مشاركة

Bab 10: Puisi Arka

مؤلف: Akuaja
last update تاريخ النشر: 2026-08-14 03:33:38

Langkah demi langkah membawa mereka kepada sebuah pintu kaca besar. Pintu itu sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran Rian, yang belum sempat ia tulis. Dari mulai dari desain eksterior bangunan sampai ke detail interior bangunan tersebut.

Karena pada bab awal Rian hanya berfokus tentang pengenalan kedua tokoh utamanya tersebut, bagaimana sedikit konflik kecil yang akhirnya mereka bertemu.

Rian tersenyum karena di awal cerita Kinan seorang wanita ceria harus terpeleset ketika m
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Saingan Setengah kertas   Bab 13: Antara Pagi, Kopi, Cinta, dan Paprika

    Keesokan pagi saat sinar Matahari mulai beralih menuju ‘golden time’, Kinan membuka pintu kamarnya dengan mata yang masih terlihat mengantuk. Di ruangan Apartment Small milik Kinan. Terlihat Rian sedang berdiri di depan ‘mini pantry’ yang berada di sudut ruangan, ia terlihat sedang sibuk meracik kopi menggunakan alat ‘manual brew.’ Aroma kopi harum menguar ke seluruh ruangan. Sementara Arka duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, melirik ke arah Rian dengan gaya bos besar."Wah, baunya harum juga ya bikinan yu. Emang deh, tangan yu emang berjiwa ‘Robusta’ banget kalau urusan bikin kopi."ucap Arka nyeletuk memecah pagi itu.Rian yang tadinya fokus menuang air panas langsung berhenti. Ia menoleh ke arah Arka, lalu menatap dirinya sendiri. Ia terlihat bingung, lalu tersenyum menahan tawa."Robusta? Arka... Arka... ay manusia, bukan biji kopi digiling. Mana ada tangan berjiwa Robusta?" protes Rian sambik terus melanjutkan pekejaannya Kinan yang sedang duduk di meja ker

  • Saingan Setengah kertas   Bab 12: Dosa Besar Arka

    Suasana apartmen kecil akhirnya mulai tenang menjelang tengah malam. Kinan sudah sejak tadi masuk ke kamarnya sendiri, meninggalkan ruang tengah bagi dua pria yang bernasib malang. Masalah baru muncul saat mereka harus menentukan tempat tidur. Kursi panjang di ruang tengah hanya cukup untuk satu orang, sementara lantai beralaskan karpet tipis terasa kurang menggugah selera. Alhasil, terjadilah perang dingin penuh gengsi. "Udah, kamu aja yang tidur di kursi, Yan. Badan you kan agak kurus, pas banget kayak sarden dalam kaleng," protes Arka sambil melipat tangan di dada dengan balutan kain pantai lumba-lumbanya."Dih, ogah! Punggung i bisa patah. You aja tuh yang harusnya di kursi, biar muat sama kain pantai lumba-lumba you yang lebar itu!" balas Rian sengit sambil merebut bantal sofa, dan menimpali bahasa Arka yang berubah menjadi Cici di daerah PIK. Setelah adu dorong dan lempar-lempar bantal layaknya anak TK yang kehabisan tenaga, mereka akhirnya menyerah dan memutu

  • Saingan Setengah kertas   Bab 11: Insiden Piyama dan Kain Pantai

    Suasana apartemen kecil yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi arena sirkus swasta begitu suara pintu kamar mandi berderit terbuka. Kinan melangkah keluar dengan handuk kecil melingkar di kepala, wajahnya segar sehabis mandi malam. Di tangannya, ia membawa setumpuk pakaian bersih yang sudah ia pilihkan khusus untuk Arka, yang memang terpaksa menginap karena bab tambahan yang tidak jelas."Nih, Ka. Pakai baju ini biar tidur kamu nyaman. Jangan sok kegantengan, pakai jas mulu! Sekarang kita mau tidur, emang kamu mau kondangan ke alam mimpi?" serah Kinan santai, melempar setumpuk pakaian itu ke atas sofa tempat Arka duduk.Arka yang sedang meregangkan otot leher langsung mengambil tumpukan baju tersebut. Alisnya seketika menukik tajam, matanya membelalak tak percaya menatap isi kain yang ada di tangannya."Kinan, Kinan, kamu kayaknya benar-benar dendam sama aku, Nan?" protes Arka, mengangkat benda-benda tipis itu dengan dua jari seolah itu adalah bangkai kecoa beracun. "In

