Se connecter
"Santi mana, Santi nggak ada!"
Terdengar suara gaduh diiringi suara hentakan kaki kesana-sini. Aku yang sedang dirias di kamar hanya menoleh sebentar lalu kembali diam agar riasan tidak rusak. "Mbakmu nggak disini, Yun?" Pintu kamar dibuka dari luar. Seraut wajah wanita yang melahirkanku muncul dengan wajah khawatir. "Tadi udah selesai make up terus keluar, Bu." Mbak Baryati--sang perias yang menjawab. Aku dilarang bicara olehnya karena belum selesai dirias. "Kok nggak ada si, ini calon besan udah mau sampe bentar lagi, dia nggak ada bilang mau kemana gitu?" "Mungkin lagi di belakang, cari angin, biasa calon manten kan emang suka grogi," jawab Mbak Bar lagi. Ibuku lalu keluar kamar. Sambil bergumam entah apa. Di luar orang-orang terdengar berisik memanggil nama kakakku. Lebay banget nggak si. Mana mungkin dia kabur di acara pernikahannya. Dia sendiri sudah setuju menikah dengan juragannya Bapak yang katanya banyak uang. Masa mau membuang kesempatan begitu saja. "Kenapa si itu, bikin gagal fokus aja." Mbak Bar bergumam sambil mengoleskan blush on ke pipiku. Hari ini aku akan perpisahan sekolah. Bertepatan dengan ijab kabul Mbak Santi--kakak perempuanku satu-satunya. Awalnya kedua orang tuaku meminta agar aku mengalah. Tidak usah datang perpisahan karena mau menghormati acara sakral kakakku. Selain itu mereka juga pastinya tidak bisa hadir karena harus mendampingi Mbak Santi. "Nggak apa-apa, Pak, Mak, nanti aku biar sama bapak ibunya Rina, kan mereka berdua datang semua ke acara, jadi bisa aku pinjam salah satu," jawabku waktu itu. Ibu tetap terlihat berat. Dia merasa kurang pantas jika di acara ijab kabul keluarganya tidak lengkap. Tapi aku tetap ngeyel. Ini momen penting buatku. Perpisahan SMA yang nggak akan bisa diulang lagi, masa mau aku korbanin. Lagi pula sejak dulu aku sudah banyak ngalah sama Mbak Santi. Masa sekarang harus ngalah lagi. Lagipula cuma ijab kabul di KUA buat apa ikut segala. . Selesai make up aku bersiap dengan tas jinjing berisi ponsel dan uang saku. Melihat pantulan wajahku di cermin yang ternyata manglingi kalau dirias begini. Sang perias juga terlihat puas dengan hasilnya. "Ternyata nggak kalah jauh sama Luna Maya kalo didandani begini. Ah, jadi siap dapet suami kaya maxime, kalo nggak maxime, minime juga gak apalah asal gantengnya mirip," gumamku sendiri. Kulihat Mbak Bar senyum-senyum di belakangku. Aku nyengir saat tatapan kami bertemu dari pantulan cermin. Wanita itu geleng-geleng kepala kaya boneka di jam dinding yang bawa tasbih itu. "Oke siap! Aku otewe ke rumahmu ya, Rin," ucapku pada Rina di telepon. "Yun, aku udah berangkat duluan, kata bapakmu suruh tinggal aja nanti kamu berangkat sama bapakmu." "Hah, masa sih, tapi Bapak nggak bilang apa-apa sama aku, Rin." "Ya nggak tahu, kamu tanya sama bapakmu aja, udah ya, aku dah di jalan, nanti ketemu disana, bye!" Sambungan terputus. Aku masih melongo. Kok aneh. Lebih baik kutemui bapak aja dari pada bengong kaya sapi. Akupun membuka pintu dan terkejut karena di depan sudah ada dua orang yang siap masuk. "Mamak?" "Nah ini dia orangnya!" ucap seorang wanita yang bersama Ibu. "Kenapa ini?" Perasaanku mulai nggak enak, antara pingin sate atau seblak. "Tapi dia adiknya Santi, Mbakyu!" sergah Ibu. "Nggak apa-apalah adiknya bisa jadi serepan." "Eh serepan apa ini, aku bukan ban serep," elakku. "Wong Santinya udah minggat, jadi nggak apa-apa