LOGIN‘Oh Tuhaaaan ... salah makan apa dia hari ini? Kenapa tingkahnya aneh sekali?’
Thea gegas keluar sambil menggerutu dalam hatinya. Dan gerutuannya itu terpeta jelas di wajahnya yang cemberut.
Seakan menyeret tubuhnya, Thea menuju mejanya dan duduk lunglai di kursi kerjanya.
“Lima bulan bekerja, tidak pernah satu hari pun melihat Si Hipertensi itu tersenyum! Urgh! Mahal kali senyumnya dia! Atau memang bos-bos sengaja begitu demi menindas sekretarisnya?”
“Atau jangan-jangan ... senyum Pak Boss mahal untukku, tapi murah untuk pria-pria tampan dalam circle-nya?”
Tiba di pikiran tak biasa ini, Thea mulai tersenyum dan terkikik sendiri.
“Bisa jadi begitu ...” ujarnya lagi sambil melihat-lihat komputer.
Lalu kata-kata Tn. Huggo tadi bergema lagi mengingatkan apa yang harus dia lakukan sehingga jantungnya jadi berdebar-debar.
Hatinya semakin merasakan firasat tidak enak. Thea pun akhirnya meminta izin pulang ke rumahnya sebentar.
Ketika dia tiba di rumah, Thea langsung mencari ponselnya.
Sial ponsel itu kehabisan daya.
Seraya menyambungkan ke charger, Thea semakin berdebar-debar. Apakah mungkin Pak Boss Hipertensi-nya itu membicarakan video syur-nya yang untuk Hudson?
Ataukah Hudson mengirim video itu ke Pak Boss? Tapi tidak mungkin karena mereka tidak saling mengenal.
Jantung Thea semakin berdetak tak karuan sehingga dia pun akhirnya menyalakan ponsel dan membuka chat room Tn. Huggo.
Matanya melotot hebat bahkan nyaris keluar ketika melihat videonya memang benar terkirim ke Tn. Huggo.
“Ba- bagaimana bi- bisaaaaa?” Sekalipun lidahnya kelu untuk bicara, tapi hatinya teremas-remas ingin menangis.
Ah, bukan menangis. Kalau bisa dia ingin menghilang saja!
Pantasan Pak Boss menyinggung tentang make up menyala dan berani. Pantasan ... Argh! Memalukan!!!!
Apalagi setelah dia mengetahui kesalahannya ini Pak Boss masih menyuruhnya menghadap?
“Aku lebih baik dipecat!!!” ujar Thea dengan sekujur tubuhnya terasa lemas, daripada harus menghadap kembali ke depan Si Hipertensi itu!
Namun, satu jam kemudian, Thea sudah kembali berada di kantor, duduk di kursi kerjanya, melamunkan apa yang sebaiknya dia lakukan.
Telepon di mejanya tiba-tiba berdering dan membuatnya terkejut.
Dengan lesu, Thea menjawab, “Selamat siang, dengan sekretaris Tuan Huggo, ada yang bisa saya bantu?”
Untuk beberapa detik pertama, ada keheningan di antara Thea dan si penelpon. Baru kali ini Huggo mendengar sahutan sekretarisnya seperti orang belum makan satu minggu, sehingga dia butuh waktu lebih untuk menjawab.
Huggo sendiri tidak tahu jika Thea sedari tadi melamun akibat rasa shocknya menghadapi kenyataan telah salah mengirim video kepada dirinya.
Berapa detik berikutnya, barulah Huggo bersuara di ujung telepon, “Datang ke ruanganku.”
***
Langkah Tn. Huggo terasa mantap dan tegas menghampirinya, lalu mengelilinginya sama seperti tadi pagi.
Bedanya kali ini Thea tidak punya muka menatap Pak Boss-nya itu. Seluruh kepercayaan dirinya runtuh dalam sekejap.
Dia menunduk dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya.
“Ada apa di lantai? Kenapa kau melihat ke bawah terus?” cecar Pak Boss dengan nada tak senang, juga tak puas.
“Tid- tidak ada apa-apa, Pak.”
Seraya terus mengitari Thea dengan lambat, Huggo mengamati gerak tubuh Thea.
