Compartilhar

Bab 55. Daniel?

Autor: Min Ye-Rin
last update Data de publicação: 2026-09-27 19:10:00
“Tetap seperti ini sebentar,” kata Lucien serak.

Dia mempererat pelukannya. Untuk beberapa saat, dia hanya diam, seolah menyerap ketenangan yang jarang sekali dia rasakan.

“Maaf karena aku sudah membuatmu melewati hari berat ini, Lucien,” bisik Helena, dia membalas pelukan Lucien, dan sesekali menepuk punggung pria itu.

“Hmm, ini sudah keputusanku, dan aku tidak akan menyesal dengan keputusan yang sudah kuambil.”

Helena tidak menjawab, tapi dadanya yang semula dingin, kembali terasa hangat. ‘T
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 59. Cepat Selesaikan

    Lucien meremas payudara Helena silih berganti, membuat tubuh wanita itu melengkung bagai busur. Kepalanya mendongak, sambil terus mendesah nikmat. Jari-jari kakinya menancap tempat sprei, seolah mencari penyangga untuk tubuhnya yang semakin gemetar. Dua jari Lucien kembali menusuk belahan sensitif itu, yang awalnya pelan, semakin lama semakin kencang, sampai menimbulkan bunyi yang menggairahkan. “Ahh… aku sampai…” desah Helena, ketika klimaks keduanya datang. Tubuhnya jatuh ke atas tempat tidur, dengan napas yang berhembus kasar. Matanya menyipit menatap Lucien. Pria itu sudah duduk dengan kedua lutut menjadi penyangga tubuh. Tangannya bergerak mengurut miliknya yang sudah semakin kokoh. Helena menelan ludahnya, ada rasa ngeri yang kini bercampur dengan nafsu birahi yang semakin bergemuruh. “Aku akan melakakukannya sekarang,” kata Lucien. Dia mendekat, menempelkan miliknya pada lipatan Helena. Rasanya hangat, sedikit linu dan penuh. Belum sepenuhnya masuk, Helena sudah merasakan

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 58. Karena Aku Menyayangimu

    Tubuh Helena membeku. Tangannya yang memegang gagang pintu mengeras tanpa sadar. Matanya tak lepas dari sosok Lucien yang masih bercermin dengan tubuh telanjang dada, dan bagian bawah hanya mengenakan handuk putih yang ia gulung seadanya. “Ma-maaf… aku harusnya mengetuk pintu dulu,” ujar Helena gugup, wanita itu buru-buru berbalik badan, dan hendak keluar, tapi suara Lucien kembali membuatnya menegang. “Masuklah,” katanya. “Aku sudah menunggu baju yang kamu siapkan.”Suara Lucien yang begitu dingin membuat tengkuk Helena melemas. Dian meremas baju tidur yang baru saja selesai dia siapkan. “I-ini…” katanya, Helena berbalik tanpa berani membalas tatapan Lucien yang ternyata sudah berdiri tepat di belakangnya. Tepat ketika tangan Lucien hendak menyentuh dagunya, Helena langsung terperanjat dan mundur setengah langkah. Mata merahnya menatap wajah Lucien yang terlihat begitu segar, belum lagi rambutnya yang masih basah dan aroma sabun yang membuat dadanya mengembang perlahan. Lucien

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 57. Aku Tidak Ingin Merasa Dibeli

    Helena meremas kedua tangannya di atas pangkuan, dia melirik Lucien ragu. Suasana di dalam mobil kali ini, ternyata lebih berat dibandingkan ketika di gudang minyak sebelumnya. “Kamu mau bicara apa?” tanya Lucien memotong keheningan, dia melirik Helena, lalu kembali fokus pada kemudinya. “Tidak usah sungkan, aku sudah menjelaskan ini berulang kali, bukan?”Helena menggigit bibir bawahnya. “Soal hutang Matteo—”“Aku yang akan mengurus semuanya. Kamu tidak perlu memikirkannya lagi.” Lucien memotong cepat. “Tidak, Lucien. Itu bukan tanggung jawabmu,” kata Helena, suaranya meninggi tanpa sadar. Lucien menepikan mobilnya. Dia menepuk kemudi, lalu menoleh pada Helena. “Itu syarat yang dia ajukan supaya kamu bebas,” jawab Lucien tenang. “Kalau itu artinya aku harus membayar, aku akan membayarnya. Tidak ada yang perlu diperdebatkan. Hanya masalah uang, ini tidak lebih penting dari rasa amanmu, Helena.”Pupil Helena menggelap, dadanya mulai gemuruh tak terkendali. Dia tahu kalau uang adala

