Share

Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan
Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan
Author: Wuri Jiang

Bab 1

Author: Wuri Jiang
"Naura, om aku sudah punya pacar!"

Saat Naura Ardani terbangun, bau karbol yang menyengat langsung menyergap hidungnya.

Dia baru saja selesai menjalani operasi usus buntu, pesan yang dia kirimkan kepada pacarnya, Kenzo Jared, sebelum masuk ruang operasi masih belum dibalas sampai sekarang.

Tepat pada saat itu, ponselnya berdering menampilkan panggilan dari sahabatnya, Vina Lirta.

Jari-jari Naura yang memegang ponsel seketika memucat, sementara suaranya terdengar agak gugup. "Kamu udah tahu?"

"Lho? Kamu tahu juga?" Vina terdiam sejenak, lalu teringat sesuatu, "Oh iya, kamu 'kan sekretaris om aku, pantas aja tahu. Benar-benar nggak nyangka ya, om aku yang udah bertahun-tahun lajang ternyata selama ini cuma nungguin dia."

Dia?

Napas Naura mendadak tertahan.

"Tapi, aku benar-benar kesal sama Freya," keluh Vina. "Dia itu orangnya manja, sok polos, terus suka bikin-bikin suara manis yang dibuat-buat lagi. Nggak tahu deh apa yang disuka om aku dari dia."

Naura baru saja merasa cemas kalau rahasia hubungannya akan terbongkar, tapi setelah mendengar penuturan itu, dia baru menyadari bahwa sosok pacar yang dimaksud sahabatnya ternyata bukan dirinya.

Luka di bagian perut kanan bawahnya terasa begitu nyeri dan menusuk, membuat Naura menggigit bibirnya sambil menahan sakit lalu bertanya, "Vina, kamu nggak salah lihat?"

Padahal sebelum pergi ke luar negeri, pria itu masih memeluknya setiap malam sampai dia tertidur, mana mungkin bisa dengan mudahnya menyukai orang lain?

Vina berdecak. "Nggak mungkin salah, aku hubungin lewat panggilan video aja ya."

Panggilan telepon itu mendadak terputus dan langsung berganti menjadi panggilan video.

"Naura, yang pakai baju ski warna merah muda itu Freya Jasma, terus yang pakai baju hitam itu om aku."

"Coba kamu lihat deh, mereka mesra banget. Om aku lagi hangatkan tangannya, malah pakai acara ciuman di depan mataku segala, hih!"

Tangkapan kamera itu memang cukup jauh, tapi Naura tetap bisa mengenali sosok Kenzo hanya dalam sekali pandang.

Kenzo pernah berjanji akan mengumumkan hubungan mereka saat ulang tahun Naura yang ke-25 nanti.

Padahal hari ulang tahun Naura tinggal lima hari lagi.

Dia belum sempat menunggu janji pengumuman hubungan itu terwujud, tapi di saat kondisinya paling rentan seperti ini, dia justru harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Kenzo sudah mendapatkan apa yang diinginkannya.

Perawat melangkah masuk seraya memeriksa berkas rekam medis di tangannya. "Pasien ranjang 36, waktunya ganti perban."

"Lho? Naura, kamu lagi di rumah sakit?"

Naura berusaha menahan ganjalan di tenggorokannya. "Nggak kok. Aku cuma lagi jenguk orang sakit. Vina, udah dulu ya, aku tutup teleponnya. Nanti kita ngobrol lagi."

"Ya udah deh, nanti aku kirim pesan lewat LINE aja!"

Ponselnya bergetar sekali.

Dia refleks menggenggam erat ponselnya dan menyalakan layar, tapi sayang, pesan yang masuk tetap berasal dari sahabatnya.

[Naura, tadinya aku pikir om aku itu suka sesama jenis, nggak tahunya dia malah suka sama cewek yang sukanya manja-manja begitu.]

[Tapi kalau dipikir-pikir, cewek ini mukanya agak mirip sama kamu deh.]

Kalimat itu sudah sangat sering dia dengar selama bertahun-tahun.

Dia dan Freya sebenarnya tidak memiliki hubungan darah sama sekali.

Setelah ayahnya meninggal dunia, ibunya menikah lagi ke Keluarga Jasma, dan Freya adalah adik tirinya.

