แชร์

Akal-akalan Belaka?

ผู้เขียน: Chani yoh
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-23 00:49:23

‘Kenapa aku gugup ya?’

Thea berhenti sejenak di depan pintu ruang presdir.

Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan jauh-jauh.

Masih gugup, Thea pun mengulanginya dua kali lagi.

Sekalipun kegugupan itu masih ada, Thea terpaksa mengetuk pintu.

Tok tok tok!

Karena tahu pak boss sedang menunggu, maka Thea langsung membuka pintu sambil menyembulkan dulu wajahnya.

“Selamat pagi, Pak,” ujarnya dengan mengembangkan senyum manis yang menawan.

Tapi sepasang mata Huggo yang terangkat dan mengarah padanya begitu tajam dan mengerikan.

Deg!

Thea menunggu dipersilakan masuk tapi tidak ada suara yang keluar dari bibir pak boss. Hanya ada jari telunjuk yang terangkat lalu bergerak maju mundur.

Thea mengerti itu tandanya masuk.

Dia melangkah pelan, meredam kegugupannya yang semakin menjadi-jadi.

‘Salah apa sih aku?’ pikirnya dalam hati.

‘Apa aku sempat tersandung lalu jatuh ke pelukan pak boss dan tanpa sengaja mencium pipinya saat mimpi semalam?’

‘Kalaupun iya, tapi kan itu mimpiku. Masa dia tahu?’

Hati kecil Thea berkelumit sendiri seraya dia melangkah masuk, apalagi tatapan tajam Boss Huggo terus mengawalnya selangkah demi selangkah.

Tiba tepat di depan meja Tn. Huggo, Thea menarik kursi untuk duduk.

Tapi Tn. Huggo langsung menyelanya, “Siapa menyuruhmu duduk?”

“Eh? Iy- iya, Pak. Lalu, ada apa ya memanggil saya pagi-pagi? Ini bahkan belum jam 08.00 kalau Anda berkenan saya ingatkan, hehehe.”

“Berani kamu mengingatkanku?”

Delikan mata Huggo semakin tajam dan membuat senyum Thea meredup seketika itu juga.

Bersamaan dengan itu, Huggo bangkit dari duduknya lalu menghampiri Thea.

Dia mengelilingi Thea dengan tatapan yang terus mengurung dan menghakiminya.

Bulu kuduk Thea merinding merasakan tatapan yang tak henti-hentinya.

Tiba-tiba sebuah sentuhan ringan terasa di paha kanannya bagian belakang. Thea langsung bergeser dan menatap penuh tanya pada pak boss.

“Kenapa kau menjauh?”

“Pa- pak, Anda jangan macam-macam!”

“Aku macam-macam?” Kemarahan Huggo kembali menggelegar.

“Anda menyentuh pahaku, kan?” tanya Thea dengan berani. Dia bahkan menantang Huggo dalam pelototan matanya.

Huggo sampai mendengus konyol melihat tingkah Thea.

“Aku baru menyentuhmu sedikit kamu langsung marah? Lalu apa undangan yang semalam?” Suaranya terdengar dingin dan menuduh.

Thea mengernyit. “Undangan apa yang semalam?”

“Hah!” Huggo semakin kesal melihat tingkah pura-pura Thea.

Tanpa langsung menjawab, kali ini Huggo membawa tatapannya ke kerah baju Thea. Lalu turun menjelajah dadanya yang tertutup rapat di balik kemeja licinnya. Kemudian, tatapan itu turun ke rok pensil Thea yang menutup paha jenjangnya sampai ke atas lutut.

'Sopan sekali pakaian kantornya!' batinnya mendengus kesal merasa Thea tampil sok kalem di kantor.

Seraya menatap tubuh itu, ingatannya menayangkan isi video yang semalam Thea kirim.

Lalu tatapan Thea yang panas dan berhasrat. Juga desahannya.

Semua mengisi kepala Huggo sehingga seakan ada listrik korslet di dalamnya.

Huggo lalu menggeleng kuat kepalanya.

