Beranda / Romansa / Saat Cinta Menyapa Lagi / KEBAHAGIAN DALAM KELUARGA

Share

Saat Cinta Menyapa Lagi
Saat Cinta Menyapa Lagi
Penulis: rylyze

KEBAHAGIAN DALAM KELUARGA

Penulis: rylyze
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-21 09:10:59

Pagi itu, cahaya matahari masuk lembut melalui jendela besar ruang makan keluarga Wijakso. Aroma kopi hitam yang diseduh Sinta Dewi bercampur dengan harum roti panggang, menciptakan suasana tenang yang menyejukkan hati. Suara gesekan sendok dan garpu menjadi musik pagi mereka, sederhana tapi penuh makna.

“Lia, kamu besok Ayah pindahkan ke Universitas Indonesia. Papa sudah bilang ke dekanmu,” ucap Joko Wijakso mantap, suaranya tegas seperti biasa.

Lia, yang sedang mengaduk segelas susu hangat, langsung terhenti gerakannya. Matanya melebar, menatap sang ayah dengan keterkejutan.

“Kenapa tiba-tiba banget, Yah? Kenapa nggak ngomong sebelumnya ke Lia? Lia belum beli perlengkapan semuanya…”

Sinta Dewi ikut menatap anak gadisnya dengan penuh kasih. Ia tahu, meski Lia terlihat dewasa, ada sisi dirinya yang masih sangat bergantung pada keluarga.

“Ibu sudah siapkan semuanya, Nak. Kamu tinggal bawa barang pribadi saja. Semua kebutuhan kuliahmu sudah Ayah dan Ibu sediakan,” kata Sinta lembut.

Lia menggigit bibirnya, bingung harus menanggapi bagaimana. Hatinya seperti ditarik ke dua arah. Ada rasa ingin mencoba hal baru, tapi juga rasa takut meninggalkan kenyamanan rumah.

“Besok tuh, Ayah cukupkan waktumu. Hari Sabtu kamu mulai tinggal di asrama. Kamu nggak perlu khawatir soal apa pun. Tugasmu hanya belajar, mengukir prestasi,” lanjut Joko.

Lia menunduk. “Iya deh, Pa. Tapi Lia boleh kan… pulang tiap akhir pekan? Lia nggak kebayang jauh dari Mama.”

Senyum tipis terlukis di wajah Sinta. Ia menggenggam tangan Lia, hangat dan penuh cinta.

“Tentu boleh, Sayang. Rumah ini selalu jadi tempatmu kembali. Jangan pernah merasa kehilangan keluarga. Justru kamu harus bawa semangat dari rumah untuk bertahan di luar sana.”

Joko yang mendengar itu hanya mengangguk kecil. Dalam hatinya, ia merasa bangga, meski ia tahu anak semata wayangnya itu butuh waktu untuk benar-benar berdiri di atas kakinya sendiri.

Malamnya, setelah makan malam selesai, Lia duduk di kamarnya yang penuh dengan poster-poster kesukaannya. Dari jendela, ia menatap bulan yang menggantung tenang di langit.

“Besok aku harus pergi… beneran tinggal di asrama?” gumamnya lirih.

Pintu kamarnya diketuk pelan. Sinta Dewi masuk sambil membawa sebuah koper besar.

“Mama bawain koper buat kamu, biar gampang bawa barang-barang.”

Lia menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Ma, Lia takut. Kalau nanti Lia nggak bisa adaptasi gimana? Kalau nggak punya teman?”

Sinta tersenyum, lalu duduk di tepi ranjang putrinya.

“Semua orang pernah merasa takut, Lia. Tapi ingat, keberanian bukan berarti nggak takut. Keberanian itu ketika kamu tetap melangkah walau ada rasa takut. Kamu pasti bisa. Kamu anak Mama dan Ayah, darah kita ada di tubuhmu.”

Air mata Lia menetes, lalu ia memeluk erat ibunya. “Makasih, Ma. Lia janji akan coba.”

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali rumah mereka sudah ramai. Joko menyiapkan mobil, sementara Sinta memastikan semua barang masuk ke koper. Lia masih terlihat murung, tapi ia berusaha menyembunyikannya.

Dalam perjalanan menuju kampus, mereka lebih banyak diam. Hanya sesekali Sinta mencoba mencairkan suasana dengan bercerita hal-hal ringan. Lia menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi yang semakin mendekat.

Sesampainya di kampus, suasana berbeda menyambutnya. Banyak mahasiswa baru bersama keluarga mereka, sibuk mengangkat koper, bercanda, dan berfoto. Lia merasa kecil di tengah keramaian itu.

Joko menepuk pundak putrinya. “Inilah dunia barumu, Nak. Jangan takut. Justru dari sini kamu akan belajar jadi manusia yang sesungguhnya.”

