Share

Bab 8

Penulis: Larasati
Geisha berkata, "Pak Shane, urusan surat cerai aku serahin ke kamu ya. Nanti kalau surat kuasanya udah ditandatangani, aku hubungi kamu."

Shane bertanya, "Ngusir aku?"

"Aku ada urusan, mau keluar sebentar."

"Malam-malam begini, Nona Geisha jangan-jangan mau ketemu selingkuhan juga?"

Geisha menjawab, "Aku mau nonton pertunjukan."

"Ayo, bareng. Kebetulan aku juga pengen lihat."

Geisha sebenarnya tidak bermaksud melibatkan Shane dalam urusan ini.

Namun, Shane dengan cepat menutup laptopnya dan turun untuk menyiapkan mobilnya.

Geisha merasa tidak ada salahnya membiarkan pria itu ikut melihat. Toh, orang yang dibenci Shane adalah dirinya. Siapa tahu kali ini Shane malah bisa sekalian berkenalan lebih dulu dengan calon "kakak ipar".

Setengah jam kemudian, Shane dan Geisha tiba di pusat perbelanjaan.

Shane pergi memarkir mobil, sementara Geisha masuk sendirian.

Baru saja sampai di tikungan lorong, dia sudah melihat Lucy di dalam toko perhiasan.

Wanita itu sudah berganti seragam dan mengenakan sarung tangan beludru biru, sedang merapikan koleksi perhiasan yang baru tiba.

Kring!

Ponsel Geisha berdering. Daniel meneleponnya.

Dia mencibir pelan, lalu mengangkat panggilannya. "Halo?"

"Geisha, urusanku udah beres dan aku pulang lebih awal. Kok kamu nggak ada di rumah?"

Geisha sengaja bertanya, "Bukannya kamu ada urusan yang sangat mendesak? Kok bisa secepat itu selesainya?"

"Ya makanya aku buru-buru menyelesaikannya biar bisa cepet pulang nemenin kamu. Kan udah janji nggak ngantor beberapa hari ini buat nemanin kamu. Hari ini emang ada kondisi khusus, jadi aku sempetin keluar sebentar ...."

Geisha merasa alasan ini sungguh konyol luar biasa.

Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Tadi kamu bilang malam ini nggak pulang, jadi aku main ke rumah Thea."

Thea adalah sahabatnya. Sebagai seorang aktris yang sudah punya nama, Thea harus menghabiskan waktu lama untuk menyamar setiap kali mereka bertemu, dan kebanyakan janji temu mereka diadakan pada malam hari.

Sebelumnya, Geisha sudah beberapa kali keluar malam untuk menemui Thea, jadi Daniel tidak curiga sedikit pun kali ini.

"Bukannya Thea masih syuting di Kota Sineas dua hari lalu? Kok tiba-tiba udah balik?"

"Baru selesai syuting."

"Oh, gitu," kata Daniel. "Kalau gitu, kalian bersenang-senanglah. Besok pagi aku jemput kamu di rumah Thea, ya."

"Nggak usah, supirnya Thea yang bakal anter aku pulang."

Setelah menutup telepon, Geisha berjalan perlahan menuju toko perhiasan.

Lucy segera melihatnya dan menyapa dengan senyuman, "Nona Geisha, sudah datang ya. Eh, maaf sebentar, telepon saya bunyi. Saya angkat dulu."

Geisha mengangguk, lalu mencari tempat duduk dan menunggu sambil membolak-balik majalah.

Suara Lucy terdengar sangat manis dan sok imut.

"Aduh, jangan marah dong. Kakak sultan itu orangnya royal banget, pasti nggak bakal bikin aku nyia-nyiain waktu kok."

"Aku juga nggak tahu dia bakal lihat sampai kapan. Namanya juga pembeli adalah raja, masa aku harus nyuruh-nyuruh."

"Udah, udah, aku tahu hari ini tiba-tiba ninggalin kamu itu salah. Lain kali aku gantiin, ya?"

"Aduh, jangan rewel, di sini masih ada pembeli."

"Aku tutup dulu ya, pembelinya masih nunggu. Dadah."

Lucy menutup telepon. Pipinya merona merah, matanya berkaca-kaca dan berbinar terang, benar-benar gambaran seorang wanita yang sedang dimabuk asmara.

Dia membawa sebuah nampan dan berjalan mendekat. "Nona Geisha, coba lihat. Beberapa model ini menurutku cocok banget sama aura Nona. Nona bisa coba dulu. Kalau nggak sreg, nanti aku ambilkan model yang lain."

Geisha mengangguk. "Boleh."

Tangan Lucy masih sama cantiknya. Gerakannya saat merapikan dan melepas perhiasan tetap terlihat menawan dan menggoda.

