Share

Bab 6

Author: Larasati
Saat makan malam, Bi Ani menyajikan sup ayam hitam herbal yang sangat bergizi.

Bi Ani menuangkan semangkuk untuknya. "Nyonya, minum yang ini."

Lalu dia menuangkan sup yang berbeda untuk Daniel. "Tuan, minum yang ini."

Daniel mengaduk isi sup dengan sumpitnya, raut wajahnya seketika berubah agak rumit. "Bi Ani, aku nggak perlu minum ini, 'kan?"

Bi Ani tampak agak canggung dan terkekeh. "Kan Tuan dan Nyonya lagi program hamil, minum sup penambah kesuburan nggak ada ruginya."

Daniel menoleh pada Geisha, matanya berbinar jenaka. "Aku sama Geisha 'kan lagi mesra-mesranya, nggak butuh yang beginian."

Geisha bertanya, "Sup apa itu?"

Bi Ani menjawab, "Sup darah rusa dan alat vital harimau."

Pantas saja Geisha merasa ada bau aneh yang menguar di seluruh ruang tamu.

Daniel tersenyum tipis seraya menahan bibirnya. "Bi Ani, malam ini kamu libur. Dapur nanti nggak usah diberesin, pulang saja lebih awal."

Bi Ani langsung paham maksudnya. "Terima kasih, Tuan. Saya pamit sekarang."

Daniel mengangguk, lalu meneguk habis sup di dalam mangkuknya.

Entah itu perasaan Geisha saja atau bukan, saat pria itu minum sup, tatapannya terus tertuju padanya, menyala penuh gairah.

Geisha mengirim sebuah pesan: [Datang ke sini. Sekarang juga.]

Shane: [?]

Geisha: [Kalau kamu nggak segera ke sini, sahabatmu itu bakal jatuh lagi ke tanganku.]

Benar saja, Shane membalas dengan cepat: [Segera.]

Geisha mendengus pelan.

Pengacara Shane ini benar-benar unik.

Seandainya dia tidak pernah mendengar kabar bahwa pria itu menyukai seorang wanita, pasti dia akan mengira Shane itu gay, yang diam-diam mencintai Daniel bertahun-tahun tanpa pernah berbalas.

"Kirim pesan ke siapa?"

Suara itu terdengar tepat di telinganya, diiringi hembusan napas yang hangat.

Geisha tersentak kaget. "Jangan dekat-dekat, panas."

"Kalau panas, mandi aja yuk?" Daniel menggendongnya. "Kita mandi bareng."

Sambil berkata begitu, dia menggendong Geisha menuju kamar tidur di lantai atas.

"Tunggu ...."

Belum selesai Geisha berbicara, ponsel Daniel berbunyi.

Pria itu tampak ragu sejenak, tetapi akhirnya tetap menurunkan tubuh Geisha.

"Ada urusan kantor?"

Daniel memeluknya. "Kamu mandi dulu aja di atas, aku angkat telepon sebentar terus nyusul."

"Yakin cuma angkat telepon terus langsung nyusul?"

Seharian ini belum menghubungi selingkuhannya, mana mungkin tidak kepikiran buat bertemu di luar?

Daniel tersenyum. "Kok nggak sabar banget sih? Nggak jadi diangkat deh, mandi sekarang aja."

"Jangan!" sahut Geisha. "Angkat dulu aja teleponnya, siapa tahu ada urusan penting."

Daniel melirik lagi layar ponselnya yang menampilkan nama penelepon, lalu bergumam, "Hmm, aku bakal cepat kok."

Dia berbalik menuruni tangga sambil menekan tombol jawab. "Ada apa? Hmm, tunggu sebentar ...."

Karena jarak mereka masih dekat, Geisha samar-samar mendengar suara isak tangis seorang wanita dari ujung telepon sana.

Geisha kembali ke kamar tidur dan langsung mengunci pintunya dari dalam.

Setelah membaca berita sebentar, dia tiba-tiba terkejut oleh suara ketukan pintu yang keras dan terburu-buru.

Pasti ada sesuatu yang terjadi pada selingkuhannya, sampai pria itu harus buru-buru menyusul.

Persis seperti yang dia harapkan.

Geisha bahkan tidak membuka pintu. "Kalau ada urusan kantor, buruan sana pergi."

