Share

Bab 7

Penulis: Larasati
Daniel merasa geli melihat mereka. "Kalian berdua nih, satu istriku, satu sahabat karibku. Kok tiap ketemu langsung berantem?"

Geisha menjawab cuek, "Nggak tahu, mungkin dia cemburu."

Daniel melangkah maju dan merangkul pinggangnya, nadanya sedikit manja. "Jangan ngawur, Shane ini udah ada gebetan."

Geisha berujar, "Tau, gebetannya istri orang."

Daniel tampak agak melankolis. "Iya, tapi sebentar lagi dia cerai. Setelah Shane nunggu bertahun-tahun, semoga usahanya berbuah manis."

Geisha tidak terlalu tertarik dengan gosip seputar Shane.

Toh itu cuma kisah modern tentang pria yang hobi menggemari istri orang.

Dia langsung bertanya pada Daniel, "Tadi itu telepon dari kantor? Ada urusan lagi yang harus diurus?"

Mendengar itu, Daniel berkata dengan nada penuh permintaan maaf. "Iya, ada urusan mendadak yang harus aku tangani langsung. Malam ini mungkin aku bakal lembur sampai pagi. Geisha, kamu tidur lebih awal, ya. Nggak usah nungguin aku."

Geisha mencibir dalam hati.

Lembur sampai pagi?

Telepon dari selingkuhannya, malam ini pasti sudah janjian kencan sama si cantik.

Geisha mengangguk. "Sana pergi, kebetulan aku juga ngantuk."

Dia berbalik hendak masuk ke kamar, tetapi tiba-tiba ditarik kembali ke dalam pelukan Daniel. Pria itu mengangkat dagunya dan menciumnya.

Geisha dengan cepat menoleh, membuat ciuman itu mendarat di dagunya.

Daniel tampak sedikit tidak puas. "Kenapa, cium perpisahan sama suami sendiri aja nggak mau?"

Geisha berusaha keras melepaskan diri dari pelukannya. "Bukannya kamu bilang ada urusan mendesak di kantor? Buruan sana pergi."

Daniel terkekeh pelan. "Kamu malu ya karena ada Shane di sini? Santai aja, Shane sama aku udah kenal lebih dari 20 tahun, bukan orang luar kok."

Geisha mendesaknya. "Sana pergi cepetan."

Ponsel Daniel berbunyi lagi.

Sepertinya, Lucy yang menyuruhnya buru-buru.

Dia tersenyum sambil mengusap rambut Geisha. "Kalau gitu, aku pergi ya. Kamu baik-baik di rumah. Malam ini kayaknya bakal hujan. Jangan lupa tutup jendela kalau tidur. Besok pagi aku udah balik."

Daniel pun buru-buru pergi.

Kini di dalam rumah hanya tersisa Geisha dan Shane.

Geisha mendongak menatapnya. "Sahabat baikmu udah pergi, kamu nggak cabut juga?"

Shane melipat tangan di dada, merenung dengan tatapan penuh minat. "Dia pergi gitu aja? Nggak takut kita, yang cowok dan cewek ini, sendirian di sini malah berbuat macam-macam?"

Geisha kehabisan kata-kata. "Bukannya kamu punya cewek idaman? Dia udah nikah dan kamu masih aja ngejar, masa sih kamu sampai kalap dan nggak pilih-pilih pasangan?"

Shane menyunggingkan senyum tipis. "Siapa tahu juga, 'kan."

"Pak Shane, hari ini masih ada urusan lain nggak?"

"Nggak, kenapa?"

"Mumpung lagi luang, mending kita susun draf surat kuasa dan perjanjian cerainya, ya?"

Shane mengangguk. "Itu juga yang mau aku bilang."

Geisha bukan pengacara profesional, jadi dia hanya mengunduh beberapa contoh draf surat kuasa dan perjanjian cerai dari internet.

Karena Shane sudah datang, dia langsung membuka berkas-berkas itu dan menunjukkannya pada Shane.

"Gimana menurut Pak Shane?"

Shane menggeleng. "Formatnya nggak baku sama sekali."

"Kalau gitu, Pak Shane mau unjuk gigi soal profesionalisme nggak?"

Shane langsung mengambil alih laptopnya dan dengan cepat mengetik sebuah draf [Surat Kuasa] yang rapi dan lengkap.

"Cetak ini, terus cari kesempatan buat dia tanda tangan. Bikin dua rangkap, satu kamu buat disimpan sendiri. Satu lagi kirim ke aku."

