LOGIN“Braaak… Gedubrak”
Suara gaduh yang ditimbulkan oleh terdorongnya suara rak dan meja yang terdorong. Lemari yang begitu berat terdorong jauh hampir mengenai Kinan dan Arka. Rian yang melihat hal tersebut, langsung melompat, melewati meja yang menjadi tempat mereka berkumpul dengan laptop berada di atasnya. Kaki kanannya menendang kursi Arka, sehingga Arka terdorong terpental ke samping sedangkan tangannya menggendong Kinan ke arah berlainan. Rian yang sigap berhasil menyelamatkan tokoh utamanya tersebut. Hanya saja laptop kesayangan Rian belum diketahui nasibnya. Sosok makhluk berjubah hitam tersebut menyeringai, dengan nada voice over yang berat, mahluk tersebut mengatakan: “Kalian bertiga harus segera dimusnahkan agar tidak membahayakan sistem” makhluk tersebut dengan nada berat dan kaku tanpa intonasi. Tepat di atas kepala mahluk tersebut terlihat tulisan dengan cahaya biru yang sangat terang di dalam keadaan seperti itu. [Software update automatically completed] Rian membawa Kinan untuk berlindung di samping meja tempat laptop berada, begitupun juga dengan Arka. Sinar laser biru yang keluar dari mata entitas tersebut mulai menghilangkan segala sesuatu yang menjadi sasarannya. Dimulai dari pot tanaman, kursi, dan juga tempat sampah, lenyap tanpa ada sisa. Dengan susah payah Rian dan Arka menggeser lemari yang sudah mendorong meja hingga terhimpit ke rak belakang yang langsung menempel ke tembok. Mereka berencana bersembunyi di bawah atau di kolong meja tersebut. Kinan merogoh saku jaketnya, ia menemukan flash drive transparan milik paman Arka yang sempat diserahkannya tadi. Tanpa ragu, Kinan melemparkan flash drive tersebut tepat di tengah lingkaran kursor merah yang melayang di udara. Begitu benda itu menyentuh pusat kursor, data keuangan PT Sinar Abadi yang tersimpan di dalamnya bereaksi secara tak terduga, memancarkan gelombang cahaya biru terang yang memicu konflik sistematis baru di dalam program sang Administrator. Flash drive transparan itu berputar di udara, memancarkan cahaya biru menyilaukan yang langsung beradu dengan sinar laser merah dari sang System Administrator. Di dalam drive tersebut tersimpan data keuangan asli PT Sinar Abadi. Ini menjadi sebuah elemen naratif yang memiliki bobot "kepemilikan sah" di dalam dunia fiksi ini. Ketika data itu dilemparkan ke dalam antarmuka sistem, logika program mengalami benturan hebat. ["Kesalahan Fatal: Konflik kepemilikan data root dan anomali eksternal,"] suara mekanis sang Administrator terdengar terdistorsi, nada dinginnya kini menyiratkan kepanikan digital. Jendela antarmuka raksasa di hadapan mereka berkedip liar, berubah warna dari biru tua menjadi kuning terang, lalu berangsur-angsur dipenuhi garis-garis galat vertikal. Kursor merah yang tadinya mengunci Rian mendadak membeku, bergetar hebat sebelum akhirnya pecah menjadi serpihan piksel yang berhamburan ke udara malam. "Lemparan yang luar biasa, Kinan!" seru Rian takjub, segera menarik tangan Kinan dan melangkah mundur mendekati Arka. "Jangan puji aku dulu! Lihat itu!" balas Kinan panik, menunjuk ke arah sang Administrator. Sosok berjas hitam itu kehilangan kestabilannya. Kabut putih berpiksel di wajahnya tersobek, memperlihatkan baris-baris kode biner yang mengalir keluar dari kepalanya seperti darah digital. Program pembersih itu mulai mengalami crash total akibat beban data asing yang dimasukkan secara paksa. "Dia tidak bisa menghapus kita sekarang karena sistemnya sendiri sedang melumpuhkan dia!" teriak Arka, matanya tajam mengamati celah yang terbuka. "Ini kesempatan kita untuk membalikkan keadaan!" Rian tidak membuang waktu. Sebagai pencipta asli dari dunia ini, ia tahu bahwa setiap sistem otomatis memiliki titik akses darurat. Sambil berlari kecil menghindari serpihan kode yang jatuh ke aspal, Rian merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel pintar yang terkonekai dengan laptopnya yang tadi sempat menampilkan teks peringatan. Ia mengetik cepat, memasukkan baris perintah manual berdasarkan sisa-sisa memori skrip bab pertama yang ia buat adalah sebuah cheat