Namun, suara yang terdengar dari luar justru bukan suara pria itu.

"Buka pintunya."

Ini ....

Begitu Geisha membuka pintu, dia melihat Shane berdiri di sana, basah kuyup oleh keringat dan terengah-engah.

Pria itu hanya mengenakan pakaian rumah, wajahnya dipenuhi butiran keringat yang mengucur deras.

Dia menyipitkan mata, menatap Geisha dari ujung kepala sampai kaki. Melihat pakaian wanita itu masih rapi dan utuh, dia mengangkat sebelah alis. "Kalian belum ngapa-ngapain, 'kan?"

Geisha mendengus dingin. "Kamu telat. Udah keburu beres."

"Apa?!"

"Pak Shane, gunanya kamu apa sih buat aku?"

Datangnya lambat sekali. Kalau saja Lucy tidak mendadak menelepon tadi, rasanya sulit bagi Geisha untuk meloloskan diri hari ini.

Shane tertawa kesal. "Begitu kamu nelpon, aku langsung ngebut ke sini, eh malah dimarahin."

"Kamu ke sini 'kan buat Daniel, bukan buat aku."

"......"

"Memangnya nggak?"

"Nggak lah." Shane menyapu pandangan ke sekeliling kamar. "Si Daniel mana?"

"Tadi pas masuk nggak lihat dia?"

"Nggak, di halaman sama ruang tengah kosong."

"Berarti dia ke garasi kali, lagi nelpon selingkuhannya."

Shane tampak sedikit lega. "Selingkuhannya namanya Lucy, 'kan? Nanti aku harus cari waktu buat ngucapin terima kasih sama dia."

"Tenang aja, nanti ada banyak kesempatannya. Tapi kamu mungkin harus ganti panggilan, manggil dia 'Kak Ipar'."

"Boleh, begitu kalian cerai, aku langsung ganti panggilan."

Geisha tidak menjawab, hanya mendongak menatapnya.

Shane bertanya, "Kenapa? Baru pertama kali lihat cowok ganteng?"

"Kamu sama Daniel benaran temenan kayak saudara?"

"Lah, terus apa? Masa saudari?"

"..."

Raut wajah Shane tiba-tiba mengeras. "Hapus semua pikiran kotor dan jorok itu dari kepalamu."

Geisha mengerucutkan bibirnya. "Kok kamu bisa tahu aku lagi mikir apa?"

"Emang susah ditebak?" Shane tiba-tiba memasang wajah serius dan bertanya dengan nada tegas, "Tadi kalian nggak ngapa-ngapain, 'kan?"

Geisha tidak bisa berkata apa-apa. "Tenang aja, sahabat baikmu si Daniel baru aja dipanggil pergi sama telepon dari selingkuhannya. Belum sempat ngapa-ngapain kok."

Shane mengangguk. "Syukurlah."

"Tapi tiga bulan terakhir ini kayaknya dia lumayan sering tenggelam dalam pelukan hangat si Lucy."

"Oh, aku nggak peduli."

Geisha tiba-tiba merasa tidak bisa memahami pria ini. "Kamu begitu peduli sama aku, tapi sama sekali nggak peduli kalau Daniel ngapa-ngapain sama Lucy. Emangnya kenapa? Aku kena penyakit menular? Aku benaran penasaran, selama ini kamu mati-matian pengen aku sama Daniel berpisah, alasannya apa sih? Aku pernah ngelakuin apa sampai bikin kamu tersinggung?"

Shane mengedipkan mata indahnya. "Kenapa kamu nggak curiga kalau sebenarnya yang aku pedulikan itu kamu?"

"Aku belum gila."

"Iya, kamu nggak gila, cuma bodoh aja." Pandangan Shane berkedar sejenak, lalu dia berbalik membelakangi Geisha sambil menambahkan, "Aku cuma takut Daniel ketularan bodoh, dari orang sukses dan mapan berubah jadi pikun parah, ujung-ujungnya lumpuh dan nggak bisa ngurus diri sendiri."

"Doain yang baik-baik dong buat dia. Kalau masih nggak tenang, mending kamu aja yang berkorban, selamatin sahabat baikmu itu pakai tubuhmu sendiri. Jadi gay 'kan masih mending daripada lumpuh dan nggak bisa ngurus diri sendiri?"

