로그인Thea rasanya masih tak percaya dengan apa yang diberikan Tn. Huggo padanya. Kesempatan untuk menjadi model iklan?
Aaargggh ... ternyata ada hikmahnya juga di balik salah kirim video syur itu. Walaupun memalukan, tapi ternyata berakhir dengan baik. Malah menjadi rezeki!
Ini bahkan seperti mimpi di siang bolong.
Thea mengikuti Rilley dengan suasana hati yang begitu haru dan bahagia.
Dia benar-benar berterima kasih dari lubuk hatinya yang terdalam kepada Tn. Huggo.
Ketika mereka mencapai ruangan yang dipakai untuk syuting, Thea diberikan pakaian ganti.
“Pakai ini. Lalu make up,” ujar salah seorang crew yang tidak Thea kenal.
Thea mengangguk lalu menuju ruang ganti. Setibanya di sana barulah Thea menyadari bahwa pakaian yang diberikan padanya adalah satu stel lingerie!
‘Maksudnya apa ini?’ pikir Thea mulai kacau.
Dia pun keluar tanpa mengganti pakaiannya.
“Rilley, kenapa aku disuruh memakai lingerie seksi seperti ini?”
Rilley awalnya heran dengan pertanyaan Thea, tapi dia menjawab sebisanya. “Ya, memang konsep iklannya seperti itu. Apa kamu tidak tahu? Aku pikir karena Tn. Huggo sendiri yang menunjukmu maka kamu sudah tahu.”
“Aku tidak tahu apa-apa tentang iklan ini. Memangnya produk apa?”
“Ini produk baru kita. Produk parfume plus-plus yang bisa meningkatkan stamina pria dan menggaet para wanita.”
Thea mulai oleng mendengarnya.
“Parfume plus-plus?”
“Iya ... apa harus kujelaskan?” tanya Rilley lagi.
Thea mengangguk tapi tiba-tiba di sampingnya sudah berdiri sesosok pria yang keberadaannya tidak bisa diabaikan.
Tanpa diinginkan pun keberadaannya pasti akan terasa nyata dan sangat kentara.
Thea langsung menoleh dan melihat Pak Boss Hipertensi sudah di sampignnya.
“Kamu akan syuting iklan untuk parfume Puas dan Lagi!”
Thea nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar nama parfumenya.
Yang benar saja! Ada nama parfume begitu?
“Haruskah aku memakai lingerie seksi ini?” tanya Thea lagi, penuh harap Tn. Huggo mau melepaskannya.
Dua tangan Huggo melesak ke saku celana panjangnya, lalu matanya memberikan kode pada Rilley untuk pergi.
Sekarang tinggallah mereka berdua saja.
Dengan bisikan penuh tekanan dan paksaan, Huggo berkata, “Dibandingkan dengan videomu yang semalam lingerie ini tidak ada apa-apanya. Tapi kalau kau tidak puas, kau bisa memakai lingerimu yang di video semalam.”
Seakan tak percaya, Thea melebarkan lingerie di tangannya dan mengamat-amatinya lagi.
Memang lingerie ini tidak menerawang seperti yang dipakainya semalam. Modelnya pun masih kalem.
Thea pun mengangguk pasrah. “Baiklah, aku akan memakainya.”
Thea pun kembali ke ruang ganti dan memasrahkan dirinya untuk peran ini.
Harapannya hanya satu, semoga peran ini bisa mengangkat karier model nya kembali ke jenjang sebelumnya.
Semoga saja Tn. Huggo berbaik hati setelah dia menjadi model iklan ini, kemampuannya ini bisa dipromosikan oleh Tn. Huggo.
Hanya itu harapan Thea.
Setelah berganti, Thea keluar dengan malu-malu.
Dia lalu di make up meski tidak terlalu menor.
Setelah itu, dia pun hendak melakukan pengambilan gambar.
Di bawah terik lampu syuting, Thea mendengar arahan sutradara.
“Kita akan mengambil foto dulu. Kamu duduk di sana, berikan ekspresi kepuasanmu saat mencapai klimaksmu.”
Thea kembali berjengit. “Apa? Kenapa fotonya begitu?”
“Ya, memang konsepnya begitu. Ini kan iklan parfume plus-plus. Kamu adalah wanita yang merasakan efek parfume itu.
Dengan mengenakan parfume ini, maka pasanganmu lebih kuat dan kepuasan itu kamu rasakan.
Ayo, berikan ekspresi puas mu yang terbaik!”
Thea sungguh tak menyangka jika perannya adalah yang seperti ini.
“Tapi aku tidak bisa,” ujar Thea berusaha menolak secara halus.
“Tidak bisa? Tapi Pak Boss bilang kamu modelnya?”
“Iya, tapi ...” Thea menggigit bibir bawahnya lagi dengan keragu-raguan. Haruskah dia jujur dengan pernyataannya? Atau dia harus mencari alasan lain?
“Tapi kenapa, Nona? Hanya duduk di sana memberikan ekspresi kepuasan. Anggap saja kami tidak melihatmu!”
“Tapi ...” Thea memutar otak untuk mencari jawaban yang lebih aman.