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 56. Kesepakatan

    “Kamu yakin?” tanya Lucien, dia ikut berdiri di samping Helena, menuntun wanita itu untuk menghadap ke arahnya. “Ini Matteo. Pria itu pasti akan bicara kasar yang bisa membuat hatimu terluka—”“Aku bisa melakukannya,” kata Helena memotong. Sorot mata wanita itu terlihat berbeda dari sebelumnya. Antara dendam, amarah dan rasa takut yang sudah bercampur menjadi satu. “Aku akan menemuinya.”Lucien tidak bisa lagi melarang. Pria itu menatap dalam Helena sekali lagi, sebelum akhirnya menariknya ke dalam pelukan. Tangan Lucien membelai kepala belakang Helena. “Aku tahu kamu adalah wanita yang kuat,” bisiknya serak. Lucien melepaskan pelukannya, menangkup wajah Helena, lalu mendekatkan wajahnya sampai membuat hidung keduanya saling bersentuhan. Helena mengulas senyum. Wanita itu menempelkan bibirnya dengan bibir Lucien, mengecupnya sebentar, tanpa bergerak sedikitpun, merasakan kelembutan yang selalu membuatnya nyaman. “Kamu membutuhkannya?” tanya Lucien, yang langsung berhasil membuat

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 55. Daniel?

    “Tetap seperti ini sebentar,” kata Lucien serak. Dia mempererat pelukannya. Untuk beberapa saat, dia hanya diam, seolah menyerap ketenangan yang jarang sekali dia rasakan.“Maaf karena aku sudah membuatmu melewati hari berat ini, Lucien,” bisik Helena, dia membalas pelukan Lucien, dan sesekali menepuk punggung pria itu. “Hmm, ini sudah keputusanku, dan aku tidak akan menyesal dengan keputusan yang sudah kuambil.”Helena tidak menjawab, tapi dadanya yang semula dingin, kembali terasa hangat. ‘Terimakasih.’ kalimat itu terus terulang di dalam hatinya. “Lucien,” bisik Helena, suaranya teredam di dada pria itu. “Apa yang terjadi di sana? Apa Matteo mau bersaksi?”Lucien melepaskan pelukannya perlahan, menuntun Helena duduk di sofa sebelum dia sendiri ikut duduk di sampingnya. Jarak mereka cukup dekat hingga Helena bisa merasakan aroma alkohol dan bau debu gudang tua yang tidak sepenuhnya hilang dari kemejanya.Lucien menuntun Helena untuk bersandar di kepalanya. “Dia belum mau bicara,

  • Sahabat Mendiang Suamiku Menginginkanku    Bab 54. Keputusan Helena

    Lucien berjongkok tepat di depan Matteo, dia menarik rahang pria itu hingga terdengar bunyi ‘krak’. Matteo menjerit, tapi Lucien justru tersenyum puas. “Aku sudah memberimu waktu untuk berpikir,” ujar Lucien dingin. Matanya semakin gelap, menembus kekosongan di mata Matteo. “Baiklah, kalau memang ini keputusanmu.”Lucien berdiri, dia memberi isyarat untuk anak buahnya masuk. “Jangan pernah beri dia makan atau minum,” kata Lucien, dia melirik Matteo sekilas. “Kalian bebas bermain dengannya, asal jangan lukai lidah dan tenggorokannya. Karena aku masih membutuhkan itu.” “Baik, Tuan.” Serempak anak buahnya menjawab, sambil membungkuk hormat. Pupil Matteo melebar. Dia menatap Lucien dengan susah payah, karena darah di keningnya terus mengalir ke mata. “Sinclair! Aku akan membuat perhitungan denganmu!”Lucien tetap tidak peduli, dia tetap pergi. Langkahnya yang menggema, membuat dada Matteo seperti terhimpit bongkahan batu. Di villa, Helena sudah duduk gelisah sejak sore. Ponselnya dig

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status