หน้าหลัก / Romansa / Saat Istri Bodoh Itu Pergi / Bab 2 – Rumah yang Terasa Asing

แชร์

Bab 2 – Rumah yang Terasa Asing

ผู้เขียน: Yoga
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-24 20:00:07

Pagi di rumah itu selalu terasa sunyi.

Aku bangun lebih awal dari biasanya, seperti kebiasaan yang sudah terbentuk tanpa diminta. Jam di dinding baru menunjukkan pukul lima pagi ketika aku turun ke dapur. Rumah besar itu masih gelap, hanya lampu dapur yang menyala menemani langkah kakiku.

Aku mulai menyiapkan sarapan.

Entah mengapa, aku masih ingin mencoba. Mungkin terdengar bodoh, tapi sebagian kecil dari diriku masih berharap—barangkali hari ini ia mau duduk di meja makan bersamaku.

Aroma sup hangat memenuhi dapur. Aku menata meja dengan rapi, meletakkan piring dan sendok di tempatnya. Semuanya terlihat sempurna, seperti keluarga normal yang akan memulai hari bersama.

Aku duduk menunggu.

Menit berlalu.

Lima belas menit.

Tiga puluh menit.

Tangga berderit pelan. Aku refleks menoleh, hatiku berdebar kecil.

Ia turun dengan setelan jas rapi, wajahnya dingin seperti biasa. Bahkan sejak pagi, auranya sudah membuat ruangan terasa menyempit.

“Selamat pagi,” sapaku pelan.

Ia hanya melirik sekilas ke arah meja makan.

“Aku tidak sarapan di rumah,” katanya singkat sambil meraih kunci mobil.

Aku bangkit. “Aku sudah menyiapkan—”

“Tidak perlu,” potongnya. “Aku tidak suka kebiasaan yang tidak aku minta.”

Kalimat itu menghentikanku di tempat.

Langkahnya terus berlanjut menuju pintu, tanpa sedikit pun menoleh. Pintu tertutup dengan suara pelan, tapi gema penolakannya terasa begitu keras di dadaku.

Aku kembali duduk perlahan.

Makanan yang masih hangat itu kini terasa dingin, sama seperti perasaanku.

Hari itu aku memutuskan membersihkan rumah lebih menyeluruh, berharap kesibukan bisa mengalihkan pikiranku. Namun di setiap sudut rumah, aku justru merasa semakin asing.

Ini rumah suamiku.

Tapi tidak pernah terasa sebagai rumahku.

Saat membersihkan ruang kerja di lantai dua, aku menemukan sebuah foto di atas meja. Foto itu dibingkai rapi—dirinya bersama seorang wanita cantik yang tersenyum hangat di sampingnya.

Aku menatap foto itu lama.

Mereka terlihat begitu dekat. Begitu serasi.

Tanpa sadar, jemariku sedikit gemetar saat menyentuh bingkainya. Ada rasa perih yang tak bisa dijelaskan, seolah aku sedang melihat dunia yang seharusnya bukan milikku.

Aku buru-buru meletakkan kembali foto itu, merasa bersalah hanya karena melihatnya.

“Sedang apa kau di sini?”

Suara dingin itu membuatku terkejut.

Aku menoleh. Ia berdiri di ambang pintu ruang kerja, menatapku dengan sorot mata tidak senang.

“A-aku hanya membersihkan,” jawabku gugup.

Tatapannya jatuh pada meja. Pada foto itu.

“Aku tidak pernah menyuruhmu masuk ke ruangan ini,” katanya tegas.

Aku menunduk. “Maaf. Aku tidak tahu—”

“Mulai sekarang, jangan sentuh barang-barang pribadiku,” lanjutnya. “Ada batas yang harus kau pahami.”

Batas.

Kata itu seperti tembok tinggi yang semakin menjauhkan kami.

Aku mengangguk, lalu segera keluar dari ruangan itu dengan langkah cepat. Dadaku sesak, tapi aku menahannya. Aku tidak boleh menangis di depannya. Tidak lagi.

Sore hari, seorang wanita datang berkunjung.

Aku sedang menyiram tanaman di halaman ketika mobil mewah itu berhenti di depan rumah. Wanita itu turun dengan percaya diri, mengenakan pakaian elegan dan senyum yang seolah sudah mengenal rumah ini dengan baik.

Pelayan segera menyambutnya dengan ramah.

“Oh, Nona sudah datang.”

Aku membeku.

“Nona?”

