Beranda / Romansa / Saat Istri Bodoh Itu Pergi / Bab 12 – Saat Hati Belajar Menjauh

Share

Bab 12 – Saat Hati Belajar Menjauh

Penulis: Yoga
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-03 20:05:03

Pagi datang seperti biasa, tetapi bagi Nara, semuanya terasa berbeda. Rumah itu masih sama—dinding yang sama, meja makan yang sama, bahkan suara langkah kaki yang sama. Namun ada sesuatu di dalam dadanya yang pelan-pelan berubah, sesuatu yang selama ini ia abaikan demi bertahan.

Ia bangun lebih pagi dari biasanya. Bukan karena ingin menyiapkan sarapan, melainkan karena ia tak lagi bisa tidur nyenyak. Kepalanya dipenuhi pikiran yang berputar-putar, kata-kata yang tak pernah terucap, dan perasaan lelah yang sudah terlalu lama disimpan.

Nara duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela. Cahaya matahari pagi masuk perlahan, seolah mengejek hatinya yang masih gelap. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.

Selama ini, ia selalu berpikir bahwa diam adalah bentuk kesabaran. Bahwa bertahan tanpa banyak bicara adalah tanda istri yang baik. Namun pagi itu, untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri—sampai kapan?

Suaminya keluar dari kamar mandi tanpa menoleh ke arahnya. Seperti biasa, wajah itu dingin, datar, dan penuh jarak. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum, apalagi perhatian. Semua berlangsung seperti rutinitas yang hampa.

“Aku berangkat,” ucap pria itu singkat sambil meraih tasnya.

Nara mengangguk pelan. Dahulu, ia akan merasa perih dengan sikap itu. Kini, entah kenapa, dadanya justru terasa kosong. Bukan sakit—lebih seperti mati rasa.

Pintu tertutup, dan rumah kembali sunyi.

Nara berdiri lama di ruang tengah. Ia menatap sekeliling, menyadari betapa sepinya tempat yang seharusnya disebut rumah. Selama ini, ia tinggal di sana bukan sebagai pasangan, melainkan seperti bayangan—ada, tapi tak pernah benar-benar dilihat.

Ia melangkah ke dapur, bukan untuk memasak, melainkan sekadar menuangkan segelas air. Tangannya sedikit gemetar saat memegang gelas itu. Bukan karena lemah, melainkan karena emosi yang berusaha ia kendalikan.

“Aku capek…” bisiknya lirih.

Kalimat itu sederhana, namun penuh beban. Untuk pertama kalinya, Nara mengakuinya—pada dirinya sendiri.

Ia duduk di kursi makan, menatap kursi di depannya yang selalu kosong dari percakapan. Ingatannya melayang ke masa-masa awal pernikahan, ketika ia masih berharap segalanya akan berubah. Ketika ia percaya bahwa cinta bisa tumbuh seiring waktu.

Nyatanya, yang tumbuh hanyalah luka.

Hari itu, Nara tidak menangis. Ia juga tidak marah. Ia hanya mulai menjaga jarak—bukan secara fisik, tetapi di dalam hati. Ia berhenti berharap berlebihan, berhenti menunggu hal-hal kecil yang tak pernah datang.

Siang menjelang, dan Nara keluar rumah untuk pertama kalinya tanpa rasa bersalah. Ia berjalan tanpa tujuan jelas, hanya ingin menghirup udara yang lebih bebas. Setiap langkah terasa ringan, meski hatinya masih berat.

Di luar sana, ia menyadari satu hal penting—dirinya bukanlah perempuan bodoh. Ia hanya terlalu lama bertahan di tempat yang salah, dengan harapan yang salah.

Malam tiba, dan suaminya pulang seperti biasa. Tidak ada perubahan sikap. Tidak ada pertanyaan tentang ke mana Nara pergi atau apa yang ia lakukan seharian.

