Share

Bab 10

Author: Wuri Jiang
"Aaaah!"

Freya mengeluarkan jeritan melengking yang sangat memekakkan telinga.

Meskipun sebagian besar air menyiram tubuh Kenzo.

Kenzo berdiri dan melihat orang yang datang ternyata Naura, hingga raut wajahnya berubah drastis.

"Naura, kamu udah gila ya?!"

Rambut panjang Freya basah kuyup hingga menempel erat di kulit kepalanya, terlihat sangat mengenaskan.

Dia ikut melompat berdiri, menatap orang di depannya dengan tatapan tidak percaya. "Naura, kamu gila ya? Kenapa kamu siram kami?"

Naura tertawa dingin mengejek. "Kalian bermesraan di kamarku, disiram air bukannya memang pantas?"

"Pak Kenzo, pelit banget sih? Nggak punya uang buat sewa kamar di luar?"

Binar mata Kenzo berkilat tajam. "Kamu bicara sembarangan apa sih, Freya tadi nggak memperhatikan barang di bawah kakinya, dia cuma nggak sengaja terjatuh aja."

Rasa puas berkilat samar di dalam hati Freya, dia memegang tangan pria itu dengan ketakutan. "Kakak, kamu salah paham sama aku dan Kak Kenzo, mana mungkin kami melakukan hal ... seperti itu di siang hari begini."

"Kak Kenzo itu berniat bantu pegangi aku, tapi malah ikut tertarik jatuh sama aku."

Naura tidak sudi mendengarkan penjelasan mereka. "Aku nggak ada waktu buat dengar dongeng kalian. Udah, kalian bisa pergi sekarang!"

Kenzo menggertakkan giginya. "Nau ... Ra!"

"Nggak usah teriak-teriak, simpan tenaga kamu buat teriak di atas kasur nanti malam!"

Tiga pria berbadan tegap menyusul naik ke atas.

Naura menunjuk ke arah lantai satu. "Ayo, lihat piano di sana 'kan? Piano itu termasuk barang-barang di sekitarnya dalam radius 10 meter, semuanya buang keluar!"

"Oh iya, sofa itu juga buang keluar!"

Pada akhirnya, Naura menatap dingin ke dalam kamar tidur, lalu menyunggingkan senyum mengejek. "Omong-omong, tempat tidur ini juga! Kotor banget, buang juga!"

Raut wajah Freya mendadak panik. "Kamu, kamu nggak boleh buang pianoku!"

"Itu piano pertamaku! Kamu nggak boleh buang!"

Naura bersedekap dada, lalu tertawa dingin. "Rumahku bukan tempat penampungan sampah."

"Buang semuanya!"

Kapan Freya pernah menerima perlakuan seperti ini, dia seketika menangis sesenggukan, seraya menarik-narik lengan baju Kenzo. "Kak Kenzo, aku, Kakak kok begini ...."

Urat-urat halus di pelipis Kenzo berdenyut pelan. "Naura, kamu yakin mau cari masalah sama aku?"

Naura menyunggingkan senyum. "Pak Kenzo sepertinya lupa, kemarin aku udah mengundurkan diri."

"Aku bukan bawahan kamu lagi, kamu pikir aku harus takut?"

Bibir Kenzo memancarkan rasa dingin yang sangat pekat. "Hah, kamu jangan menyesal nantinya."

Dia membungkukkan badan, lalu membopong wanita itu pergi.

"Lain kali kalau kamu mohon sama aku, aku nggak bakal sebaik ini lagi!"

Setelah mengucapkan kalimat itu, Kenzo membawa Freya pergi meninggalkan Vila Awan.

Freya menatap halaman rumah yang penuh dengan barang-barang berantakan, binar matanya memancarkan rasa benci yang sangat mendalam.

Naura, rasa sakit dan perlakuan hari ini akan dia ingat baik-baik!

....

Naura mengarahkan para pekerja yang dipanggilnya dengan tenang, tidak sampai satu jam, barang-barang milik Freya sudah tidak terlihat lagi di dalam vila.

"Kerja bagus."

Dia memberikan bayaran dengan lugas, lalu memanggil truk pengangkut sampah untuk membersihkan halaman hingga benar-benar bersih rapi.

Naura merasa perasaannya seketika menjadi lega dan segar.

