เข้าสู่ระบบ
“Aku hanya menikahimu karena nenek.”
Kalimat itu terucap dingin, tanpa sedikit pun rasa bersalah, tepat setelah akad nikah kami selesai. Tidak ada senyum, tidak ada kebahagiaan di wajah pria yang kini resmi menjadi suamiku. Aku menunduk, menatap cincin di jariku. Cincin emas sederhana itu terasa lebih berat daripada seluruh beban hidupku selama ini. “Aku tahu,” jawabku pelan. Sejak awal aku memang sudah tahu. Pernikahan ini bukan tentang cinta, bukan tentang kebahagiaan, apalagi tentang masa depan bersama. Ini hanya kesepakatan yang disamarkan sebagai ikatan suci. Aku, Nara, menikah demi menyelamatkan keluargaku dari kehancuran. Dan dia—pria itu—menikah karena tekanan dari seorang nenek yang sangat ia hormati. Di hadapan tamu, kami tampak seperti pasangan sempurna. Pria itu tampan, berwibawa, dan dikenal sebagai seorang CEO muda yang dingin dan sulit didekati. Sementara aku berdiri di sisinya dengan gaun pengantin putih, tersenyum palsu, menyembunyikan gemetar di dalam dada. Begitu pintu kamar pengantin tertutup, senyum itu lenyap. Ia berdiri beberapa langkah dariku, melepaskan jasnya dengan gerakan kaku. Tatapannya kosong, seolah aku hanyalah perabot yang terpaksa ada di ruangan itu. “Jangan salah paham,” katanya lagi. “Posisimu hanya istri di atas kertas. Jangan berharap apa pun dariku.” Aku mengangguk. Lagi-lagi hanya mengangguk. Malam itu berlalu tanpa sentuhan. Aku tidur di sisi ranjang dengan tubuh kaku, sementara ia membelakangiku, menjaga jarak seolah aku adalah sesuatu yang harus dihindari. Tangisku tertahan di balik bantal. Aku bertanya-tanya, apakah semua pernikahan terasa sesakit ini di malam pertamanya. Hari-hari setelah itu berjalan seperti rutinitas tanpa makna. Kami tinggal di rumah besar yang megah, tapi rasanya lebih dingin daripada rumah kontrakan kecil tempatku dibesarkan. Ia berangkat pagi, pulang larut. Jika kami bertemu, itu hanya untuk berbicara seperlunya. “Jangan menyentuh barang-barangku.” “Jangan ikut campur urusan kantorku.” “Jangan berpikir kau punya hak apa pun di rumah ini.” Setiap kalimatnya seperti pisau kecil yang perlahan mengikis hatiku. Aku berusaha menjadi istri yang baik. Aku memasak, membersihkan rumah, dan memastikan semuanya rapi. Aku menunggu di meja makan meski sering kali makanan itu dingin tanpa pernah disentuh olehnya. Kadang aku berharap, mungkin suatu hari ia akan melihatku. Mungkin suatu hari, sikap dinginnya akan mencair. Namun kenyataan selalu lebih kejam dari harapan. Aku sering mendengar bisikan para pelayan. “Istri muda itu… katanya hanya perempuan yang dikasihani.” “CEO itu jelas tidak mencintainya.” “Kasihan, tapi bodoh. Bertahan di pernikahan seperti itu.” Aku pura-pura tidak mendengar, meski setiap kata menusuk telingaku. Suatu malam, aku tanpa sengaja mendengar percakapan teleponnya dari balik pintu. “Tenang saja,” katanya dengan nada datar. “Pernikahan itu hanya formalitas. Tidak ada artinya.” Hatiku terasa diremas. Saat itulah aku sadar, aku tidak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Aku hanya solusi sementara dalam hidupnya. Hari demi hari, aku kehilangan diriku sendiri. Aku mulai bertanya-tanya, sampai kapan aku sanggup bertahan dalam hubungan yang hanya melukaiku. Namun aku tetap bertahan. Bukan karena aku bodoh. Melainkan karena aku berharap. Sampai suatu hari, harapan itu hancur berkeping-keping. Saat aku berdiri di depan cermin, menatap wajahku sendiri yang terlihat lelah dan asing, aku akhirnya mengerti satu hal: Aku tidak bisa terus menunggu seseorang yang tidak pernah memilihku. Dan sejak hari itu, tanpa ia sadari, aku mulai mempersiapkan diriku untuk pergi. Pergi tanpa membawa apa pun. Kecuali harga diri yang hampir hilang.Hari itu datang tanpa tanda istimewa. Tidak ada hujan, tidak ada langit mendung, tidak juga firasat aneh yang sering digambarkan orang-orang saat hidup mereka akan berubah. Justru karena itulah Nara tahu—ini adalah hari yang tepat untuk mengambil keputusan.Ia bangun pagi dengan perasaan tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tidak ada sesak di dada, tidak ada rasa bersalah yang biasanya datang saat ia memikirkan masa lalu. Yang ada hanya kesadaran penuh bahwa apa pun pilihannya hari ini, ia siap menanggungnya.Nara bersiap dengan sederhana. Ia menatap dirinya di cermin lebih lama dari biasanya. Bukan untuk memastikan penampilan, melainkan untuk memastikan niat. Perempuan di hadapannya terlihat berbeda dari Nara yang dulu—lebih kokoh, lebih jujur, dan tidak lagi meminta izin untuk memilih dirinya sendiri.Pertemuan itu sudah disepakati. Tidak ada paksaan, tidak ada desakan. Mereka bertemu di tempat yang sama seperti sebelumnya, seolah menjadi lingkaran yang akhi