Namun ada satu perubahan kecil yang tidak disadari pria itu.

Nara tidak lagi menunggu.

Ia masuk ke kamar lebih dulu, mematikan lampu, dan berbaring menghadap dinding. Untuk pertama kalinya, ia merasa sedang melindungi dirinya sendiri—bukan dengan kata-kata, melainkan dengan jarak.

Dan di dalam diam itu, Nara tahu…

ini bukan akhir,

tapi awal dari sesuatu yang akan mengubah segalanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 29 – Pilihan yang Tidak Bisa Ditarik Kembali

    Hari itu datang tanpa tanda istimewa. Tidak ada hujan, tidak ada langit mendung, tidak juga firasat aneh yang sering digambarkan orang-orang saat hidup mereka akan berubah. Justru karena itulah Nara tahu—ini adalah hari yang tepat untuk mengambil keputusan.Ia bangun pagi dengan perasaan tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tidak ada sesak di dada, tidak ada rasa bersalah yang biasanya datang saat ia memikirkan masa lalu. Yang ada hanya kesadaran penuh bahwa apa pun pilihannya hari ini, ia siap menanggungnya.Nara bersiap dengan sederhana. Ia menatap dirinya di cermin lebih lama dari biasanya. Bukan untuk memastikan penampilan, melainkan untuk memastikan niat. Perempuan di hadapannya terlihat berbeda dari Nara yang dulu—lebih kokoh, lebih jujur, dan tidak lagi meminta izin untuk memilih dirinya sendiri.Pertemuan itu sudah disepakati. Tidak ada paksaan, tidak ada desakan. Mereka bertemu di tempat yang sama seperti sebelumnya, seolah menjadi lingkaran yang akhi

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 28 – Tidak Lagi Setengah Hati

    Hari-hari setelah pertemuan itu berlalu dengan cara yang berbeda bagi Nara. Tidak ada lagi pesan yang datang bertubi-tubi, tidak ada tekanan yang memaksanya memberi jawaban cepat. Justru ketenangan itulah yang membuat pikirannya bekerja lebih jujur. Dalam sunyi, Nara mulai benar-benar mendengar isi hatinya sendiri.Perubahan memang terjadi, dan Nara tidak menutup mata terhadap hal itu. Tanggung jawab yang dulu selalu dibebankan kepadanya kini perlahan dibagi. Hal-hal kecil yang selama ini dianggap sepele mulai diperhatikan. Tidak dengan cara berlebihan, tidak pula seperti pamer perubahan. Semua terlihat sederhana, namun nyata.Namun Nara tidak serta-merta merasa yakin.Ia sudah terlalu sering dikecewakan oleh perubahan sementara. Terlalu sering berharap, lalu jatuh di lubang yang sama. Karena itu, kali ini ia memilih berhati-hati. Ia tidak ingin keputusannya lahir dari rasa kasihan atau takut kehilangan.Malam itu, Nara duduk sendirian di kamar. Lampu sengaja diredup

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 27 – Bukti, Bukan Janji

    Setelah hari-hari penuh tekanan itu, Nara mulai menyadari satu hal penting: kata-kata, sejujur apa pun terdengarnya, tidak lagi cukup baginya. Ia sudah terlalu sering mendengar janji—diucapkan dengan nada serius, disertai wajah penuh penyesalan—namun selalu berakhir pada pola yang sama. Kali ini, jika memang ada perubahan, ia ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri. Pagi itu, Nara menerima pesan yang berbeda dari biasanya. ‘Aku tidak akan memintamu pulang sekarang. Tapi aku ingin membuktikan sesuatu.’ Nara membaca pesan itu berulang kali. Tidak ada bujukan, tidak ada tuntutan. Ia tidak langsung membalas. Ia belajar dari dirinya sendiri—tidak semua hal harus dijawab dengan cepat. Hari itu, Nara memilih menjalani kegiatannya seperti biasa. Ia pergi bekerja sambilan, menyelesaikan tugas-tugas kecil, lalu pulang dengan tubuh lelah namun pikiran lebih tertata. Saat sore menjelang, ponselnya kembali berbun

