Home / Romansa / Saat Istri Bodoh Itu Pergi / Bab 20 – Keputusan yang Tenang

Share

Bab 20 – Keputusan yang Tenang

Author: Yoga
last update Last Updated: 2026-01-11 20:00:03

Malam setelah pertemuan itu terasa lebih panjang bagi Nara.

Ia berbaring menghadap dinding, mata terbuka, pikiran berjalan pelan namun pasti. Tidak ada adegan yang berputar cepat di kepalanya, tidak ada emosi meledak-ledak. Yang ada hanya satu perasaan yang selama ini jarang ia rasakan: jernih.

Pertemuan singkat di minimarket tadi sore tidak membuatnya ingin kembali, tapi juga tidak membuatnya semakin menjauh. Itu justru menegaskan satu hal penting—ia mampu berdiri di hadapan masa lalu tanpa kehilangan kendali.

Dan itu berarti sesuatu.

Nara bangun sebelum alarm berbunyi. Ia duduk, menarik napas panjang, lalu bangkit dengan tekad yang sunyi. Hari ini, ia ingin mengambil keputusan. Bukan keputusan besar yang mengubah dunia, melainkan keputusan yang jujur pada dirinya sendiri.

Ia membuka lemari, memilih pakaian sederhana, lalu merapikan rambut. Tidak ada usaha berlebihan untuk terlihat baik. Ia ingin menjadi dirinya sendiri, apa adanya.

Ponselnya tergeletak di meja. Ia menatapnya beberap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 29 – Pilihan yang Tidak Bisa Ditarik Kembali

    Hari itu datang tanpa tanda istimewa. Tidak ada hujan, tidak ada langit mendung, tidak juga firasat aneh yang sering digambarkan orang-orang saat hidup mereka akan berubah. Justru karena itulah Nara tahu—ini adalah hari yang tepat untuk mengambil keputusan.Ia bangun pagi dengan perasaan tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tidak ada sesak di dada, tidak ada rasa bersalah yang biasanya datang saat ia memikirkan masa lalu. Yang ada hanya kesadaran penuh bahwa apa pun pilihannya hari ini, ia siap menanggungnya.Nara bersiap dengan sederhana. Ia menatap dirinya di cermin lebih lama dari biasanya. Bukan untuk memastikan penampilan, melainkan untuk memastikan niat. Perempuan di hadapannya terlihat berbeda dari Nara yang dulu—lebih kokoh, lebih jujur, dan tidak lagi meminta izin untuk memilih dirinya sendiri.Pertemuan itu sudah disepakati. Tidak ada paksaan, tidak ada desakan. Mereka bertemu di tempat yang sama seperti sebelumnya, seolah menjadi lingkaran yang akhi

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 28 – Tidak Lagi Setengah Hati

    Hari-hari setelah pertemuan itu berlalu dengan cara yang berbeda bagi Nara. Tidak ada lagi pesan yang datang bertubi-tubi, tidak ada tekanan yang memaksanya memberi jawaban cepat. Justru ketenangan itulah yang membuat pikirannya bekerja lebih jujur. Dalam sunyi, Nara mulai benar-benar mendengar isi hatinya sendiri.Perubahan memang terjadi, dan Nara tidak menutup mata terhadap hal itu. Tanggung jawab yang dulu selalu dibebankan kepadanya kini perlahan dibagi. Hal-hal kecil yang selama ini dianggap sepele mulai diperhatikan. Tidak dengan cara berlebihan, tidak pula seperti pamer perubahan. Semua terlihat sederhana, namun nyata.Namun Nara tidak serta-merta merasa yakin.Ia sudah terlalu sering dikecewakan oleh perubahan sementara. Terlalu sering berharap, lalu jatuh di lubang yang sama. Karena itu, kali ini ia memilih berhati-hati. Ia tidak ingin keputusannya lahir dari rasa kasihan atau takut kehilangan.Malam itu, Nara duduk sendirian di kamar. Lampu sengaja diredup