Tiba-tiba telunjuknya kembali mengangkat dagu Thea.
“Kau sudah mengetahui apa yang kamu kirim padaku semalam, huh?”
Thea mengernyit kali ini, tidak tahu bagaimana menjawabnya.
“Kenapa diam?” cecar Tn. Huggo lagi.
Dengan lemah, Thea menganggukkan kepalanya.
Dagunya pun dilepas Huggo. “Hah! Kupikir kamu penyuka sesama. Kenapa mengirimnya padaku? Mau menggodaku?”
“Tid- tidak, Pak. Aku- Aku- ... errr ... itu ...-”
“Apaaa?”
“Salah kirim, Pak.”
“Salah kirim?” Huggo benar-benar tak menduga jawaban dari Thea malah salah kirim.
Setelah dia tidak bisa tidur terbayang-bayang tubuh molek Thea, tapi yang didapatnya jawaban salah kirim?
Jawaban macam apa itu?
Harga dirinya semakin terlecehkan.
“Memangnya kau mau mengirimkannya pada siapa?”
Thea menggigit bibir bawahnya seraya dia berpikir keras siapa yang bisa dia jadikan alasan karena pak boss nya ini tidak mengetahui jika dia telah menikah.
Akhirnya, alasan itu jatuh ke nama sahabatnya. “Mau kukirim ke Delilah, teman saya.”
Wajah Huggo langsung berubah. Thea tiba-tiba menyadari kesalahannya.
“Eh, tid- tidak seperti yang Anda pikirkan, Pak!”
Ini sama saja seperti memberikan konfirmasi bahwa rumor dirinya lesbian adalah benar.
Astaga-naga!
“Tidak seperti yang aku pikirkan? Masa iya? Lalu mau seperti apa?”
“It- itu ... errr ... aku dan Delilah hanya sedang mengerjakan project untuk sebuah iklan lingerie.
Iya, iklan lingerie! Hehehe.
Setelah hampir satu tahun tidak ada tawaran iklan lagi untukku, akhirnya ada yang bersedia memberikanku kesempatan ke-dua, Pak.
Ya, menurutku ini tidak boleh dilewatkan. Iya, kan? Iya, kan?”
Kegugupan karena berbohong membuat bicara Thea cepat seperti kereta api. Dan penuh semangat.
Wajah Tn. Huggo mengernyit pada Thea. Dia tidak percaya.
“Berarti selama ini kamu masih berpikir untuk kembali ke karier modelmu?” tanyanya heran.
Tapi di telinga Thea seperti ada nada ejekan.
Apa salahnya jika dia masih ingin kembali ke karier modelnya? Justru kalau dia menerima nasibnya menjadi sekretaris untuk seterus-seterusnya, ck ... bodoh sekali dirinya jika begitu!
Thea pun mengangguk mantap.
Wajah Tn. Huggo pun semakin keheranan. Tak lama kemudian, dia menyudahi mengukung Thea dengan tatapan penuh penghakimannya.
Pria itu menuju mejanya lalu memencet telepon di mejanya.
Huggo juga memencet loudspeaker sehingga Thea bisa mendengar jelas.
“Ya, selamat siang?” sapa di ujung sana.
“Siang, Rilley ... Bagaimana dengan iklan produk terbaru kita?”
“Konsep sudah siap, Pak. Hanya masih mencari model pelengkap.”
“Aku punya modelnya. Kalian siap-siap syuting sekarang ini juga, bisa?”
“Oh, bisa, bisa, tentu saja bisa, Pak.”
Tentu saja, tidak ada yang berani menentang kata-kata Tn. Huggo betapapun mengejutkannya, betapapun mendadaknya.
Setelah telpon berakhir, Huggo menatap Thea lagi.
Rautnya masih dingin dan kesal seperti sebelum-sebelumnya.
Kedua tangannya melipat di depan dada dan tubuhnya bersandar di meja kerjanya.
Lima menit kemudian, pintu ruangannya diketuk lalu wajah Rilley muncul dari celah pintu yang terbuka.
“Permisi, Pak, model iklannya, Pak?”
“Oh, ini dia.” Huggo menunjuk Thea.
