หน้าหลัก / Romansa / Saat Istri Bodoh Itu Pergi / Bab 11 – Batas yang Mulai Retak

แชร์

Bab 11 – Batas yang Mulai Retak

ผู้เขียน: Yoga
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-02 19:55:06

Pagi itu rumah terasa lebih dingin dari biasanya, meski matahari sudah naik tinggi. Nara terbangun dengan kepala sedikit pusing dan dada terasa sesak, seperti ada beban yang menekan tanpa wujud. Ia menatap langit-langit kamar yang asing namun terlalu sering ia lihat—kamar yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seorang istri, tapi justru menjadi ruang paling sunyi baginya.

Di sampingnya, tempat tidur kosong.

Suaminya sudah pergi sejak subuh. Seperti biasa. Tanpa pesan. Tanpa pamit.

Nara bangkit perlahan, kakinya menyentuh lantai dingin. Ia merapikan selimut, lalu berjalan ke kamar mandi. Cermin memantulkan wajahnya yang pucat, mata yang menyimpan lelah bertahun-tahun. Ia menatap dirinya sendiri lama, mencoba mencari sisa-sisa perempuan yang dulu masih percaya bahwa kesabaran bisa mengubah segalanya.

“Bodoh,” gumamnya pelan.

Kata itu selalu kembali. Kata yang orang-orang gunakan padanya. Kata yang lama-lama ia terima sebagai kebenaran.

Setelah selesai bersiap, Nara turun ke dapur. Meja makan rapi, tak ada sisa sarapan. Itu berarti suaminya makan di luar lagi. Ia menghela napas, lalu mulai menyiapkan sarapan sederhana untuk dirinya sendiri. Namun baru beberapa menit, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk.

Dari ibu mertuanya.

Nara, siang ini ikut ke acara keluarga. Jangan telat. Ingat statusmu.

Jari Nara gemetar saat membaca kalimat terakhir. Ingat statusmu. Seolah-olah ia perlu diingatkan setiap saat bahwa posisinya di keluarga ini rapuh, bergantung, dan bisa dipatahkan kapan saja.

Ia membalas singkat: Iya, Bu.

Tak ada pilihan lain.

Siang harinya, Nara berdiri di ruang tamu rumah keluarga besar suaminya. Tawa, obrolan, dan suara piring beradu memenuhi ruangan. Namun tak satu pun terasa hangat baginya. Semua mata sesekali melirik, menilai, lalu kembali pada urusan masing-masing.

“Nara,” panggil seorang sepupu iparnya dengan senyum tipis. “Suamimu sibuk lagi?”

Nara mengangguk. “Iya.”

“Kasihan ya,” sambungnya, nada suaranya terdengar seperti iba, tapi penuh sindiran. “Sudah menikah tapi seperti sendirian.”

Beberapa orang tertawa kecil.

Nara menunduk. Tangannya mengepal di balik rok panjangnya. Ia ingin menjelaskan, ingin berteriak bahwa ia sudah berusaha sekuat tenaga. Namun suaranya selalu terhenti di tenggorokan. Ia memilih diam—seperti biasa.

Tak lama kemudian, suaminya akhirnya datang. Wajahnya datar, langkahnya tenang, seolah-olah dunia tak pernah menyakitinya. Ia hanya melirik Nara sekilas, lalu langsung duduk bersama anggota keluarga lain.

Tak ada sapaan. Tak ada pertanyaan.

Seakan Nara hanya bagian dari furnitur rumah.

Saat makan bersama, ibu mertua membuka suara. “Nara, kapan kamu bisa memberikan kabar baik?”

Suasana mendadak hening.

Semua mata tertuju padanya.

Nara menelan ludah. “Kami… masih berusaha, Bu.”

Suaminya tetap diam. Tidak membela. Tidak menyangkal. Tidak mengatakan apa pun.

“Jangan terlalu santai,” lanjut sang ibu. “Sebagai istri, itu tanggung jawabmu.”

Kata-kata itu seperti pisau. Tajam, dingin, dan tepat menusuk ke jantungnya. Nara menunduk lebih dalam, mencoba menahan air mata yang menggenang.

Di dalam dirinya, sesuatu retak.

Bukan karena kata-kata itu saja, tapi karena sikap diam suaminya. Diam yang selama ini ia anggap sebagai sifat dingin, ternyata lebih dari itu—ketidakpedulian.