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 27 – Bukti, Bukan Janji

    Setelah hari-hari penuh tekanan itu, Nara mulai menyadari satu hal penting: kata-kata, sejujur apa pun terdengarnya, tidak lagi cukup baginya. Ia sudah terlalu sering mendengar janji—diucapkan dengan nada serius, disertai wajah penuh penyesalan—namun selalu berakhir pada pola yang sama. Kali ini, jika memang ada perubahan, ia ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri. Pagi itu, Nara menerima pesan yang berbeda dari biasanya. ‘Aku tidak akan memintamu pulang sekarang. Tapi aku ingin membuktikan sesuatu.’ Nara membaca pesan itu berulang kali. Tidak ada bujukan, tidak ada tuntutan. Ia tidak langsung membalas. Ia belajar dari dirinya sendiri—tidak semua hal harus dijawab dengan cepat. Hari itu, Nara memilih menjalani kegiatannya seperti biasa. Ia pergi bekerja sambilan, menyelesaikan tugas-tugas kecil, lalu pulang dengan tubuh lelah namun pikiran lebih tertata. Saat sore menjelang, ponselnya kembali berbun

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 26 – Ketika Semua Ikut Bicara

    Setelah pertemuan itu, hidup Nara tidak serta-merta menjadi lebih ringan. Justru sebaliknya, seolah ada pintu lain yang terbuka dan menghadirkan suara-suara baru—lebih ramai, lebih menekan. Jika sebelumnya konflik hanya berputar di antara dua orang, kini lingkarannya melebar.Telepon pertama datang dari keluarga.“Nara, kamu ini sudah menikah. Masa pergi begitu saja?” suara di seberang terdengar tegas, nyaris tanpa jeda untuk bernapas. “Masalah rumah tangga itu wajar. Jangan dibesar-besarkan.”Nara mendengarkan dengan tenang. Dulu, kalimat seperti itu bisa membuatnya langsung merasa bersalah. Sekarang tidak lagi. Ia tahu perbedaan antara nasihat dan penghakiman.“Aku tidak membesar-besarkan,” jawab Nara pelan. “Aku hanya berhenti memendam.”Ucapan itu membuat percakapan berhenti sesaat. Tidak ada yang benar-benar siap dengan jawaban itu.Panggilan demi panggilan datang bergantian. Ada yang menyuruhnya kembali demi nama baik keluarga, ada yang menyinggung soal

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 25 – Di Antara Bertahan dan Melepaskan

    Hari-hari setelah itu terasa berjalan lebih lambat bagi Nara. Tekanan yang datang bersamaan tidak langsung menghilang, justru menetap seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun ia pergi. Pagi, siang, hingga malam, pikirannya dipenuhi satu pertanyaan yang terus berulang—sampai kapan ia bisa bertahan dengan keputusan ini?Nara kembali ke rutinitas kecilnya. Bangun pagi, membersihkan rumah, memasak seadanya, lalu menghabiskan waktu dengan pekerjaan sambilan yang mulai ia tekuni. Ia terlihat baik-baik saja dari luar, bahkan lebih tenang. Namun di dalam dirinya, ada kegelisahan yang belum benar-benar selesai.Siang itu, pesan kembali masuk ke ponselnya.‘Aku tunggu jawabanmu. Sampai kapan kamu menghindar?’Nara menatap layar lama. Tidak ada kata kasar, tidak ada ancaman, tapi justru itulah yang membuatnya semakin berat. Ia tahu, menghindar terus-menerus bukan solusi. Cepat atau lambat, ia harus menghadapi semuanya secara langsung.Setelah berpikir cukup lama, N

  • Saat Istri Bodoh Itu Pergi   Bab 24 – Tekanan yang Datang Bersamaan

    Hidup Nara tidak serta-merta menjadi tenang setelah ia pergi. Justru sebaliknya, ketenangan yang mulai ia rasakan perlahan diuji oleh tekanan yang datang dari berbagai arah, hampir bersamaan, seolah dunia tidak memberinya jeda untuk bernapas.Pagi itu, Nara sedang menyapu halaman kecil rumah kontrakannya ketika ponselnya bergetar. Nomor yang tidak asing, tapi selalu ia hindari. Ia menatap layar cukup lama sebelum akhirnya menghela napas dan mengangkatnya.“Assalamualaikum, Ra.”Suara itu terdengar hati-hati, seolah takut disalahkan. Ibunya.“Waalaikumsalam,” jawab Nara singkat.“Kamu sehat?” tanya sang ibu, basa-basi yang terdengar kaku.“Alhamdulillah.”Ada jeda. Hening yang terasa berat.“Kapan kamu pulang?” akhirnya ibunya bertanya.Nara memejamkan mata. Pertanyaan itu selalu datang lebih cepat daripada yang ia harapkan. Pulang ke mana? Ke rumah orang tuanya, atau ke rumah yang sudah lama tidak lagi terasa seperti rumah?“Belum tahu, Bu.”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status