“Anda kenapa memandangiku seperti itu?” tanya Thea seraya menyilangkan tangannya di depan dada. Bahkan kaki jenjangnya ikut tersilang tanpa diperintah.

Mendengar pertanyaan Thea, lalu melihat gesture tubuhnya seperti itu, Huggo semakin berang.

“Kenapa kau bertingkah begitu?”

Huggo sungguh tak habis pikir. Setelah sepanjang malam dia bertarung antara kemarahan yang juga bercampur hasratnya karena mendapatkan video seperti itu dari Thea -yang ternyata panas dan mampu membangkitkan hasrat yang selama dua tahun ini berhasil dipendamnya- kini Thea malah menutupi tubuhnya yang masih lengkap tertutup pakaian, hanya karena sentuhan kecil tadi?

Akal-akalan macam apa ini?

Tiba-tiba dia melihat hal yang berbeda.

“Kenapa rias wajahmu tipis sekali?” Huggo mengamati wajah Thea yang bermake up natural pagi ini dan jarinya tanpa sadar malah mengangkat dagu Thea.

“Biasa juga begini ...” kilah Thea lebih terheran lagi seraya menghindar.

Ini pak boss-nya salah makan apa tadi pagi? Setiap hari ngantor juga dia make up natural saja.

Masalahnya, di benak Huggo terpampang dandanan cetar menyala Thea dalam video.

Dia memakai lipstick merah menyala, lalu kelopak matanya juga penuh warna dan ada garis hitam yang melengkung di ujung mata sehingga matanya terlihat hidup dan berani.

“Tapi yang semalam itu make up mu begitu panas dan hidup. Kenapa tidak begitu saat ke kantor?”

Thea berjengit terkejut.

“Ya- yang sem- semalam?” tanyanya hati-hati.

“Iya! Mau yang kapan lagi? Memangnya kau mengirim ke pria random setiap malam?”

“Mengirim?” Meski hatinya terasa tidak enak, Thea terus bertanya. Memastikan. “Mengirim apa ya, Pak?”

Huggo tidak langsung menjawab lewat kata, melainkan lewat tatapannya yang seperti mengandung listrik jutaan volt.

lalu saat dia bicara, suaranya berdesis seperti ular. “Kau masih bertanya?” Bibirnya bahkan tidak membuka saat itu.

Thea melihat itu sampai membeku sejenak. Masa iya Pak Boss- nya sedang membicarakan tentang video syur yang dia buat untuk menggoda Hudson?

Jika bukan membicarakan itu, lalu apa?

Sepertinya topik Pak Boss benar mengarah ke video itu. Tapi bagaimana bisa Pak Boss Hipertensi ini mengetahui video itu?

Apa Tn. Huggo ini memiliki indera ke enam sehingga bisa melihat apa yang dia lakukan semalam?

Hiiiii ... Thea bergidik dalam pikirannya. Kenapa Pak Boss nya jadi mengerikan?

Oops, tapi Pak Boss masih menunggu jawabannya.

Dia pun memberanikan diri menatap Tn. Huggo meski dengan hati yang ketar ketir. Suaranya dibuat lebih lembut, membuai, namun penuh kehati-hatian.

“Kalau boleh saya tahu, apa ya yang Anda bicarakan? Mengirim apa ya, Pak? Perasaan saya tidak mengirim apa-apa ke Anda.”

Namun tetap saja. Seperti riak raksa yang memanas, begitu tampilan wajah Huggo.

Rona merah memenuhi wajahnya karena dia marah dan kesal bicara pada Thea. Padahal Thea adalah sekretarisnya.

Bagaimana bisa pembicaraan mereka saat ini hanya berputar-putar saja. Thea yang kurang pendidikan atau dirinya yang sudah downgrade level gara-gara perbincangan ini?