Thea terkejut dan menunjuk hidungnya sendiri. “Aku?”
“Iya! Kamu ingin kesempatan kedua menjadi model iklan, bukan?”
Thea mengangguk dengan secercah binar kebahagiaan di matanya. Bahkan ada rasa haru juga di sana.
Ternyata Pak Boss Hipertensi-nya ini masih ada sedikit perhatian dan kebaikan hati untuknya.
Thea sungguh terharu dari lubuk hati terdalam!
Sedangkan Huggo .... dia melihatnya dengan senyum sinis.
Sebentar lagi, binar kebahagiaan itu akan meredup. Rasa haru akan berubah menjadi kesal dan marah.
Merasa tatapannya membuat Huggo tak nyaman, Thea pun beralih. Dia mengangkat wajah dan menatap Huggo.“Ada apa memanggilku?” tanyanya lirih, datar, dan tak bersemangat.Thea juga terlihat sedih dan menyedihkan.Huggo tahu itu tapi dia tetap mengeraskan hati dan raut wajahnya.Dia mengeluarkan sebuah berkas dan meletakkannya di depan Thea.“Pelajari ini dan tolong realisasikan ke sebanyak mungkin rumah sakit dan klinik di kota ini. Aku ingin produk kita dikenal luas dengan predikat yang bisa dipercaya.”Thea mengambil berkas dan langsung mengatakan, “Baik. Ada lagi?”“Waktumu hanya satu bulan. Jika kau berhasil, aku akan mengangkatmu di divisi lain.”Thea memandang kosong pada berkas lalu pada Huggo. Dia paham arti kata ‘mengangkat ke divisi lain’.Ini sama juga dengan membuangnya.Ingin rasanya Thea menertawakan pilihan kata yang terlalu sopan itu. Tapi tidak dia lakukan.Thea hanya mengangguk. “Baik. Ada lagi?”“Tidak. Kau boleh kembali ke mejamu,” ujar Huggo lagi dan bersiap untuk b
“Kamu sedang tidak stabil, Hudson! Ini justru hal tergila yang pernah aku dengar!Kamu itu sedang terburu emosimu saja sehingga tidak bisa berpikir jernih. Kalau kamu sudah berpikir jernih, tidak mungkin kamu akan rela menjalani open relationship.Lagipula, kalaupun kamu rela, aku tetap tidak mau! Aku tidak sudi! Memangnya aku apa yang menjalani hubungan dengan beberapa pria sekaligus! Itu justru merendahkan diriku sendiri!”Mendengar kata merendahkan yang keluar dari bibirnya sendiri Thea jadi teringat akan kata-kata Huggo. Hatinya teriris perih lagi. Tanpa dia menjalani open relationship saja Huggo sudah merendahkannya.Lalu suara Hudson terdengar lagi, lebih panik dari sebelumnya.“Tapi aku rela, Thea. Dan hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa tetap memilikimu, sekalipun itu hanya sebagai istri di atas kertas. Aku rela, Thea. Aku rela!”Thea memijit pelipisnya sendiri. Hudson sudah kerasukan. Pikirannya sudah tak wajar.“Tidak bisa, Hudson. Aku tidak bisa! Lebih baik kamu cepat
Saat Thea mengangkat wajahnya dia melihat tatapan Huggo yang kelam dan penuh kemarahan tertuju padanya.Thea tidak peduli lagi. Untuk apa dia bekerja jika dia seperti tidak ada di kantor ini?Masih sambil menatap marah padanya, Huggo mengambil amplop dan membukanya.Saat itulah Thea memperhatikan bukit-bukit jari di punggung tangan Huggo.Di sana tampak goresan-goresan luka yang telah mengering.Thea terperangah dan tanpa sadar langsung menarik tangan itu untuk melihatnya dengan lebih jelas.“Kenapa ini? Kenapa tanganmu bisa luka?” tanyanya spontan.Yang ditanya malah menarik tangannya. Tatapan Huggo kembali mengejeknya.“Bukan urusanmu!”Thea yang masih ingin bertanya, yang masih ingin tahu dan tak puas dengan jawaban Huggo pun membuka mulutnya lagi.Tapi tatapan tajam Huggo menyurutkan niatnya. Dia menutup bibirnya dan mengalihkan tatapannya dari luka di punggung tangan Huggo.Huggo melirik lagi pada surat pengunduran diri Thea.Setelah membacanya, dia tersenyum sinis.“Kau pikir ak