code naratif yang hanya diketahui oleh penulisnya. [Perintah Eksekusi: Isolasi Anomali dan Paksa Logout Sesi] 'Enter'. Seketika, sebuah lingkaran cahaya putih murni meledak dari layar ponsel Rian, menghujam langsung ke tubuh sang Administrator. Entitas berjas hitam itu menjerit dalam suara rekaman kaset yang berputar mundur, sebelum akhirnya tersedot ke dalam pusaran titik hitam kecil dan lenyap dari atas jalan tol. Suara angin malam kembali terdengar normal. Garis-garis kode teks di langit malam memudar sepenuhnya, menyisakan keheningan yang dalam. Arka, Kinan, dan Rian terengah-engah, bersandar pada pembatas jalan tol sambil menatap tempat sang Administrator tadi berdiri. Di atas aspal yang dingin, flash drive transparan itu tergeletak dengan selamat, memancarkan cahaya biru yang kini jauh lebih tenang. Arka berjalan mendekat, memungut flash drive tersebut dan menyimpannya kembali ke dalam jaketnya. Ia menoleh ke arah dua temannya dengan senyum tipis penuh kemenangan. "Bab ini benar-benar melelahkan," kata Arka, mengusap peluh di keningnya. "Tapi kurasa... kita sudah benar-benar membersihkan semua kekacauan ini." Rian memasukkan ponselnya ke dalam ransel, lalu mengangguk pelan. Namun, jauh di lubuk hatinya, sebagai penulis yang paham betul cara kerja sebuah cerita, ia tahu satu hal yaitu: sebuah dunia fiksi yang telah menyadari keberadaan penciptanya tidak akan pernah benar-benar tamat begitu saja. *** Malam terus berjalan mendekati fajar, mereka bertiga merasa kelelahan yang teramat sangat. Langkah demi langkah mereka susuri setelah menyelesaikan semua ini. Kinan yang memimpin rombongan membawa ke apartement kecil miliknya. Sedangkan Rian yang masih bingung dengan adanya konflik di dalam cerita yang ia buat sendiri, masih berfikir keras. Bagaimana semua konflik ini bisa terjadi. Ketika angin berhembus pelan menyapu wajah Rian, ia seperti mendapatkan sebuah petunjuk. Rian beranggapan bahwa ketika ia mencabut flash drive itu belum ada atau belum di tulis di dalam naskah. Hal tersebut mungkin bisa saja menjadi pemicu dari ini semua. Sebuah penemuan besar yang harus ia teliti, ketika ia berada di dalam ceritanya sendiri. ***Bab 21 : Titik Nadir di Ujung CangkirMalam merayap semakin pekat, membawa serta keheningan yang kian menekan dada di dalam ruang Cafe D’Amour yang tertutup rapat dari dunia luar. Udara di dalam ruangan terasa begitu padat, seolah-olah setiap oksigen yang tersisa telah habis terkuras oleh keputusasaan dan deru napas tiga manusia yang terjebak dalam labirin tak berujung.Rian masih duduk terpaku di kursi sudutnya, menatap sisa-sisa ampas kopi hitam yang mengering di dasar cangkir porselen putih. Sebuah saksi bisu yang kecil atas kebodohan dan kegagalan mereka malam ini.Kepalanya masih terasa berat, berdenyut-denyut nyeri akibat hantaman kafein dosis tinggi yang memaksa sistem sarafnya bekerja di luar batas kewajaran. Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehampaan yang menggerogoti jiwanya dari dalam. Dunia tempat ia dilahirkan, kamar kosnya yang berantakan dengan tumpukan naskah cerita, aroma jalanan basah usai hujan di kota asalnya, serta wajah-wajah
Bab 20 : Labirin Kopi dan KeputusasaanKeheningan di dalam Cafe D’Amour mendadak berubah menjadi teror yang mencekam ketika tubuh Rian terkulai sempurna di atas meja kayu. Suara detak jam dinding bergaya vintage terdengar begitu nyaring, memecah kesunyian yang kian menghimpit dada Arka dan Kinan.Kinan lantas berlari kecil, berlutut di sisi meja, lalu mengguncang bahu pria itu dengan tangan yang bergetar hebat. "Rian? Hei... bangun, Rian! Ini tidak lucu lagi!" teriaknya, napasnya tersengat kepanikan murni ketika merasakan tubuh itu terkulai lemas tanpa perlawanan sama sekali.Arka langsung membungkuk, meraba nadi di pergelangan tangan Rian dengan jarinya yang dingin. Denyutnya ada, lambat namun stabil, hal ini menjadi bukti biologis yang telanjang bahwa jiwa pria itu belum terbang ke mana-mana."Dia masih di sini, Kinan," bisik Arka serak, suaranya kehilangan seluruh wibawa CEO yang biasa melekat padanya. Pria itu menatap lurus ke arah kepala Rian yang menelungkup di atas meja dengan
