ANMELDEN"Akh! Aku lupa.. Masih ada satu lagi! D-Damian... Tolongin aku..." cicit Bianca lemas. Damian menundukkan kepalanya, mendaratkan satu kecupan yang sangat dalam dan hangat di dahi Bianca yang basah oleh keringat. "Satu lagi, Bianca sayang. Demi aku dan anak-anak kita, kamu kuat ya.. Aku mencintaimu.." pangkas Damian rendah, suaranya yang serak dan penuh kehangatan membakar kembali semangat Bianca. "Nngghhh... Akhhhhhhh...!" Bianca mengumpulkan seluruh energi terakhirnya, mengejan penuh semangat dalam dekapan Damian. Oeeekk! Oeeeekk! Oeeekkk! Suara tangisan bayi kedua tak kalah nyaring dan menggelegar kembali menggema memenuhi seluruh ruangan pada pukul 08.22. "Sempurna! Bayi kedua perempuan yang sangat cantik!" seru Dokter Edward penuh rasa haru. "Selamat Pak Damian, Nona Bianca! Anak Anda kembar sepasang! Laki-laki dan perempuan!
"Damian... Sakit banget... Akh! Rasanya mulas banget, Suamiku..." cicit Bianca lemas, peluh dingin membasahi dahi dan leher jenjangnya. Damian menyapu keringat di dahi Bianca menggunakan ibu jarinya, sementara tangan satunya dengan sigap menekan tombol telepon selulernya, menyambungkan panggilan ke Mama Valencia. [Mama,] pangkas Damian kaku saat sambungan terhubung. [Damian? Ada apa? Kenapa suara kamu tegang begitu?] tanya Mama mertuanya, Valencia dari balik telepon. [Ketuban Bianca pecah. Perutnya sakit. Kami menuju rumah sakit,] pangkas Damian singkat dan padat. [Apa?! Ketuban pecah?!] seru Mama Valencia histeris di seberang sana. [Damian, dengarkan mama! Itu artinya Bianca sudah pembukaan lanjut! Segera suruh sopir tancap gas! Mama dan Mama Vivienne langsung meluncur ke rumah sakit sekarang juga!] [Bsik,] pangkas Damian menutup telepon. Ia kembali memfo
"Damian..." panggil Bianca dengan nada manja. "Lihat deh, matahari udah tinggi banget. Hari H yang diprediksi Dokter Edward itu hari ini lho, sayang..." Damian perlahan membuka kedua matanya. Manik mata hitam yang biasanya tajam kini meredup tenang, menatap wajah cantik istrinya. "Hmm," sahut Damian pendek dengan suara serak. "Kok cuma 'hmm' sih?" cicit Bianca geli. "Ayo dong bangun! Hari ini kan jadwal kita nunggu gelombang cinta si kecil. Perut aku udah bener-bener bulat banget kayak semangka jumbo nih!" Tangan besar Damian yang hangat mengelus perut istrinya yang sudah sangat membesar, mengusap permukaan perut itu dengan gerakan melingkar yang sangat lembut. "Masih belum terasa sakit?" pangkas Damian kaku, menatap perut buncit Bianca. "Belum... Tapi kata Dokter Edward, kalau hari ini belum ada kontraksi, kita harus makin sering pancing pakai induksi alami," goda Bia
'Astaga! Bisa-bisanya dia masukin CD gue ke dalam saku jas dengan ekspresi sedatar itu?! Bener-bener suami gue ini, kalau urusan ranjang ekspresinya bikin spot jantung!' batin Bianca makin tidak karuan melihat kelakuan ajaib suaminya. Belum sempat Bianca menetralkan rasa terkejutnya, Damian sudah melonggarkan sabuk kulit mewahnya dan menurunkan resleting celana bahannya. Benda pusaka premiumnya telah menegang sempurna dan menahan gejolak hasrat selama dua bulan penuh itu seketika menyapa kehangatan paha dalam Bianca. "Sshhh... Damian… Sudah keras.. Hangat.." desah Bianca spontan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher hangat suaminya. "Pegang bahuku," pangkas Damian rendah. Tangan besar Damian merengkuh pinggang ramping Bianca, menopang berat tubuh istrinya agar berada pada kemiringan yang paling aman. Pria itu perlahan mengarahka