  • Saingan Setengah kertas   Bab 10: Puisi Arka

    Langkah demi langkah membawa mereka kepada sebuah pintu kaca besar. Pintu itu sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran Rian, yang belum sempat ia tulis. Dari mulai dari desain eksterior bangunan sampai ke detail interior bangunan tersebut. Karena pada bab awal Rian hanya berfokus tentang pengenalan kedua tokoh utamanya tersebut, bagaimana sedikit konflik kecil yang akhirnya mereka bertemu. Rian tersenyum karena di awal cerita Kinan seorang wanita ceria harus terpeleset ketika menginjak kulit pisang, dan di saat itulah, Arka sosok Pria dingin datang menyelamatkannya. Sebuah alur klasik tetapi, sangat membekas di dalam cerita drama-drama romantis. Beralih ke sebuah ruangan yang berada di dalam gedung, ruangan yang mengantarkan mereka ke lantai 5 dari apartemen tersebut. Dan tepat di kamar 503, Kinan mengeluarkan sebuah kunci kamar yang memiliki gantungan menyerupai sebuah terong. Persis seperti yang Rian pikirkan. Gantungan tersebut memang akan ia pakai di dala

  • Saingan Setengah kertas   Bab 9: Berakhirnya Entitas Menakutkan

    “Braaak… Gedubrak” Suara gaduh yang ditimbulkan oleh terdorongnya suara rak dan meja yang terdorong. Lemari yang begitu berat terdorong jauh hampir mengenai Kinan dan Arka. Rian yang melihat hal tersebut, langsung melompat, melewati meja yang menjadi tempat mereka berkumpul dengan laptop berada di atasnya. Kaki kanannya menendang kursi Arka, sehingga Arka terdorong terpental ke samping sedangkan tangannya menggendong Kinan ke arah berlainan. Rian yang sigap berhasil menyelamatkan tokoh utamanya tersebut. Hanya saja laptop kesayangan Rian belum diketahui nasibnya. Sosok makhluk berjubah hitam tersebut menyeringai, dengan nada voice over yang berat, mahluk tersebut mengatakan: “Kalian bertiga harus segera dimusnahkan agar tidak membahayakan sistem” makhluk tersebut dengan nada berat dan kaku tanpa intonasi. Tepat di atas kepala mahluk tersebut terlihat tulisan dengan cahaya biru yang sangat terang di dalam keadaan seperti itu. [Software update automatically completed] Ri

  • Saingan Setengah kertas   Bab 8: Sifat Dasar Wanita

    "Dasar cowok egois," teriak Kinan ketika mereka berhasil memasuki salah satu ruangan bertingkat di kota Lumina."Kamu tega ninggalin aku," tambah Kinan kepada Arka, tetapi tangannya masih tetso memegang Rian. Rian yang mendengar hal itu tersenyum dalam hati. Ia menyadari bahwa, ternyata memang benar sifat wanita memang benar seperti itu, tanpa ia harus menulisnya ke dalam naskah ceritanya tersebut. Arka yang mendengar omelan Kinan, hanya bisa diam, sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Ia hanya menyimak sambil terus mencari tempat perlindungan yang lebih baik. Beberapa rak buku dan meja ia coba geser untuk menghalangi pintu ruangan tersebut."Sudah Kinan, kita tidak punya waktu untuk meributkan hal itu! Lagian kamu juga tadi kan bareng sama Rian, jadi aku pikir bakal aman," jelas Arka, mulai mengambil beberapa barang untuk menutupi pintu tersebut. Bahkan tempat Sampah plastik yang tidak memiliki berat yang signifikan, ia letakkan di atas meja tersebut."Iya, tapi tetap s

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status