Membahas urusan serius, Geisha pun berubah serius. "Oke, aku bakal cari cara secepatnya biar dia tanda tangan."

"Terus soal surat perjanjian cerai," kata Shane. "Kalian nggak punya anak, jadi bagian hak asuh nggak perlu dipikirin. Yang paling penting itu pembagian harta."

Geisha langsung menjawab, "Aku udah cari tahu. Pembagian harta bersama biasanya dibagi dua sama rata. Tapi dia yang selingkuh dan dia pihak yang salah, jadi aku minta pembagian empat enam. Dia empat, aku enam."

Shane menatapnya sekilas, lalu terkekeh. "Aku kira Nona Geisha ini orangnya mulia dan nggak mementingkan materi, cuma pengen cepet cerai tanpa mikirin harta."

"Ya karena itu emang hakku, ngapain nggak aku ambil?" kata Geisha. "Pak Shane, karena kamu pengen banget kami cerai, bagian ini aku serahin ke kamu ya. Kalau aku nggak dapat enam puluh persen, berarti kamu kerjanya kurang niat."

"Pakai teknik provokasi?" Shane berkata dengan nada kesal. "Ada syarat lain nggak? Kasih tahu aja, nanti aku tulis sekalian."

Geisha terdiam sejenak, lalu berkata, "Aku mau hak asuh."

Jari Shane yang sedang mengetik di keyboard mendadak berhenti. "Kalian punya anak?"

Pandangannya turun, tertuju pada perut bawah wanita itu.

Geisha merapatkan mantelnya kembali, menutupi perutnya, dan berkata pelan, "Anak anjing yang kami besarin bareng-bareng, harus ikut aku."

Itu masih terjadi di masa-masa mereka sedang dimabuk asmara.

Itu adalah Hari Valentine pertama mereka bersama. Orang lain memberikan mawar, tetapi Daniel memberinya seekor anjing Westie.

Waktu si kecil itu pertama kali ada di sisinya, dia baru saja disapih, mungil dan putih bersih.

Sekarang, dia sudah menjadi anjing tua berumur lima belas tahun.

"Dia udah lima belas tahun. Kalau dihitung pakai umur anjing, dia udah masuk usia senja. Badannya juga udah banyak penyakit, matanya bahkan udah buta. Rumah ini nanti bakal ada nyonya barunya. Aku nggak tenang kalau dia diurus orang lain, jadi aku pasti bawa dia pergi."

Shane terdiam sejenak, nadanya terdengar lebih lembut. "Kalau Daniel maksa memanfaatkan fakta kalau kamu sayang sama anjing itu buat rebutan hak asuh, kamu bakal milih pergi ninggalin dia, atau batal cerai dulu dan tinggal di sini nemenin anjing itu sampai akhir hidupnya?"

Geisha berpikir sejenak, lalu berkata, "Aku rela lepas semua bagian harta, asal anjing itu ikut aku."

Shane tertegun cukup lama, seolah sedang memikirkan sesuatu.

Geisha terkekeh pelan. "Pak Shane melamunin apa sih? Cepetan nulis, anjing itu pokoknya harus aku bawa."

Shane tersadar dari lamunannya, lalu berkata pelan, "Kamu nggak perlu ngalah di bagian harta. Kalau emang maksa mau anjing itu, saranku kamu pindahkan aja anjingnya sekarang juga."

Geisha berpikir sejenak, lalu berkata, "Si Coco udah tua dan punya banyak penyakit bawaan. Aku nggak tenang kalau dititipin di penitipan hewan. Teman-teman yang lain juga punya kesibukan masing-masing, nggak mungkin bisa bantu jagain tiap hari."

Shane langsung menyahut cepat, "Taruh di tempatku aja. Aku lagi nggak ada kasus, bisa jagain dia."

Geisha agak ragu. "Bukannya kamu mau ngejar cewek? Masih ada waktu luang buat bantu jagain anjing?"

Shane berbalik menatapnya. "Cewek incaranku juga suka banget sama anjing."

Drrt.

Ponselnya bergetar.

Geisha mengambil ponselnya dan melihat layar, ternyata ada pesan WhatsApp dari Lucy.

[Nona Geisha, toko kami baru kedatangan koleksi perhiasan baru. Modelnya unik-unik dan cantik-cantik. Coba Nona lihat, apa ada yang disukai?]

Setelah itu, muncul segambreng foto yang seolah tidak ada habisnya saat digeser.