"Yang nelepon tadi itu pacarmu, ya?"

Wajah Lucy makin merona. "Iya. Dia sibuk kerja. Saya juga lagi sibuk, jadi jarang banget ketemu."

Geisha terkekeh pelan. "Nanti juga bakal ada kesempatan buat sering-sering bareng."

Setelah dia resmi bercerai dari Daniel, mereka berdua akan punya banyak kesempatan untuk kencan diam-diam.

Kalau tidak mau bersembunyi lagi, pria itu bisa langsung meminangnya dan membawanya pulang agar bisa bersama setiap hari.

Lucy membungkuk untuk membantu menyesuaikan posisi anting Geisha, lalu berkata pelan, "Cowok tuh, kelihatannya cuek dan dingin, tapi begitu jatuh cinta, nempelnya minta ampun. Kadang saya sampai merasa dia nyebelin."

"Oh, ya? Kalian kenal gimana ceritanya?"

Lucy kembali tersipu malu. "Jadi, dia dulu sering banget mampir ke toko kami. Bilangnya mau beli perhiasan buat dikasih ke seseorang, terus maksa saya bantu coba pakai buat lihat hasilnya. Nah, lama-kelamaan ... dia bilang dia suka sama saya ...."

Suara Lucy makin mengecil, hingga di akhir kalimat terdengar seperti dengungan nyamuk.

"Dia beli perhiasan apa aja?"

"Ya, anting, kalung, dan semacamnya. Model-model dasar di toko kami sudah dia beli semua."

Geisha mengangguk. "Itu semua 'kan perhiasan wanita. Jangan-jangan dia membelinya untuk wanita lain?"

Tangan Lucy yang sedang merapikan anting itu mendadak tersentak, membuat kait anting menarik telinga Geisha hingga terasa perih. "Aduh ...."

Dia menyentuh daun telinganya dengan jari, dan ternyata berdarah.

"Ah, maaf. Maafkan saya, Nona Geisha! Saya nggak sengaja ...." Lucy buru-buru menarik tisu untuk membantu membersihkannya.

"Apa yang kamu lakukan?!"

Sebuah dorongan keras tiba-tiba datang, menghantam Lucy hingga tersungkur ke samping dan membentur etalase pajangan. Terdengar bunyi benturan yang keras, pasti rasa sakitnya tidak main-main.

Belum sempat Geisha mencerna apa yang terjadi, embusan napas hangat sudah menyapu sisi lehernya.

Daun telinganya terasa hangat, seolah baru saja disentuh oleh seseorang.

"Kamu nggak apa-apa?"

Geisha menatap jelas sosok di hadapannya, dahinya berkerut. "Kok kamu ikut ke sini?"

Wajah Shane menegang. Dia menunjuk daun telinga wanita itu yang terluka dengan dagunya. "Bukannya tadi mau nonton pertunjukan? Pertunjukanmu ini kok malah bikin telinga berdarah."

Geisha mengambil beberapa lembar tisu dari dalam tasnya, lalu mengelap darah di telinganya.

Kertas tisu putih itu langsung ternoda merah yang cukup luas, menandakan darahnya cukup banyak yang mengucur.

Lucy tampak sangat tersinggung dan takut. "Maafkan saya, Tuan. Saya nggak sengaja melukai istri Anda. Saya akan segera beli alkohol dan kapas untuk membersihkannya."

"Nggak usah," tolak Shane dengan nada dingin. "Aku akan membawanya ke rumah sakit."

Dia menarik lengan Geisha dan menyeretnya keluar. "Ayo pergi, kalau dibiarkan lama-lama bisa infeksi."

Sepanjang perjalanan, Geisha merasa bokongnya hampir tidak menyentuh jok mobil.

Shane menyetir seolah-olah mobilnya sedang terbang.

"Pak Shane, kalau suatu hari nanti kamu nggak jadi pengacara lagi, mending pertimbangkan buat pindah profesi jadi pembalap."

Shane meliriknya dengan kesal. "Lukamu itu sepertinya masih kurang parah."

"Ini nggak terlalu parah. Aku bisa bersihin dan kasih obat sendiri di rumah, nggak perlu ke rumah sakit."

Shane menyahut, "Kamu nggak takut nanti setelah sembuh, daun telingamu jadi sebelah panjang sebelah pendek?"

Geisha menjawab, "Ya udah, nanti yang satunya aku tarik juga biar panjang. Jadinya kayak patung Buddha yang telinganya panjang, haha."

Pada akhirnya, mereka tetap pergi ke rumah sakit.

Dokter membersihkan luka, melakukan perawatan awal, dan meresepkan sedikit cairan antiseptik, sembari berpesan agar Geisha mengoleskannya sendiri di rumah.