Sepulang dari acara itu, perjalanan pulang terasa sangat panjang. Di dalam mobil, keheningan menggantung tebal. Nara memberanikan diri bicara.

“Kamu… tidak apa-apa kalau mereka bicara seperti itu?”

Suaminya tetap menatap jalan. “Kamu terlalu sensitif.”

Kalimat sederhana itu menghancurkan sesuatu di hati Nara. Ia tersenyum kecil, pahit. Untuk pertama kalinya, ia tidak membalas. Tidak meminta penjelasan. Tidak memohon pengertian.

Sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke kamar. Ia duduk di tepi ranjang, menatap koper kecil di sudut ruangan. Koper yang dulu ia bawa saat pertama kali datang ke rumah ini.

Perlahan, Nara berdiri dan membuka koper itu. Tangannya menyentuh pakaian lama, buku catatan kecil, dan foto dirinya sebelum menikah. Wajah di foto itu tersenyum lebar. Matanya berbinar.

“Ke mana kamu pergi?” bisiknya pada pantulan wajah di foto.

Untuk pertama kalinya, sebuah pikiran yang selama ini ia tekan muncul jelas di benaknya.

Bagaimana jika aku pergi?

Nara menutup koper itu kembali, tapi hatinya tak bisa lagi ditutup rapat. Retakan itu sudah ada. Dan ia tahu, suatu hari nanti, retakan itu akan berubah menjadi keputusan.

Di luar kamar, suara langkah suaminya terdengar. Namun kali ini, Nara tidak bangkit. Ia tetap duduk, menatap pintu, dengan hati yang perlahan mengeras.

Karena perempuan bodoh itu… mulai belajar lelah.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 29 – Pilihan yang Tidak Bisa Ditarik Kembali

    Hari itu datang tanpa tanda istimewa. Tidak ada hujan, tidak ada langit mendung, tidak juga firasat aneh yang sering digambarkan orang-orang saat hidup mereka akan berubah. Justru karena itulah Nara tahu—ini adalah hari yang tepat untuk mengambil keputusan.Ia bangun pagi dengan perasaan tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tidak ada sesak di dada, tidak ada rasa bersalah yang biasanya datang saat ia memikirkan masa lalu. Yang ada hanya kesadaran penuh bahwa apa pun pilihannya hari ini, ia siap menanggungnya.Nara bersiap dengan sederhana. Ia menatap dirinya di cermin lebih lama dari biasanya. Bukan untuk memastikan penampilan, melainkan untuk memastikan niat. Perempuan di hadapannya terlihat berbeda dari Nara yang dulu—lebih kokoh, lebih jujur, dan tidak lagi meminta izin untuk memilih dirinya sendiri.Pertemuan itu sudah disepakati. Tidak ada paksaan, tidak ada desakan. Mereka bertemu di tempat yang sama seperti sebelumnya, seolah menjadi lingkaran yang akhi

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 28 – Tidak Lagi Setengah Hati

    Hari-hari setelah pertemuan itu berlalu dengan cara yang berbeda bagi Nara. Tidak ada lagi pesan yang datang bertubi-tubi, tidak ada tekanan yang memaksanya memberi jawaban cepat. Justru ketenangan itulah yang membuat pikirannya bekerja lebih jujur. Dalam sunyi, Nara mulai benar-benar mendengar isi hatinya sendiri.Perubahan memang terjadi, dan Nara tidak menutup mata terhadap hal itu. Tanggung jawab yang dulu selalu dibebankan kepadanya kini perlahan dibagi. Hal-hal kecil yang selama ini dianggap sepele mulai diperhatikan. Tidak dengan cara berlebihan, tidak pula seperti pamer perubahan. Semua terlihat sederhana, namun nyata.Namun Nara tidak serta-merta merasa yakin.Ia sudah terlalu sering dikecewakan oleh perubahan sementara. Terlalu sering berharap, lalu jatuh di lubang yang sama. Karena itu, kali ini ia memilih berhati-hati. Ia tidak ingin keputusannya lahir dari rasa kasihan atau takut kehilangan.Malam itu, Nara duduk sendirian di kamar. Lampu sengaja diredup