digantiin adiknya, la wes ayu kaya ngene, ayo, Nduk, ndang mangkat KUA guli Mbojo!" (la sudah cantik begini, ayo, nduk, kita ke KUA langsung nikah") Wanita itu lalu menarik tanganku. "Hah, tapi kan aku dandan buat wisuda, bukan buat nikah." "Wes nggak apa-apa, nggak usah wisuda-wisudaan segala, besok aja wisuda beneran kalo dah kuliah!" "Tapi--" Aku tidak bisa mengelak karena memakai kebaya dan tiba-tiba, sekarang aku sudah duduk di KUA di depan seorang penghulu. Semua terjadi begitu cepat. Sekarang tiba-tiba aku sudah jadi istri. Saat diminta sungkem, aku kaget ternyata laki-laki yang mengucap ijab kabul iyuuch banget. Pantesan Mbak Santi minggat. Kayaknya aku juga kudu minggat. Tapi sebelumnya aku harus pingsang dulu. Masa iya lihat penampakan Tarzan nggak pingsan. Okelah, otewe semaput.Sepertinya aku sudah benar-benar pulih. Nafsu makanku bertambah. Semenjak dipanggilkan tukang pijat, badanku kerasa enakan. Perutku nggak kembung lagi. Meskipun jadi bolak-balik buang nahkn. Waktu dikerokin juga aku sampe jerit-jerit. Mana Kang Ipul disuruh nungguin sama tukang pijetnya di dalem buat pegangin aku. Kan keenakan dia lihatin aku. "Jangan sama Kang Ipul, Mbok, malu aku gak pake baju gini," ucapku pada si tukang pijat saat dia mau manggil Kang Ipul. "Lah, wong bojone kok malu, kan nanti bisa langsung plus-plus!" Wanita itu berkedip genit. Bikin aku jadi merinding. Ngeri banget kayaknya orang ini. "Pokoknya aku nggak mau! Kalo dia disuruh masuk mending aku nggak jadi pijet!" Aku bersikeras. Akhirnya wanita itu mengalah. Akupun harus tahan waktu dia kerokin biar Kang Ipul nggak disuruh megangin. ."Wes mari temenan, Nduk?" (udah sembuh beneran?) tanya Ibu mertua ramah. Aku yang ngerasa rikuh karena tiduran terus, akhirnya sok-sok an nyuci piring. Itung-itung buat pencitr
Kepalaku rasanya semakin berat. Perutku juga tambah sakit. Badanku menggigil. Kenapa ini? Mau bangun kok susah. Ini juga di dahi kaya ada benda, sepertinya kompres. "Mak ...." Perlahan kubuka mata sambil memanggil Mamak. Pasti wanita itu yang merawatku. Jadi sekarang aku di rumah. Semua yang kulewati pasti cuma mimpi. Mataku kini terbuka sepenuhnya. Pemandangan di depanku terlihat buram karena kututupan belek. Samar-samar kulihat bayangan Kang Ipul duduk sambil meletakkan kepalanya di sebelahku. Tunggu, ini pasti beleknya yang bikin aku kaya lihat dia. Kan ini di rumah Mamak sama Bapak. "Oh, kamu udah bangun." Suara berat itu bikin aku pengen semaput aja. "Kamu ngapain disini?" tanyaku ketus. Aku mau ngomong pake nada Nikki Minaj feat Celine dion, biar keras dan banter, tapi tenagaku gak ada. Jadinya yang keluar suara lirih, kaya cewek centil yang dibikin-bikin lemah gemulai. Kampret emang!Lebih kampret lagi dia diem aja sambil ngambil lap yang dikompreskan di dahiku dan sialny
Aku berkali-kali menggedor mobil agar mereka dengar. Sayangnya lagu Denny Caknan yang distel kencang membuat mereka terlena, sampai nggak denger ada cewek cantik minta tolong. Akhirnya aku pasrah sama berdoa. Semoga masnya yang nyupir ganteng, kaya dan sholeh. Jadi lumayan lah kalau diculik nggak rugi aku. Setelah beberapa menit berlalu, mobilpun berhenti. Terdengar suara gerendel besi dibuka. Aku bersiap. Nanti mau alasan apa pokoknya yang penting turun dulu. "Oh, nggih-nggih." Sepertinya laki-laki itu ada yang memanggil, sehingga dia pergi. Aku mendorong pintu perlahan dan bersyukur sudah bisa dibuka. Cepat-cepat aku turun, meski badan sempoyongan karena mabuk daratan. Tadi sempat muntah di dalam sana. Untung cuma sedikit. Aku terpaku menatap rumah bangunan model kuno dengan halaman luas. Kok ini rumah ... mertua. Kenapa aku malah disini? Jadi capek-capek kabur sampe mual muntah ternyata balik kesini lagi?Gusti Allah ... tolong.."Nahh ... itu garwone, Kang." Saat aku sedang m
