Share

Bab 5

Author: Wuri Jiang
Naura baru saja selesai mengganti perban dan keluar dari rumah sakit saat menerima telepon darurat dari Mandy.

"Halo, Naura, kamu udah selesai ganti perban belum? Anakku demam, tapi ada satu dokumen yang harus diantarkan ke Pak Kenzo buat ditandatangani. Kamu sempat nggak kembali ke kantor sebentar buat bantu antarkan? Makasih banyak ya sebelumnya."

Karena kondisinya sudah seperti itu, Naura tidak bisa menolak. "Baik, Kak Mandy, aku balik ke kantor sekarang buat ambil dokumennya."

Di luar ruang VIP, Naura memegang dokumen dan tertegun sejenak. Pintu ruangan itu terbuka sedikit, memperdengarkan gelak tawa dan tawa riang dari dalam.

"Freya, setelah kamu balik kali ini, kami harus panggil kamu Kakak Ipar nih. Habisnya, suruh siapa kakak kami suka kamu!"

Pria itu bersandar santai di sandaran kursi, mengulurkan tangan dan merangkul bagian belakang kursi Freya dengan erat, menunjukkan rasa memiliki yang sangat kuat.

Freya mencolek perut pria itu, lalu menutupi wajahnya yang memerah malu. "Ih, menyebalkan! Kak Kenzo, lihat deh mereka semua ketawain aku!"

Kenzo menunduk seraya tertawa pelan. "Nggak ada yang ketawain kamu kok. Atau jangan-jangan, kamu memang nggak mau jadi kakak ipar mereka?"

Mendengar hal itu, seluruh tubuh Naura yang berdiri di luar pintu mendadak kaku.

Hatinya yang sudah mati rasa, kini kembali tertusuk sembilu.

Dia mengangkat tangan, lalu mengetuk pintu.

"Siapa ya?" Seseorang menoleh ke arah suara.

Naura mendorong pintu hingga terbuka, melangkah masuk ke dalam ruang VIP perlahan-lahan, lalu menatap pria yang duduk di posisi utama itu dengan tenang.

"Pak Kenzo, dokumen ini agak mendesak, perlu Anda tandatangani sekarang."

Seseorang menyahut, "Oh, Kak Kenzo, ini sekretaris kamu ya? Cantik banget, sayang banget kalau cuma jadi sekretaris."

Pria kaya generasi kedua yang berbicara itu menggunakan nada santai, pandangan matanya menatap Naura secara terang-terangan hingga membuat Naura merasa jijik.

Binar mata Kenzo yang dingin menyusut pelan, seolah tidak menyangka orang yang datang ternyata Naura, tapi, sesaat kemudian dia kembali bersikap tenang. "Kemari, kasih ke aku."

Naura menyerahkannya ke hadapan Kenzo. Pria itu membubuhkan tanda tangannya dengan tegas dan mantap, seakan sama sekali tidak merasa canggung meski rahasianya dipergoki, suaranya justru terdengar dingin. "Bawa ini dan kembalilah sana."

Freya melirik Naura dengan penuh kewaspadaan, lalu berkata dengan suara lembut, "Kak Kenzo, ajak Kakak tinggal di sini buat main bareng aja."

Dia menyunggingkan senyum, memegang tangan Naura yang terkena luka bakar, lalu berkata dengan ramah, "Kak, kita sudah lama nggak ketemu, tinggal di sini buat main bareng yuk?"

Naura menarik napas dalam-dalam, rasa sakit yang mendalam membuat air matanya hampir menetes, hingga dia menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar.

"Jangan sentuh aku! Kalian main saja, aku masih harus kembali ke kantor."

Seketika, orang-orang di dalam ruang VIP tertegun karena sikap Naura yang begitu mendadak.

Kenzo mengerutkan dahi, suaranya terdengar makin berat. "Freya itu berniat baik, kamu pasang muka cemberut begitu buat siapa?"

"Sekarang, cepat minta maaf sama dia!"

Naura menancapkan kuku-kukunya ke dalam telapak tangan agar air matanya tidak menetes. "Aku nggak salah, juga nggak akan minta maaf."

"Kalau Pak Kenzo mau pecat aku gara-gara hal ini, aku juga nggak bisa berkata apa-apa lagi."

Langkah kakinya terburu-buru meninggalkan tempat itu, bertahan satu detik lagi saja di sana akan membuatnya gila.

Rasa jengkel yang tidak beralasan mendadak muncul di dalam hati Kenzo. Dia berdiri. "Tunggu aku, kalian makan duluan aja."

Selesai berbicara, dia langsung menyusul keluar.

Orang-orang di dalam ruangan saling pandang satu sama lain.

Seseorang mencoba mencairkan suasana, "Hahaha, kelihatannya sekretaris Kak Kenzo bakal kena masalah nih!"