Hari-hari setelah pertemuan itu berlalu dengan cara yang berbeda bagi Nara. Tidak ada lagi pesan yang datang bertubi-tubi, tidak ada tekanan yang memaksanya memberi jawaban cepat. Justru ketenangan itulah yang membuat pikirannya bekerja lebih jujur. Dalam sunyi, Nara mulai benar-benar mendengar isi hatinya sendiri.Perubahan memang terjadi, dan Nara tidak menutup mata terhadap hal itu. Tanggung jawab yang dulu selalu dibebankan kepadanya kini perlahan dibagi. Hal-hal kecil yang selama ini dianggap sepele mulai diperhatikan. Tidak dengan cara berlebihan, tidak pula seperti pamer perubahan. Semua terlihat sederhana, namun nyata.Namun Nara tidak serta-merta merasa yakin.Ia sudah terlalu sering dikecewakan oleh perubahan sementara. Terlalu sering berharap, lalu jatuh di lubang yang sama. Karena itu, kali ini ia memilih berhati-hati. Ia tidak ingin keputusannya lahir dari rasa kasihan atau takut kehilangan.Malam itu, Nara duduk sendirian di kamar. Lampu sengaja diredup
Setelah hari-hari penuh tekanan itu, Nara mulai menyadari satu hal penting: kata-kata, sejujur apa pun terdengarnya, tidak lagi cukup baginya. Ia sudah terlalu sering mendengar janji—diucapkan dengan nada serius, disertai wajah penuh penyesalan—namun selalu berakhir pada pola yang sama. Kali ini, jika memang ada perubahan, ia ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri. Pagi itu, Nara menerima pesan yang berbeda dari biasanya. ‘Aku tidak akan memintamu pulang sekarang. Tapi aku ingin membuktikan sesuatu.’ Nara membaca pesan itu berulang kali. Tidak ada bujukan, tidak ada tuntutan. Ia tidak langsung membalas. Ia belajar dari dirinya sendiri—tidak semua hal harus dijawab dengan cepat. Hari itu, Nara memilih menjalani kegiatannya seperti biasa. Ia pergi bekerja sambilan, menyelesaikan tugas-tugas kecil, lalu pulang dengan tubuh lelah namun pikiran lebih tertata. Saat sore menjelang, ponselnya kembali berbun
Setelah pertemuan itu, hidup Nara tidak serta-merta menjadi lebih ringan. Justru sebaliknya, seolah ada pintu lain yang terbuka dan menghadirkan suara-suara baru—lebih ramai, lebih menekan. Jika sebelumnya konflik hanya berputar di antara dua orang, kini lingkarannya melebar.Telepon pertama datang dari keluarga.“Nara, kamu ini sudah menikah. Masa pergi begitu saja?” suara di seberang terdengar tegas, nyaris tanpa jeda untuk bernapas. “Masalah rumah tangga itu wajar. Jangan dibesar-besarkan.”Nara mendengarkan dengan tenang. Dulu, kalimat seperti itu bisa membuatnya langsung merasa bersalah. Sekarang tidak lagi. Ia tahu perbedaan antara nasihat dan penghakiman.“Aku tidak membesar-besarkan,” jawab Nara pelan. “Aku hanya berhenti memendam.”Ucapan itu membuat percakapan berhenti sesaat. Tidak ada yang benar-benar siap dengan jawaban itu.Panggilan demi panggilan datang bergantian. Ada yang menyuruhnya kembali demi nama baik keluarga, ada yang menyinggung soal
Hari-hari setelah itu terasa berjalan lebih lambat bagi Nara. Tekanan yang datang bersamaan tidak langsung menghilang, justru menetap seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun ia pergi. Pagi, siang, hingga malam, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang terus berulang—sampai kapan ia bisa bertahan dengan keputusan ini?Nara kembali ke rutinitas kecilnya. Bangun pagi, membersihkan rumah, memasak seadanya, lalu menghabiskan waktu dengan pekerjaan sambilan yang mulai ia tekuni. Ia terlihat baik-baik saja dari luar, bahkan lebih tenang. Namun di dalam dirinya, ada kegelisahan yang belum benar-benar selesai.Siang itu, pesan kembali masuk ke ponselnya.‘Aku tunggu jawabanmu. Sampai kapan kamu menghindar?’Nara menatap layar lama. Tidak ada kata kasar, tidak ada ancaman, tapi justru itulah yang membuatnya semakin berat. Ia tahu, menghindar terus-menerus bukan solusi. Cepat atau lambat, ia harus menghadapi semuanya secara langsung.Setelah berpikir cukup lama, N
Hidup Nara tidak serta-merta menjadi tenang setelah ia pergi. Justru sebaliknya, ketenangan yang mulai ia rasakan perlahan diuji oleh tekanan yang datang dari berbagai arah, hampir bersamaan, seolah dunia tidak memberinya jeda untuk bernapas.Pagi itu, Nara sedang menyapu halaman kecil rumah kontrakannya ketika ponselnya bergetar. Nomor yang tidak asing, tapi selalu ia hindari. Ia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menghela napas dan mengangkatnya.“Assalamualaikum, Ra.”Suara itu terdengar hati-hati, seolah takut disalahkan. Ibunya.“Waalaikumsalam,” jawab Nara singkat.“Kamu sehat?” tanya sang ibu, basa-basi yang terdengar kaku.“Alhamdulillah.”Ada jeda. Hening yang terasa berat.“Kapan kamu pulang?” akhirnya ibunya bertanya.Nara memejamkan mata. Pertanyaan itu selalu datang lebih cepat daripada yang ia harapkan. Pulang ke mana? Ke rumah orang tuanya, atau ke rumah yang sudah lama tidak lagi terasa seperti rumah?“Belum tahu, Bu.”