Shane langsung tertawa terbahak. "Orang-orang taunya kamu itu cewek anggun, lembut, dan penurut. Harusnya tadi aku rekam pas kamu galak dan cerewet, biar yang lain tahu kamu aslinya kayak apa."

"Seperti apa?"

Daniel kembali sambil memegang ponsel, tampak agak terkejut. "Shane, kok kamu di sini? Ada perlu sama aku?"

Geisha menjawab, "Iya, sahabat baikmu ini ada urusan penting yang mau dia omongin sama kamu."

Membuat orang jadi gay, bukankah itu termasuk urusan penting dalam hidup?

Daniel justru tampak baru menyadari sesuatu. "Urusan penting? Jangan-jangan cewek yang udah kamu tunggu lebih dari sepuluh tahun itu, akhirnya cerai?"

Shane menjawab, "Sebentar lagi."

"Wah, akhirnya penantianmu membuahkan hasil. Selamat, ya."

Geisha menyahut, "Nggak nyangka, seleranya berat juga ya, Pak Shane. Sukanya istri orang?"

Shane melotot padanya. "Orang dewasa lagi ngomong, anak kecil jangan nyaut."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 100

    "Mmph!"Geisha hampir tidak sempat bereaksi ketika tiba-tiba dicium. Shane menciumnya?!Adegan ini terlalu absurd. Geisha sempat mengira dirinya masih bermimpi.Namun, rasa perih yang nyata di bibirnya seketika menghancurkan ilusinya.Ciuman Shane mendarat begitu membabi buta, nyaris disertai gigitan dan isapan.Baru saja Geisha membuka mulut untuk berbicara, pria itu langsung membungkamnya dan mengambil alih napasnya. Geisha memukul bahunya, tetapi sama sekali tidak berguna. Pukulannya bahkan tidak bisa menyakitinya sedikit pun. Sebaliknya, itu malah membuat Shane makin gila dan terus menuntut lebih. "Geisha! Geisha!"Geisha tidak menjawab."Geisha, kamu kenapa? Ada apa?"Geisha tetap bungkam."Geisha, kamu di mana? Jawab aku!"Shane tiba-tiba berhenti. Dia menyeringai nakal, lalu menyodorkan ponsel ke depan wajah Geisha. "Mau kasih tahu dia nggak apa yang baru aja aku lakuin ke kamu?"Geisha sudah terlalu lama kekurangan oksigen. Kepalanya terasa pusing dan berat. Dia hanya bisa t

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 99

    Rahasia ini telah disembunyikan oleh kedua wanita tersebut selama lebih dari sepuluh tahun. Mereka berniat membawanya hingga ke liang kubur.Namun, Thea berkata, "Geisha, aku bisa menebak kalau masalah antara kamu dan Daniel itu karena kejadian yang menimpaku. Sebagai teman, aku nggak bisa diam saja melihat kalian berpisah cuma karena salah paham, tapi sekarang ... Sepertinya masalah ini sudah sampai pada titik yang sulit diperbaiki. Aku nggak tahu harus gimana buat menebus rasa bersalahku ke kamu. Jadi, aku cerita semua kejadian malam itu ke Daniel secara utuh dan apa adanya. Sisanya, kalian berdua yang putusin sendiri, ya."Ponsel itu kembali berpindah ke tangan Daniel.Dari seberang telepon, Geisha bisa mendengar suara napasnya.Dia tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana, begitu pula dengan Daniel.Pada akhirnya, Geisha lah yang lebih dulu bersuara, "Masalah Thea, aku harap kamu bisa merahasiakannya baik-baik dan jangan pernah membocorkannya. Kalau nggak, aku nggak akan ting

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 98

    Geisha tidak punya nafsu makan.Setelah makan, dia secara sukarela mengusulkan, "Aku tidur di sofa ruang tamu aja."Shane sepertinya ingin mengatakan sesuatu, tetapi urung. Pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa. Sebenarnya, Geisha tahu persis apa yang ingin diucapkan pria itu. Pasti berkaitan dengan kejadian di Gedung Zenith hari ini.Namun, yang dia butuhkan saat ini bukanlah kata-kata penghiburan, apalagi sindiran.Dia hanya ingin tenang sejenak.Untungnya, Shane kali ini cukup pengertian. Dia hanya mengucapkan, "Istirahatlah yang cukup," lalu masuk ke kamar tidur.Geisha tidak tahu sudah berapa lama dia gelisah bolak-balik di sofa, sebelum akhirnya terlelap dalam kantuk yang berat.Dalam keadaan setengah sadar, dia seolah bermimpi tentang adegan di atap Gedung Zenith hari ini.Bedanya, kali ini, dialah yang berdiri di tepi atap gedung itu.Angin bertiup kencang dan hujan turun dengan derasnya.Tetesan hujan yang dingin menghantam tubuhnya, lalu diterpa angin malam yang menusu