"Tapi Freya, kenapa kamu panggil dia Kakak?"

Freya tersenyum acuh tak acuh, sama sekali tidak berminat untuk menjelaskan.

…

Di lorong.

"Naura, berhenti!" Kenzo menarik lengannya dari belakang.

Naura berusaha keras membuat dirinya terlihat tenang. "Pak Kenzo masih ada perintah lain?"

"Keluar terlalu lama, aku takut pacar Bapak bakal berpikiran yang nggak-nggak."

Kenzo mengerutkan dahi, hatinya melunak. "Udah kubilang, kalau di luar jam kerja nggak perlu panggil aku Pak Kenzo. Tangan kamu, kenapa bisa begitu?"

Ternyata pria itu menyadari luka di punggung tangannya.

Naura tertawa mengejek. "Nggak perlu repot-repot memikirkannya, lagian kita udah putus, 'kan?"

"Putus?" Kenzo tertawa sinis, suaranya mendadak dingin. "Siapa yang bilang ke kamu kalau kita ini pasangan kekasih?"

Rasa sakit yang luar biasa merambat dari jantung ke seluruh tubuhnya. Naura menggigit bibirnya erat-erat. "Aku paham. Tenang aja, habis ini kita nggak ada hubungan apa-apa lagi."

Wajah Kenzo tampak muram, dia menatap wanita itu berjalan menjauh dalam diam. Saat dia hendak melangkah untuk menyusulnya, suara lembut seorang wanita terdengar dari belakang.

"Kak Kenzo, Kakak ... belum mau masuk?"

Kenzo menarik napas dalam-dalam, lalu berbalik seraya tersenyum. "Iya, Freya."

Setelah berbalik, Naura tidak sanggup lagi menahannya, air matanya seketika pecah dan mengalir deras.

Seolah benteng pertahanan terakhir di dalam hatinya ikut runtuh begitu saja.

Dia berdiri di luar hotel, bersandar tanpa tenaga pada tiang batu di belakangnya, bahunya berguncang pelan.

Dia bahkan tidak menyadari bayangan yang perlahan-lahan mendekatinya.

Pria itu menyandarkan satu tangannya di samping tubuh Naura, membungkuk mendekat, lalu suara malas dan berat terdengar di samping telinganya. "Kelihatannya, istriku ini lagi patah hati ya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 50

    Nanti begitu turun dari pesawat sudah jam setengah empat pagi.Davin menatap pesan yang dikirimkannya tanpa ada balasan, di dalam hatinya selalu ada firasat kuat yang memberi tahu dirinya untuk bergegas pulang."Ubah jadwal penerbangannya saja. Jam setengah 12 juga nggak apa-apa."Asistennya bergegas mengiyakan, "Baik, Pak Davin."Davin mengenakan jasnya, mengambil ponselnya lalu berjalan menuju ke area parkir.Tidak tahu di rumah tanpa ada dirinya, apakah Naura bisa tidur dengan nyenyak atau tidak.Begitu memikirkan hal ini, sudut bibirnya terangkat tipis tanpa disadari.Namun, saat dia kembali ke rumah jam setengah empat subuh, dahinya berkerut erat menatap kamar yang kosong melompong.Pintu kamar Naura terbuka, sama sekali tidak ada bekas-bekas sudah pernah ditempati untuk tidur.Davin menatap layar ponselnya, pesan yang dikirimkannya kepada wanita itu adalah jam setengah 10 malam.Wanita ini pergi ke mana?Karena sudah terlalu larut, Davin tidak membangunkan Bi Dian.Saat Bi Dian b

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 49

    Naura memeluk kedua lututnya, meringkuk di sudut dinding. Suaranya sudah serak sampai habis karena berteriak, tapi tetap tidak ada seorang pun yang datang membukakan pintu untuknya.Loteng itu tidak memiliki jendela, hanya ada bau apek kayu lapuk yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya.Dari celah-celah kayu menembus beberapa berkas cahaya bulan, dia tahu di luar sana sekarang sudah gelap gulita.Belasan tahun lalu, Naura pernah dikurung sekali seperti ini, yaitu saat libur sekolah usianya 7 tahun ketika datang berkunjung untuk tinggal sebentar di rumah ibunya.Tahun itu, dia baru saja kehilangan ayahnya selama satu tahun, sangat bergantung pada ibunya, terburu-buru ingin menagih kasih sayang dari Alia.Namun, Alia saat itu baru saja menikah dan masuk ke rumah ini, posisi sebagai Nyonya Jasma saja belum kokoh, jadi sama sekali tidak berhasrat untuk peduli padanya.Sedangkan dia, saat itu hanya dijadikan sebagai teman bermain untuk Freya saja.Sementara Freya yang kala itu baru berusia