Sepanjang proses itu, Shane hanya berdiri menyandarkan diri di samping dengan tangan terlipat di dada dan raut wajah yang murung.

Saat hendak pulang, barulah Shane membuka suara dan bertanya dengan nada mendesak, "Untuk kondisi seperti ini, apa perlu disuntik tetanus?"

Dokter menjawab, "Nggak perlu. Antingnya terbuat dari emas, selama nggak berkarat, nggak akan masalah."

"Bukannya di udara juga ada bakteri tetanus? Mending disuntik saja biar lebih aman."

Geisha kehabisan kata-kata. "Di udara juga ada virus rabies, kenapa kamu nggak sekalian minta disuntik vaksin rabies buat aku?"

Dokter itu tertawa kecil. "Kalian berdua ngobrolnya seru banget ya. Pasti seru deh kalau hidup bareng."

Geisha pulang dengan menaiki taksi.

Shane menawarkan diri untuk mengantar, tetapi Geisha menolaknya dengan halus.

Dua orang yang setiap bertemu selalu bersitegang, tentu akan terlihat sangat janggal jika tiba-tiba Shane mengantar Geisha pulang.

Apalagi, sebelum surat cerai resmi terbit, dia tidak boleh membiarkan Daniel mencium gelagat kedekatannya dengan Shane.

Geisha tiba di rumah saat hari sudah larut malam.

Bi Ani sudah pulang kerja, sehingga seluruh ruang tamu tenggelam dalam gelap.

Namun, sejak dari luar vila, dia sudah menyadari lampu kamar utama masih menyala. Daniel belum tidur.

Lebih dari itu, di area pintu masuk vila, dia melihat sepasang sepatu hak tinggi kulit hitam mengkilap yang sangat familier.

Dia sangat hafal sepatu itu.

Itu sepatu milik Lucy.

Dipajang bersebelahan dengan sepatu pantofel hitam milik Daniel.

Terlihat sangat serasi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 50

    Geisha menaiki lift menuju lantai 64.Baru saja melangkah keluar dari pintu lift, dia hampir saja diterjang hingga jatuh ke lantai.Tiga ekor anjing herder itu berebutan melompat ke arahnya, membuat Geisha hampir saja kehilangan keseimbangan di tempat."Anak-anak, sini."Dengan satu komando dari Shane, ketiga anjing itu langsung menundukkan kepala dan menggoyangkan ekor, kembali ke sisinya lalu berbaring dengan patuh di dekat kakinya.Geisha menepuk-nepuk bekas tapak anjing di seragamnya, baru kemudian berjalan perlahan mendekat, "Mesin kopinya mana?"Shane menjawab, "Belum dibeli."Ellie bingung setengah mati.Kalau belum dibeli, apa yang harus dia perbaiki?Sambil dengan santai mengelus anjing-anjing itu dan menggeser layar ponsel dengan satu tangan, Shane bertanya, "Kamu 'kan suka minum kopi. Ada rekomendasi mesin kopi yang bagus nggak?"Geisha, "Urusan begini nggak bisa diselesaikan lewat ponsel aja?"Harus banget tengah malam begini manggil dia ke atas?Lagi pula ….Dia menjulurka

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 49

    "Belum tentu. Siapa tahu dia biseksual."Geisha menambahkan, "Dia juga seorang masokis."Thea menghiburnya, "Nggak apa-apa. Aku udah ngomong sama jastipnya. Dia bakal segera bantu beliin buat kamu. Begitu kemejanya udah kamu kasih sebagai ganti, kamu nggak perlu takut sama dia lagi."Sebenarnya, Geisha tidak benar-benar takut padanya.Meskipun Shane agak menargetkannya, perilaku pria itu masih dalam batas yang bisa ditoleransi.Menjadi seorang manajer hotel berarti harus siap menghadapi berbagai macam tipe tamu.Nona Karina dan pria itu adalah dua contoh kasus yang paling nyata. Berkat pengalaman menangani mereka berdua, jam terbang dan keahlian kerjanya makin bertambah matang.Tok, tok.Terdengar suara ketukan pintu.Thea memberi isyarat agar Geisha diam, lalu pergi membuka pintu.Melihat Henry berdiri di luar, dia langsung memasang wajah tidak ramah. "Ngapain lagi? Belum cukup nyium bau sepatu hak tinggi aku, ya?"Salah satu sisi pelipis Henry sudah ditempeli perban, sepertinya baru