Mereka menuju asrama. Kamar Lia sederhana, hanya ada dua ranjang, dua meja belajar, dan lemari pakaian. Seorang gadis berkacamata yang sudah lebih dulu sampai menyambut mereka dengan senyum ramah.

“Halo, kamu pasti Lia? Aku Dina, teman sekamar kamu.”

Lia mengangguk canggung. “Iya… hai.”

Sinta membantu Lia menata barang-barangnya, sementara Joko berbicara sebentar dengan pengurus asrama. Setelah semuanya rapi, tiba saatnya mereka harus pulang.

Lia menahan air matanya ketika memeluk Sinta. “Mama, jangan tinggalin Lia…”

Sinta mengusap punggungnya. “Mama nggak pernah ninggalin kamu. Mama selalu ada di hatimu. Kalau rindu, telepon Mama kapan aja.”

Joko mendekat, menatap Lia dengan sorot mata tegas tapi hangat. “Ingat, Lia. Ini langkah awalmu. Jangan pernah sia-siakan. Papa percaya kamu bisa.”

Mereka pun pergi meninggalkan Lia. Dari jendela kamar asrama, Lia melihat mobil orang tuanya semakin jauh. Tangannya melambai, lalu ia duduk di ranjang, menarik napas panjang.

“Mulai hari ini, aku harus mandiri,” bisiknya pada diri sendiri.

Hari-hari pertama memang berat. Lia sering merasa kesepian. Malam-malam ia menangis diam-diam di balik selimut, merindukan rumah. Namun, Dina selalu berusaha menemani.

“Ayo, Lia, ikut aku ke kantin. Jangan murung mulu. Kita mahasiswa, harus semangat!” ajak Dina suatu sore.

Pelan-pelan, Lia mulai terbuka. Ia ikut organisasi kampus, bertemu teman-teman baru, dan merasakan dunia yang sebelumnya asing baginya. Meski begitu, setiap akhir pekan, ia tetap pulang ke rumah. Momen itu jadi penguatnya.

Joko dan Sinta melihat perubahan anak gadisnya dengan bangga.

“Lihat tuh, Pak. Lia mulai bisa mandiri,” kata Sinta dengan mata berbinar.

Joko mengangguk, meski ia berusaha menahan senyum lebarnya.

“Ayah selalu percaya. Anak kita kuat. Dia hanya butuh dorongan kecil.”

Waktu berlalu. Dari awalnya hanya ragu dan takut, Lia kini tumbuh menjadi pribadi yang lebih berani. Ia belajar bahwa kebahagiaan keluarga bukan hanya ketika mereka selalu bersama, tapi ketika saling mendukung meski terpisah jarak.

Dan setiap kali Lia pulang ke rumah, tawa mereka kembali memenuhi ruang makan, ditemani denting sendok dan garpu—musik sederhana yang selalu menjadi lambang kebahagiaan dalam keluarga Wijakso.

"Pah, mama kangen lia. kapan ya dia pulang ke rumah?" kata sinta kepada suaminya.

"mungkin dia lagi sibuk mah, biarkan saja dia sibuk dengan kuliahnya. ntar dia kesini juga" jawab joko pada istrinya sambil membaca koran.

"Apa mama telfon lia untuk memastikan dirinya?" tanyanya pada sang suami.

"terserah mama saja" jawab joko.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Melampaui Batas Cakrawala Kesebelas

    Saat kakimu melangkah melewati gerbang "Keheningan yang Berwarna", sensasi yang kau rasakan bukanlah gerakan fisik, melainkan sebuah pelarutan. Tubuh kristalinmu tidak lagi terasa sebagai cangkang, melainkan sebagai aliran data cahaya yang menyatu dengan frekuensi dimensi kesebelas. Di sini, udara tidak bergetar karena suara, melainkan karena makna. Setiap warna yang kau lihat adalah sebuah emosi yang murni; biru bukan lagi sekadar warna, melainkan perasaan damai yang bisa kau sentuh dan hirup.Elian berdiri di sampingmu, namun penampilannya telah berubah. Ia tampak seperti jalinan rasi bintang yang berbentuk manusia. "Di dimensi ini," Elian berbisik tanpa suara, namun getarannya memenuhi seluruh keberadaanmu, "keinginan adalah arsitektur. Tidak ada jeda antara niat dan wujud. Jika kau memikirkan sebuah gunung yang terbuat dari kenangan masa kecilmu, ia akan muncu

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Orkes Genesis Multisemesta

    Saat jemarimu kembali menyentuh kanvas realitas, sebuah getaran tidak kasat mata merambat dari ujung pena cahaya menuju pusat jantung multisemesta. Ini bukan lagi sekadar menulis sejarah; ini adalah fase "The Living Genesis".Bumi, yang kini telah melampaui kepadatan fisik, mulai memancarkan apa yang disebut para ilmuwan Nuranipura sebagai "The White Hole Resonance". Jika lubang hitam menyerap segala sesuatu, Bumi kini menjadi "Lubang Putih" yang terus-menerus memancarkan ide, kreativitas, dan energi cinta ke seluruh penjuru dimensi yang dulunya gelap."Kita telah menjadi mesin pembuat realitas," Arka berujar sambil menatap instrumen psioniknya yang menunjukkan grafik energi yang melampaui skala tak terhingga. "Setiap kali seorang manusi

