LOGIN"Kenapa si, Mbok, malem-malem ribut? Laki-laki bujang lapuk datang dari arah kamar. Dia sepertinya hendak buang hajat juga. Aku sebel banget lihat mukanya yang gondrong itu.
"Nah ini dia orangnya!" Ibu mertua mendekati anaknya. "Kamu itu lagi ngelewati Jalan Anyar pelan-pelan hati-hati kasihan itu sih Yunita kesakitan." "Ha?" Laki-laki itu terlihat bingung dengan ucapan ibunya. Dia melongo sambil garuk-garuk kepala. "Maksude apa ya, Mbok?" "Ck, pura-pura polos lagi, itu Yunita sampe nangis-nangis karena sakit pas pipis, kamu kekencengen mesti mompanya ya? Seharunya pelan-pelan, malam pertama itu emang enak, nyenengin bikin ketagihan, tapi harus lihat-lihat juga kondisi bojone, masih kecil loh, mesti suwek itunya!" Ibu mertua merepet dengan nada Nikki Minaj. Sementara laki-laki brewokan itu seperti sudah sadar kemana arah pembicaraannya. Dia menatapku heran. Seperti lagi bilang 'aku nggak ngapa-ngapain'. "Yawes sana ajakin Yunita masuk, dielus-elus apa ditiupin yang sakit, kalo mau lagi ya nggak apa-apa tapi tanya dulu Yunitanya siap apa belum." Ibu Mertua mendorong tubuhku lirih ke arah Ipul. Kami lalu jalan beriringan ke kamar. Laki-laki itu menatapku seperti mau bilang, 'kenapa' tapi aku melotot. "Apa!" sentakku. Dia sepertinya takut dan kembali ke ranjangnya setelah mengangkat bahu. Dasar nggak sopan, main melongos aja, bukannya dibujuk biar mau bicara, malah ditinggal meringkuk lagi di atas kasur. Aku bingung mau ngapain. Ikut merebahkan tubuh di sampingnya ogah, tapi nggak ada temapt tidur lain. Mana disini dingin banget udaranya, kalau tidur di lantai bisa-bisa kembung. Aku memang sejak petang belum tidur. Nggak berani merem takut diapa-apain sama laki-laki itu. Bawaannya parno aja kalo mau merem. Takut bangun-bangun udah nggak pake baju. Akhirnya aku cuma duduk di pojokan dipan sambil nangis. Si laki-laki bujang lapuk itu nggak berani nanya karena setiap dia mau mendekat aku langsung melotot. . Aku melirik jam yang menempel di dinding. Pukul satu dini hari dan aku masih belum bisa tidur. Sementara dia sudah mendengkur. Aku jadi tambah sebel. Udah mukanya nggak ganteng, tidurnya ngorok lagi. Duh gusti, dosa apa aku sampe punya suami modelan pulu-pulu. Eh tapi pulu-pulu kan nggak gondrong rambutnya, terus apa dong tauk ah! Pokoknya aku nggak boleh pasrah gini. Aku harus bisa minggat juga. Kalo Mbak Santi aja bisa minggat kenapa aku enggak. Lagipula kan yang penting aku sudah menuruti mereka buat jadi tutup wirang. Sekarang terserah aku. Aku mau kabur dari sini dan menjalani hidup baru. Cari kerja sama cari kosan. Ponsel hitam yang layarnya sudah bergaris itu kumasukan ke dalam saku. Setelah mengecek ada beberapa pesan masuk sejak pagi. Mereka sibuk menanyakan kenapa aku nggak datang wisuda. Aku jadi makin nyesek. Apalagi satu nama pengirim pesan yang bikin aku pengen nyakar tembok. "Yun, kamu kenapa nggak ikut wisuda, kamu sakit? Kok nggak ngasih kabar si, plis jangan bikin aku khawatir." Namanya Wisnu. Cowok yang sudah lama dekat denganku. Dia yang bakalan jadi pacarku setelah lulus SMA karena aku janji nggak akan pacaran selama sekolah. Seharusnya perpisahan kemarin bakalan jadi momen menyenangkan buat kami. Aku udah nyium-nyium bau peluru. Kayaknya si dia mau nembak aku pas wisuda. Aku juga udah siap-siap, tapi takdir berkata lain. Untungnya pernikahan hanya dilakukan secara sederhana. Jadi nggak banyak yang tahu kalau aku udah nikah. Sekarang aku kudu minggat biar bisa bersatu sama Wisnu sang dewa penguasa hati. Tas besar isi pakaian belum aku bongkar. Jadi bisa langsung kubawa. Sebelum beraksi, kulirik si bujang lapuk yang masih anteng. Setelah memastikan dia benar-benar terlelap, akupun melangkah perlahan. Pintu kubuka dengan lirih. Rumah kembali gelap setelah tadi kami masuk kamar semua. Aku merasa ragu, karena sebenarnya takut. Tapi aku harus segera keluar dari rumah ini. Setelah berhasil mengendap-endap sampai