LOGIN"Yunita, kamu di dalem, Nduk?" Suara ketukan Ibu mertua menghentikan tangisanku.
Tengah malam aku menangis dalam kamar mandi yang sempit. Sambil ngelus-elus tembok yang catnya sudah memudar dan mengelupas. Meratapi nasib hidupku yang tragis. Masa depanku benar-benar hancur. Kaya singkong kukus yang ditumbuk. Masih mending singkong, setelah ditumbuk, ditambahi gula pasir dan sedikit garam sama parutan kelapa jadi getuk. Dimakan enak. Dijual juga laku. Lah aku? Entah mau jadi apa setelah ini. Tanpa aba-aba tanpa briefing apalagi latihan, tahu-tahu jadi istri. Niatnya dandan cantik-cantik buat wisuda dan pelepasan SMA. Malah dijadikan manten. Padahal HP udah full baterai. Siap buat memuat foto-foto wisuda dan dipamerin ke media sosial. Tapi malah gagal total gara-gara jadi mempelai dadakan. Mana maharnya cuma lima ratus ribuan. Cocok lah kalo dijadikan judul cerita Mempelai Dadakan Lima Ratusan. Mending kalau dapet suami spek oppa-oppa Turki. Lah ini kaya kera sakti. Ah, kera sakti mah ganteng. Aku juga mau kalo mukanya kaya Sun Go Kong. Biarpun wajahnya penuh bulu, tapi tetap ganteng. Sedangkan laki-laki yang menikahiku itu, udah rambutnya gondrong, brewoknya juga gondrong, jangan-jangan itunya juga gondrong. Hiii ... Aku bergidik membayangkan. "Tok ... Tok ... Tok ...." Suara ketukan kembali terdengar dengan tempo lebih cepat. "Ini yang di dalem siapa, si? Nita apa demit?" "Nggih, Mbok!" jawabku cepat sambil keluar dari kamar mandi. Khawatir mertuaku nggak tahan dan pintunya didobrak, terus aku diseret keluar kaya mertua jahat di tv. "Kamu beneran demit, demit yang nyamar jadi Nita?" tanyanya saat aku membuka pintu kamar mandi. Dia meneliti tubuhku sambil komat-kamit entah baca apa. "Cing ceripit gondal-gandil kejepit, setan ora doyan demit ora ndulit, lungaha ngibrit nang ngisor wit!" Wanita itu membaca mantra lalu mengambil air segelas dan meminumnya kemudian .... Byuur ...!" Dia menyemburkan air itu ke arahku tapi aku buru-buru mengelak sehingga air semburannya mengenai tembok dan menciprat lagi ke arahnya. "Blah ... dene ora kena?" Ibu mengibaskan tangannya seperti gerakan menangkis percikan air yang mengenai wajahnya. Hidungnya lalu kembang kempis, sepertinya blenger dengan bau jigongnya sendiri. "Mbo'e nopo si?" (Ibu ngapain si?) "Lah jare demit? Tak wacakna mantra dene ora mempan, ngapusi ya deke?" (La katanya demit? Kok dibacakan mantra nggak mempan, bohong kamu, ya) Aku cuma bisa nyengir melihat tingkah laku ibu mertua. Kupikir wanita itu bakalan melotot karena lama menungguku. "Lagian kamu ngapain si nangis malem-malem di kamar mandi lagi, dikira setan nangis." "Sakit, ya?" tanyanya karena aku nggak juga ngejawab, cuma nunduk aja. Ibu mertua menatapku perhatian. Entah kenapa, diperlakukan seperti itu aku jadi nangis lagi sambil menghambur ke pelukannya. Sepertinya wanita di hadapanku ini tahu isi hatiku Rasanya memang sesakit itu dijadikan tumbal oleh keluarga sendiri. Seharusnya Mbak Santi yang dinikahkan dengan anak dari juragannya Bapak. Dia juga udah setuju mau menikah dengan laki-laki itu. Tapi dia malah minggat yang membuatku dijadikan penggantinya. Awalnya aku menolak keras. Aku masih mau hidup melajang. Menjadi karyawan pabrik supaya bisa membahagiakan diri sendiri. Bebas jajan pakai uang sendiri tanpa harus diomeli dulu sama Ibu. Tapi Bapak memohon padaku. Dia sudah berhutang budi pada keluarga Pak Basuki. Bapak pernah mengalami musibah. Dia pernah menabrak seseorang sampai kakinya patah. Saat itu bapak sedang perjalanan mengirim daun bawang ke Semarang. Tapi kecelakaan lalu lintas terjadi. Dia bertabrakan dengan pengendara sepeda motor sampai