LOGIN“Astaga! Dia sudah ... tidur?!”
Thea telah menunggu sedari tadi dengan merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Walaupun dia sudah berganti pakaian menjadi dress tidur yang lebih kalem, tapi tetap saja Thea menunggu dan menanti kedatangan Hudson di kamarnya.
Rasa-rasanya dia tak percaya jika godaannya yang sangat panas kali ini bisa gagal.
Dia sudah merendahkan dirinya seperti pemain film biru padahal dia masihlah perawan yang polos.
Dan setelah dia bertingkah seperti itu ternyata segala godaannya itu masih juga tidak ditanggapi! Keterlaluan!
Thea penasaran karena Hudson tidak kunjung mendatanginya sehingga dia pun bergegas menuju kamar Hudson.
Baru juga masuk, dia melihat Hudson sudah meringkuk di atas ranjang. Bahkan pria itu mengeluarkan dengkuran yang cukup besar dan membuat peta di bantal.
“Huh! Dikirimin video syur malah molor! Seharusnya kamu itu yang mendapat predikat penyuka sesama!” gerutu Thea pada Hudson yang tertidur nyenyak.
Memang mereka menikah dengan sebuah perjanjian rahasia antara mereka saja.
Hudson sedang dikejar ayahnya untuk segera menikah demi kelancaran estafet memimpin bisnis keluarga mereka.
Thea menerima tawaran Hudson karena dia sendiri sedang terjerat rumor bahwa dia seorang lesbian. Rumor itu sudah membuat kariernya sebagai model hancur.
Jadi, Thea merasa ide menikah dengan Hudson adalah jalan keluar instan dari rumor.
Dia bisa membuktikan pada publik bahwa dia bukanlah seorang lesbian.
Harapannya kariernya bisa kembali lagi. Namun, tampaknya publik tidak bisa dengan mudah ditipu.
Tidak ada bukti kemesraan antara dirinya dengan Hudson sehingga karier dan nama baik Thea tidak kunjung kembali.
Sungguh miris ketika Thea mengenang rumor yang didapatnya dengan keadaannya yang sekarang yang merendahkan diri dan menggoda seorang pria!
Hatinya kesal dan kecewa.
Lagi-lagi godaannya gagal total.
Thea pun memutuskan kembali ke kamarnya untuk tidur. Dia tidak mengecek ponselnya lagi.
Sementara Thea berlayar dengan membawa rasa kesal ke alam mimpinya, Huggo masih bersusah payah mengendalikan dirinya saat melihat apa yang tertayang di layar ponselnya.
Bukan saja dia menyemburkan wine sehingga membuat kakak perempuannya marah atas tingkah lakunya yang di luar etiket makan bersama, sialnya lagi ponselnya sedang dalam level volume yang cukup kencang.
Desahan Thea terdengar jelas sehingga seluruh mata kini memandangnya dengan tuduhan beragam.
“Wow, Huggo ... kau tidak bisa menunggu sampai rumah apa untuk menonton film begituan?” Salah satu sepupunya mengejeknya.
Lalu sepupu lainnya, yang duduk tepat di sebelahnya dan sempat melihat sekilas isi videonya langsung menyela, “Wuiiih, sepertinya kiriman spesial. Apa kiriman dari pacarmu, Huggo?"
“Dia sudah punya pacar?” Yang lain pun ikut menimpali.
"Mana kutahu! Tapi video tadi sepertinya dikirim dari seseorang yang sedang 'mengundang'. Kalau bukan pacarnya, berarti penggemarnya!"
“Jadi, kau sudah punya pacar, Huggo? Atau itu dari penggemarmu? Kalau kau tak mau menanggapi, berikan saja kepada kami, hahahah!"
Percakapan hangat dan sopan berubah menjadi dirty talk dalam sekejap.
Dengan semua mata menatapnya ‘berbeda’ kali ini, Huggo benar-benar geram.
Semua ini membuat kemarahannya mencuat dan dia sudah tak sabar ingin bertemu tatap dengan Thea besok di kantor.
Entah dia akan memecat Thea atau memberinya hukuman lain!
Esok paginya ...
Thea bangun pagi dan mandi lalu membuat sarapan.
Setelah selesai, bertepatan dengan Hudson yang keluar dari kamar dalam keadaan telah siap ke kantor.
“Sarapan dulu, suami tercinta! Sudah kubuatin sandwich keju kesukaanmu.”
Thea memang senang memanggil Hudson dengan panggilan super mesra, sekalipun di antara mereka tidak ada cinta.
Karena Thea tahu panggilan itu bisa membuat Hudson mual dan itulah yang membuatnya senang.
Hanya saja, tiga bulan mendengar panggilan sayang seperti itu, Hudson kini sudah kebal. Dia tidak lagi mual atau sekadar mendelik pada Thea setiap dipanggil 'suami tercinta'.
Thea lalu meletakkan sandwich keju di piring dan meletakkannya di tempat yang biasanya Hudson duduki.
Tapi pria itu masih sibuk dengan dasinya.
Thea melihat Hudson kesulitan mengikat dasi, tapi dia tak berniat membantu Hudson.