Telunjuknya langsung menunjuk pintu. “Sekarang juga ... keluar! Pikirkan kesalahanmu ini! Cari tahu apa yang kamu kirim kepadaku semalam! Setelah dapat, langsung menghadap! Jika sampai jam makan siang kamu masih belum tahu, siap-siap dipecat!”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Salah Kirim Video, Pak Boss Jadi Tergoda   Menjawab Tantangan

    Merasa tatapannya membuat Huggo tak nyaman, Thea pun beralih. Dia mengangkat wajah dan menatap Huggo.“Ada apa memanggilku?” tanyanya lirih, datar, dan tak bersemangat.Thea juga terlihat sedih dan menyedihkan.Huggo tahu itu tapi dia tetap mengeraskan hati dan raut wajahnya.Dia mengeluarkan sebuah berkas dan meletakkannya di depan Thea.“Pelajari ini dan tolong realisasikan ke sebanyak mungkin rumah sakit dan klinik di kota ini. Aku ingin produk kita dikenal luas dengan predikat yang bisa dipercaya.”Thea mengambil berkas dan langsung mengatakan, “Baik. Ada lagi?”“Waktumu hanya satu bulan. Jika kau berhasil, aku akan mengangkatmu di divisi lain.”Thea memandang kosong pada berkas lalu pada Huggo. Dia paham arti kata ‘mengangkat ke divisi lain’.Ini sama juga dengan membuangnya.Ingin rasanya Thea menertawakan pilihan kata yang terlalu sopan itu. Tapi tidak dia lakukan.Thea hanya mengangguk. “Baik. Ada lagi?”“Tidak. Kau boleh kembali ke mejamu,” ujar Huggo lagi dan bersiap untuk b

  • Salah Kirim Video, Pak Boss Jadi Tergoda   Tantangan

    “Kamu sedang tidak stabil, Hudson! Ini justru hal tergila yang pernah aku dengar!Kamu itu sedang terburu emosimu saja sehingga tidak bisa berpikir jernih. Kalau kamu sudah berpikir jernih, tidak mungkin kamu akan rela menjalani open relationship.Lagipula, kalaupun kamu rela, aku tetap tidak mau! Aku tidak sudi! Memangnya aku apa yang menjalani hubungan dengan beberapa pria sekaligus! Itu justru merendahkan diriku sendiri!”Mendengar kata merendahkan yang keluar dari bibirnya sendiri Thea jadi teringat akan kata-kata Huggo. Hatinya teriris perih lagi. Tanpa dia menjalani open relationship saja Huggo sudah merendahkannya.Lalu suara Hudson terdengar lagi, lebih panik dari sebelumnya.“Tapi aku rela, Thea. Dan hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa tetap memilikimu, sekalipun itu hanya sebagai istri di atas kertas. Aku rela, Thea. Aku rela!”Thea memijit pelipisnya sendiri. Hudson sudah kerasukan. Pikirannya sudah tak wajar.“Tidak bisa, Hudson. Aku tidak bisa! Lebih baik kamu cepat

  • Salah Kirim Video, Pak Boss Jadi Tergoda   Terpaksa #3

    Saat Thea mengangkat wajahnya dia melihat tatapan Huggo yang kelam dan penuh kemarahan tertuju padanya.Thea tidak peduli lagi. Untuk apa dia bekerja jika dia seperti tidak ada di kantor ini?Masih sambil menatap marah padanya, Huggo mengambil amplop dan membukanya.Saat itulah Thea memperhatikan bukit-bukit jari di punggung tangan Huggo.Di sana tampak goresan-goresan luka yang telah mengering.Thea terperangah dan tanpa sadar langsung menarik tangan itu untuk melihatnya dengan lebih jelas.“Kenapa ini? Kenapa tanganmu bisa luka?” tanyanya spontan.Yang ditanya malah menarik tangannya. Tatapan Huggo kembali mengejeknya.“Bukan urusanmu!”Thea yang masih ingin bertanya, yang masih ingin tahu dan tak puas dengan jawaban Huggo pun membuka mulutnya lagi.Tapi tatapan tajam Huggo menyurutkan niatnya. Dia menutup bibirnya dan mengalihkan tatapannya dari luka di punggung tangan Huggo.Huggo melirik lagi pada surat pengunduran diri Thea.Setelah membacanya, dia tersenyum sinis.“Kau pikir ak