Tapi, baru saja lewat satu jam, Naura melihat sebuah nama berkedip-kedip dengan gila di layar ponselnya.

"Halo, Naura, kamu gila ya! Kamu apakan Freya? Dia sampai mau pingsan gara-gara nangis terus!"

"Bukannya Ibu udah bilang Vila Awan bakal dikasih ke kamu, kenapa kamu harus terburu-buru begitu?"

Naura mengatupkan bibirnya. "Iya, aku memang buru-buru. Tempat ini dari awal punya aku, masa aku nggak boleh buru-buru?"

Alia seketika bungkam, lalu mengancam, "Kamu nggak mau saham perusahaan lagi?"

Naura mengangkat bahu. "Terserah Ibu aja. Kalau Ibu mau dilaporkan anak Ibu sendiri ke pengadilan, Ibu boleh nggak kasih saham itu ke aku. Tapi Ibu, nenek masih ada lho, Ibu pikir kalau pembagian harta dilakukan secara resmi, sisa saham di tangan Ibu tinggal berapa?"

"Dulu aku nggak memperjuangkannya, bukan berarti barang itu bukan punya aku. Aku harap Ibu paham soal itu!"

Alia seketika terkejut dengan wajah pucat, sama sekali tidak pernah menyangka anak gadisnya yang dulunya penurut akan bersikap seperti ini kepadanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 50

    Nanti begitu turun dari pesawat sudah jam setengah empat pagi.Davin menatap pesan yang dikirimkannya tanpa ada balasan, di dalam hatinya selalu ada firasat kuat yang memberi tahu dirinya untuk bergegas pulang."Ubah jadwal penerbangannya saja. Jam setengah 12 juga nggak apa-apa."Asistennya bergegas mengiyakan, "Baik, Pak Davin."Davin mengenakan jasnya, mengambil ponselnya lalu berjalan menuju ke area parkir.Tidak tahu di rumah tanpa ada dirinya, apakah Naura bisa tidur dengan nyenyak atau tidak.Begitu memikirkan hal ini, sudut bibirnya terangkat tipis tanpa disadari.Namun, saat dia kembali ke rumah jam setengah empat subuh, dahinya berkerut erat menatap kamar yang kosong melompong.Pintu kamar Naura terbuka, sama sekali tidak ada bekas-bekas sudah pernah ditempati untuk tidur.Davin menatap layar ponselnya, pesan yang dikirimkannya kepada wanita itu adalah jam setengah 10 malam.Wanita ini pergi ke mana?Karena sudah terlalu larut, Davin tidak membangunkan Bi Dian.Saat Bi Dian b

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 49

    Naura memeluk kedua lututnya, meringkuk di sudut dinding. Suaranya sudah serak sampai habis karena berteriak, tapi tetap tidak ada seorang pun yang datang membukakan pintu untuknya.Loteng itu tidak memiliki jendela, hanya ada bau apek kayu lapuk yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya.Dari celah-celah kayu menembus beberapa berkas cahaya bulan, dia tahu di luar sana sekarang sudah gelap gulita.Belasan tahun lalu, Naura pernah dikurung sekali seperti ini, yaitu saat libur sekolah usianya 7 tahun ketika datang berkunjung untuk tinggal sebentar di rumah ibunya.Tahun itu, dia baru saja kehilangan ayahnya selama satu tahun, sangat bergantung pada ibunya, terburu-buru ingin menagih kasih sayang dari Alia.Namun, Alia saat itu baru saja menikah dan masuk ke rumah ini, posisi sebagai Nyonya Jasma saja belum kokoh, jadi sama sekali tidak berhasrat untuk peduli padanya.Sedangkan dia, saat itu hanya dijadikan sebagai teman bermain untuk Freya saja.Sementara Freya yang kala itu baru berusia

