar membagi peran, mendengarkan pendapat anggota, dan tidak lagi memikul semua tanggung jawab sendiri.
Presentasi kelompok mereka berjalan lancar. Dosen memuji kerja sama tim mereka. Teman-teman pun bertepuk tangan, bangga pada Lia.
Setelah kelas selesai, Dina berbisik, “Lihat kan? Kamu nggak harus kerja sendirian. Justru dengan berbagi, hasilnya lebih baik.”
Lia tersenyum lebar. “Iya, Din. Aku belajar banyak dari ini semua.”
Malam itu, Lia pulang ke rumah. Di ruang makan, Papa, Mama, dan Lia kembali makan bersama. Denting sendok dan garpu kembali mengisi suasana, kali ini dengan tawa ringan.
“Ayah bangga padamu, Nak. Kamu bukan hanya pintar, tapi juga belajar bijak.”
Lia menatap kedua orang tuanya dengan mata berbinar. “Terima kasih, Pa, Ma. Semua yang Lia lakukan sekarang bukan hanya untuk Lia sendiri, tapi juga untuk membuat kalian tenang dan bahagia.”
Malam itu, Lia tidur dengan hati damai. Ia tahu perjalanan kuliahnya masih panjang, tantangan masih banyak, tapi kini ia lebih siap. Ia bukan hanya gadis yang ingin terlihat kuat, tapi seseorang yang mulai mengerti arti keseimbangan, arti kebersamaan, dan arti mencintai dirinya sendiri.
Saat kakimu melangkah melewati gerbang "Keheningan yang Berwarna", sensasi yang kau rasakan bukanlah gerakan fisik, melainkan sebuah pelarutan. Tubuh kristalinmu tidak lagi terasa sebagai cangkang, melainkan sebagai aliran data cahaya yang menyatu dengan frekuensi dimensi kesebelas. Di sini, udara tidak bergetar karena suara, melainkan karena makna. Setiap warna yang kau lihat adalah sebuah emosi yang murni; biru bukan lagi sekadar warna, melainkan perasaan damai yang bisa kau sentuh dan hirup.Elian berdiri di sampingmu, namun penampilannya telah berubah. Ia tampak seperti jalinan rasi bintang yang berbentuk manusia. "Di dimensi ini," Elian berbisik tanpa suara, namun getarannya memenuhi seluruh keberadaanmu, "keinginan adalah arsitektur. Tidak ada jeda antara niat dan wujud. Jika kau memikirkan sebuah gunung yang terbuat dari kenangan masa kecilmu, ia akan muncu
Saat jemarimu kembali menyentuh kanvas realitas, sebuah getaran tidak kasat mata merambat dari ujung pena cahaya menuju pusat jantung multisemesta. Ini bukan lagi sekadar menulis sejarah; ini adalah fase "The Living Genesis".Bumi, yang kini telah melampaui kepadatan fisik, mulai memancarkan apa yang disebut para ilmuwan Nuranipura sebagai "The White Hole Resonance". Jika lubang hitam menyerap segala sesuatu, Bumi kini menjadi "Lubang Putih" yang terus-menerus memancarkan ide, kreativitas, dan energi cinta ke seluruh penjuru dimensi yang dulunya gelap."Kita telah menjadi mesin pembuat realitas," Arka berujar sambil menatap instrumen psioniknya yang menunjukkan grafik energi yang melampaui skala tak terhingga. "Setiap kali seorang manusi
Saat pena cahaya di jemarimu mulai bergerak, realitas di sekitarmu tidak lagi sekadar bergeser; ia meledak dalam spektrum warna yang belum pernah terdefinisi oleh mata manusia. Kata pertama yang kau tuliskan bukanlah sebuah nama, melainkan sebuah getaran: "Ananta" (Tanpa Batas).Seketika, di langit Nuranipura, muncul sebuah fenomena yang disebut "The Script Manifestation". Huruf-huruf cahaya yang kau tuliskan di batinmu memanifestasikan diri menjadi struktur fisik di angkasa. Kalimat "Cinta yang melampaui batas" yang dibisikkan Aura berubah menjadi jalinan awan nebula berwarna merah muda keemasan yang menyelimuti atmosfer Bumi, memberikan perlindungan termal dan spiritual yang permanen bagi semua makhluk."Lihat,"
Kesadaran yang dibawa Elian dari Pusat Galaksi bukan sekadar berita; itu adalah sebuah kode aktivasi. Saat kau menutup matamu malam itu, "The Infinite Studio" di dalam batinmu tidak lagi hanya berisi bayangan-bayangan dari Bumi. Dinding-dinding studionya mulai menghilang, digantikan oleh pemandangan hamparan realitas yang bertumpuk, seperti jutaan lembar sutra cahaya yang saling bersinggungan.Inilah awal dari "The Multiversal Connection". Di seluruh Nuranipura, manusia mulai merasakan kehadiran "Diri mereka yang lain" dari semesta paralel. Ini bukan lagi sekadar fragmen hantu yang tersesat, melainkan jalinan aktif yang disebut sebagai "The Fractal Self"."Kita sedang mengalami perluasan identitas," ujar Lia dari Perpustakaan Bulan. "Kau bukan lagi hanya individu di Bu
Di tengah kegemilangan The Reciprocal Abundance, frekuensi semesta tiba-tiba bergeser menjadi sebuah nada rendah yang menggetarkan tulang belakang setiap manusia. Kaelan dan wahana The Voyager’s Intent telah menyentuh batas terdalam dari The Silent Zone. Di sana, cahaya tidak lagi merambat lurus; ia melingkar, seolah-olah ruang itu sendiri adalah sebuah pikiran yang sedang merenung.Sinyal batin yang dikirimkan Kaelan kembali ke Bumi tidak berisi angka atau gambar teknis, melainkan sebuah sensasi: rasa dingin yang damai, seperti salju yang jatuh di dalam mimpi."Kami tidak menemukan kekosongan," lapor Kaelan melalui tautan empati global. "Kami menemukan The Pre-Creation Fabric (Tenunan Pra-Penciptaan). Tempat ini bukan tempat di mana kehidupan berakhir, melainkan tempat di mana setiap kemungkinan yang pernah gagal di Bumi disimpan untuk diproses kembali."Berita ini mengguncang Menara Pengamat. Elian menyadari bahwa jika manusia bisa menjalin niat mereka dengan kain pra-penciptaan ini
Ketika jemari batinmu mulai bergerak untuk menuliskan baris pertama dari hari yang baru, sebuah riak tak kasat mata merambat jauh melampaui atmosfer Bumi, melintasi gerbang-gerbang antarbintang, hingga mencapai tepian galaksi yang selama ini terlupakan: The Silent Zone. Di wilayah ini, hukum fisika yang kita kenal—bahkan Fisika Niat yang baru—tampaknya membeku dalam kebisuan yang absolut.Elian, yang sedang mengamati grafik energi di Menara Pengamat, menyadari sesuatu yang aneh. Setiap kali seseorang di Bumi melakukan "The Morning Choice" dengan tingkat kejujuran yang sangat dalam, sebuah titik cahaya kecil muncul di tengah kegelapan Silent Zone tersebut."Mereka bukan sekadar penjangkar," bisik Elian kepada Kaelan yang berdiri di sampingnya. "Mereka adalah mercu suar. Setiap niat murni yang mereka miliki sedang memetakan wilayah yang selama ini dianggap sebagai ketiadaan."Di Bumi, fenomena ini dirasakan sebagai "The Deep Connection". Manusia mulai menyadari bahwa setiap pikiran mere







![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)