Naura memejamkan mata rapat-rapat, lalu keluar dari ruang obrolan hingga matanya menangkap sebuah notifikasi yang muncul dari Instagram.

Unggahan itu berasal dari Freya.

[Hehe, pelatih pribadiku.]

Foto yang diunggah adalah foto bersama yang baru saja mereka ambil tadi.

Naura sudah menjalani hubungan rahasia dengan Kenzo selama tiga tahun. Tidak peduli seberapa sering dia memohon, Kenzo tetap tidak pernah mau mempublikasikan foto mereka.

Baru pada saat inilah dia akhirnya menyadari, bukannya Kenzo tidak suka berfoto, melainkan pria itu memang tidak pernah sudi mengumumkan keberadaannya.

Kenzo sama sekali tidak menatap ke arah kamera, melainkan menundukkan pandangannya seraya menatap Freya dengan penuh kasih sayang, memperlihatkan binar mata yang sepenuhnya hanya terisi oleh bayangan wanita itu.

Di kolom komentar, sebuah tanggapan baru mendadak muncul dan memperbarui halaman tersebut.

[KenzoJRD: Freya tuan putriku.]

Naura menancapkan kuku-kukunya ke dalam telapak tangan, lalu menyiksa dirinya sendiri dengan menekan foto profil yang terasa sangat familier itu, benar saja, itu adalah akun Instagram pribadi Kenzo.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 50

    Nanti begitu turun dari pesawat sudah jam setengah empat pagi.Davin menatap pesan yang dikirimkannya tanpa ada balasan, di dalam hatinya selalu ada firasat kuat yang memberi tahu dirinya untuk bergegas pulang."Ubah jadwal penerbangannya saja. Jam setengah 12 juga nggak apa-apa."Asistennya bergegas mengiyakan, "Baik, Pak Davin."Davin mengenakan jasnya, mengambil ponselnya lalu berjalan menuju ke area parkir.Tidak tahu di rumah tanpa ada dirinya, apakah Naura bisa tidur dengan nyenyak atau tidak.Begitu memikirkan hal ini, sudut bibirnya terangkat tipis tanpa disadari.Namun, saat dia kembali ke rumah jam setengah empat subuh, dahinya berkerut erat menatap kamar yang kosong melompong.Pintu kamar Naura terbuka, sama sekali tidak ada bekas-bekas sudah pernah ditempati untuk tidur.Davin menatap layar ponselnya, pesan yang dikirimkannya kepada wanita itu adalah jam setengah 10 malam.Wanita ini pergi ke mana?Karena sudah terlalu larut, Davin tidak membangunkan Bi Dian.Saat Bi Dian b

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 49

    Naura memeluk kedua lututnya, meringkuk di sudut dinding. Suaranya sudah serak sampai habis karena berteriak, tapi tetap tidak ada seorang pun yang datang membukakan pintu untuknya.Loteng itu tidak memiliki jendela, hanya ada bau apek kayu lapuk yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya.Dari celah-celah kayu menembus beberapa berkas cahaya bulan, dia tahu di luar sana sekarang sudah gelap gulita.Belasan tahun lalu, Naura pernah dikurung sekali seperti ini, yaitu saat libur sekolah usianya 7 tahun ketika datang berkunjung untuk tinggal sebentar di rumah ibunya.Tahun itu, dia baru saja kehilangan ayahnya selama satu tahun, sangat bergantung pada ibunya, terburu-buru ingin menagih kasih sayang dari Alia.Namun, Alia saat itu baru saja menikah dan masuk ke rumah ini, posisi sebagai Nyonya Jasma saja belum kokoh, jadi sama sekali tidak berhasrat untuk peduli padanya.Sedangkan dia, saat itu hanya dijadikan sebagai teman bermain untuk Freya saja.Sementara Freya yang kala itu baru berusia