"Kamu anak SMA 3 kan?" tanyanya sambil mengingat-ingat. Aku menggaruk tengkuk sambil cengar-cengir. Kulihat pantulan wajahku di cermin lemari, ternyata pipiku hitam-hitam kena pantat wajan. Ya ampun! Bukannya skin care an malah make up pake arang. Kupikir tadi cuma nyenggol doang nggak masalah. Tapi ternyata disini sebagian masih memasak menggunakan tungku, makanya para pantat wajan hitam. Kayaknya besok aku jualan pemutih aja. "Kalian saling kenal?" Om Ipul terlihat heran. "Nggak kenal sih, tapi kayaknya kita pernah ketemu bener kan kamu anak SMA 3?"Aku hanya menganggukan kepala. Kita Emang pernah ketemu pada saat memalukan. Aku menolak Ingat masa itu, tapi Gadis itu malah nyerocos cerita sama kakaknya. Pertama ketemu waktu ribut sama anak SMK Bakti. Waktu itu aku cuma ikut-ikutan aja. Temanku yang bernama Sari rebutan cowok sama anak SMK Bakti. Dia mengajak teman-temannya untuk bertemu dengan perempuan yang diduga pacar dari pacarnya. Aku ingat dia karena dia yang paling mendo
"Aaa ...." Aku ikut lompat dari semak-semak dan lari ngibrit. Mahluk hitam dan doreng itu juga sama-sama menjerit. Akhirnya aku kembali lagi ke rumah mertua. "Dasar kucing kampret!" umpatku sambil ngos-ngosan. Kupikir setan jenis apa, ternyata setan anabul. Kalau aja aku nggak kaget udah kupentung mereka. Dengan napas tersengal, aku membuka pintu lirih. Sambil celingukan aku masuk rumah takut ketahuan orang."Nggak jadi kabur?" Sampai kamar, Ipul sudah duduk sambil menatapku datar. Sial! Malah ketahuan sama dia. "Nggak!" jawabku ketus. Dia hanya mengangkat bibir sebelah seperti mengejekku. Laki-laki itu lalu mengendus-endus sekitarnya. Sepertinya dia mencium sesuatu. "Kok pesing ya!" Dia mengendus selimut dan temat tidurnya. Aku segera ngacir ke kamar mandi. Jangan sampai aku ketahuan ngompol. .Mataku memicing karena terasa beban berat di perut. Aku lalu menjerit melihat wajah penuh bulu milik Ipul. Dia terkejut dan bangun. Akupun segera bangun dan mengibaskan tangan pada bajuk
"Kenapa si, Mbok, malem-malem ribut? Laki-laki bujang lapuk datang dari arah kamar. Dia sepertinya hendak buang hajat juga. Aku sebel banget lihat mukanya yang gondrong itu."Nah ini dia orangnya!" Ibu mertua mendekati anaknya. "Kamu itu lagi ngelewati Jalan Anyar pelan-pelan hati-hati kasihan itu sih Yunita kesakitan." "Ha?" Laki-laki itu terlihat bingung dengan ucapan ibunya. Dia melongo sambil garuk-garuk kepala."Maksude apa ya, Mbok?" "Ck, pura-pura polos lagi, itu Yunita sampe nangis-nangis karena sakit pas pipis, kamu kekencengen mesti mompanya ya? Seharunya pelan-pelan, malam pertama itu emang enak, nyenengin bikin ketagihan, tapi harus lihat-lihat juga kondisi bojone, masih kecil loh, mesti suwek itunya!" Ibu mertua merepet dengan nada Nikki Minaj. Sementara laki-laki brewokan itu seperti sudah sadar kemana arah pembicaraannya.Dia menatapku heran. Seperti lagi bilang 'aku nggak ngapa-ngapain'. "Yawes sana ajakin Yunita masuk, dielus-elus apa ditiupin yang sakit, kalo ma







