Share

Bab 9

Author: Wuri Jiang
Dahi Alia mengerut halus, merasa agak serba salah.

Dia tahu, Naura pasti akan tetap meminta Vila Awan, jadi dia menahan diri dan terus membujuknya perlahan, "Freya, vila yang pemandangannya bagus itu ada banyak banget. Lain hari, Ibu temani kamu pilih yang baru ya. Ibu nggak ada maksud apa-apa kok, cuma mau kasih yang terbaik buat kamu."

Senyuman di wajah Freya seketika memudar. "Ibu, apa Kakak bilang sesuatu sama Ibu?"

"Ibu, aku nggak mau ke mana-mana, aku cuma mau Vila Awan."

Alia menunjukkan raut wajah serba salah, lalu menenangkan dengan suara lembut, "Naura memang minta Vila Awan sama Ibu, gimanapun tempat itu 'kan peninggalan ayahnya. Freya, tempat itu udah tua dan kumuh, kasih ke dia juga nggak masalah kok."

Anak laki-laki yang baru saja berjalan turun dari lantai dua mendengar hal itu, lalu berdengus dingin. "Ibu, sejak kapan sih Kakakku yang satu ini jadi serakah banget begini?"

"Awalnya nggak minta, belakangan juga nggak minta, pas banget pas Kak Freya pulang ke tanah air baru minta!"

"Dari dulu aku udah bilang, licik banget pikirannya, Ibu tuh harusnya jauhin dia."

Ferdi Jasma adalah anak dari pernikahan kedua Alia, sehingga hubungannya dengan Freya jauh lebih erat, secara alami membenci kakak yang berbeda ayah itu.

Setiap kali Naura dijemput untuk tinggal sebentar di rumah Keluarga Jasma saat liburan, dia tidak jarang dikerjai oleh kakak beradik ini.

Tapi, setiap kali Naura mengadu, Alia hanya akan berkata kepadanya bahwa dia adalah seorang kakak, jadi harus lebih mengalah.

Lama-kelamaan, Naura tidak mau lagi datang dan tinggal di rumah Keluarga Jasma. Bahkan saat libur semester maupun libur panjang, dia lebih memilih tinggal bersama kakek dan neneknya.

Alia mengerutkan dahi. "Ferdi, dia itu kakak kamu juga, nggak boleh nggak sopan begitu!"

Ferdi tertawa mengejek pelan, sama sekali tidak peduli.

"Pokoknya, Naura nggak boleh merebut barang milik kakakku!"

Faris Jasma yang sejak tadi diam mendengarkan tanpa bersuara mendelik menatap putranya. "Nggak tahu tata krama!"

"Udah-udah, Vila Awan itu milik ibu kalian dan mantan suaminya, kita tentu nggak akan mengambilnya. Freya, Ayah bakal belikan tempat yang lebih besar buat kamu, nurut ya."

Faris langsung ketok palu memutuskan masalah ini.

Tentu saja, dia bukannya membela atau berbicara demi Naura, melainkan hanya tidak ingin pernikahan yang sudah disetujui wanita itu menjadi kacau kembali.

Freya menggigit bibirnya, merasa sangat tertekan di dalam hatinya.

Ini semua gara-gara Naura, baru saja dia pulang ke tanah air sudah membuatnya tidak tenang!

Tapi, selama keputusan itu diucapkan oleh ayahnya di rumah ini, maka tidak akan ada kemungkinan untuk diubah lagi.

Hanya saja, Freya sama sekali tidak sanggup menelan kekesalan ini begitu saja.

....

Hal pertama yang dilakukan Naura setelah mengundurkan diri adalah mengambil kembali barang-barang yang sudah dijanjikan oleh ibunya.

Dia sengaja menyewa tiga pria berbadan tegap sebagai tenaga pengangkut, tapi saat melangkah masuk ke Vila Awan, dia melihat pembantunya tampak sangat panik.

Bi Lastri selama ini selalu merawat seluruh bangunan Vila Awan seorang diri.

"Bi Lastri, nanti aku mau tinggal di sini, hari ini aku datang buat bereskan barang-barang."

Bi Lastri menunjukkan raut wajah serba salah. "Nona, Nona Freya juga ada di dalam, gimana kalau Nona datang lagi lain hari aja?"