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 48

    Henry ketahuan basah dan sambungan telepon langsung terputus.Daniel merasa sedikit kesal. Tadi dia sedang asyik mendengarkan, tetapi kini dia tidak bisa lagi mendengar suara Geisha.Setelah beberapa saat, Henry menelepon balik. "Pak Daniel, saya tadi ketahuan."Daniel sedikit menegurnya dengan suara rendah, "Sudah kubilang hati-hati! Kok bisa ketahuan semudah itu sih?"Henry merasa serba salah. "Nona Lucy mengirim pesan pada saya, nanyain Bapak di mana. Kebetulan layar ponsel saya menyala, dan Nona Thea langsung melihatnya."Daniel menahan napas kesal di dalam dadanya."Blokir aja nomor dia.""Benar nggak apa-apa, Pak? Bagaimanapun juga, dia sedang mengandung anak Bapak. Kalau tiba-tiba ada keadaan darurat dan dia nggak bisa menghubungi siapa-siapa ...."Daniel menjawab, "Tenang aja. Orang tuaku sekarang jagain dia ketat banget kayak barang berharga, jadi dia nggak bakal butuh hubungi kamu."Henry hanya bisa menurut. "Baik, nanti saya blokir.""Oh ya ...." Daniel teringat percakapan G

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 47

    Dulu, ada ganjalan di hatinya. Dia merasa karena Geisha pernah berselingkuh sekali, maka dia pun harus berselingkuh sekali, agar batinnya bisa seimbang.Sebenarnya, sejak awal dia tidak terlalu melirik Lucy sebagai pilihan.Lagi pula, setelah terbiasa dengan kecantikan Geisha yang luar biasa, paras Lucy jelas jauh di bawah standar.Namun, Lucy memiliki sepasang tangan yang sangat indah.Dia sangat menyukai tangan Geisha. Jari-jarinya lentik, tetapi tidak kurus kering, kulitnya lembut dan putih berseri. Wanita itu juga tidak pernah melakukan perawatan kuku, memancarkan kecantikan yang begitu bersih dan alami.Tangan Lucy memang tidak buruk, tetapi dengan tambahan cat dan desain kuku, dia kehilangan keindahan alaminya dan hanya bisa dianggap seadanya.Saat memilihnya, Daniel meyakinkan dirinya sendiri: parasnya biasa saja, kemampuannya biasa saja, latar belakang keluarganya juga biasa saja. Nanti saat mereka berpisah, dia akan memberinya sejumlah uang yang cukup untuk biaya hidupnya hing

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 46

    Victor dan Orla mana pernah melihat putra mereka marah sehebat ini.Wajah Daniel dingin dan tegas, kata-katanya seolah bercampur dengan angin dingin yang menusuk, "Ayah, dia itu menantumu. Tolong jaga mulut Ayah."Suara gaduh yang luar biasa akhirnya membuat pengasuh itu keluar dari persembunyiannya.Dia bergegas datang dari dapur, dan yang dilihatnya adalah seluruh ruang makan yang berubah menjadi berantakan.Makanan dan lauk pauk berserakan di lantai. Sup dan bubur mengalir ke mana-mana, pecahan porselen beterbangan ke segala arah, bahkan beberapa bagiannya sudah jatuh di dekat pintu gerbang vila, menunjukkan kemarahan Daniel yang luar biasa.Victor juga ikut marah. "Dari awal aku nggak pernah akui dia sebagai menantu! Aku bilang, cuma yang bisa ngasih keturunan yang layak jadi menantu Keluarga Stephen! Orang luar yang nggak jelas, nggak pantas masuk ke rumah Keluarga Stephen!""Oke." Daniel terkekeh dingin. "Aku nggak bisa punya anak, jadi aku juga dianggap orang luar yang nggak pen

  • Sahabat Suamiku Merebut Hatiku   Bab 45

    "Licin banget, kayak belut.""Rebecca yang nyuruh aku ….""Hei … Shane! Sial!"Ellie terdiam kaku.Sekarang ini situasi apa?Shane jelas baru saja selesai mandi, dan di atas kasur masih ada seorang wanita yang berbaring?!Geisha juga jelas terkejut.Cewek seksi berkulit gelap?Dari nada bicaranya, sepertinya cewek ini sangat akrab dengan Shane.Geisha tiba-tiba mendapat pencerahan.Ellie bertanya dengan terbata-bata, "Bu Geisha, boleh aku tanya sesuatu nggak?""Silakan.""Kalian berdua ini lagi ngapain sih?"Geisha menjawab, "Kalau aku bilang aku ke sini cuma buat bikin hiasan kecil di pinggir kasur, kamu percaya nggak?"Ellie menatapnya, lalu melirik Shane yang duduk santai di samping sana seolah tidak terjadi apa-apa. Jelas sekali Ellie tidak percaya.Geisha bertanya, "Nona Ellie, boleh aku juga tanya sesuatu?""Tanya aja.""Kamu pernah cerai?"Ellie heran.Dia menunjuk Shane. "Kamu sampai cerita soal ini ke dia?!"Shane mengangkat kedua tangannya, menggelengkan kepala dengan wajah t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status