Wanita itu melangkah masuk tanpa ragu, seolah rumah ini juga miliknya. Aku mengikutinya dari belakang, perasaan tidak nyaman merayap pelan di dadaku.

Ia duduk di ruang tamu, menyilangkan kaki dengan anggun.

“Kau siapa?” tanyanya sambil menatapku dari ujung kepala sampai kaki.

“A-aku istrinya,” jawabku pelan.

Alisnya terangkat sedikit. Lalu ia tersenyum tipis, senyum yang sulit kuterjemahkan.

“Oh,” katanya singkat. “Aku kira…”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya, tapi aku tahu apa maksudnya.

Tak lama kemudian, suamiku pulang. Wajahnya berubah sedikit—hampir tak terlihat—saat melihat wanita itu.

“Kau datang,” katanya.

Nada suaranya berbeda. Lebih lembut. Lebih hidup.

Hatiku tenggelam.

Mereka berbincang seolah aku tidak ada. Aku berdiri di sana, seperti bayangan yang tak dianggap.

“Nara,” katanya tiba-tiba tanpa menoleh. “Buatkan minum.”

Aku terdiam sesaat, lalu mengangguk dan berjalan ke dapur.

Di balik dinding itu, aku mendengar tawa kecil mereka.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, aku benar-benar merasa… sendirian.

Saat malam tiba, aku berdiri di depan jendela kamar, menatap gelapnya langit. Air mataku akhirnya jatuh tanpa bisa kutahan.

Mungkin benar kata mereka.

Mungkin aku memang bodoh.

Namun di balik air mata itu, ada sesuatu yang perlahan tumbuh di dalam dadaku—sebuah keputusan yang belum berani kuucapkan.

Aku tidak tahu kapan.

Tapi aku tahu satu hal.

Aku tidak akan selamanya bertahan di tempat di mana aku tidak pernah diinginkan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 29 – Pilihan yang Tidak Bisa Ditarik Kembali

    Hari itu datang tanpa tanda istimewa. Tidak ada hujan, tidak ada langit mendung, tidak juga firasat aneh yang sering digambarkan orang-orang saat hidup mereka akan berubah. Justru karena itulah Nara tahu—ini adalah hari yang tepat untuk mengambil keputusan.Ia bangun pagi dengan perasaan tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tidak ada sesak di dada, tidak ada rasa bersalah yang biasanya datang saat ia memikirkan masa lalu. Yang ada hanya kesadaran penuh bahwa apa pun pilihannya hari ini, ia siap menanggungnya.Nara bersiap dengan sederhana. Ia menatap dirinya di cermin lebih lama dari biasanya. Bukan untuk memastikan penampilan, melainkan untuk memastikan niat. Perempuan di hadapannya terlihat berbeda dari Nara yang dulu—lebih kokoh, lebih jujur, dan tidak lagi meminta izin untuk memilih dirinya sendiri.Pertemuan itu sudah disepakati. Tidak ada paksaan, tidak ada desakan. Mereka bertemu di tempat yang sama seperti sebelumnya, seolah menjadi lingkaran yang akhi

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 28 – Tidak Lagi Setengah Hati

    Hari-hari setelah pertemuan itu berlalu dengan cara yang berbeda bagi Nara. Tidak ada lagi pesan yang datang bertubi-tubi, tidak ada tekanan yang memaksanya memberi jawaban cepat. Justru ketenangan itulah yang membuat pikirannya bekerja lebih jujur. Dalam sunyi, Nara mulai benar-benar mendengar isi hatinya sendiri.Perubahan memang terjadi, dan Nara tidak menutup mata terhadap hal itu. Tanggung jawab yang dulu selalu dibebankan kepadanya kini perlahan dibagi. Hal-hal kecil yang selama ini dianggap sepele mulai diperhatikan. Tidak dengan cara berlebihan, tidak pula seperti pamer perubahan. Semua terlihat sederhana, namun nyata.Namun Nara tidak serta-merta merasa yakin.Ia sudah terlalu sering dikecewakan oleh perubahan sementara. Terlalu sering berharap, lalu jatuh di lubang yang sama. Karena itu, kali ini ia memilih berhati-hati. Ia tidak ingin keputusannya lahir dari rasa kasihan atau takut kehilangan.Malam itu, Nara duduk sendirian di kamar. Lampu sengaja diredup