beberapa kali kakiku kepentok meja dan kursi, akhirnya aku menemukan pintu utama. Segera kubuka pintu dan wuusshhh .... Angin malam menyambut wajahku membuatku masuk lagi ke dalam. "Buset kaya buka kulkas," gumamku lirih. Aku mengambil napas panjang, lalu merapatkan jaket. Setelah itu memantapkan diri untuk keluar. Krik ... Krik .... Di luar, suasananya benar-benar sepi. Aku jadi ragu. Apa aku bisa pergi dari desa ini ya. Duh mana jalannya nggak ngerti sama sekali. Tadi waktu boyongan, aku menutup mata karena mabukan kalau naik mobil. Sehingga sama sekali tidak tahu ini desa daerah mana, kecamatan apa. Terus sekarang aku mesti kemana? Oh iya, aku bawa HP, kenapa nggak nanya maps aja? "Hishh ... Nggak ada sinyal!" Aku memukul tangan ke udara. Apa segitu pelosoknya desa ini ya sampai nggak ada jaringan sama sekali. . Sambil menahan dingin yang menusuk sampai kulit, aku berjalan perlahan. Kutengok kanan-kiri. Benar-benar sepi. Sebenarnya ini planet mana ya. Seingatku tadi perjalanan cukup jauh dari rumah. Jalannya juga menanjak dan berkelok-kelok sampai aku akhirnya muntah. Kayaknya si daerah pegunungan. Langkahku terhenti sejenak karena mendegar suara geraman. Dadaku berdetak kencang. Mendadak aku nyesel kabur malam-malam. Seharusnya kan nunggu agak siang aja. Suara geraman itu semakin jelas. Akupun merapalkan doa sebisaku. "Allahumma inni a'udzubika minal hubutsi wal khobaits." Eh itu kan doa mau pipis. Aduh jangan-jangan ... Beneran deh udah pipis di celana. Gimana dong. "Hmmmm ...." Suara geraman itu semakin dekat. Ditambah suara seperti anak kecil menangis bersahut-sahutan. Karena panik, aku berlari ke semak-semak untuk sembunyi. Sayangnya suara itu ternyata berasal dari sana. Dua sosok hitam dengan mata hijau menyala melompat. Aku menjerit ketakutan. "Ya Allah, berikanlah hambamu ini mobil pajero ...."Sepertinya aku sudah benar-benar pulih. Nafsu makanku bertambah. Semenjak dipanggilkan tukang pijat, badanku kerasa enakan. Perutku nggak kembung lagi. Meskipun jadi bolak-balik buang nahkn. Waktu dikerokin juga aku sampe jerit-jerit. Mana Kang Ipul disuruh nungguin sama tukang pijetnya di dalem buat pegangin aku. Kan keenakan dia lihatin aku. "Jangan sama Kang Ipul, Mbok, malu aku gak pake baju gini," ucapku pada si tukang pijat saat dia mau manggil Kang Ipul. "Lah, wong bojone kok malu, kan nanti bisa langsung plus-plus!" Wanita itu berkedip genit. Bikin aku jadi merinding. Ngeri banget kayaknya orang ini. "Pokoknya aku nggak mau! Kalo dia disuruh masuk mending aku nggak jadi pijet!" Aku bersikeras. Akhirnya wanita itu mengalah. Akupun harus tahan waktu dia kerokin biar Kang Ipul nggak disuruh megangin. ."Wes mari temenan, Nduk?" (udah sembuh beneran?) tanya Ibu mertua ramah. Aku yang ngerasa rikuh karena tiduran terus, akhirnya sok-sok an nyuci piring. Itung-itung buat pencitr
Kepalaku rasanya semakin berat. Perutku juga tambah sakit. Badanku menggigil. Kenapa ini? Mau bangun kok susah. Ini juga di dahi kaya ada benda, sepertinya kompres. "Mak ...." Perlahan kubuka mata sambil memanggil Mamak. Pasti wanita itu yang merawatku. Jadi sekarang aku di rumah. Semua yang kulewati pasti cuma mimpi. Mataku kini terbuka sepenuhnya. Pemandangan di depanku terlihat buram karena kututupan belek. Samar-samar kulihat bayangan Kang Ipul duduk sambil meletakkan kepalanya di sebelahku. Tunggu, ini pasti beleknya yang bikin aku kaya lihat dia. Kan ini di rumah Mamak sama Bapak. "Oh, kamu udah bangun." Suara berat itu bikin aku pengen semaput aja. "Kamu ngapain disini?" tanyaku ketus. Aku mau ngomong pake nada Nikki Minaj feat Celine dion, biar keras dan banter, tapi tenagaku gak ada. Jadinya yang keluar suara lirih, kaya cewek centil yang dibikin-bikin lemah gemulai. Kampret emang!Lebih kampret lagi dia diem aja sambil ngambil lap yang dikompreskan di dahiku dan sialny