Sudut bibir Naura menyunggingkan senyuman sinis. "Dia ada di dalam terus kenapa?"

Sudut matanya melirik ke arah mobil Bentley yang familier terparkir di garasi, hingga raut wajah Naura mendadak dingin.

Dia tidak menghiraukan halangan Bi Lastri dan langsung melangkah masuk ke dalam rumah.

Vila Awan sudah tidak memperlihatkan bayangan masa lalu sama sekali, bagian dalamnya sudah diubah total oleh Freya, sampai penuh dengan barang-barang milik adik tirinya itu.

Naura menatap ke arah lantai dua dengan tatapan yang sulit diartikan, dia menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah naik satu per satu.

Baru saja mendekati kamar tidurnya, terdengar suara manja dari dalam ruangan.

"Kak Kenzo, sakit banget, pelan-pelan dong."

Tangan Naura yang tergantung di samping tubuhnya seketika terkepal erat.

Wajahnya tampak muram saat dia berbalik pergi ke kamar mandi sebelah, mengambil seember air, lalu kembali berdiri di depan kamar tidur.

Dia mendobrak pintu kamar dengan hantaman keras.

Kemudian, dia melangkah cepat menghampiri sepasang pria dan wanita yang pakaiannya tidak rapi itu, lalu tanpa ampun menyiramkan air tersebut dengan sangat keras!

"Kalian berdua, pergi dari atas tempat tidurku!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 50

    Nanti begitu turun dari pesawat sudah jam setengah empat pagi.Davin menatap pesan yang dikirimkannya tanpa ada balasan, di dalam hatinya selalu ada firasat kuat yang memberi tahu dirinya untuk bergegas pulang."Ubah jadwal penerbangannya saja. Jam setengah 12 juga nggak apa-apa."Asistennya bergegas mengiyakan, "Baik, Pak Davin."Davin mengenakan jasnya, mengambil ponselnya lalu berjalan menuju ke area parkir.Tidak tahu di rumah tanpa ada dirinya, apakah Naura bisa tidur dengan nyenyak atau tidak.Begitu memikirkan hal ini, sudut bibirnya terangkat tipis tanpa disadari.Namun, saat dia kembali ke rumah jam setengah empat subuh, dahinya berkerut erat menatap kamar yang kosong melompong.Pintu kamar Naura terbuka, sama sekali tidak ada bekas-bekas sudah pernah ditempati untuk tidur.Davin menatap layar ponselnya, pesan yang dikirimkannya kepada wanita itu adalah jam setengah 10 malam.Wanita ini pergi ke mana?Karena sudah terlalu larut, Davin tidak membangunkan Bi Dian.Saat Bi Dian b

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 49

    Naura memeluk kedua lututnya, meringkuk di sudut dinding. Suaranya sudah serak sampai habis karena berteriak, tapi tetap tidak ada seorang pun yang datang membukakan pintu untuknya.Loteng itu tidak memiliki jendela, hanya ada bau apek kayu lapuk yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya.Dari celah-celah kayu menembus beberapa berkas cahaya bulan, dia tahu di luar sana sekarang sudah gelap gulita.Belasan tahun lalu, Naura pernah dikurung sekali seperti ini, yaitu saat libur sekolah usianya 7 tahun ketika datang berkunjung untuk tinggal sebentar di rumah ibunya.Tahun itu, dia baru saja kehilangan ayahnya selama satu tahun, sangat bergantung pada ibunya, terburu-buru ingin menagih kasih sayang dari Alia.Namun, Alia saat itu baru saja menikah dan masuk ke rumah ini, posisi sebagai Nyonya Jasma saja belum kokoh, jadi sama sekali tidak berhasrat untuk peduli padanya.Sedangkan dia, saat itu hanya dijadikan sebagai teman bermain untuk Freya saja.Sementara Freya yang kala itu baru berusia