Bab 19 : Eksperimen Konyol di Cafe D'AmourMalam baru saja merangkak turun ketika sebuah mobil sedan mewah hitam milik Arka berhenti tepat di depan fasad bangunan Cafe D’Amour. Tempat itu tampak begitu temaram dan tenang, dihiasi lampu gantung bergaya vintage yang berpijar lembut di balik dinding kaca berwarna pastel. Namun, ada satu hal yang tidak biasa malam ini. Pintu utama kafe tampak terkunci rapat, dan seorang petugas keamanan berbadan tegap berdiri berjaga di luar tanpa mempersilakan satu pun pengunjung umum untuk masuk.Arka memang tidak mau mengambil risiko. Sebagai CEO yang terbiasa mengendalikan segala situasi di balik layar korporat, ia telah mengerahkan kekuasaannya untuk menyewa seluruh area Cafe D’Amour malam itu demi satu tujuan yang sangat rahasia: melakukan uji coba lintas dimensi secara tertutup agar tidak menarik perhatian publik atau disangka sebagai orang gila oleh pengunjung lain.Rian, Kinan, dan Arka melangkah masuk ke dalam ruangan kafe yang sunyi senyap. Ar
Bab 18 : Permintaan RianAcara pertemuan dari para stakeholder itu telah berakhir ditutup dengan kemenangan Arka. Sandra yang memang masih menaruh harapan atas kemenangan bisnis dan juga kisah percintaannya terhadap Arka, akhirnya terlihat meninggalkan ruangan tersebut.Rian, Kinan, dan Arka segera melangkahkan kakinya di atas lantai marmer dengan kilauan cahaya dari sinar matahari dan juga lampu gedung. Mereka akan segera membahas masalah tentang Rian.Rian tidak percaya dengan apa yang sedang ia alami di hidupnya sekarang. Sebuah latar yang dulu hanya berada di dalam imajinasinya, sekarang benar-benar ada di depan matanya.“ Bro Arka, urusanmu sudah beres dengan pamanmu! Sekarang kalian bantu pikirkan bagaimana caraku kembali dunia asal ku !” ucap Rian yang langsung duduk di kursi depan meja Arka.Mendengar hal itu, ada raut kesedihan terlukis di wajah mereka, raut itu terlihat sangat jelas di wajah Kinan. Kinan seolah tidak mau berpisah dengan Rian, begitupun juga dengan Arka sang
Bab 17: Manuver Hebat dari Arka Acara pada siang itu pun berhasil menahan rencana licik dari paman Arka. Mereka bertiga terbukti berhasil mengulur waktu dengan menjatuhkan kepercayaan dari para Investor dari perusahaan milik Arka terhadap pamannya. Arsalehe yang dari kemarin sibuk membangun sebuah narasi untuk menjatuhkan Arka di depan para pemegang modal, kini sudah tidak berdaya. Hanya melalui jentik jari tangan dari Rian, semua yang ia rencanakan dalam beberapa bulan harus musnah seketika dalam hitungan menit. Sebuah skenario yang mengingatkan kita, akan pentingnya kehadiran Sang Pencipta, yang Maha dari segala Maha. Apabila kita terkadang merasa seperti sudah tersudut, bahkan kita beranggapan tidak ada lagi jalan keluar. Namun berkat usaha dan pertolongan yang terkadang selalu kita ucapkan berupa untaian kata dalam keheningan suatu masa, sehingga memiliki makna dan jiwa ketika menuju kepada Sang Pencipta. Suasana pun berakhir ricuh dengan gagalnya upaya dari paman Arka. Denga
Bab 16: Pidato Heboh Rian terlihat sangat sibuk dengan laptop miliknya. Jemarinya menari dengan amat lincah di atas papan ketik, menekan satu demi satu tombol dengan kecepatan yang mengagumkan. Entah naskah apa yang sedang ia otak-atik di sana, tidak ada satu orang pun di sekitar meja operator yang menyadarinya. Namun tiba-tiba saja, suara pembukaan yang keluar dari pengeras suara aula mulai terdengar janggal. Kalimat yang diucapkan oleh pembawa acara wanita di atas panggung terasa begitu kaku dan memiliki penekanan nada yang benar-benar asing di telinga. “Serta tamu undangan, rekan-rekan mitra, dan seluruh hadirin, Yang berbahagia. Pertama-tama marilah kita, Panjatkan puji syukur atas Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa Karena atas Limpahan rahmat serta karunia-Nya, Kita dapat berkumpul Di tempat ini Dalam keadaan sehat wal-afiat Untuk Memulai acara Yang penuh makna dan harapan.” Suara itu bergema ke seluruh penjuru ruangan. Belum sempat hadirin mencerna intonasi bicara pembaw