  • Salah Kirim Video, Pak Boss Jadi Tergoda   Terpaksa #2

    Dia juga memakai cushion yang berkilau dan bersinar agar wajahnya tampak cerah dan terlihat semangat.Di kantor, Thea menghadap Bu Melaney terlebih dahulu. Dia diceramahi panjang lebar. Thea tidak membantahnya karena sebenarnya dia tidak terlalu mendengarkan kata-kata Bu Melaney.“Ya sudah, kamu ke mejamu. Jangan bolos lagi. Dan kalau dugem jangan di hari kerja dong. Kamu begitu saja masa tidak bisa mengaturnya? Orang-orang juga tahu, kalau mau dugem di akhir pekan, jadi tidak mengganggu performa mengantor.”Thea mengangguk dan tidak banyak bicara.Dia lalu menuju mejanya. Lily baru saja keluar dari ruangan Huggo dengan wajah berbinar senang.Thea meliriknya dengan tak tahan. Dulu kala ... dia lah yang keluar dari ruangan itu dengan wajah berbinar. Bahkan ... merona panas.Apakah Lily juga mengalami apa yang pernah dialaminya di dalam?Oh, Thea benci pikiran buruknya ini.Bagaimana mugnkin dia bisa menuduh hal tak senonoh itu pada Lily? Wanita itu bahkan terlalu polos untuk menjadi se

  • Salah Kirim Video, Pak Boss Jadi Tergoda   Terpaksa #1

    Hiks ...Thea cegukan untuk ke sekian kali.Delilah yang hendak menjawabnya, jadi terpaksa menahan dirinya dulu.Dia pun meminta air mineral dan memberikannya pada Thea.“Minum ini dulu, setelah itu kita pulang,” katanya seraya menyodorkan botol mineral pada Thea.“Tidak mau ...!” Thea menepis botol itu. “Aku tidak mau pulang. Biarkan aku di sini.”“Mau ngapain kamu di sini?”Ditanya begitu, dalam mabuknya Thea menjawab, “Aku mau menjadi bartender. Seperti dia!”Yang ditunjuk jadi salah tingkah. Meskipun tahu yang menunjuk sudah mabuk, tetap saja dia bingung. “Kenapa mau seperti aku? Tidak bisa asal menjadi bartender. Kau harus punya pengetahuan tentang minuman-minuman ini, juga bagaimana cara meraciknya.”“Ya ... aku mau saja. Maksudku biar bukan cuma aku yang mabuk, tapi semua orang pun bisa mabuk sepertiku, menemaniku ...”Bartender yang sudah menjawab dengan serius pun jadi menyesal. Sudah tahu mabuk tapi dia meladeni omongannya.Sedangkan Delilah hanya tersenyum geli.Tapi senyum

  • Salah Kirim Video, Pak Boss Jadi Tergoda   Jadi Apa Maunya?

    “Kopinya hitam, tanpa gula, dengan creamer satu sendok kecil ini. Tapi terkadang Pak Boss meminta tanpa creamer.”Di pantry, Thea menunjukkan cara membuat kopi bagi Pak Boss. Lily melihat dengan kepala mengangguk-angguk.Kali ini Thea masih membuatkannya sendiri, Lily hanya melihatnya.Setelah itu, dia menyerahkan pada Lily untuk dibawa ke hadapan Huggo.“Ini, bawa masuk. Letakkan di meja dengan perlahan.”“Iya, Kak. Siap!” ujar Lily sembari membawa nampan dan cangkir kopi ke dalam ruangan Huggo.Thea kembali duduk dan menunggu di luar.Dia membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam sana. Mungkin Lily meletakkan cangkir kopi di meja, Huggo sedang mengetik di laptopnya, atau membaca email, atau sedang menelpon.Tanpa menoleh Huggo akan bilang, terima kasih.Itu yang tergambar dalam benak Thea.Namun, seiring waktu berlalu dan Lily belum kunjung keluar, Thea pun semakin bertanya-tanya. Apa lagi yang terjadi di dalam sana?---Sisa hari itu berlalu dengan terasa sangat lambat. Di pengh

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status