Tapi dia malah bersitatap dengan Tn. Huggo yang ternyata terus mengawasi dengan seksama jalannya syuting iklan ini.
‘Tumben pula pak boss hari ini banyak waktu luang?’ Thea menggerutu dalam hatinya lagi.
Tn. Huggo mengawasinya dengan begitu ketat. Berdiri dengan kaki terbuka, kedua tangan melipat di depan dada, Huggo tak melepaskan pandangannya sedetik pun dari Thea.
Dia terus mengawasi seakan takut Thea berlari pergi.
Tiba-tiba, entah perasaannya saja, ataukah kenyataan, Thea seakan melihat sudut-sudut bibir Tn. Huggo terangkat meski sedikit.
Thea akhirnya menyadari kenapa Tn. Huggo begitu baik hati memberikan peran ini padanya.
‘Hah! Ini sih bukan baik hati, tapi sengaja mempermainkanku!’ Thea berseru kesal dalam hatinya.
“Tapi apa, Nona? Sebaiknya kita cepat mulai pemotretan agar tidak banyak membuang waktu.”
Suara sutradara menyadarkan Thea dan dia pun terpaksa menjawab, “Mohon tunggu sebentar, Pak. Aku perlu bicara pada Tn. Huggo dulu.”
Sutradara sebenarnya keberatan. Tapi karena nama yang ingin diajak bicara adalah Tn. Huggo, dia pun tak bisa menolak.
Dengan berat hati dia memberikan kesempatan pada Thea.
Thea menghampiri lalu mengajak Huggo bicara empat mata, di ruang rias.
“Sebaiknya yang hendak kamu katakan ini benar-benar penting!” kilah Huggo yang semakin menunjukkan ketidak senangannya.
“Err ... itu, Pak ... apa tidak bisa ya ganti orang lain saja? Saya tidak bisa melakukan ekspresi seperti itu!”
Bukannya menjawab, Huggo malah menaikkan sebelah alisnya. Sepertinya dia tak percaya.
“Itu kan memalukan, Pak ...” Thea akhirnya berujar dengan suara pelan seperti tercekik.
Di luar dugaannya, Huggo malah menjawabnya dengan suara dingin, “Justru itu. Aku merasa peran ini sangat cocok untuk mu setelah aku melihat hasil rekaman video syurmu kemarin.
Lagipula, jika memang kamu tidak ingin mendapat peran seperti ini, kenapa kamu memberikan contoh video yang berupa video panas dan menggoda?
Apa kamu membohongiku tentang video untuk syuting iklan?
Mungkin maksudmu video itu untuk bermesraan dengan teman wanitamu itu? Ya ... seperti rumor yang beredar selama ini ...”
Merasa tatapannya membuat Huggo tak nyaman, Thea pun beralih. Dia mengangkat wajah dan menatap Huggo.“Ada apa memanggilku?” tanyanya lirih, datar, dan tak bersemangat.Thea juga terlihat sedih dan menyedihkan.Huggo tahu itu tapi dia tetap mengeraskan hati dan raut wajahnya.Dia mengeluarkan sebuah berkas dan meletakkannya di depan Thea.“Pelajari ini dan tolong realisasikan ke sebanyak mungkin rumah sakit dan klinik di kota ini. Aku ingin produk kita dikenal luas dengan predikat yang bisa dipercaya.”Thea mengambil berkas dan langsung mengatakan, “Baik. Ada lagi?”“Waktumu hanya satu bulan. Jika kau berhasil, aku akan mengangkatmu di divisi lain.”Thea memandang kosong pada berkas lalu pada Huggo. Dia paham arti kata ‘mengangkat ke divisi lain’.Ini sama juga dengan membuangnya.Ingin rasanya Thea menertawakan pilihan kata yang terlalu sopan itu. Tapi tidak dia lakukan.Thea hanya mengangguk. “Baik. Ada lagi?”“Tidak. Kau boleh kembali ke mejamu,” ujar Huggo lagi dan bersiap untuk b
“Kamu sedang tidak stabil, Hudson! Ini justru hal tergila yang pernah aku dengar!Kamu itu sedang terburu emosimu saja sehingga tidak bisa berpikir jernih. Kalau kamu sudah berpikir jernih, tidak mungkin kamu akan rela menjalani open relationship.Lagipula, kalaupun kamu rela, aku tetap tidak mau! Aku tidak sudi! Memangnya aku apa yang menjalani hubungan dengan beberapa pria sekaligus! Itu justru merendahkan diriku sendiri!”Mendengar kata merendahkan yang keluar dari bibirnya sendiri Thea jadi teringat akan kata-kata Huggo. Hatinya teriris perih lagi. Tanpa dia menjalani open relationship saja Huggo sudah merendahkannya.Lalu suara Hudson terdengar lagi, lebih panik dari sebelumnya.“Tapi aku rela, Thea. Dan hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa tetap memilikimu, sekalipun itu hanya sebagai istri di atas kertas. Aku rela, Thea. Aku rela!”Thea memijit pelipisnya sendiri. Hudson sudah kerasukan. Pikirannya sudah tak wajar.“Tidak bisa, Hudson. Aku tidak bisa! Lebih baik kamu cepat
