Masuk‘Kenapa aku gugup ya?’
Thea berhenti sejenak di depan pintu ruang presdir.
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan jauh-jauh.
Masih gugup, Thea pun mengulanginya dua kali lagi.
Sekalipun kegugupan itu masih ada, Thea terpaksa mengetuk pintu.
Tok tok tok!
Karena tahu pak boss sedang menunggu, maka Thea langsung membuka pintu sambil menyembulkan dulu wajahnya.
“Selamat pagi, Pak,” ujarnya dengan mengembangkan senyum manis yang menawan.
Tapi sepasang mata Huggo yang terangkat dan mengarah padanya begitu tajam dan mengerikan.
Deg!
Thea menunggu dipersilakan masuk tapi tidak ada suara yang keluar dari bibir pak boss. Hanya ada jari telunjuk yang terangkat lalu bergerak maju mundur.
Thea mengerti itu tandanya masuk.
Dia melangkah pelan, meredam kegugupannya yang semakin menjadi-jadi.
‘Salah apa sih aku?’ pikirnya dalam hati.
‘Apa aku sempat tersandung lalu jatuh ke pelukan pak boss dan tanpa sengaja mencium pipinya saat mimpi semalam?’
‘Kalaupun iya, tapi kan itu mimpiku. Masa dia tahu?’
Hati kecil Thea berkelumit sendiri seraya dia melangkah masuk, apalagi tatapan tajam Boss Huggo terus mengawalnya selangkah demi selangkah.
Tiba tepat di depan meja Tn. Huggo, Thea menarik kursi untuk duduk.
Tapi Tn. Huggo langsung menyelanya, “Siapa menyuruhmu duduk?”
“Eh? Iy- iya, Pak. Lalu, ada apa ya memanggil saya pagi-pagi? Ini bahkan belum jam 08.00 kalau Anda berkenan saya ingatkan, hehehe.”
“Berani kamu mengingatkanku?”
Delikan mata Huggo semakin tajam dan membuat senyum Thea meredup seketika itu juga.
Bersamaan dengan itu, Huggo bangkit dari duduknya lalu menghampiri Thea.
Dia mengelilingi Thea dengan tatapan yang terus mengurung dan menghakiminya.
Bulu kuduk Thea merinding merasakan tatapan yang tak henti-hentinya.
Tiba-tiba sebuah sentuhan ringan terasa di paha kanannya bagian belakang. Thea langsung bergeser dan menatap penuh tanya pada pak boss.
“Kenapa kau menjauh?”
“Pa- pak, Anda jangan macam-macam!”
“Aku macam-macam?” Kemarahan Huggo kembali menggelegar.
“Anda menyentuh pahaku, kan?” tanya Thea dengan berani. Dia bahkan menantang Huggo dalam pelototan matanya.
Huggo sampai mendengus konyol melihat tingkah Thea.
“Aku baru menyentuhmu sedikit kamu langsung marah? Lalu apa undangan yang semalam?” Suaranya terdengar dingin dan menuduh.
Thea mengernyit. “Undangan apa yang semalam?”
“Hah!” Huggo semakin kesal melihat tingkah pura-pura Thea.
Tanpa langsung menjawab, kali ini Huggo membawa tatapannya ke kerah baju Thea. Lalu turun menjelajah dadanya yang tertutup rapat di balik kemeja licinnya. Kemudian, tatapan itu turun ke rok pensil Thea yang menutup paha jenjangnya sampai ke atas lutut.
'Sopan sekali pakaian kantornya!' batinnya mendengus kesal merasa Thea tampil sok kalem di kantor.
Seraya menatap tubuh itu, ingatannya menayangkan isi video yang semalam Thea kirim.
Lalu tatapan Thea yang panas dan berhasrat. Juga desahannya.
Semua mengisi kepala Huggo sehingga seakan ada listrik korslet di dalamnya.
Huggo lalu menggeleng kuat kepalanya.
“Anda kenapa memandangiku seperti itu?” tanya Thea seraya menyilangkan tangannya di depan dada. Bahkan kaki jenjangnya ikut tersilang tanpa diperintah.
Mendengar pertanyaan Thea, lalu melihat gesture tubuhnya seperti itu, Huggo semakin berang.
“Kenapa kau bertingkah begitu?”
Huggo sungguh tak habis pikir. Setelah sepanjang malam dia bertarung antara kemarahan yang juga bercampur hasratnya karena mendapatkan video seperti itu dari Thea -yang ternyata panas dan mampu membangkitkan hasrat yang selama dua tahun ini berhasil dipendamnya- kini Thea malah menutupi tubuhnya yang masih lengkap tertutup pakaian, hanya karena sentuhan kecil tadi?
Akal-akalan macam apa ini?
Tiba-tiba dia melihat hal yang berbeda.
“Kenapa rias wajahmu tipis sekali?” Huggo mengamati wajah Thea yang bermake up natural pagi ini dan jarinya tanpa sadar malah mengangkat dagu Thea.
“Biasa juga begini ...” kilah Thea lebih terheran lagi seraya menghindar.