Dia masih kesal pada kejadian semalam.
“Aku tidak sarapan. Aku ada meeting pagi. Snack di meeting bisa untuk breakfast.”
“Oke!” sahut Thea dengan entengnya.
Walau kecewa, ini sudah biasa. Masakannya tidak disentuh Hudson.
Ya, mau bagaimana lagi? Toh mereka menikah juga hanyalah perjanjian di atas kertas semata.
Thea pun membungkus sarapan Hudson untuk dibawanya ke kantor. Dia bisa memberikannya pada petugas bersih-bersih di kantor.
Mereka pun menaiki mobil bersama meski kantor mereka berbeda. Biasanya Hudson akan mengantarnya terlebih dahulu.
Ketika Thea sudah tiba di kantor dan sedang menaiki lift menuju lantai 20, hatinya tiba-tiba gelisah tanpa dia ketahui apa sebabnya.
Thea hanya berusaha menepis semua rasa itu.
Tiba di mejanya, Thea pun mulai bersiap. Dari menyalakan komputer lalu mengecek jadwal yang telah disimpannya di ponsel.
Saat itulah dia baru menyadari ponselnya ketinggalan.
“Aduh, pastilah tertinggal di kamar mandi,” gerutunya pada dirinya sendiri.
Tanpa dia ketahui, saat itu Si Boss Hipertensi pun melewati ruangannya lalu masuk ke Ruang Presdir.
Lima detik berikutnya, dering telepon di meja Thea berbunyi.
“Halo, selamat pagi dengan saya The-”
“Datang ke ruanganku!” ujar suara Boss Huggo dari balik telepon.
Seharusnya nada suara tegas nan keji seperti ini sudah merupakan makanan sehari-hari Thea sejak menjabat sebagai sekretaris Tn. Huggo.
Tapi entah mengapa kali ini terdengar agak berbeda. Sepertinya ada kemarahan personal di nada ketusnya itu.
“Baik, Pak,” ujar Thea dengan menabah-nabahkan hatinya sendiri.
Dia tidak boleh gentar.
Mungkin pak boss sedang ada masalah dengan mantan istrinya. Mungkin juga dengan pacar barunya. Atau Pak Boss baru menyadari bahwa yang jatuh cinta padanya kini adalah kaum adam yang bertulang lunak?
Atau justru yang ... macho?
Thea terkikik sendiri membayangkan bagaimana dia melecehkan pak boss di pikirannya.
"Haiiizz, Thea, jangan berasumsi sendiri!" Thea memarahi dirinya sendiri seraya bangkit dan menuju ruangan Pak Boss.
Tidak perlu takut jika tidak melakukan hal yang salah.
Thea pun bangkit dan menuju ruangan Tn. Huggo.
Merasa tatapannya membuat Huggo tak nyaman, Thea pun beralih. Dia mengangkat wajah dan menatap Huggo.“Ada apa memanggilku?” tanyanya lirih, datar, dan tak bersemangat.Thea juga terlihat sedih dan menyedihkan.Huggo tahu itu tapi dia tetap mengeraskan hati dan raut wajahnya.Dia mengeluarkan sebuah berkas dan meletakkannya di depan Thea.“Pelajari ini dan tolong realisasikan ke sebanyak mungkin rumah sakit dan klinik di kota ini. Aku ingin produk kita dikenal luas dengan predikat yang bisa dipercaya.”Thea mengambil berkas dan langsung mengatakan, “Baik. Ada lagi?”“Waktumu hanya satu bulan. Jika kau berhasil, aku akan mengangkatmu di divisi lain.”Thea memandang kosong pada berkas lalu pada Huggo. Dia paham arti kata ‘mengangkat ke divisi lain’.Ini sama juga dengan membuangnya.Ingin rasanya Thea menertawakan pilihan kata yang terlalu sopan itu. Tapi tidak dia lakukan.Thea hanya mengangguk. “Baik. Ada lagi?”“Tidak. Kau boleh kembali ke mejamu,” ujar Huggo lagi dan bersiap untuk b
“Kamu sedang tidak stabil, Hudson! Ini justru hal tergila yang pernah aku dengar!Kamu itu sedang terburu emosimu saja sehingga tidak bisa berpikir jernih. Kalau kamu sudah berpikir jernih, tidak mungkin kamu akan rela menjalani open relationship.Lagipula, kalaupun kamu rela, aku tetap tidak mau! Aku tidak sudi! Memangnya aku apa yang menjalani hubungan dengan beberapa pria sekaligus! Itu justru merendahkan diriku sendiri!”Mendengar kata merendahkan yang keluar dari bibirnya sendiri Thea jadi teringat akan kata-kata Huggo. Hatinya teriris perih lagi. Tanpa dia menjalani open relationship saja Huggo sudah merendahkannya.Lalu suara Hudson terdengar lagi, lebih panik dari sebelumnya.“Tapi aku rela, Thea. Dan hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa tetap memilikimu, sekalipun itu hanya sebagai istri di atas kertas. Aku rela, Thea. Aku rela!”Thea memijit pelipisnya sendiri. Hudson sudah kerasukan. Pikirannya sudah tak wajar.“Tidak bisa, Hudson. Aku tidak bisa! Lebih baik kamu cepat