Shane bertanya, "Bukannya kamu nggak suka pakai perhiasan? Kok ada yang nawarin ke kamu?"

Geisha mengabaikannya, lalu langsung membalas pesan Lucy: [Kerja sampai malam begini, nggak pergi kencan sama pacar?]

Lucy: [Namanya juga cewek, harus fokus karier. Cowok mah nomor dua, haha.]

Geisha: [Oh ya? Rajin banget, ya.]

Lucy: [Hehe, sebenarnya pacar saya juga sering mengeluh saya nggak punya waktu buat dia. Kebetulan hari ini Nona Geisha nggak datang, jadi saya pulang lebih awal buat nemenin dia.]

Geisha: [Wah, jangan-jangan aku yang sering mampir malah mengganggu kalian, ya?]

Lucy: [Nggak, nggak! Nona Geisha jangan mikir gitu. Nona 'kan pelanggan super VIP kami. Tadi yang saya kirim, kalau ada yang sreg, hubungi saya kapan aja. Saya siap melayani dua puluh empat jam!]

Geisha tiba-tiba merasa ingin iseng. [Wah, bagus deh. Aku ke toko kalian sekarang buat coba-coba, sekalian cari yang cocok. Kamu bisa datang menemuiku nggak?]

Bukannya mau kencan?

Kalau begitu, dia akan merusak rencana Daniel.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 50

    Geisha menaiki lift menuju lantai 64.Baru saja melangkah keluar dari pintu lift, dia hampir saja diterjang hingga jatuh ke lantai.Tiga ekor anjing herder itu berebutan melompat ke arahnya, membuat Geisha hampir saja kehilangan keseimbangan di tempat."Anak-anak, sini."Dengan satu komando dari Shane, ketiga anjing itu langsung menundukkan kepala dan menggoyangkan ekor, kembali ke sisinya lalu berbaring dengan patuh di dekat kakinya.Geisha menepuk-nepuk bekas tapak anjing di seragamnya, baru kemudian berjalan perlahan mendekat, "Mesin kopinya mana?"Shane menjawab, "Belum dibeli."Ellie bingung setengah mati.Kalau belum dibeli, apa yang harus dia perbaiki?Sambil dengan santai mengelus anjing-anjing itu dan menggeser layar ponsel dengan satu tangan, Shane bertanya, "Kamu 'kan suka minum kopi. Ada rekomendasi mesin kopi yang bagus nggak?"Geisha, "Urusan begini nggak bisa diselesaikan lewat ponsel aja?"Harus banget tengah malam begini manggil dia ke atas?Lagi pula ….Dia menjulurka

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 49

    "Belum tentu. Siapa tahu dia biseksual."Geisha menambahkan, "Dia juga seorang masokis."Thea menghiburnya, "Nggak apa-apa. Aku udah ngomong sama jastipnya. Dia bakal segera bantu beliin buat kamu. Begitu kemejanya udah kamu kasih sebagai ganti, kamu nggak perlu takut sama dia lagi."Sebenarnya, Geisha tidak benar-benar takut padanya.Meskipun Shane agak menargetkannya, perilaku pria itu masih dalam batas yang bisa ditoleransi.Menjadi seorang manajer hotel berarti harus siap menghadapi berbagai macam tipe tamu.Nona Karina dan pria itu adalah dua contoh kasus yang paling nyata. Berkat pengalaman menangani mereka berdua, jam terbang dan keahlian kerjanya makin bertambah matang.Tok, tok.Terdengar suara ketukan pintu.Thea memberi isyarat agar Geisha diam, lalu pergi membuka pintu.Melihat Henry berdiri di luar, dia langsung memasang wajah tidak ramah. "Ngapain lagi? Belum cukup nyium bau sepatu hak tinggi aku, ya?"Salah satu sisi pelipis Henry sudah ditempeli perban, sepertinya baru