Dia juga memakai cushion yang berkilau dan bersinar agar wajahnya tampak cerah dan terlihat semangat.Di kantor, Thea menghadap Bu Melaney terlebih dahulu. Dia diceramahi panjang lebar. Thea tidak membantahnya karena sebenarnya dia tidak terlalu mendengarkan kata-kata Bu Melaney.“Ya sudah, kamu ke mejamu. Jangan bolos lagi. Dan kalau dugem jangan di hari kerja dong. Kamu begitu saja masa tidak bisa mengaturnya? Orang-orang juga tahu, kalau mau dugem di akhir pekan, jadi tidak mengganggu performa mengantor.”Thea mengangguk dan tidak banyak bicara.Dia lalu menuju mejanya. Lily baru saja keluar dari ruangan Huggo dengan wajah berbinar senang.Thea meliriknya dengan tak tahan. Dulu kala ... dia lah yang keluar dari ruangan itu dengan wajah berbinar. Bahkan ... merona panas.Apakah Lily juga mengalami apa yang pernah dialaminya di dalam?Oh, Thea benci pikiran buruknya ini.Bagaimana mugnkin dia bisa menuduh hal tak senonoh itu pada Lily? Wanita itu bahkan terlalu polos untuk menjadi se
Hiks ...Thea cegukan untuk ke sekian kali.Delilah yang hendak menjawabnya, jadi terpaksa menahan dirinya dulu.Dia pun meminta air mineral dan memberikannya pada Thea.“Minum ini dulu, setelah itu kita pulang,” katanya seraya menyodorkan botol mineral pada Thea.“Tidak mau ...!” Thea menepis botol itu. “Aku tidak mau pulang. Biarkan aku di sini.”“Mau ngapain kamu di sini?”Ditanya begitu, dalam mabuknya Thea menjawab, “Aku mau menjadi bartender. Seperti dia!”Yang ditunjuk jadi salah tingkah. Meskipun tahu yang menunjuk sudah mabuk, tetap saja dia bingung. “Kenapa mau seperti aku? Tidak bisa asal menjadi bartender. Kau harus punya pengetahuan tentang minuman-minuman ini, juga bagaimana cara meraciknya.”“Ya ... aku mau saja. Maksudku biar bukan cuma aku yang mabuk, tapi semua orang pun bisa mabuk sepertiku, menemaniku ...”Bartender yang sudah menjawab dengan serius pun jadi menyesal. Sudah tahu mabuk tapi dia meladeni omongannya.Sedangkan Delilah hanya tersenyum geli.Tapi senyum
“Kopinya hitam, tanpa gula, dengan creamer satu sendok kecil ini. Tapi terkadang Pak Boss meminta tanpa creamer.”Di pantry, Thea menunjukkan cara membuat kopi bagi Pak Boss. Lily melihat dengan kepala mengangguk-angguk.Kali ini Thea masih membuatkannya sendiri, Lily hanya melihatnya.Setelah itu, dia menyerahkan pada Lily untuk dibawa ke hadapan Huggo.“Ini, bawa masuk. Letakkan di meja dengan perlahan.”“Iya, Kak. Siap!” ujar Lily sembari membawa nampan dan cangkir kopi ke dalam ruangan Huggo.Thea kembali duduk dan menunggu di luar.Dia membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam sana. Mungkin Lily meletakkan cangkir kopi di meja, Huggo sedang mengetik di laptopnya, atau membaca email, atau sedang menelpon.Tanpa menoleh Huggo akan bilang, terima kasih.Itu yang tergambar dalam benak Thea.Namun, seiring waktu berlalu dan Lily belum kunjung keluar, Thea pun semakin bertanya-tanya. Apa lagi yang terjadi di dalam sana?---Sisa hari itu berlalu dengan terasa sangat lambat. Di pengh