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 48

    Faris malam ini terlihat sangat ramah dan antusias, Naura mengucapkan terima kasih secara sopan.Namun, hal ini membuat Ferdi di samping merasa sangat tidak senang.Dia mendadak menendang kursi Naura, lalu pura-pura tidak sengaja menjatuhkan sumpit Naura.Pada akhirnya Faris sudah tidak sanggup menahannya lagi. "Ferdi, kalau kamu nggak bisa belajar makan dengan patuh, pergi aja kamu naik ke lantai atas."Ferdi berdengus dingin. "Pergi ya pergi, aku lihat beberapa orang di sini aja udah nggak nafsu makan lagi!"Selesai berbicara, dia menendang kursi lalu berlari naik ke lantai atas.Naura dari awal hingga akhir sama sekali tidak memberinya perhatian sedikit pun.Faris tertawa canggung. "Naura, jangan diambil hati ya. Bocah itu memang minta dihajar, nanti Om yang bakal kasih dia pelajaran."Naura tersenyum manis. "Om Faris terlalu berlebihan."Pada akhirnya, saat di meja makan hanya tersisa mereka bertiga saja, Alia berbicara dengan nada datar, menyampaikan tujuan undangan hari ini, "Nau

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 47

    Naura sama sekali tidak tahu kalau Davin salah paham.Binar mata pria itu tampak mendalam, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna tersirat. "Kado ini aku suka banget.""Tapi, hari Jumat aku harus dinas luar kota, akhir pekan baru balik. Tunggu aku balik, baru kita pergi bareng ya."Naura merasa agak terkejut, pria ini ternyata cukup perhatian dengan memberi tahu jadwal perjalanannya.Dia menarik sudut bibirnya sambil tersenyum. "Iya, pergi aja, waktunya kalian yang tentukan."Naura menatap kulit tubuh pria itu yang tersingkap di udara, merasa agak canggung, lalu bergegas mencari alasan untuk keluar dari kamarnya.Bi Dian awalnya mengira hubungan mereka berdua sedang makin hangat dan mesra.Tidak menyangka, Nyonya baru berada di kamar Tuan kurang dari 10 menit, sudah keluar lagi.Keesokan harinya, saat Naura menyantap sarapan baru menyadari Davin sudah tidak ada di rumah."Nyonya, tuan lusa baru balik. Pagi ini beliau mengejar penerbangan paling awal, menyuruh saya

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 46

    Dia baru saja mengadukan keponakannya itu kepada ibunya, tidak menyangka keesokan harinya langsung mendapatkan tamparan fakta di wajahnya.Galih melangkah bolak-balik, berpikir sejenak, lalu kembali memanggil Naura ke ruang kerjanya."Hehe, Naura, Om dengar dari Pak Dimas, kamu baru menandatangani kontrak besar buat perusahaan ya?""Kamu punya koneksi sebagus ini, kenapa nggak bilang dari awal?"Naura paham maksudnya, lalu tersenyum tipis. "Om, Om juga nggak tanya kok. Ibu bilang aku bikin perusahaan kehilangan klien, makanya aku cari cara buat kasih sedikit ganti rugi buat perusahaan.""Tapi Om, lain kali tuduhan kayak gini, aku nggak mau menanggungnya lagi ya."Galih seketika tersedak, merasa sangat canggung akibat ucapan tajam keponakannya sendiri.Kemudian Naura pamit pergi lebih awal dengan alasan ada urusan di divisinya.Galih merasa sangat kesal hingga giginya gatal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Naura.....Naura kembali ke ruang kerjanya, mengambil ponsel lalu membu

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 45

    Selesai mematikan telepon, Naura langsung menuju ke ruang kerja Dimas Jared, Direktur Operasional Bisnis.Dimas tersenyum seraya mempersilakan Naura masuk. "Hehe, Bu Naura, akhirnya Ibu datang juga. Hari ini Pak Leon secara khusus menyebut nama Ibu dan cari Ibu lho."Naura menatap pria paruh baya yang tampak asing baginya, lalu menganggukkan kepala pelan.Leon Pandawa seketika berdiri, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan secara formalitas. "Bu Naura, saya adalah penanggung jawab divisi administrasi dari Grup Pratam. Kali ini saya datang karena mengagumi reputasi Ibu, ingin membicarakan kerja sama dengan perusahaan Ibu."Mengagumi reputasi ....Mengagumi reputasi siapa, alasannya sudah sangat jelas.Namun, karena Leon tidak mengutarakannya secara gamblang, Naura tentu saja tidak akan membongkarnya."Pak Leon, salam kenal."Leon tertawa pelan. "Anak perusahaan dan cabang di bawah naungan grup kami selama ini selalu bekerja sama dengan Hotel Raja, baik tempat menginap karyawan yang d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status