Saat Thea mengangkat wajahnya dia melihat tatapan Huggo yang kelam dan penuh kemarahan tertuju padanya.Thea tidak peduli lagi. Untuk apa dia bekerja jika dia seperti tidak ada di kantor ini?Masih sambil menatap marah padanya, Huggo mengambil amplop dan membukanya.Saat itulah Thea memperhatikan bukit-bukit jari di punggung tangan Huggo.Di sana tampak goresan-goresan luka yang telah mengering.Thea terperangah dan tanpa sadar langsung menarik tangan itu untuk melihatnya dengan lebih jelas.“Kenapa ini? Kenapa tanganmu bisa luka?” tanyanya spontan.Yang ditanya malah menarik tangannya. Tatapan Huggo kembali mengejeknya.“Bukan urusanmu!”Thea yang masih ingin bertanya, yang masih ingin tahu dan tak puas dengan jawaban Huggo pun membuka mulutnya lagi.Tapi tatapan tajam Huggo menyurutkan niatnya. Dia menutup bibirnya dan mengalihkan tatapannya dari luka di punggung tangan Huggo.Huggo melirik lagi pada surat pengunduran diri Thea.Setelah membacanya, dia tersenyum sinis.“Kau pikir ak
Dia juga memakai cushion yang berkilau dan bersinar agar wajahnya tampak cerah dan terlihat semangat.Di kantor, Thea menghadap Bu Melaney terlebih dahulu. Dia diceramahi panjang lebar. Thea tidak membantahnya karena sebenarnya dia tidak terlalu mendengarkan kata-kata Bu Melaney.“Ya sudah, kamu ke mejamu. Jangan bolos lagi. Dan kalau dugem jangan di hari kerja dong. Kamu begitu saja masa tidak bisa mengaturnya? Orang-orang juga tahu, kalau mau dugem di akhir pekan, jadi tidak mengganggu performa mengantor.”Thea mengangguk dan tidak banyak bicara.Dia lalu menuju mejanya. Lily baru saja keluar dari ruangan Huggo dengan wajah berbinar senang.Thea meliriknya dengan tak tahan. Dulu kala ... dia lah yang keluar dari ruangan itu dengan wajah berbinar. Bahkan ... merona panas.Apakah Lily juga mengalami apa yang pernah dialaminya di dalam?Oh, Thea benci pikiran buruknya ini.Bagaimana mugnkin dia bisa menuduh hal tak senonoh itu pada Lily? Wanita itu bahkan terlalu polos untuk menjadi se
Hiks ...Thea cegukan untuk ke sekian kali.Delilah yang hendak menjawabnya, jadi terpaksa menahan dirinya dulu.Dia pun meminta air mineral dan memberikannya pada Thea.“Minum ini dulu, setelah itu kita pulang,” katanya seraya menyodorkan botol mineral pada Thea.“Tidak mau ...!” Thea menepis botol itu. “Aku tidak mau pulang. Biarkan aku di sini.”“Mau ngapain kamu di sini?”Ditanya begitu, dalam mabuknya Thea menjawab, “Aku mau menjadi bartender. Seperti dia!”Yang ditunjuk jadi salah tingkah. Meskipun tahu yang menunjuk sudah mabuk, tetap saja dia bingung. “Kenapa mau seperti aku? Tidak bisa asal menjadi bartender. Kau harus punya pengetahuan tentang minuman-minuman ini, juga bagaimana cara meraciknya.”“Ya ... aku mau saja. Maksudku biar bukan cuma aku yang mabuk, tapi semua orang pun bisa mabuk sepertiku, menemaniku ...”Bartender yang sudah menjawab dengan serius pun jadi menyesal. Sudah tahu mabuk tapi dia meladeni omongannya.Sedangkan Delilah hanya tersenyum geli.Tapi senyum
“Kopinya hitam, tanpa gula, dengan creamer satu sendok kecil ini. Tapi terkadang Pak Boss meminta tanpa creamer.”Di pantry, Thea menunjukkan cara membuat kopi bagi Pak Boss. Lily melihat dengan kepala mengangguk-angguk.Kali ini Thea masih membuatkannya sendiri, Lily hanya melihatnya.Setelah itu, dia menyerahkan pada Lily untuk dibawa ke hadapan Huggo.“Ini, bawa masuk. Letakkan di meja dengan perlahan.”“Iya, Kak. Siap!” ujar Lily sembari membawa nampan dan cangkir kopi ke dalam ruangan Huggo.Thea kembali duduk dan menunggu di luar.Dia membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam sana. Mungkin Lily meletakkan cangkir kopi di meja, Huggo sedang mengetik di laptopnya, atau membaca email, atau sedang menelpon.Tanpa menoleh Huggo akan bilang, terima kasih.Itu yang tergambar dalam benak Thea.Namun, seiring waktu berlalu dan Lily belum kunjung keluar, Thea pun semakin bertanya-tanya. Apa lagi yang terjadi di dalam sana?---Sisa hari itu berlalu dengan terasa sangat lambat. Di pengh