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 48

    Faris malam ini terlihat sangat ramah dan antusias, Naura mengucapkan terima kasih secara sopan.Namun, hal ini membuat Ferdi di samping merasa sangat tidak senang.Dia mendadak menendang kursi Naura, lalu pura-pura tidak sengaja menjatuhkan sumpit Naura.Pada akhirnya Faris sudah tidak sanggup menahannya lagi. "Ferdi, kalau kamu nggak bisa belajar makan dengan patuh, pergi aja kamu naik ke lantai atas."Ferdi berdengus dingin. "Pergi ya pergi, aku lihat beberapa orang di sini aja udah nggak nafsu makan lagi!"Selesai berbicara, dia menendang kursi lalu berlari naik ke lantai atas.Naura dari awal hingga akhir sama sekali tidak memberinya perhatian sedikit pun.Faris tertawa canggung. "Naura, jangan diambil hati ya. Bocah itu memang minta dihajar, nanti Om yang bakal kasih dia pelajaran."Naura tersenyum manis. "Om Faris terlalu berlebihan."Pada akhirnya, saat di meja makan hanya tersisa mereka bertiga saja, Alia berbicara dengan nada datar, menyampaikan tujuan undangan hari ini, "Nau

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 47

    Naura sama sekali tidak tahu kalau Davin salah paham.Binar mata pria itu tampak mendalam, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna tersirat. "Kado ini aku suka banget.""Tapi, hari Jumat aku harus dinas luar kota, akhir pekan baru balik. Tunggu aku balik, baru kita pergi bareng ya."Naura merasa agak terkejut, pria ini ternyata cukup perhatian dengan memberi tahu jadwal perjalanannya.Dia menarik sudut bibirnya sambil tersenyum. "Iya, pergi aja, waktunya kalian yang tentukan."Naura menatap kulit tubuh pria itu yang tersingkap di udara, merasa agak canggung, lalu bergegas mencari alasan untuk keluar dari kamarnya.Bi Dian awalnya mengira hubungan mereka berdua sedang makin hangat dan mesra.Tidak menyangka, Nyonya baru berada di kamar Tuan kurang dari 10 menit, sudah keluar lagi.Keesokan harinya, saat Naura menyantap sarapan baru menyadari Davin sudah tidak ada di rumah."Nyonya, tuan lusa baru balik. Pagi ini beliau mengejar penerbangan paling awal, menyuruh saya

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 46

    Dia baru saja mengadukan keponakannya itu kepada ibunya, tidak menyangka keesokan harinya langsung mendapatkan tamparan fakta di wajahnya.Galih melangkah bolak-balik, berpikir sejenak, lalu kembali memanggil Naura ke ruang kerjanya."Hehe, Naura, Om dengar dari Pak Dimas, kamu baru menandatangani kontrak besar buat perusahaan ya?""Kamu punya koneksi sebagus ini, kenapa nggak bilang dari awal?"Naura paham maksudnya, lalu tersenyum tipis. "Om, Om juga nggak tanya kok. Ibu bilang aku bikin perusahaan kehilangan klien, makanya aku cari cara buat kasih sedikit ganti rugi buat perusahaan.""Tapi Om, lain kali tuduhan kayak gini, aku nggak mau menanggungnya lagi ya."Galih seketika tersedak, merasa sangat canggung akibat ucapan tajam keponakannya sendiri.Kemudian Naura pamit pergi lebih awal dengan alasan ada urusan di divisinya.Galih merasa sangat kesal hingga giginya gatal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Naura.....Naura kembali ke ruang kerjanya, mengambil ponsel lalu membu

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 45

    Selesai mematikan telepon, Naura langsung menuju ke ruang kerja Dimas Jared, Direktur Operasional Bisnis.Dimas tersenyum seraya mempersilakan Naura masuk. "Hehe, Bu Naura, akhirnya Ibu datang juga. Hari ini Pak Leon secara khusus menyebut nama Ibu dan cari Ibu lho."Naura menatap pria paruh baya yang tampak asing baginya, lalu menganggukkan kepala pelan.Leon Pandawa seketika berdiri, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan secara formalitas. "Bu Naura, saya adalah penanggung jawab divisi administrasi dari Grup Pratam. Kali ini saya datang karena mengagumi reputasi Ibu, ingin membicarakan kerja sama dengan perusahaan Ibu."Mengagumi reputasi ....Mengagumi reputasi siapa, alasannya sudah sangat jelas.Namun, karena Leon tidak mengutarakannya secara gamblang, Naura tentu saja tidak akan membongkarnya."Pak Leon, salam kenal."Leon tertawa pelan. "Anak perusahaan dan cabang di bawah naungan grup kami selama ini selalu bekerja sama dengan Hotel Raja, baik tempat menginap karyawan yang d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status