Ini pak boss-nya salah makan apa tadi pagi? Setiap hari ngantor juga dia make up natural saja.
Masalahnya, di benak Huggo terpampang dandanan cetar menyala Thea dalam video.
Dia memakai lipstick merah menyala, lalu kelopak matanya juga penuh warna dan ada garis hitam yang melengkung di ujung mata sehingga matanya terlihat hidup dan berani.
“Tapi yang semalam itu make up mu begitu panas dan hidup. Kenapa tidak begitu saat ke kantor?”
Thea berjengit terkejut.
“Ya- yang sem- semalam?” tanyanya hati-hati.
“Iya! Mau yang kapan lagi? Memangnya kau mengirim ke pria random setiap malam?”
“Mengirim?” Meski hatinya terasa tidak enak, Thea terus bertanya. Memastikan. “Mengirim apa ya, Pak?”
Huggo tidak langsung menjawab lewat kata, melainkan lewat tatapannya yang seperti mengandung listrik jutaan volt.
lalu saat dia bicara, suaranya berdesis seperti ular. “Kau masih bertanya?” Bibirnya bahkan tidak membuka saat itu.
Thea melihat itu sampai membeku sejenak. Masa iya Pak Boss- nya sedang membicarakan tentang video syur yang dia buat untuk menggoda Hudson?
Jika bukan membicarakan itu, lalu apa?
Sepertinya topik Pak Boss benar mengarah ke video itu. Tapi bagaimana bisa Pak Boss Hipertensi ini mengetahui video itu?
Apa Tn. Huggo ini memiliki indera ke enam sehingga bisa melihat apa yang dia lakukan semalam?
Hiiiii ... Thea bergidik dalam pikirannya. Kenapa Pak Boss nya jadi mengerikan?
Oops, tapi Pak Boss masih menunggu jawabannya.
Dia pun memberanikan diri menatap Tn. Huggo meski dengan hati yang ketar ketir. Suaranya dibuat lebih lembut, membuai, namun penuh kehati-hatian.
“Kalau boleh saya tahu, apa ya yang Anda bicarakan? Mengirim apa ya, Pak? Perasaan saya tidak mengirim apa-apa ke Anda.”
Namun tetap saja. Seperti riak raksa yang memanas, begitu tampilan wajah Huggo.
Rona merah memenuhi wajahnya karena dia marah dan kesal bicara pada Thea. Padahal Thea adalah sekretarisnya.
Bagaimana bisa pembicaraan mereka saat ini hanya berputar-putar saja. Thea yang kurang pendidikan atau dirinya yang sudah downgrade level gara-gara perbincangan ini?
Telunjuknya langsung menunjuk pintu. “Sekarang juga ... keluar! Pikirkan kesalahanmu ini! Cari tahu apa yang kamu kirim kepadaku semalam! Setelah dapat, langsung menghadap! Jika sampai jam makan siang kamu masih belum tahu, siap-siap dipecat!”
Shania sangat ramah dan mudah memimpin percakapan. Dia banyak bertanya dan begitu riang dan murah senyum sehingga Thea cukup nyaman berbincang dengan Shania.Sepanjang percakapan ringan mereka, Shania cukup memancing banyak hal dari Thea. Hal-hal tentang kehidupan pribadi. Thea cukup kewalahan sehingga dia pun harus memutar otaknya, menghalukan dirinya menjadi istri Tn. Huggo demi bisa memberikan jawaban yang meyakinkan pada Shania.Dengan mudahnya, Shania percaya dan mulai membangun bayangan tentang pasangan di rumah ini.Dari jenis rumahnya, rumah ini tipe paling mewah dan luas. Sudah pasti bukan orang biasa. sungguh Thea sangat beruntung bisa memiliki suami yang memiliki rumah seperti ini.Dengan yakin, Shania menanamkan dalam hatinya, suami Thea adalah target incarannya yang berikutnya.Dia tidak mungkin menjadi seorang wanita single dalam waktu lama. Itu bukan gayanya.Di tengah percakapan mereka, tatapan Shania kembali menelusuri Thea. Di matanya, tampilan Thea seperti baru aka
Selama dua tahun ini hasrat Huggo seperti sponge yang diikat hingga ke dasar laut.Tapi malam ini, ketika melihat Thea dalam balutan gaun yang dia pilih sendiri, dengan warna favoritnya sendiri, sponge itu tak mampu ditahan lagi. Dia terus mengambang hingga akhirnya sanggup memutuskan tali pengikatnya.Begitu tali pengikat terputus, sponge langsung melesat ke permukaan laut dan mengambang di sana, terombang-ambing ombak.Begitulah apa yang dirasakan Huggo terutama ketika dia mencium Thea dan mendapatkan balasan yang sama semangatnya.Sekalipun ciuman Thea terasa amatir, tapi semangatnya bisa dia rasakan.Ini seperti menambah bahan bakar turbo untuk mendorong lesakan sponge ke permukaan laut.Pagutannya semakin berani, semakin dalam dan ketika respon tubuh Thea seirama dengan respon tubuhnya, Huggo mulai meraba tubuh itu dengan tangannya sendiri.Pada mulanya, jari jemarinya merayap di leher Thea, merasakan lembut dan halusnya kulit wanita itu, serta denyut nadinya yang terasa memburu