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 48

    Henry ketahuan basah dan sambungan telepon langsung terputus.Daniel merasa sedikit kesal. Tadi dia sedang asyik mendengarkan, tetapi kini dia tidak bisa lagi mendengar suara Geisha.Setelah beberapa saat, Henry menelepon balik. "Pak Daniel, saya tadi ketahuan."Daniel sedikit menegurnya dengan suara rendah, "Sudah kubilang hati-hati! Kok bisa ketahuan semudah itu sih?"Henry merasa serba salah. "Nona Lucy mengirim pesan pada saya, nanyain Bapak di mana. Kebetulan layar ponsel saya menyala, dan Nona Thea langsung melihatnya."Daniel menahan napas kesal di dalam dadanya."Blokir aja nomor dia.""Benar nggak apa-apa, Pak? Bagaimanapun juga, dia sedang mengandung anak Bapak. Kalau tiba-tiba ada keadaan darurat dan dia nggak bisa menghubungi siapa-siapa ...."Daniel menjawab, "Tenang aja. Orang tuaku sekarang jagain dia ketat banget kayak barang berharga, jadi dia nggak bakal butuh hubungi kamu."Henry hanya bisa menurut. "Baik, nanti saya blokir.""Oh ya ...." Daniel teringat percakapan G

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 47

    Dulu, ada ganjalan di hatinya. Dia merasa karena Geisha pernah berselingkuh sekali, maka dia pun harus berselingkuh sekali, agar batinnya bisa seimbang.Sebenarnya, sejak awal dia tidak terlalu melirik Lucy sebagai pilihan.Lagi pula, setelah terbiasa dengan kecantikan Geisha yang luar biasa, paras Lucy jelas jauh di bawah standar.Namun, Lucy memiliki sepasang tangan yang sangat indah.Dia sangat menyukai tangan Geisha. Jari-jarinya lentik, tetapi tidak kurus kering, kulitnya lembut dan putih berseri. Wanita itu juga tidak pernah melakukan perawatan kuku, memancarkan kecantikan yang begitu bersih dan alami.Tangan Lucy memang tidak buruk, tetapi dengan tambahan cat dan desain kuku, dia kehilangan keindahan alaminya dan hanya bisa dianggap seadanya.Saat memilihnya, Daniel meyakinkan dirinya sendiri: parasnya biasa saja, kemampuannya biasa saja, latar belakang keluarganya juga biasa saja. Nanti saat mereka berpisah, dia akan memberinya sejumlah uang yang cukup untuk biaya hidupnya hing

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 46

    Victor dan Orla mana pernah melihat putra mereka marah sehebat ini.Wajah Daniel dingin dan tegas, kata-katanya seolah bercampur dengan angin dingin yang menusuk, "Ayah, dia itu menantumu. Tolong jaga mulut Ayah."Suara gaduh yang luar biasa akhirnya membuat pengasuh itu keluar dari persembunyiannya.Dia bergegas datang dari dapur, dan yang dilihatnya adalah seluruh ruang makan yang berubah menjadi berantakan.Makanan dan lauk pauk berserakan di lantai. Sup dan bubur mengalir ke mana-mana, pecahan porselen beterbangan ke segala arah, bahkan beberapa bagiannya sudah jatuh di dekat pintu gerbang vila, menunjukkan kemarahan Daniel yang luar biasa.Victor juga ikut marah. "Dari awal aku nggak pernah akui dia sebagai menantu! Aku bilang, cuma yang bisa ngasih keturunan yang layak jadi menantu Keluarga Stephen! Orang luar yang nggak jelas, nggak pantas masuk ke rumah Keluarga Stephen!""Oke." Daniel terkekeh dingin. "Aku nggak bisa punya anak, jadi aku juga dianggap orang luar yang nggak pen

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 45

    "Licin banget, kayak belut.""Rebecca yang nyuruh aku ….""Hei … Shane! Sial!"Ellie terdiam kaku.Sekarang ini situasi apa?Shane jelas baru saja selesai mandi, dan di atas kasur masih ada seorang wanita yang berbaring?!Geisha juga jelas terkejut.Cewek seksi berkulit gelap?Dari nada bicaranya, sepertinya cewek ini sangat akrab dengan Shane.Geisha tiba-tiba mendapat pencerahan.Ellie bertanya dengan terbata-bata, "Bu Geisha, boleh aku tanya sesuatu nggak?""Silakan.""Kalian berdua ini lagi ngapain sih?"Geisha menjawab, "Kalau aku bilang aku ke sini cuma buat bikin hiasan kecil di pinggir kasur, kamu percaya nggak?"Ellie menatapnya, lalu melirik Shane yang duduk santai di samping sana seolah tidak terjadi apa-apa. Jelas sekali Ellie tidak percaya.Geisha bertanya, "Nona Ellie, boleh aku juga tanya sesuatu?""Tanya aja.""Kamu pernah cerai?"Ellie heran.Dia menunjuk Shane. "Kamu sampai cerita soal ini ke dia?!"Shane mengangkat kedua tangannya, menggelengkan kepala dengan wajah t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status