pengendaranya terluka parah. Pak Basuki sebagai juragannya sekaligus teman dekat Bapak, bertanggung jawab penuh. Dia menanggung biaya perawatan korban sampai sembuh total. Juga memberikan bantuan sesuai permintaan keluarga agar mereka tidak memperkarakan ke polisi. Pak Basuki juga tidak memotong gaji Bapak. Itu sebabnya Bapak merasa sangat berhutang budi. Saat Pak Basuki bercerita tentang anaknya yang belum mau menikah, padahal usianya sudah tiga puluh tiga tahun, Bapak menawarkan Mbak Santi untuk dijodohkan dengannya. Sayangnya Mbak Santi ingkar janji dan Bapak harus menyodorkan aku untuk dijadikan tutup wirang. . "Sabar, ya!" Ibu mengelus pundakku. "Pengalaman pertama memang menyakitkan, tapi nanti lama-lama terbiasa kok, malah kamu bisa ketagihan" ujarnya sambil mengedipkan sebelah mata. "Maksudnya?" Aku melepas pelukan. Perasaanku mulai nggak enak nih. "Nggak usah malu-malu, kamu pasti tadi sakit kan pas lagi pipis makanya nangis, apa Ipul mompanya kekencengen? Awas aja nanti tak marahin, belom pernah ngelewatin jalan anyar main seruduk aja, eh ada yang lecet ndak? Kamu berdarah?" "Mbok--" "Mbo'e juga dulu gitu, tapi kamu tenang aja nanti Ipul tak bilangin biar pelan-pelan kalo mau lagi." "Huwaaa ...." Aku menangis semakin kencang. Kenapa yang dibahas Ibu malah begituan.Sepertinya aku sudah benar-benar pulih. Nafsu makanku bertambah. Semenjak dipanggilkan tukang pijat, badanku kerasa enakan. Perutku nggak kembung lagi. Meskipun jadi bolak-balik buang nahkn. Waktu dikerokin juga aku sampe jerit-jerit. Mana Kang Ipul disuruh nungguin sama tukang pijetnya di dalem buat pegangin aku. Kan keenakan dia lihatin aku. "Jangan sama Kang Ipul, Mbok, malu aku gak pake baju gini," ucapku pada si tukang pijat saat dia mau manggil Kang Ipul. "Lah, wong bojone kok malu, kan nanti bisa langsung plus-plus!" Wanita itu berkedip genit. Bikin aku jadi merinding. Ngeri banget kayaknya orang ini. "Pokoknya aku nggak mau! Kalo dia disuruh masuk mending aku nggak jadi pijet!" Aku bersikeras. Akhirnya wanita itu mengalah. Akupun harus tahan waktu dia kerokin biar Kang Ipul nggak disuruh megangin. ."Wes mari temenan, Nduk?" (udah sembuh beneran?) tanya Ibu mertua ramah. Aku yang ngerasa rikuh karena tiduran terus, akhirnya sok-sok an nyuci piring. Itung-itung buat pencitr
Kepalaku rasanya semakin berat. Perutku juga tambah sakit. Badanku menggigil. Kenapa ini? Mau bangun kok susah. Ini juga di dahi kaya ada benda, sepertinya kompres. "Mak ...." Perlahan kubuka mata sambil memanggil Mamak. Pasti wanita itu yang merawatku. Jadi sekarang aku di rumah. Semua yang kulewati pasti cuma mimpi. Mataku kini terbuka sepenuhnya. Pemandangan di depanku terlihat buram karena kututupan belek. Samar-samar kulihat bayangan Kang Ipul duduk sambil meletakkan kepalanya di sebelahku. Tunggu, ini pasti beleknya yang bikin aku kaya lihat dia. Kan ini di rumah Mamak sama Bapak. "Oh, kamu udah bangun." Suara berat itu bikin aku pengen semaput aja. "Kamu ngapain disini?" tanyaku ketus. Aku mau ngomong pake nada Nikki Minaj feat Celine dion, biar keras dan banter, tapi tenagaku gak ada. Jadinya yang keluar suara lirih, kaya cewek centil yang dibikin-bikin lemah gemulai. Kampret emang!Lebih kampret lagi dia diem aja sambil ngambil lap yang dikompreskan di dahiku dan sialny