Aku berkali-kali menggedor mobil agar mereka dengar. Sayangnya lagu Denny Caknan yang distel kencang membuat mereka terlena, sampai nggak denger ada cewek cantik minta tolong. Akhirnya aku pasrah sama berdoa. Semoga masnya yang nyupir ganteng, kaya dan sholeh. Jadi lumayan lah kalau diculik nggak rugi aku. Setelah beberapa menit berlalu, mobilpun berhenti. Terdengar suara gerendel besi dibuka. Aku bersiap. Nanti mau alasan apa pokoknya yang penting turun dulu. "Oh, nggih-nggih." Sepertinya laki-laki itu ada yang memanggil, sehingga dia pergi. Aku mendorong pintu perlahan dan bersyukur sudah bisa dibuka. Cepat-cepat aku turun, meski badan sempoyongan karena mabuk daratan. Tadi sempat muntah di dalam sana. Untung cuma sedikit. Aku terpaku menatap rumah bangunan model kuno dengan halaman luas. Kok ini rumah ... mertua. Kenapa aku malah disini? Jadi capek-capek kabur sampe mual muntah ternyata balik kesini lagi?Gusti Allah ... tolong.."Nahh ... itu garwone, Kang." Saat aku sedang m
"Kamu anak SMA 3 kan?" tanyanya sambil mengingat-ingat. Aku menggaruk tengkuk sambil cengar-cengir. Kulihat pantulan wajahku di cermin lemari, ternyata pipiku hitam-hitam kena pantat wajan. Ya ampun! Bukannya skin care an malah make up pake arang. Kupikir tadi cuma nyenggol doang nggak masalah. Tapi ternyata disini sebagian masih memasak menggunakan tungku, makanya para pantat wajan hitam. Kayaknya besok aku jualan pemutih aja. "Kalian saling kenal?" Om Ipul terlihat heran. "Nggak kenal sih, tapi kayaknya kita pernah ketemu bener kan kamu anak SMA 3?"Aku hanya menganggukan kepala. Kita Emang pernah ketemu pada saat memalukan. Aku menolak Ingat masa itu, tapi Gadis itu malah nyerocos cerita sama kakaknya. Pertama ketemu waktu ribut sama anak SMK Bakti. Waktu itu aku cuma ikut-ikutan aja. Temanku yang bernama Sari rebutan cowok sama anak SMK Bakti. Dia mengajak teman-temannya untuk bertemu dengan perempuan yang diduga pacar dari pacarnya. Aku ingat dia karena dia yang paling mendo
"Aaa ...." Aku ikut lompat dari semak-semak dan lari ngibrit. Mahluk hitam dan doreng itu juga sama-sama menjerit. Akhirnya aku kembali lagi ke rumah mertua. "Dasar kucing kampret!" umpatku sambil ngos-ngosan. Kupikir setan jenis apa, ternyata setan anabul. Kalau aja aku nggak kaget udah kupentung mereka. Dengan napas tersengal, aku membuka pintu lirih. Sambil celingukan aku masuk rumah takut ketahuan orang."Nggak jadi kabur?" Sampai kamar, Ipul sudah duduk sambil menatapku datar. Sial! Malah ketahuan sama dia. "Nggak!" jawabku ketus. Dia hanya mengangkat bibir sebelah seperti mengejekku. Laki-laki itu lalu mengendus-endus sekitarnya. Sepertinya dia mencium sesuatu. "Kok pesing ya!" Dia mengendus selimut dan temat tidurnya. Aku segera ngacir ke kamar mandi. Jangan sampai aku ketahuan ngompol. .Mataku memicing karena terasa beban berat di perut. Aku lalu menjerit melihat wajah penuh bulu milik Ipul. Dia terkejut dan bangun. Akupun segera bangun dan mengibaskan tangan pada bajuk
"Kenapa si, Mbok, malem-malem ribut? Laki-laki bujang lapuk datang dari arah kamar. Dia sepertinya hendak buang hajat juga. Aku sebel banget lihat mukanya yang gondrong itu."Nah ini dia orangnya!" Ibu mertua mendekati anaknya. "Kamu itu lagi ngelewati Jalan Anyar pelan-pelan hati-hati kasihan itu sih Yunita kesakitan." "Ha?" Laki-laki itu terlihat bingung dengan ucapan ibunya. Dia melongo sambil garuk-garuk kepala."Maksude apa ya, Mbok?" "Ck, pura-pura polos lagi, itu Yunita sampe nangis-nangis karena sakit pas pipis, kamu kekencengen mesti mompanya ya? Seharunya pelan-pelan, malam pertama itu emang enak, nyenengin bikin ketagihan, tapi harus lihat-lihat juga kondisi bojone, masih kecil loh, mesti suwek itunya!" Ibu mertua merepet dengan nada Nikki Minaj. Sementara laki-laki brewokan itu seperti sudah sadar kemana arah pembicaraannya.Dia menatapku heran. Seperti lagi bilang 'aku nggak ngapa-ngapain'. "Yawes sana ajakin Yunita masuk, dielus-elus apa ditiupin yang sakit, kalo ma