Saat Thea mengangkat wajahnya dia melihat tatapan Huggo yang kelam dan penuh kemarahan tertuju padanya.Thea tidak peduli lagi. Untuk apa dia bekerja jika dia seperti tidak ada di kantor ini?Masih sambil menatap marah padanya, Huggo mengambil amplop dan membukanya.Saat itulah Thea memperhatikan bukit-bukit jari di punggung tangan Huggo.Di sana tampak goresan-goresan luka yang telah mengering.Thea terperangah dan tanpa sadar langsung menarik tangan itu untuk melihatnya dengan lebih jelas.“Kenapa ini? Kenapa tanganmu bisa luka?” tanyanya spontan.Yang ditanya malah menarik tangannya. Tatapan Huggo kembali mengejeknya.“Bukan urusanmu!”Thea yang masih ingin bertanya, yang masih ingin tahu dan tak puas dengan jawaban Huggo pun membuka mulutnya lagi.Tapi tatapan tajam Huggo menyurutkan niatnya. Dia menutup bibirnya dan mengalihkan tatapannya dari luka di punggung tangan Huggo.Huggo melirik lagi pada surat pengunduran diri Thea.Setelah membacanya, dia tersenyum sinis.“Kau pikir ak
Dia juga memakai cushion yang berkilau dan bersinar agar wajahnya tampak cerah dan terlihat semangat.Di kantor, Thea menghadap Bu Melaney terlebih dahulu. Dia diceramahi panjang lebar. Thea tidak membantahnya karena sebenarnya dia tidak terlalu mendengarkan kata-kata Bu Melaney.“Ya sudah, kamu ke mejamu. Jangan bolos lagi. Dan kalau dugem jangan di hari kerja dong. Kamu begitu saja masa tidak bisa mengaturnya? Orang-orang juga tahu, kalau mau dugem di akhir pekan, jadi tidak mengganggu performa mengantor.”Thea mengangguk dan tidak banyak bicara.Dia lalu menuju mejanya. Lily baru saja keluar dari ruangan Huggo dengan wajah berbinar senang.Thea meliriknya dengan tak tahan. Dulu kala ... dia lah yang keluar dari ruangan itu dengan wajah berbinar. Bahkan ... merona panas.Apakah Lily juga mengalami apa yang pernah dialaminya di dalam?Oh, Thea benci pikiran buruknya ini.Bagaimana mugnkin dia bisa menuduh hal tak senonoh itu pada Lily? Wanita itu bahkan terlalu polos untuk menjadi se
Hiks ...Thea cegukan untuk ke sekian kali.Delilah yang hendak menjawabnya, jadi terpaksa menahan dirinya dulu.Dia pun meminta air mineral dan memberikannya pada Thea.“Minum ini dulu, setelah itu kita pulang,” katanya seraya menyodorkan botol mineral pada Thea.“Tidak mau ...!” Thea menepis botol itu. “Aku tidak mau pulang. Biarkan aku di sini.”“Mau ngapain kamu di sini?”Ditanya begitu, dalam mabuknya Thea menjawab, “Aku mau menjadi bartender. Seperti dia!”Yang ditunjuk jadi salah tingkah. Meskipun tahu yang menunjuk sudah mabuk, tetap saja dia bingung. “Kenapa mau seperti aku? Tidak bisa asal menjadi bartender. Kau harus punya pengetahuan tentang minuman-minuman ini, juga bagaimana cara meraciknya.”“Ya ... aku mau saja. Maksudku biar bukan cuma aku yang mabuk, tapi semua orang pun bisa mabuk sepertiku, menemaniku ...”Bartender yang sudah menjawab dengan serius pun jadi menyesal. Sudah tahu mabuk tapi dia meladeni omongannya.Sedangkan Delilah hanya tersenyum geli.Tapi senyum
“Kopinya hitam, tanpa gula, dengan creamer satu sendok kecil ini. Tapi terkadang Pak Boss meminta tanpa creamer.”Di pantry, Thea menunjukkan cara membuat kopi bagi Pak Boss. Lily melihat dengan kepala mengangguk-angguk.Kali ini Thea masih membuatkannya sendiri, Lily hanya melihatnya.Setelah itu, dia menyerahkan pada Lily untuk dibawa ke hadapan Huggo.“Ini, bawa masuk. Letakkan di meja dengan perlahan.”“Iya, Kak. Siap!” ujar Lily sembari membawa nampan dan cangkir kopi ke dalam ruangan Huggo.Thea kembali duduk dan menunggu di luar.Dia membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam sana. Mungkin Lily meletakkan cangkir kopi di meja, Huggo sedang mengetik di laptopnya, atau membaca email, atau sedang menelpon.Tanpa menoleh Huggo akan bilang, terima kasih.Itu yang tergambar dalam benak Thea.Namun, seiring waktu berlalu dan Lily belum kunjung keluar, Thea pun semakin bertanya-tanya. Apa lagi yang terjadi di dalam sana?---Sisa hari itu berlalu dengan terasa sangat lambat. Di pengh