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 97

    Baru saja keluar dari lift, dia berpapasan dengan Shane.Dengan sigap, pria itu merangkulnya dan menariknya kembali masuk ke dalam lift.Dia langsung menekan tombol lantai 64.Geisha berkata, "Aku mau ke resepsionis buat pesan kamar.""Malam ini kamu tidur di tempatku.""Nggak mau.""Daniel lagi ada di Kota Sentana sekarang. Kalau dia nyamperin terus berlutut di depan pintu kamar kamu buat ngasih penjelasan, kamu masih bisa tidur nggak?"Geisha terdiam."Mending kamu tidur di tempatku. Kalaupun dia nyari ke sini, biar aku yang nyuruh dia pergi. Jangan sampai dia ganggu waktu mesraku sama pacarku."Geisha langsung pasrah. Dia menatap indikator lantai di atas pintu lift yang angkanya terus melompat naik satu per satu. Shane mengusap kepala anjing-anjing itu. "Kalian hari ini kelakuannya bagus. Besok suruh ibu kalian tambahin jatah paha ayam."Anjing-anjing itu menjulurkan lidah sambil menyeringai polos, lalu menjilati tangan Shane.Shane mengerutkan kening, lalu mengusapkan air liur di

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 96

    Saat mereka sedang berbicara, terdengar keriuhan di pintu masuk Gedung Zenith.Sekelompok satpam keluar satu per satu, disusul rombongan besar wartawan yang membawa kamera dan berbagai peralatan liputan. Setelah itu, polisi, pemadam kebakaran, dan para negosiator.Terakhir, sepasang pria dan wanita yang dikelilingi oleh sekelompok satpam.Wajah Lucy masih basah oleh air mata, sementara Daniel menggendongnya di pelukannya."Sudah keluar! Mereka sudah keluar!"Massa langsung berbondong-bondong maju ke depan.Hanya Geisha dan Shane yang masih berdiri di tempat.Ketiga anjing itu sepertinya juga merasakan suasana hati pemiliknya. Mereka duduk dengan patuh tanpa membuat onar, hanya menempel erat di kaki Geisha.Entah kenapa, suasana itu terasa sedikit hangat. Sebuah mobil hitam perlahan berhenti di pinggir jalan. Henry membuka pintu dan berlari cepat ke sana, lalu berdiri melindungi Daniel dan Lucy sambil membantu polisi membuka jalan. Saat rombongan itu melewati tempat mereka, Geisha te

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 95

    Di langit di atas Sungai Grandis, kembang api masih terus meledak.Namun, sudah tidak ada banyak orang yang menonton lagi. Semua orang mulai berlari ke arah yang sama.Geisha bertanya dengan bingung, "Kalian mau ke mana?"Seorang pemuda menjawab, "Katanya ada orang yang mau bunuh diri dengan melompat dari Gedung Zenith!"Melompat dari gedung?Geisha langsung berdiri. Gedung Zenith letaknya tidak jauh dari sini, hanya sekitar dua atau tiga ratus meter."Pak Shane, bagaimana kalau kita ke sana?"Shane sepertinya tidak terlalu terkejut. Dia hanya terkekeh pelan. "Dia memang benar-benar nekat."Suara langkah kaki dan dentuman kembang api di sekitar saling berbaur, membuat Geisha tidak mendengar perkataannya dengan jelas."Kamu ngomong apa?""Ayo, lihat .... Nggak ada salahnya."Geisha menuntun ketiga anjing itu dan berjalan ke arah sana.Shane memanfaatkan kesempatan itu untuk menggenggam tangannya. "Di sini ramai. Jangan sampai kepisah."Kawasan Sungai Grandis malam ini ditakdirkan untuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status