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 48

    Faris malam ini terlihat sangat ramah dan antusias, Naura mengucapkan terima kasih secara sopan.Namun, hal ini membuat Ferdi di samping merasa sangat tidak senang.Dia mendadak menendang kursi Naura, lalu pura-pura tidak sengaja menjatuhkan sumpit Naura.Pada akhirnya Faris sudah tidak sanggup menahannya lagi. "Ferdi, kalau kamu nggak bisa belajar makan dengan patuh, pergi aja kamu naik ke lantai atas."Ferdi berdengus dingin. "Pergi ya pergi, aku lihat beberapa orang di sini aja udah nggak nafsu makan lagi!"Selesai berbicara, dia menendang kursi lalu berlari naik ke lantai atas.Naura dari awal hingga akhir sama sekali tidak memberinya perhatian sedikit pun.Faris tertawa canggung. "Naura, jangan diambil hati ya. Bocah itu memang minta dihajar, nanti Om yang bakal kasih dia pelajaran."Naura tersenyum manis. "Om Faris terlalu berlebihan."Pada akhirnya, saat di meja makan hanya tersisa mereka bertiga saja, Alia berbicara dengan nada datar, menyampaikan tujuan undangan hari ini, "Nau

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 47

    Naura sama sekali tidak tahu kalau Davin salah paham.Binar mata pria itu tampak mendalam, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna tersirat. "Kado ini aku suka banget.""Tapi, hari Jumat aku harus dinas luar kota, akhir pekan baru balik. Tunggu aku balik, baru kita pergi bareng ya."Naura merasa agak terkejut, pria ini ternyata cukup perhatian dengan memberi tahu jadwal perjalanannya.Dia menarik sudut bibirnya sambil tersenyum. "Iya, pergi aja, waktunya kalian yang tentukan."Naura menatap kulit tubuh pria itu yang tersingkap di udara, merasa agak canggung, lalu bergegas mencari alasan untuk keluar dari kamarnya.Bi Dian awalnya mengira hubungan mereka berdua sedang makin hangat dan mesra.Tidak menyangka, Nyonya baru berada di kamar Tuan kurang dari 10 menit, sudah keluar lagi.Keesokan harinya, saat Naura menyantap sarapan baru menyadari Davin sudah tidak ada di rumah."Nyonya, tuan lusa baru balik. Pagi ini beliau mengejar penerbangan paling awal, menyuruh saya

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 46

    Dia baru saja mengadukan keponakannya itu kepada ibunya, tidak menyangka keesokan harinya langsung mendapatkan tamparan fakta di wajahnya.Galih melangkah bolak-balik, berpikir sejenak, lalu kembali memanggil Naura ke ruang kerjanya."Hehe, Naura, Om dengar dari Pak Dimas, kamu baru menandatangani kontrak besar buat perusahaan ya?""Kamu punya koneksi sebagus ini, kenapa nggak bilang dari awal?"Naura paham maksudnya, lalu tersenyum tipis. "Om, Om juga nggak tanya kok. Ibu bilang aku bikin perusahaan kehilangan klien, makanya aku cari cara buat kasih sedikit ganti rugi buat perusahaan.""Tapi Om, lain kali tuduhan kayak gini, aku nggak mau menanggungnya lagi ya."Galih seketika tersedak, merasa sangat canggung akibat ucapan tajam keponakannya sendiri.Kemudian Naura pamit pergi lebih awal dengan alasan ada urusan di divisinya.Galih merasa sangat kesal hingga giginya gatal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Naura.....Naura kembali ke ruang kerjanya, mengambil ponsel lalu membu

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 45

    Selesai mematikan telepon, Naura langsung menuju ke ruang kerja Dimas Jared, Direktur Operasional Bisnis.Dimas tersenyum seraya mempersilakan Naura masuk. "Hehe, Bu Naura, akhirnya Ibu datang juga. Hari ini Pak Leon secara khusus menyebut nama Ibu dan cari Ibu lho."Naura menatap pria paruh baya yang tampak asing baginya, lalu menganggukkan kepala pelan.Leon Pandawa seketika berdiri, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan secara formalitas. "Bu Naura, saya adalah penanggung jawab divisi administrasi dari Grup Pratam. Kali ini saya datang karena mengagumi reputasi Ibu, ingin membicarakan kerja sama dengan perusahaan Ibu."Mengagumi reputasi ....Mengagumi reputasi siapa, alasannya sudah sangat jelas.Namun, karena Leon tidak mengutarakannya secara gamblang, Naura tentu saja tidak akan membongkarnya."Pak Leon, salam kenal."Leon tertawa pelan. "Anak perusahaan dan cabang di bawah naungan grup kami selama ini selalu bekerja sama dengan Hotel Raja, baik tempat menginap karyawan yang d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status