"I-iya-iya tahu dua bulan libur..." cicit Bianca mendadak gugup, merasakan dada bidang Damian yang berdebar kencang di dekatnya. "Tapi kan gak usah blak-blakan gitu juga, suamiku… Aku kan—" "Dokter sudah mengizinkan," pangkas Damian tegas, suaranya turun satu tingkat lebih dalam, bernada serak dan tampak lebih dominasi dengan aura posesif yang sangat menuntut. Jari tangan Damian menyusup di sela-sela rambut panjang Bianca, menengadahkan wajah cantik istrinya agar menatap lurus pada manik matanya yang kini meredup penuh gairah yang telah tertahan selama dua bulan penuh. "Damian... Kita masih di dalam mobil..." bisik Bianca sambil menelan ludahnya susah payah. Wajahnya yang tadi merona karena malu kini berubah menjadi tampak mupeng, otak liarnya beralih drastis saat merasakan perubahan aura panas dari tatapan suaminya. 'Duh... Tatapan suami Spek Dewa gue
'Astaga! Suami Gue! Bisa-bisanya tanya hal itu ke dokter Edward!' jerit Bianca histeris dalam hati, ia merasa ingin menghilang saat ini juga. Bianca yang tadinya sedang tersenyum sambil menyandarkan kepala di bahu Damian, seketika matanya membelalak lebar. Napasnya seakan terhenti di tenggorokan Wajah cantiknya pun berubah merah padam sampai ke ujung telinga hanya dalam hitungan detik. Darahnya berdesir hebat karena rasa malu yang luar biasa. 'Tumben banget dia ceplas ceplos kayak gini! Pasti karena ketularan gue nih! Bisa-bisanya dia nanya soal jatah ranjang di depan Dokter Edward dengan wajahnya sedatar itu dan suara selantang itu?! Dua bulan nahan nafsu ternyata dia beneran udah kelaparan sampe ke ubun-ubun!' oceh Bianca dengan pikiran liarnya yang sibuk perang batin. Dokter Edward sendiri sempat tertegun selama dua detik, menghentikan gerakan tangannya di atas keyboard, sebelum akhirnya senyumnya me
Sambungan video diputus sepihak. Layar laptop Bianca langsung berubah hitam, menyisakan pantulan wajahnya sendiri yang sudah pucat pasi mirip mayat. Jadi… pria itu mendengarnya selama ini?!Malam itu benar-benar menjadi malam paling sial dalam hidup Bianca. Efek obat flu sialan itu mendadak hilan
"Kalau mau ajak tidur, minimal kayak gini!" Bianca mengomel sambil menunjuk-nunjuk layar laptopnya yang menampilkan visual sang bos. Kalimat sang mantan tadi masih terngiang di telinga Bianca, ingatannya memutar kembali saat pacarnya minta putus karena dirinya menolak untuk diajak tidur bersama.
Bianca hanya bisa pasrah. Ia menyeret langkahnya keluar dari kamar dengan canggung, lalu duduk di kubikelnya sendiri sembari menyalakan tablet grafisnya dengan tangan yang masih gemetar kaku. Pikirannya benar-benar kosong, menyisakan kepanikan yang membuat napasnya putus-putus.Tadi… apa yang dire
Bianca terpaku sesaat, ia memberanikan diri menatap wajah Damian didepannya, pria yang kemarin menjadi sumber imajinasi liarnya. “Di bawah kungkungannya.. Bukan! Di bawah pengawasannya..’Bianca membeku. Berarti mulai hari ke depan… ia akan berurusan dengan pria di depannya?Dengan kejadian kema