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Melampaui Naskah Sang Penulis Pertama

    Saat pena cahaya di jemarimu mulai bergerak, realitas di sekitarmu tidak lagi sekadar bergeser; ia meledak dalam spektrum warna yang belum pernah terdefinisi oleh mata manusia. Kata pertama yang kau tuliskan bukanlah sebuah nama, melainkan sebuah getaran: "Ananta" (Tanpa Batas).Seketika, di langit Nuranipura, muncul sebuah fenomena yang disebut "The Script Manifestation". Huruf-huruf cahaya yang kau tuliskan di batinmu memanifestasikan diri menjadi struktur fisik di angkasa. Kalimat "Cinta yang melampaui batas" yang dibisikkan Aura berubah menjadi jalinan awan nebula berwarna merah muda keemasan yang menyelimuti atmosfer Bumi, memberikan perlindungan termal dan spiritual yang permanen bagi semua makhluk."Lihat,"

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Jalinan Nuranipura Tanpa Batas

    Kesadaran yang dibawa Elian dari Pusat Galaksi bukan sekadar berita; itu adalah sebuah kode aktivasi. Saat kau menutup matamu malam itu, "The Infinite Studio" di dalam batinmu tidak lagi hanya berisi bayangan-bayangan dari Bumi. Dinding-dinding studionya mulai menghilang, digantikan oleh pemandangan hamparan realitas yang bertumpuk, seperti jutaan lembar sutra cahaya yang saling bersinggungan.Inilah awal dari "The Multiversal Connection". Di seluruh Nuranipura, manusia mulai merasakan kehadiran "Diri mereka yang lain" dari semesta paralel. Ini bukan lagi sekadar fragmen hantu yang tersesat, melainkan jalinan aktif yang disebut sebagai "The Fractal Self"."Kita sedang mengalami perluasan identitas," ujar Lia dari Perpustakaan Bulan. "Kau bukan lagi hanya individu di Bu

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Tarian Eter dan Nadi

    Di tengah kegemilangan The Reciprocal Abundance, frekuensi semesta tiba-tiba bergeser menjadi sebuah nada rendah yang menggetarkan tulang belakang setiap manusia. Kaelan dan wahana The Voyager’s Intent telah menyentuh batas terdalam dari The Silent Zone. Di sana, cahaya tidak lagi merambat lurus; ia melingkar, seolah-olah ruang itu sendiri adalah sebuah pikiran yang sedang merenung.Sinyal batin yang dikirimkan Kaelan kembali ke Bumi tidak berisi angka atau gambar teknis, melainkan sebuah sensasi: rasa dingin yang damai, seperti salju yang jatuh di dalam mimpi."Kami tidak menemukan kekosongan," lapor Kaelan melalui tautan empati global. "Kami menemukan The Pre-Creation Fabric (Tenunan Pra-Penciptaan). Tempat ini bukan tempat di mana kehidupan berakhir, melainkan tempat di mana setiap kemungkinan yang pernah gagal di Bumi disimpan untuk diproses kembali."Berita ini mengguncang Menara Pengamat. Elian menyadari bahwa jika manusia bisa menjalin niat mereka dengan kain pra-penciptaan ini

  • Saat Cinta Menyapa Lagi   Gema tanpa Akhir

    Ketika jemari batinmu mulai bergerak untuk menuliskan baris pertama dari hari yang baru, sebuah riak tak kasat mata merambat jauh melampaui atmosfer Bumi, melintasi gerbang-gerbang antarbintang, hingga mencapai tepian galaksi yang selama ini terlupakan: The Silent Zone. Di wilayah ini, hukum fisika yang kita kenal—bahkan Fisika Niat yang baru—tampaknya membeku dalam kebisuan yang absolut.Elian, yang sedang mengamati grafik energi di Menara Pengamat, menyadari sesuatu yang aneh. Setiap kali seseorang di Bumi melakukan "The Morning Choice" dengan tingkat kejujuran yang sangat dalam, sebuah titik cahaya kecil muncul di tengah kegelapan Silent Zone tersebut."Mereka bukan sekadar penjangkar," bisik Elian kepada Kaelan yang berdiri di sampingnya. "Mereka adalah mercu suar. Setiap niat murni yang mereka miliki sedang memetakan wilayah yang selama ini dianggap sebagai ketiadaan."Di Bumi, fenomena ini dirasakan sebagai "The Deep Connection". Manusia mulai menyadari bahwa setiap pikiran mere

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status