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 27 – Bukti, Bukan Janji

    Setelah hari-hari penuh tekanan itu, Nara mulai menyadari satu hal penting: kata-kata, sejujur apa pun terdengarnya, tidak lagi cukup baginya. Ia sudah terlalu sering mendengar janji—diucapkan dengan nada serius, disertai wajah penuh penyesalan—namun selalu berakhir pada pola yang sama. Kali ini, jika memang ada perubahan, ia ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri. Pagi itu, Nara menerima pesan yang berbeda dari biasanya. ‘Aku tidak akan memintamu pulang sekarang. Tapi aku ingin membuktikan sesuatu.’ Nara membaca pesan itu berulang kali. Tidak ada bujukan, tidak ada tuntutan. Ia tidak langsung membalas. Ia belajar dari dirinya sendiri—tidak semua hal harus dijawab dengan cepat. Hari itu, Nara memilih menjalani kegiatannya seperti biasa. Ia pergi bekerja sambilan, menyelesaikan tugas-tugas kecil, lalu pulang dengan tubuh lelah namun pikiran lebih tertata. Saat sore menjelang, ponselnya kembali berbun

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 26 – Ketika Semua Ikut Bicara

    Setelah pertemuan itu, hidup Nara tidak serta-merta menjadi lebih ringan. Justru sebaliknya, seolah ada pintu lain yang terbuka dan menghadirkan suara-suara baru—lebih ramai, lebih menekan. Jika sebelumnya konflik hanya berputar di antara dua orang, kini lingkarannya melebar.Telepon pertama datang dari keluarga.“Nara, kamu ini sudah menikah. Masa pergi begitu saja?” suara di seberang terdengar tegas, nyaris tanpa jeda untuk bernapas. “Masalah rumah tangga itu wajar. Jangan dibesar-besarkan.”Nara mendengarkan dengan tenang. Dulu, kalimat seperti itu bisa membuatnya langsung merasa bersalah. Sekarang tidak lagi. Ia tahu perbedaan antara nasihat dan penghakiman.“Aku tidak membesar-besarkan,” jawab Nara pelan. “Aku hanya berhenti memendam.”Ucapan itu membuat percakapan berhenti sesaat. Tidak ada yang benar-benar siap dengan jawaban itu.Panggilan demi panggilan datang bergantian. Ada yang menyuruhnya kembali demi nama baik keluarga, ada yang menyinggung soal

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 25 – Di Antara Bertahan dan Melepaskan

    Hari-hari setelah itu terasa berjalan lebih lambat bagi Nara. Tekanan yang datang bersamaan tidak langsung menghilang, justru menetap seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun ia pergi. Pagi, siang, hingga malam, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang terus berulang—sampai kapan ia bisa bertahan dengan keputusan ini?Nara kembali ke rutinitas kecilnya. Bangun pagi, membersihkan rumah, memasak seadanya, lalu menghabiskan waktu dengan pekerjaan sambilan yang mulai ia tekuni. Ia terlihat baik-baik saja dari luar, bahkan lebih tenang. Namun di dalam dirinya, ada kegelisahan yang belum benar-benar selesai.Siang itu, pesan kembali masuk ke ponselnya.‘Aku tunggu jawabanmu. Sampai kapan kamu menghindar?’Nara menatap layar lama. Tidak ada kata kasar, tidak ada ancaman, tapi justru itulah yang membuatnya semakin berat. Ia tahu, menghindar terus-menerus bukan solusi. Cepat atau lambat, ia harus menghadapi semuanya secara langsung.Setelah berpikir cukup lama, N

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 24 – Tekanan yang Datang Bersamaan

    Hidup Nara tidak serta-merta menjadi tenang setelah ia pergi. Justru sebaliknya, ketenangan yang mulai ia rasakan perlahan diuji oleh tekanan yang datang dari berbagai arah, hampir bersamaan, seolah dunia tidak memberinya jeda untuk bernapas.Pagi itu, Nara sedang menyapu halaman kecil rumah kontrakannya ketika ponselnya bergetar. Nomor yang tidak asing, tapi selalu ia hindari. Ia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menghela napas dan mengangkatnya.“Assalamualaikum, Ra.”Suara itu terdengar hati-hati, seolah takut disalahkan. Ibunya.“Waalaikumsalam,” jawab Nara singkat.“Kamu sehat?” tanya sang ibu, basa-basi yang terdengar kaku.“Alhamdulillah.”Ada jeda. Hening yang terasa berat.“Kapan kamu pulang?” akhirnya ibunya bertanya.Nara memejamkan mata. Pertanyaan itu selalu datang lebih cepat daripada yang ia harapkan. Pulang ke mana? Ke rumah orang tuanya, atau ke rumah yang sudah lama tidak lagi terasa seperti rumah?“Belum tahu, Bu.”

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status