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 26 – Ketika Semua Ikut Bicara

    Setelah pertemuan itu, hidup Nara tidak serta-merta menjadi lebih ringan. Justru sebaliknya, seolah ada pintu lain yang terbuka dan menghadirkan suara-suara baru—lebih ramai, lebih menekan. Jika sebelumnya konflik hanya berputar di antara dua orang, kini lingkarannya melebar.Telepon pertama datang dari keluarga.“Nara, kamu ini sudah menikah. Masa pergi begitu saja?” suara di seberang terdengar tegas, nyaris tanpa jeda untuk bernapas. “Masalah rumah tangga itu wajar. Jangan dibesar-besarkan.”Nara mendengarkan dengan tenang. Dulu, kalimat seperti itu bisa membuatnya langsung merasa bersalah. Sekarang tidak lagi. Ia tahu perbedaan antara nasihat dan penghakiman.“Aku tidak membesar-besarkan,” jawab Nara pelan. “Aku hanya berhenti memendam.”Ucapan itu membuat percakapan berhenti sesaat. Tidak ada yang benar-benar siap dengan jawaban itu.Panggilan demi panggilan datang bergantian. Ada yang menyuruhnya kembali demi nama baik keluarga, ada yang menyinggung soal

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 25 – Di Antara Bertahan dan Melepaskan

    Hari-hari setelah itu terasa berjalan lebih lambat bagi Nara. Tekanan yang datang bersamaan tidak langsung menghilang, justru menetap seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun ia pergi. Pagi, siang, hingga malam, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang terus berulang—sampai kapan ia bisa bertahan dengan keputusan ini?Nara kembali ke rutinitas kecilnya. Bangun pagi, membersihkan rumah, memasak seadanya, lalu menghabiskan waktu dengan pekerjaan sambilan yang mulai ia tekuni. Ia terlihat baik-baik saja dari luar, bahkan lebih tenang. Namun di dalam dirinya, ada kegelisahan yang belum benar-benar selesai.Siang itu, pesan kembali masuk ke ponselnya.‘Aku tunggu jawabanmu. Sampai kapan kamu menghindar?’Nara menatap layar lama. Tidak ada kata kasar, tidak ada ancaman, tapi justru itulah yang membuatnya semakin berat. Ia tahu, menghindar terus-menerus bukan solusi. Cepat atau lambat, ia harus menghadapi semuanya secara langsung.Setelah berpikir cukup lama, N

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 24 – Tekanan yang Datang Bersamaan

    Hidup Nara tidak serta-merta menjadi tenang setelah ia pergi. Justru sebaliknya, ketenangan yang mulai ia rasakan perlahan diuji oleh tekanan yang datang dari berbagai arah, hampir bersamaan, seolah dunia tidak memberinya jeda untuk bernapas.Pagi itu, Nara sedang menyapu halaman kecil rumah kontrakannya ketika ponselnya bergetar. Nomor yang tidak asing, tapi selalu ia hindari. Ia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menghela napas dan mengangkatnya.“Assalamualaikum, Ra.”Suara itu terdengar hati-hati, seolah takut disalahkan. Ibunya.“Waalaikumsalam,” jawab Nara singkat.“Kamu sehat?” tanya sang ibu, basa-basi yang terdengar kaku.“Alhamdulillah.”Ada jeda. Hening yang terasa berat.“Kapan kamu pulang?” akhirnya ibunya bertanya.Nara memejamkan mata. Pertanyaan itu selalu datang lebih cepat daripada yang ia harapkan. Pulang ke mana? Ke rumah orang tuanya, atau ke rumah yang sudah lama tidak lagi terasa seperti rumah?“Belum tahu, Bu.”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status