Aku berkali-kali menggedor mobil agar mereka dengar. Sayangnya lagu Denny Caknan yang distel kencang membuat mereka terlena, sampai nggak denger ada cewek cantik minta tolong. Akhirnya aku pasrah sama berdoa. Semoga masnya yang nyupir ganteng, kaya dan sholeh. Jadi lumayan lah kalau diculik nggak rugi aku. Setelah beberapa menit berlalu, mobilpun berhenti. Terdengar suara gerendel besi dibuka. Aku bersiap. Nanti mau alasan apa pokoknya yang penting turun dulu. "Oh, nggih-nggih." Sepertinya laki-laki itu ada yang memanggil, sehingga dia pergi. Aku mendorong pintu perlahan dan bersyukur sudah bisa dibuka. Cepat-cepat aku turun, meski badan sempoyongan karena mabuk daratan. Tadi sempat muntah di dalam sana. Untung cuma sedikit. Aku terpaku menatap rumah bangunan model kuno dengan halaman luas. Kok ini rumah ... mertua. Kenapa aku malah disini? Jadi capek-capek kabur sampe mual muntah ternyata balik kesini lagi?Gusti Allah ... tolong.."Nahh ... itu garwone, Kang." Saat aku sedang m
"Kamu anak SMA 3 kan?" tanyanya sambil mengingat-ingat. Aku menggaruk tengkuk sambil cengar-cengir. Kulihat pantulan wajahku di cermin lemari, ternyata pipiku hitam-hitam kena pantat wajan. Ya ampun! Bukannya skin care an malah make up pake arang. Kupikir tadi cuma nyenggol doang nggak masalah. Tapi ternyata disini sebagian masih memasak menggunakan tungku, makanya para pantat wajan hitam. Kayaknya besok aku jualan pemutih aja. "Kalian saling kenal?" Om Ipul terlihat heran. "Nggak kenal sih, tapi kayaknya kita pernah ketemu bener kan kamu anak SMA 3?"Aku hanya menganggukan kepala. Kita Emang pernah ketemu pada saat memalukan. Aku menolak Ingat masa itu, tapi Gadis itu malah nyerocos cerita sama kakaknya. Pertama ketemu waktu ribut sama anak SMK Bakti. Waktu itu aku cuma ikut-ikutan aja. Temanku yang bernama Sari rebutan cowok sama anak SMK Bakti. Dia mengajak teman-temannya untuk bertemu dengan perempuan yang diduga pacar dari pacarnya. Aku ingat dia karena dia yang paling mendo
"Aaa ...." Aku ikut lompat dari semak-semak dan lari ngibrit. Mahluk hitam dan doreng itu juga sama-sama menjerit. Akhirnya aku kembali lagi ke rumah mertua. "Dasar kucing kampret!" umpatku sambil ngos-ngosan. Kupikir setan jenis apa, ternyata setan anabul. Kalau aja aku nggak kaget udah kupentung mereka. Dengan napas tersengal, aku membuka pintu lirih. Sambil celingukan aku masuk rumah takut ketahuan orang."Nggak jadi kabur?" Sampai kamar, Ipul sudah duduk sambil menatapku datar. Sial! Malah ketahuan sama dia. "Nggak!" jawabku ketus. Dia hanya mengangkat bibir sebelah seperti mengejekku. Laki-laki itu lalu mengendus-endus sekitarnya. Sepertinya dia mencium sesuatu. "Kok pesing ya!" Dia mengendus selimut dan temat tidurnya. Aku segera ngacir ke kamar mandi. Jangan sampai aku ketahuan ngompol. .Mataku memicing karena terasa beban berat di perut. Aku lalu menjerit melihat wajah penuh bulu milik Ipul. Dia terkejut dan bangun. Akupun segera bangun dan mengibaskan tangan pada bajuk
"Kenapa si, Mbok, malem-malem ribut? Laki-laki bujang lapuk datang dari arah kamar. Dia sepertinya hendak buang hajat juga. Aku sebel banget lihat mukanya yang gondrong itu."Nah ini dia orangnya!" Ibu mertua mendekati anaknya. "Kamu itu lagi ngelewati Jalan Anyar pelan-pelan hati-hati kasihan itu sih Yunita kesakitan." "Ha?" Laki-laki itu terlihat bingung dengan ucapan ibunya. Dia melongo sambil garuk-garuk kepala."Maksude apa ya, Mbok?" "Ck, pura-pura polos lagi, itu Yunita sampe nangis-nangis karena sakit pas pipis, kamu kekencengen mesti mompanya ya? Seharunya pelan-pelan, malam pertama itu emang enak, nyenengin bikin ketagihan, tapi harus lihat-lihat juga kondisi bojone, masih kecil loh, mesti suwek itunya!" Ibu mertua merepet dengan nada Nikki Minaj. Sementara laki-laki brewokan itu seperti sudah sadar kemana arah pembicaraannya.Dia menatapku heran. Seperti lagi bilang 'aku nggak ngapa-ngapain'. "Yawes sana ajakin Yunita masuk, dielus-elus apa ditiupin yang sakit, kalo ma