Thea tidak siap. Lahir maupun batin, dia tidak siap dicium apalagi oleh seseorang yang tekanan darahnya selalu tinggi seperti Pak Boss satu ini.Masalahnya, Huggo tidak peduli Thea siap atau tidak.Dia seperti iguana yang tertusuk duri di bokongnya sehingga tubuhnya melesat dalam lompatan gesit, lalu bibirnya mendarat dan menghisap penuh hasrat bibir Thea.Thea tidak ingin membalas, tapi entah mengapa setiap saraf bibir dan lidahnya malah merespon dengan penuh sama semangatnya.Pagutan yang tercipta seolah berasal dari dua insan yang lama terpisah, lalu bertemu untuk melepas rindu yang telah dipendam di relung hati._____Malam mulai larut.Langit semakin kelam namun ada keindahan tersendiri saat hamparan karpet hitam semakin bertaburan berlian-berlian kecil.Sebuah mobil SUV warna emas metalik memasuki halaman rumah yang bertetangga dengan Huggo.Dua orang wanita turun dari mobil dan memasuki rumah.“Nasibmu masi
Thea merasa aneh dengan semua yang ada pada dirinya, juga sekitarnya pada malam ini.Seperti saat ini, setelah Pak Boss memesankan makan malam ke rumah, lalu dia diminta mulai bekerja lembur.Sudah 30 menit dia diharuskan menulis surat perkenalan dan undangan makan bersama untuk rekan kerja Pak Boss.Dia diberikan contoh surat, lalu diminta menuliskan 5 surat yang berbeda tentang ajakan perkenalan resmi, lalu 5 lagi untuk undangan perjamuan makan malam bersama.Semakin dia mempelajari kata demi kata baku yang harus digunakan, juga bagaimana caranya membuka surat, lalu menutupnya dengan sopan dan ramah, Thea merasa yakin bahwa sekretaris bukanlah bidangnya.Dan dengan demikian dia pun semakin menyesali keputusannya untuk melarikan diri dari masalahnya dengan menjadi sekretaris.Belum lagi, dress merah marun yang dipakainya begitu seksi dan tipis. Dan belahan pahanya membuat Thea serba salah dalam duduknya.Lalu, di benak Thea dia
"Kenapa melihatku seperti itu? Kau berhasrat padaku?" tanya Tn. Huggo mengontani Thea.Mimisan yang tertahan tadi kini jadi terpaksa ditelan.Thea tentu saja tidak sedia mengiyakan tuduhan Pak Boss,"Mana ada! Aku hanya melihat ke arah Anda tadi karena ada kutu kecil terbang ke arah Anda situ. Kupikir kutu itu yang terpancing akan aroma sabun Anda."Kembali gurag-gurat biru nadi Pak Boss muncul ke permukaan wajah. Jelas-jelas dia melihat Thea hampir mimisan memandanginya, tapi malah menyangkal dan mengkambing hitamkan kutu!Hah! Sungguh degil sekretaris satu ini dan perlu dipermak biar rasa!"Begitu! Jadi kau melihat ke arahku seperti itu karena seekor kutu kecil?""Iya!""Bagus! Berarti matamu jeli sekali! Besok-besok boleh lah kuberikan tugas mengartikan surat yang tulisannya teramat kecil, oke? Ada ratusan surat seperti itu yang perlu diartikan!""Eh? Jangan begitu dong, Pak! Aku hanya kebetulan saja melihat kutu kecil tadi, bukan karena mataku super jeli! Hehehhe!"“Tidak usah ter
“Pak!” protes Thea, tanpa memedulikan lagi jika Tn. Huggo akan marah, “Kenapa aku harus bertugas di rumah Anda juga?”Rasanya sudah bagus dia terlepas dari permintaan aneh Pak Boss agar dirinya datang pagi buta ke rumah Pak Boss, tapi lalu jebakan lain seakan sudah siap menghadangnya.Pagi diganti jadi malam. Jika pagi datang, tugasnya di rumah Tn. Huggo berakhir saat jam kantor dimulai. Tapi jika malam? Pak Boss malah mengungkit tentang menginap di rumahnya! Itu jauh lebih buruk.Tapi, jawaban dari Tn. Huggo jauh lebih buruk dan tidak bisa diterima. “Karena kamu sekretaris plus-plus-ku sekarang.”Huh! Jawaban macam apa itu?Thea pun memprotes lagi, “Tapi sudah kubilang aku tidak mau menjadi wanita simpanan Anda!”Suara berat Huggo langsung menjawabnya ketus, “Siapa yang menyuruhmu menjadi wanita simpananku? Sudah kukatakan dari kemarin ... kau kujadikan sekretaris plus-plus. Kenapa kamu ngotot terus mengatakan wanita simpanan?”“Kan sama saja, Pak?”“Sama dari mana?” Huggo menantang