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 27 – Bukti, Bukan Janji

    Setelah hari-hari penuh tekanan itu, Nara mulai menyadari satu hal penting: kata-kata, sejujur apa pun terdengarnya, tidak lagi cukup baginya. Ia sudah terlalu sering mendengar janji—diucapkan dengan nada serius, disertai wajah penuh penyesalan—namun selalu berakhir pada pola yang sama. Kali ini, jika memang ada perubahan, ia ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri. Pagi itu, Nara menerima pesan yang berbeda dari biasanya. ‘Aku tidak akan memintamu pulang sekarang. Tapi aku ingin membuktikan sesuatu.’ Nara membaca pesan itu berulang kali. Tidak ada bujukan, tidak ada tuntutan. Ia tidak langsung membalas. Ia belajar dari dirinya sendiri—tidak semua hal harus dijawab dengan cepat. Hari itu, Nara memilih menjalani kegiatannya seperti biasa. Ia pergi bekerja sambilan, menyelesaikan tugas-tugas kecil, lalu pulang dengan tubuh lelah namun pikiran lebih tertata. Saat sore menjelang, ponselnya kembali berbun

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 26 – Ketika Semua Ikut Bicara

    Setelah pertemuan itu, hidup Nara tidak serta-merta menjadi lebih ringan. Justru sebaliknya, seolah ada pintu lain yang terbuka dan menghadirkan suara-suara baru—lebih ramai, lebih menekan. Jika sebelumnya konflik hanya berputar di antara dua orang, kini lingkarannya melebar.Telepon pertama datang dari keluarga.“Nara, kamu ini sudah menikah. Masa pergi begitu saja?” suara di seberang terdengar tegas, nyaris tanpa jeda untuk bernapas. “Masalah rumah tangga itu wajar. Jangan dibesar-besarkan.”Nara mendengarkan dengan tenang. Dulu, kalimat seperti itu bisa membuatnya langsung merasa bersalah. Sekarang tidak lagi. Ia tahu perbedaan antara nasihat dan penghakiman.“Aku tidak membesar-besarkan,” jawab Nara pelan. “Aku hanya berhenti memendam.”Ucapan itu membuat percakapan berhenti sesaat. Tidak ada yang benar-benar siap dengan jawaban itu.Panggilan demi panggilan datang bergantian. Ada yang menyuruhnya kembali demi nama baik keluarga, ada yang menyinggung soal

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 25 – Di Antara Bertahan dan Melepaskan

    Hari-hari setelah itu terasa berjalan lebih lambat bagi Nara. Tekanan yang datang bersamaan tidak langsung menghilang, justru menetap seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun ia pergi. Pagi, siang, hingga malam, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang terus berulang—sampai kapan ia bisa bertahan dengan keputusan ini?Nara kembali ke rutinitas kecilnya. Bangun pagi, membersihkan rumah, memasak seadanya, lalu menghabiskan waktu dengan pekerjaan sambilan yang mulai ia tekuni. Ia terlihat baik-baik saja dari luar, bahkan lebih tenang. Namun di dalam dirinya, ada kegelisahan yang belum benar-benar selesai.Siang itu, pesan kembali masuk ke ponselnya.‘Aku tunggu jawabanmu. Sampai kapan kamu menghindar?’Nara menatap layar lama. Tidak ada kata kasar, tidak ada ancaman, tapi justru itulah yang membuatnya semakin berat. Ia tahu, menghindar terus-menerus bukan solusi. Cepat atau lambat, ia harus menghadapi semuanya secara langsung.Setelah berpikir cukup lama, N

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 24 – Tekanan yang Datang Bersamaan

    Hidup Nara tidak serta-merta menjadi tenang setelah ia pergi. Justru sebaliknya, ketenangan yang mulai ia rasakan perlahan diuji oleh tekanan yang datang dari berbagai arah, hampir bersamaan, seolah dunia tidak memberinya jeda untuk bernapas.Pagi itu, Nara sedang menyapu halaman kecil rumah kontrakannya ketika ponselnya bergetar. Nomor yang tidak asing, tapi selalu ia hindari. Ia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menghela napas dan mengangkatnya.“Assalamualaikum, Ra.”Suara itu terdengar hati-hati, seolah takut disalahkan. Ibunya.“Waalaikumsalam,” jawab Nara singkat.“Kamu sehat?” tanya sang ibu, basa-basi yang terdengar kaku.“Alhamdulillah.”Ada jeda. Hening yang terasa berat.“Kapan kamu pulang?” akhirnya ibunya bertanya.Nara memejamkan mata. Pertanyaan itu selalu datang lebih cepat daripada yang ia harapkan. Pulang ke mana? Ke rumah orang tuanya, atau ke rumah yang sudah lama tidak lagi terasa seperti rumah?“Belum tahu, Bu.”

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status