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 48

    Faris malam ini terlihat sangat ramah dan antusias, Naura mengucapkan terima kasih secara sopan.Namun, hal ini membuat Ferdi di samping merasa sangat tidak senang.Dia mendadak menendang kursi Naura, lalu pura-pura tidak sengaja menjatuhkan sumpit Naura.Pada akhirnya Faris sudah tidak sanggup menahannya lagi. "Ferdi, kalau kamu nggak bisa belajar makan dengan patuh, pergi aja kamu naik ke lantai atas."Ferdi berdengus dingin. "Pergi ya pergi, aku lihat beberapa orang di sini aja udah nggak nafsu makan lagi!"Selesai berbicara, dia menendang kursi lalu berlari naik ke lantai atas.Naura dari awal hingga akhir sama sekali tidak memberinya perhatian sedikit pun.Faris tertawa canggung. "Naura, jangan diambil hati ya. Bocah itu memang minta dihajar, nanti Om yang bakal kasih dia pelajaran."Naura tersenyum manis. "Om Faris terlalu berlebihan."Pada akhirnya, saat di meja makan hanya tersisa mereka bertiga saja, Alia berbicara dengan nada datar, menyampaikan tujuan undangan hari ini, "Nau

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 47

    Naura sama sekali tidak tahu kalau Davin salah paham.Binar mata pria itu tampak mendalam, sudut bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang penuh makna tersirat. "Kado ini aku suka banget.""Tapi, hari Jumat aku harus dinas luar kota, akhir pekan baru balik. Tunggu aku balik, baru kita pergi bareng ya."Naura merasa agak terkejut, pria ini ternyata cukup perhatian dengan memberi tahu jadwal perjalanannya.Dia menarik sudut bibirnya sambil tersenyum. "Iya, pergi aja, waktunya kalian yang tentukan."Naura menatap kulit tubuh pria itu yang tersingkap di udara, merasa agak canggung, lalu bergegas mencari alasan untuk keluar dari kamarnya.Bi Dian awalnya mengira hubungan mereka berdua sedang makin hangat dan mesra.Tidak menyangka, Nyonya baru berada di kamar Tuan kurang dari 10 menit, sudah keluar lagi.Keesokan harinya, saat Naura menyantap sarapan baru menyadari Davin sudah tidak ada di rumah."Nyonya, tuan lusa baru balik. Pagi ini beliau mengejar penerbangan paling awal, menyuruh saya

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 46

    Dia baru saja mengadukan keponakannya itu kepada ibunya, tidak menyangka keesokan harinya langsung mendapatkan tamparan fakta di wajahnya.Galih melangkah bolak-balik, berpikir sejenak, lalu kembali memanggil Naura ke ruang kerjanya."Hehe, Naura, Om dengar dari Pak Dimas, kamu baru menandatangani kontrak besar buat perusahaan ya?""Kamu punya koneksi sebagus ini, kenapa nggak bilang dari awal?"Naura paham maksudnya, lalu tersenyum tipis. "Om, Om juga nggak tanya kok. Ibu bilang aku bikin perusahaan kehilangan klien, makanya aku cari cara buat kasih sedikit ganti rugi buat perusahaan.""Tapi Om, lain kali tuduhan kayak gini, aku nggak mau menanggungnya lagi ya."Galih seketika tersedak, merasa sangat canggung akibat ucapan tajam keponakannya sendiri.Kemudian Naura pamit pergi lebih awal dengan alasan ada urusan di divisinya.Galih merasa sangat kesal hingga giginya gatal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Naura.....Naura kembali ke ruang kerjanya, mengambil ponsel lalu membu

  • Salah Meja Kencan Buta, Malah Jadi Wanita Musuh Mantan   Bab 45

    Selesai mematikan telepon, Naura langsung menuju ke ruang kerja Dimas Jared, Direktur Operasional Bisnis.Dimas tersenyum seraya mempersilakan Naura masuk. "Hehe, Bu Naura, akhirnya Ibu datang juga. Hari ini Pak Leon secara khusus menyebut nama Ibu dan cari Ibu lho."Naura menatap pria paruh baya yang tampak asing baginya, lalu menganggukkan kepala pelan.Leon Pandawa seketika berdiri, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan secara formalitas. "Bu Naura, saya adalah penanggung jawab divisi administrasi dari Grup Pratam. Kali ini saya datang karena mengagumi reputasi Ibu, ingin membicarakan kerja sama dengan perusahaan Ibu."Mengagumi reputasi ....Mengagumi reputasi siapa, alasannya sudah sangat jelas.Namun, karena Leon tidak mengutarakannya secara gamblang, Naura tentu saja tidak akan membongkarnya."Pak Leon, salam kenal."Leon tertawa pelan. "Anak perusahaan dan cabang di bawah naungan grup kami selama ini selalu bekerja sama dengan Hotel Raja, baik tempat menginap karyawan yang d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status